
Mama
duduk terpaku di ruang tamu. Kisah tragis itu bermain-main di matanya. Seorang
perawat yang terbakar. Dibakar hidup-hidup lebih tepatnya. Sepuluh tahun yang
lalu. Ketika mama menjadi seorang perawat. Kejadian mengerikan itu terjadi di
sebuah rumah sakit yang kini dijadikan sekolah. Sekolah itu tempat mengajar
Raisa. Mama diam dalam duduknya dan terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa
pada Raisa.
Sepuluh
tahun yang lalu saat rumah sakit mengalami kemerosotan pasien dan hampir tutup,
pemilik rumah sakit melakukan ritual perjanjian setan. Perjanjian itu
disepakati dan merenggut nyawa beberapa dokter dan perawat. Konon dokter dan
perawat itu dijadikan tumbal pesugihan. Ritual pesugihan itu pun didengar
salah satu seorang perawat dan mereka tidak ingin menjadi tumbal berikutnya.
Para suster yang terdiri dari lima orang itu sepakat membakar seorang dokter
anak pemilik rumah sakit menjadi tumbalnya.
Dokter
yang berstatus gadis itu dan ingin menikah pun merenggut nyawa dalam kobaran
api. Beberapa ruang terbakar bersama gadis itu. Lima perawat itu pun pergi
meninggalkan rumah sakit begitu saja. Mereka tidak mau menjadi tumbal
berikutnya.
Mama
tercekat ketika papa menegurnya. “Mama? Mama kenapa? Kok melamun udah sore
begini?” kata papa ketika masuk ke ruang tamu. Papa baru saja pulang kerja.
Mama menghela berat seraya bangkit dari duduknya.
“HH,
nggak apa-apa, Pa. Mama hanya memikirkan Raisa.”
“Memangnya
kenapa dengan Raisa?”
“Nggak
kenapa-kenapa. Mama cuma kangen.”
Papa
menuju kamar dan mama mengikuti langkah papa masuk ke kamar. Mama menyiapkan
baju papa, kemudian keluar dari kamar menuju dapur. Tiba-tiba mama menghentikan
langkahnya sebelum tiba di dapur. Ada seorang perempuan disana? Mama
mengerutkan dahinya. Sosok perempuan itu sedang sibu di dapur memotong sayuran.
Perempuan itu menghadap ke belakang. Mama sepertinya belum menyewa seorang pembantu.
Siapa perempuan itu? Pikir mama. Tiba-tiba saja rambut perempuan itu terbakar.
Mama terkejut dan hampir menjerit, tapi tiba-tiba papa menegur mama.
“Ma...
Kenapa berdiri disitu?” tanya papa heran.
Refleks
mama menoleh ke papa dan gugup. Mama menoleh lagi ke dapur dan perempuan itu
sudah menghilang. Mama mengucek matanya untuk memastikan kembali kalau
perempuan itu tidak ada di sana. Mama menghela nafas berat.
“Papa
ngagetin mama aja.”
“Mama
kenapa bengong. Mama nggak masak?” tanya papa lagi sambil menghampiri mama.
“Kita
makan di luar aja ya, Pa. Mama capek sekali.” Kata mama.
“Ya
udah kalau begitu. Yuk kita keluar.”
Mama
beranjak meninggalkan dapur, tapi pikirannya semakin kalut. Kenapa sosok itu
muncul setelah sepuluh tahun berlalu? Pikir mama. Mama mengingat lagi
kejadian-kejadian ketika menjadi seorang perawat di rumah sakit itu. Saat mama
__ADS_1
bertugas malam.
Malam
itu mama ke sebuah bangsal. Salma adalah nama mama. Hanya ada seorang pasien di
kamar itu. Padahal ada enam tempat tidur di sana. Mama menyapa seorang
perempuan baya yang terbaring lemas dengan selang infus. Memeriksa detak nadi
dan tensi pasien.
“Ibu sudah minum obat?” tanya mama, saat itu.
Wanita
itu hanya mengangguk.
“Sus...
saya boleh pindah kamar?” sang pasien meminta pindah kamar.
“Pindah?
Memang kenapa, Bu?” mama penasaran.
“Saya
takut sendirian suster.”
Mama tersenyum
tipis. “Ibu jangan takut ya. Ada dua orang perawat kok di sebelah dan saya yang
menjaga di ruangan ini. Memangnya sanak-saudara ibu di mana? Mereka nggak ada
yang mau menjaga ibu?”
Wanita
baya itu menggeleng pelan dan diam. Raut wajahnya sangat iba.
“Sudah...
Ibu tenang aja ya,” bujuk mama lagi.
“Tapi,
Suster...” wanita itu memelas lagi.
