ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 21


__ADS_3

BRAAAKK…!


Tiba-tiba saja pintu ruangan kelas mereka


terbuka ketika Keyla dan Nico ingin melewatinya. Mereka terkejut dan berhenti


dengan nafas yang terus memburu. Keyla bergidik ketakutan dan memegang lengan


Nico. Dari pintu ruangan keluar sosok Jardi yang sangat mengerikan. Tubuhnya


pucat kehitaman, kepalanya hancur dengan mata menjuntai ke bawah.


“ARRGKKKHH…” Keyla menjerit ketakutan.


Keyla berlari ketakutan.


“Keyla, tunggu… Jangan lari..!” Nico mengejar


Keyla yang sudah ketakutan.


Nico menarik pergelangan tangan Keyla dengan


cepat. Keyla berusaha melepaskan genggaman tangan Nico.


“Lepaskan tanganku, Nic… Lepaskan..! Aku


takutt…!” Keyla menangis.


“Key… Kita harus menghadapi mahluk-mahluk itu.


Kita harus mengakhiri semuanya.”


Keyla terisak dan menatap wajah Nico dengan


lekat.


“Aku nggak kuat, Nic… hik…hik…”


“Kamu harus kuat. Ayo, Key… sebelum terlambat.”


Keyla terduduk dan menangis lagi. Nico berusaha


membujuk Keyla dan berusaha menenangkan pikirannya. Sosok Jardi tiba-tiba saja


ada di depan mereka. Nico terkejut juga ketakutan. Akhirnya mereka berlari


sekencang-kencangnya melewati beberapa koridor. Keyla berlari ke kanan dan Nico


berlari ke kiri. Mereka berpisah di lantai tiga.


Suasana di atap lantai tiga semakin mencekam.


Sosok-sosok tak berwujud mendesis-desis dengan suara yang menakutkan. Jari-jari


terdengar mengkerat lantai-lantai yang sudah berlumut.


GGGRRRHHHKK….HAAGGRRRRR….


Suara-suara desisan itu bersahutan memenuhi gendang telinga


Ziad. Ziad terjatuh dan bergerak mundur ketika sosok-sosok mengerikan itu


mendekatinya dengan wujudnya yang mengerikan.


Anton menghentikan motornya dan menurunkan standar motor.


Hanna turun dan sengera mendekati rumah Pak Damsit. Beberapa kali ia memberi


salam namun tidak ada jawaban. Selang beberapa menit terdengar pintu depan


terbuka.


“Assalamualaikum…” sapa Hanna kepada seorang perempuan paruh


baya yang keluar dari pintu.


“Waalaikumsallam…” Ucap perempuan itu. “Ada perlu apa ya?”


“Bu, saya mau ketemu dengan pak Damsit.”


“Ada urusan apa kamu ingin bertemu suami saya?”


“Ini masalah arwah Jardi, Bu.”


Perempuan itu terdiam sambil menatap Hanna dengan tajam.


Kemudian ia mempersilahkan Hanna dan Anton duduk di kursi kayu yang ada di


teras rumah. Setelah duduk Hanna langsung saja menanyakan tentang keberaaan Pak


Damsit.


“Pak Damsit di mana, Bu?”


“Suami saya masih di luar. Sebentar lagi juga pulang.


Sebenarnya ada apa dengan almarhum anak saya?”


“Arwah Jardi gentayangan, Bu.”


“Gentayangan? Jangan asal bicara. Kalian hanya mengada-ada


cerita saja!”


“Bu… Saya tidak bohong. Saya juga pernah melihat arwah anak


ibu.”

__ADS_1


“Benar, Bu. Jardi gentayangan di sekolah.”


Perempuan itu terdiam lagi, lalu masuk ke dalam rumahnya.


Tak berapa lama ia keluar bersama suaminya. Pak Damsit menatap Hanna dan Anton


dengan tajam.


“Untuk apa lagi kalian kemari? Jangan mengganggu ketenangan


saya!”


