ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 31


__ADS_3

Mama


duduk terpaku di ruang tamu. Kisah tragis itu bermain-main di matanya. Seorang


perawat yang terbakar. Dibakar hidup-hidup lebih tepatnya. Sepuluh tahun yang


lalu. Ketika mama menjadi seorang perawat. Kejadian mengerikan itu terjadi di


sebuah rumah sakit yang kini dijadikan sekolah. Sekolah itu tempat mengajar


Raisa. Mama diam dalam duduknya dan terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa


pada Raisa.


Sepuluh


tahun yang lalu saat rumah sakit mengalami kemerosotan pasien dan hampir tutup,


pemilik rumah sakit melakukan ritual perjanjian setan. Perjanjian itu


disepakati dan merenggut nyawa beberapa dokter dan perawat. Konon dokter dan


perawat itu dijadikan tumbal pesugihan. Ritual pesugihan itu pun didengar


salah satu seorang perawat dan mereka tidak ingin menjadi tumbal berikutnya.


Para suster yang terdiri dari lima orang itu sepakat membakar seorang dokter


anak pemilik rumah sakit menjadi tumbalnya.


Dokter


yang berstatus gadis itu dan ingin menikah pun merenggut nyawa dalam kobaran


api. Beberapa ruang terbakar bersama gadis itu. Lima perawat itu pun pergi


meninggalkan rumah sakit begitu saja. Mereka tidak mau menjadi tumbal


berikutnya.


Mama


tercekat ketika papa menegurnya. “Mama? Mama kenapa? Kok melamun udah sore


begini?” kata papa ketika masuk ke ruang tamu. Papa baru saja pulang kerja.


Mama menghela berat seraya bangkit dari duduknya.


“HH,


nggak apa-apa, Pa. Mama hanya memikirkan Raisa.”


“Memangnya


kenapa dengan Raisa?”


“Nggak


kenapa-kenapa. Mama cuma kangen.”


Papa


menuju kamar dan mama mengikuti langkah papa masuk ke kamar. Mama menyiapkan


baju papa, kemudian keluar dari kamar menuju dapur. Tiba-tiba mama menghentikan


langkahnya sebelum tiba di dapur. Ada seorang perempuan disana? Mama


mengerutkan dahinya. Sosok perempuan itu sedang sibu di dapur memotong sayuran.


Perempuan itu menghadap ke belakang. Mama sepertinya belum menyewa seorang pembantu.


Siapa perempuan itu? Pikir mama. Tiba-tiba saja rambut perempuan itu terbakar.


Mama terkejut dan hampir menjerit, tapi tiba-tiba papa menegur mama.


“Ma...


Kenapa berdiri disitu?” tanya papa heran.


Refleks


mama menoleh ke papa dan gugup. Mama menoleh lagi ke dapur dan perempuan itu


sudah menghilang. Mama mengucek matanya untuk memastikan kembali kalau


perempuan itu tidak ada di sana. Mama menghela nafas berat.


“Papa


ngagetin mama aja.”


“Mama


kenapa bengong. Mama nggak masak?” tanya papa lagi sambil menghampiri mama.


“Kita


makan di luar aja ya, Pa. Mama capek sekali.” Kata mama.


“Ya


udah kalau begitu. Yuk kita keluar.”


Mama


beranjak meninggalkan dapur, tapi pikirannya semakin kalut. Kenapa sosok itu


muncul setelah sepuluh tahun berlalu? Pikir mama. Mama mengingat lagi


kejadian-kejadian ketika menjadi seorang perawat di rumah sakit itu. Saat mama

__ADS_1


bertugas malam.


Malam


itu mama ke sebuah bangsal. Salma adalah nama mama. Hanya ada seorang pasien di


kamar itu. Padahal ada enam tempat tidur di sana. Mama menyapa seorang


perempuan baya yang terbaring lemas dengan selang infus. Memeriksa detak nadi


dan tensi pasien.


“Ibu sudah minum obat?” tanya mama, saat itu.


Wanita


itu hanya mengangguk.


“Sus...


saya boleh pindah kamar?” sang pasien meminta pindah kamar.


“Pindah?


Memang kenapa, Bu?” mama penasaran.


“Saya


takut sendirian suster.”


Mama tersenyum


tipis. “Ibu jangan takut ya. Ada dua orang perawat kok di sebelah dan saya yang


menjaga di ruangan ini. Memangnya sanak-saudara ibu di mana? Mereka nggak ada


yang mau menjaga ibu?”


Wanita


baya itu menggeleng pelan dan diam. Raut wajahnya sangat iba.


“Sudah...


Ibu tenang aja ya,” bujuk mama lagi.


“Tapi,


Suster...” wanita itu memelas lagi.