“Sudahlah,
Bu. Ibu tidur saja ya. Saya akan membawakan makanan untuk ibu.” Ucap mama sambil
menarik selimut dan menutup setengah badan wanita baya itu. Kemudian ia keluar
dan menutup pintu. Ia menuju dapur rumah sakit dan mengambil makanan untuk
Mama berjalan sambil membawa tempayan berisi nasi dan lauk
pauk. Di tengah koridor ia berpapasan dengan dokter Haris.
“Salma,
kamu mau kemana?” tanya dokter Haris.
“Mau mengantar
makanan ini, dok, untuk pasien 103.”
Haris
terdiam mengerutkan keningnya sambil menggeleng pelan.
“Pasien
itu sudah meninggal dunia semalam. Keluarganya belum ada yang datang,”
DEG.
Jantung
mama terasa berhenti berputar.
“Maksud, dokter?” mama terkejut.
“Wanita itu sudah meninggal dunia, Salma.”
Mama mengatur detak jantungnya sambil
mengerutkan keningnya. Bukankah beberapa menit yang lalu dia masih berbicara
dengan wanita baya itu?
“Sudah, sekarang kamu siapkan
data-data jenazah wanita itu,”
“B....baik, dok...” sahutnya
tergagap.
Setelah mengembalikan tempayan, mama
kembali lagi ke Kamar Melati 103. Rasa takut mulai menyergapnya. Ia bergidik ketika
mengingat wajah wanita baya itu. Bulu kuduknya merinding. Malam semakin sepi dan
dingin. Detak jantungnya kembali berdebar kencang.
“Ya, Allah... kenapa ini harus aku alami...?”
__ADS_1
gumamnya seraya berbisik.
Takut-takut ia membuka kamar 103 yang
sudah menebarkan bau tak sedap. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Perawat yang
berada di meja administrasi juga sudah tidak ada. Padahal tadi ada dua orang
disana.
Keringat dingin mengucur deras di
kening mama. Ia membuka sedikit pintu kamar dan mengintai jenazah wanita baya
itu. Jenazahnya sudah ditutupi kain putih, namun memberikan nuansa misteri.
Kalau benar wanita baya itu meninggal semalam, lantas siapa yang berbicara
dengannya?
“Duuhh.... kenapa aku jadi merinding
ya,”
Mama kembali membuka pintu kamar
sedikit. Ia terkejut tidak menemukan jenazah wanita itu di tempat tidur.
Matanya mengedar ke sudut ruangan sambil memegang handle pintu, dan...
BRAAKK...
“Akhhh...”
Mama menjerit ketakutan. Sosok wanita
baya itu menatap dirinya dari balik pintu. Mama berlari menjauhi kamar 103.
Nafasnya tersengal melewati beberapa koridor. Keadaan rumah sakit tetap sama,
sepi dan hanya beberapa perawat saja yang ada disana. Ia menuju ruangan dokter Haris,
tapi ruangan itu sudah tutup dan dikunci.
“Dokter.... dokter...” panggil
Salma.
Tidak ada sahutan. Raisa bingung
bermandi keringat. Ia ketakutan dan kalut. Kemudian ia berlari lagi di koridor.
Mencari siapa saja yang ada disana, namun ia tidak menemukan siapa-siapa
disana.
Salma berhenti sejenak sambil mengatur
pernafasannya. Di sudut ruangan kosong Salma mendengar percakapan kepala asrama
dengan seseorang. Salma melangkahkan kakinya dengan perlahan dan tanpa suara.
Ia mengendap di dinding ruangan. Salma mengintai dari ruangan itu dan
memperhatikan seorang laki-laki baya berusia lima puluh tahunan berbicara
dengan kepala asrama.
“Sudah hampir tengah malam. Kenapa
belum ada tanda-tanda?” tanya laki-laki itu. Rambutnya sudah hampir putih
semua.
“Saya juga tidak tau, dok...”
Salma mengerutkan dahinya. Ia nggak
tau apa maksud kedua orang itu. Kemudian ia membuka sepatunya dan beranjak dari
tempat itu pelan-pelan. Salma melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Ia
kembali ke asrama.
Salma membuka pintu kamar sambil
mengatur pernafasannya. Ia melihat Siti, teman tidurnya sudah tertidur pulas. Salma
menghampiri tempat tidurnya dan duduk di
pinggirnya. Pikirannya menerawang jauh penuh tanda tanya.
“Ouhhhh...” Salma menghapus keringat
di keningnya.
Salma ingin menenangkan pikirannya
sejenak untuk menghilangkan rasa takutnya. Ia mengambil air putih dan
menenggaknya. Setelah tenang Salma kembali ke rumah sakit. Ia terus berdoa agar
tidak ada kejadian mengerikan yang dia alami.
Salma melangkahkan kakinya ragu-ragu,
namun ia yakin tidak ada mahluk halus yang bisa mengganggunya. Salma berhenti
di ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Ia mendengar suara laki-laki
berbicara tentang pesugihan!
__ADS_1