“Pak… Tolong. Teman-teman saya saat ini ada di sekolah.”


Pak Damsit terkejut. “Untuk apa mereka ke sekolah?”


“Mereka ingin mengakhiri permainan mereka dengan Jardi.”


Pak Damsit mengerutkan keningnya sambil terdiam.


“Pak… Saya mohon hentikan Jardi. Dia bisa mencelakai teman


saya.”


Pak Damsit memicingkan matanya.


“Nyawa dibayar dengan nyawa. Itu urusan mereka.”


Hanna dan Anton saling berpandangan.


“Pak… berapa banyak lagi korban yang harus mati sia-sia?


Sekolah itu akan menjadi angker, Pak.”


Damsit bergeming dan hanya membelalakkan matanya. Sementara


angin terus berhembus dengan diiringi suara gledek yang membahana. Kilatan


cahaya sesekali menyilaukan langit hitam.


###


Keyla panik dan ketakutan ketika senternya jatuh. Ia


mengawasi tangga dan koridor dengan mata nanar. Tubuhnya bergetar karena


ketakutan. Sosok bertubuh hitam dengan baju lusu bercampur bau bangkai


menghadangnya di koridor. Keyla terkejut dan menjerit, lalu ia berlari lagi


menaiki anak tangga. Nafasnya tersengal dan keringat yang terus mengucur


deras.


Hujan pun turun membasahi gedung dan pelataran sekolah.


Mereka berpencar dan saling ketakutan. Ziad yang masih berada di atap sekolah


berusaha mencari apa saja untuk membuka gembok itu. Sementara sosok-sosok


mengerikan terus saja mendekatinya.


PRAAANKK…


Gembok terbuka ketika Ziad memukulnya pakai besi. Ia masuk


dan mencari-cari papan permainan mereka. Gudang itu sangat gelap. Ziad


menyalakan senter dengan perasaan kalud. Sementara suara-suara desisan terus


saja terdengar mengerikan. Tiba-tiba saja sosok Jardi ada di depannya. Wujudnya


sangat mengerikan. Kepalanya pecah dan mengeluarkan darah.


“Tidak..! Jangan ganggu aku! Pergi kau!” Teriak Ziad.


Sosok arwah Jardi penatapnya dengan penuh kemarahan. Angin


bertiup kencang dan menerbangkan apa saja yang ada di gudang. Ziad terbelalak


ketakutan. Arwah-arwah penasaran lainnya bermuncullan dan membuat Ziad semakin


ketakutan. Tubuh mereka ada yang tidak utuh dan hancur.


“AGKKHHH…” Ziad menjerit dan lari pontang-panting.


Nafasnya tersengal dan berlari tak tentu arah. Pada sebuah


pembatas ia tersungkur dan jatuh berguling-guling. Ziad kehilangan keseimbangan


dan meluncur sampai ia jatuh dari atap lantai tiga.


BRAAAGGG…


Tubuh Ziad mengenjang beberapa kali, lalu tidak bergerak


lagi. Darah keluar dari kepalanya dan mengalir seperti air hujan.


Sementara Nico yang sudah ketakutan juga mencari Ziad di


atap lantai tiga. Ia tidak menemukan Ziad dan terus mengawasi sekitarnya. Hujan


membuat pandangannya jadi buram, namun ia melihat sosok Jardi dengan deraian


darah di kepalanya. Nico ketakutan dan berlari ke bawah. Di anak tanggal ia


terpeleset dan jatuh tergelincir. Tubuhnya berguling-guling di anak tangga.

__ADS_1


Kepalanya membentur tembok dengan keras hingga pecah.


Darah mengalir di lantai keramik, mengeluarkan asap dan bau


amis. Nico pun tewas seketika. Lolongan anjing bersahutan di derasnya hujan,


membuat Keyla tercekat dan semakin ketakutan. Ia mengawasi sekitarnya yang


begitu gelap. Ia menangis tersedu dan mencoba memberanikan diri beranjak dari


tempatnya. Kemudian ia berlari sekencangnya menuju lantai tiga. Sesampainya di


atap lantai tiga, Keyla kehujanan. Bajunya basah kuyup. Pandangannya semakin


nanar karena air hujan. Ia mencari Nico dan Ziad.