“Sudahlah,


Bu. Ibu tidur saja ya. Saya akan membawakan makanan untuk ibu.” Ucap mama sambil


menarik selimut dan menutup setengah badan wanita baya itu. Kemudian ia keluar


dan menutup pintu. Ia menuju dapur rumah sakit dan mengambil makanan untuk


Mama berjalan  sambil membawa tempayan berisi nasi dan lauk


pauk. Di tengah koridor ia berpapasan dengan dokter Haris.


“Salma,


kamu mau kemana?” tanya dokter Haris.


“Mau mengantar


makanan ini, dok, untuk pasien 103.”


Haris


terdiam mengerutkan keningnya sambil menggeleng pelan.


“Pasien


itu sudah meninggal dunia semalam. Keluarganya belum ada yang datang,”


DEG.


Jantung


mama terasa berhenti berputar.


“Maksud, dokter?” mama terkejut.


“Wanita itu sudah meninggal dunia, Salma.”


Mama mengatur detak jantungnya sambil


mengerutkan keningnya. Bukankah beberapa menit yang lalu dia masih berbicara


dengan wanita baya itu?


“Sudah, sekarang kamu siapkan


data-data jenazah wanita itu,”


“B....baik, dok...” sahutnya


tergagap.


Setelah mengembalikan tempayan, mama


kembali lagi ke Kamar Melati 103. Rasa takut mulai menyergapnya. Ia bergidik ketika


mengingat wajah wanita baya itu. Bulu kuduknya merinding. Malam semakin sepi dan


dingin. Detak jantungnya kembali berdebar kencang.


“Ya, Allah... kenapa ini harus aku alami...?”

__ADS_1


gumamnya seraya berbisik.


Takut-takut ia membuka kamar 103 yang


sudah menebarkan bau tak sedap. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Perawat yang


berada di meja administrasi juga sudah tidak ada. Padahal tadi ada dua orang


disana.


Keringat dingin mengucur deras di


kening mama. Ia membuka sedikit pintu kamar dan mengintai jenazah wanita baya


itu. Jenazahnya sudah ditutupi kain putih, namun memberikan nuansa misteri.


Kalau benar wanita baya itu meninggal semalam, lantas siapa yang berbicara


dengannya?


“Duuhh.... kenapa aku jadi merinding


ya,”


Mama kembali membuka pintu kamar


sedikit. Ia terkejut tidak menemukan jenazah wanita itu di tempat tidur.


Matanya mengedar ke sudut ruangan sambil memegang handle pintu, dan...


BRAAKK...


“Akhhh...”


Mama menjerit ketakutan. Sosok wanita


baya itu menatap dirinya dari balik pintu. Mama berlari menjauhi kamar 103.


Nafasnya tersengal melewati beberapa koridor. Keadaan rumah sakit tetap sama,


sepi dan hanya beberapa perawat saja yang ada disana. Ia menuju ruangan dokter Haris,


tapi ruangan itu sudah tutup dan dikunci.


“Dokter.... dokter...” panggil


Salma.


Tidak ada sahutan. Raisa bingung


bermandi keringat. Ia ketakutan dan kalut. Kemudian ia berlari lagi di koridor.


Mencari siapa saja yang ada disana, namun ia tidak menemukan siapa-siapa


disana.


Salma berhenti sejenak sambil mengatur


pernafasannya. Di sudut ruangan kosong Salma mendengar percakapan kepala asrama


dengan seseorang. Salma melangkahkan kakinya dengan perlahan dan tanpa suara.


Ia mengendap di dinding ruangan. Salma mengintai dari ruangan itu dan


memperhatikan seorang laki-laki baya berusia lima puluh tahunan berbicara


dengan kepala asrama.


“Sudah hampir tengah malam. Kenapa


belum ada tanda-tanda?” tanya laki-laki itu. Rambutnya sudah hampir putih


semua.


“Saya juga tidak tau, dok...”


Salma mengerutkan dahinya. Ia nggak


tau apa maksud kedua orang itu. Kemudian ia membuka sepatunya dan beranjak dari


tempat itu pelan-pelan. Salma  melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Ia


kembali ke asrama.


Salma membuka pintu kamar sambil


mengatur pernafasannya. Ia melihat Siti, teman tidurnya sudah tertidur pulas. Salma


menghampiri tempat tidurnya  dan duduk di


pinggirnya. Pikirannya menerawang jauh penuh tanda tanya.


“Ouhhhh...” Salma menghapus keringat


di keningnya.


Salma ingin menenangkan pikirannya


sejenak untuk menghilangkan rasa takutnya. Ia mengambil air putih dan


menenggaknya. Setelah tenang Salma kembali ke rumah sakit. Ia terus berdoa agar


tidak ada kejadian mengerikan yang dia alami.


Salma melangkahkan kakinya ragu-ragu,


namun ia yakin tidak ada mahluk halus yang bisa mengganggunya. Salma berhenti


di ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Ia mendengar suara laki-laki


berbicara tentang pesugihan!

__ADS_1


__ADS_2