“Nicooo…. Kamu di mana?” Teriaknya sambil ketakutan.


Bibir Keyla bergetar antara dingin dan takut. Sesekali ia


menggigit bibirnya dan mengawasi sekitarnya.


“Ziaaaddd… Kalian di mana?” Teriaknya lagi.


Tidak ada jawaban dan hanya suara hujan yang terus menderu.


Malam semakin gelap dan mencekam. Keyla hanya sendirian di atas atap yang


menakutkan. Tiba-tiba sosok Jardi muncul dalam hujan yang deras. Keyla terkejut


dan ketakutan. Sosok Jardi yang mengerikan membuat ia panik.


“Jangan ganggu aku, Jar. Aku minta maaf. Semua ini memang


salahku! Maafkan aku, Jar…” Ucap Keyla sambil bergerak mundur.


Sementara Hanna dan Anton terus membujuk Pak Damsit untuk


menghentikan Jardi. Laki-laki paruh baya itu hanya terdiam dengan pandangan


tajam. Hanna semakin gelisah dan tidak tenang. Rasanya laki-laki paruh baya itu


tidak ingin menghentikan Jardi.


Hanna dan Anton kemudian pamit dan mereka menuju gedung


sekolah. Mereka berlari dalam derasnya hujan dan petir yang menyambar-nyambar


di ujung jalan. Ketika sampai di depan gedung sekolah, Hanna berhenti dan


menatap gedung itu dengan lekat. Ia bergidik ngeri. Gedung itu terlihat begitu


suram sekali. Mereka berteduh di pos satpam dekat gerbang sekolah.


“Bagaimana, Ton?” tanya Hanna sambil kedinginan.


“Kita masuk saja, Han.”


“Tapi aku takut.”


Hanna mendekap tubuhnya yang kedinginan. Tak berapa lama


Pak Damsit pun datang menghampiri mereka berdua. Pak Damsit hanya diam, lalu ia


melangkahkan kakinya masuk ke gedung sekolah. Hanna dan Anton mengikuti langkah


Pak Damsit. Hanna masih ketakutan dan terus memegang lengan Anton.


Hujan mulai reda dan membawa aroma amis di sekolah. Hanna


terkejut ketika melihat sosok tubuh seseorang di halaman sekolah.


“Ton… itu siapa?” Tanya Hanna penasaran.


Mereka memperhatikan tubuh itu dengan seksama dan ternyata


tubuh Ziad yang bersimbah darah. Hanna menggigit bibir sambil mendekap Anton.


Kemudian mereka berjalan lagi di koridor dan menaiki anak tanggal. Hanna


menjerit kita menginjak darah yang mengalir.


“AHKKK…”


Darah itu berasal dari tubuh Nico yang terjerembab di


lantai. Hanna menutup matanya sambil terus berjalan menaiki anak tangga.


Tiba-tiba saja mereka mendengar suara teriakan yang meluncur dari atap gedung


ke halaman sekolah. Ada yang jatuh.


BRAAAGG…


Hanna tercekat dan berlari melihat apa yang jatuh. Ia


menggigit bibirnya dan menjerit sejadi-jadinya.


“Keylaaaa…!!! Tidaaaakkk…!!!”


Hanna histeris ketika melihat tubuh sahabatnya jatuh dari atap lantai tiga. Darah mengalir dari kepalanya.


Hanna menggigit bibirnya sambil menangis.Ia memegang erat lengan Anton di


sampingnya. Pak Damsit hanya terdiam melihat kematian tiga pelajar itu. Malam


pun terus merambat dan menawarkan bau amis yang sangat menyengat. Lolongan

__ADS_1


anjing dari kejauhan membuat Hanna merinding. Malam semakin gelap dan dingin.


SELESAI


__ADS_2