
Sudah seminggu berlalu sejak kematian Hadrian. Berita
kematian Hadrian menjadi buah bibir para guru. Mereka mulai kasak kusuk
membicarakan Hadrian. Karena kematian Hadrian dianggap tidak wajar.
Di ruang guru ada Tiara, Santi, Melda,
Andriano dan guru lain. Mereka bercengkrama tentang soal-soal latihan
murid-muridnya. Santi masih tetap saja berwajah jutek. Guru fisika yang
dianggap killer oleh murid-muridnya. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang murid
dari ruang kelas. Ia menjerit-jerit kepanasan. Teriakan itu membuat para guru
terkejut dan segera berhambur ke ruang kelas. Raisa bangkit dari kursinya dan
buru-buru keluar. Tak sengaja ia menubruk seorang siswa di koridor. Siswa itu
berhenti dan menatap Raisa dengan lekat.
“Dia akan mencari ibu. Dia akan
membunuh ibu!” Katanya dengan suara berat. Raisa yang melihat keanehan itu pun
ketakutan.
“Apa maksudmu?” tanyanya sediki panik.
Cowok berseragam putih abau-abu itu
hanya diam dengan pandangan ke depan.
Hal itu semakin membuat Raisa ketakutan. Raisa lalu pergi meninggalkan cowok bernama Raka. Murid yang
memiliki indera keenam.
“Siapa murid itu?” Pikir Raisa.
Belum habis Raisa berpikir tentang
murid cowok itu, ia dikejutkan dengan teriakan siswi yang kesurupan. Siswi
cewek itu melotot ke arah Raisa dan berkata dengan lantang begitu Raisa tiba di ruang kelas.
“Aku akan menuntut balas!” Suara itu
membuat Raisa bergidik dan buru-buru ia meninggalkan ruang kelas. Raisa
ketakutan. Mengapa arwah-arwah itu menutut kepadanya. Apa salah yang sudah ia
perbuat?
Raisa kembali ke asrama dan berdiri di
dekat jendela. Ia terpaku menyaksikan kejadian-kejadian menakutkan yang ia
alami. Ia memperhatikan gedung sekolah yang terlihat dari jendela kaca
kamarnya. Ia melihat ada tujuh siswa di atas gedung sekolah. Wajah-wajah mereka
terlihat pucat. Raisa bergidik dan mengelus lengannya. Tujuh murid itu bukan
manusia. Mereka arwah yang gentayangan.
“Raisa!” Panggil Melda mengejutkan.
Refleks Raisa menoleh ke belakang dan tercekat. “Kamu ngapain bengong disitu?”
tanya Melda yang baru masuk kamar.
“Melda? Kamu ngejutin aja. Untung
jantungku gak copot.” Kata Raisa mengtur pernafasannya.
“Memangnya kenapa? Kamu bengong
__ADS_1
disitu?”
“Aku takut.”
“Takut? Takut apa?” tanya Melda sambil
meletakkan tas kerjanya di atas meja belajar. Kemudian duduk di atas tempat
tidur sambil membuka sepatunya.
“Akhir-akhir ini murid-murid banyak
yang kesurupan.”
“Sudah ah, jangan cerita yang
serem-serem. Ini malam jum,at.” Kata Melda sambil mengambil handuk dari
gantungan. “Aku mau mandi dulu.”
Raisa hanya mengangguk dan
meremat-remat jemari tangannya. Ia kembali mengintai dari jendela kamar dan
alangkah terkejutnya Raisa. Ada sosok perempuan berpakaian perawat di lantai
empat. Perawat itu berdiri kaku menghadapnya. Raisa terkejut dan memalingkan
wajahnya sambil menutup gorden jendela.
“Siapa perawat itu?” pikirnya.
Malam merambat dengan diiringi suara
lolongan anjing yang entah dari mana. Melda sudah tidur terlebih dahulu dan
Raisa tidak dapat memjamkan matanya. Pikiran-pikiran lain mengusiknya. Raisa
penasaran tentang lantai empat yang digunakan sebagai lapangan. Ia mengintai
berhenti. Ia melihat perempuan berambut panjang tengah menggendong anak.
Kuntilanak! Raisa buru-buru menutup gorden jendela dan naik ke tempat tidur. Ia
menutup tubuhnya dengan selimut dan berusaha menutup matanya. Keringat dingin
mengucur deras dari keningnya. Suara-suara aneh terdengar menakutkan. Suara
tangisan pilu dan suara seorang bayi.
Pet! Lampu padam dan membuat kamar
menjadi gelap gulita.
Mama menemui Raisa di asrama. Mama
baru saja tiba dan menanyakan kabar Raisa yang matanya kelihatan sembab. Saat
mati lampu malam itu, Raisa berusaha tidur. Namun, bayanga-bayangan menakutkan
menyergapnya.
“Raisa tidak bisa tidur tadi malam,
Ma.” Kata Raisa ketika ditanya mama. Mama menggelengkan kepalanya dan menarik
nafas dengan berat.
“Sebaiknya kamu pulang saja, Raisa.
Mama khawatir terjadi apa-apa sama kamu.” Mama berusaja membujuk Raisa.
“Ini pengalaman Raisa, Ma.”
Mama terdiam dan berusaha ingin
__ADS_1
menceritakan tentang sekolah itu. Mama terkejut saat tiba di sekolah yang sudah
direnovasi. Sepuluh tahun yang lalu, sekolah itu tidak begitu bentuknya. Mama
tahu betul dan kini sekolah itu sudah berubah.
“Sebelumnya mama mau minta maaf sama
kamu.”
Raisa mengerutkan dahinya sambil
memperhatikan wajah mama.
“Maksud, Mama?”
Mama menarik nafas dan
menghembuskannya perlahan. Kemudian mama menceritakan kejadian sepuluh tahun
yang lalau saat ia menjadi perawat. Saat sekolah itu menjadi rumah sakit.
Banyak pengalaman mama tentang kejadian yang menakutkan. Konon kamar mandi
perempuan itu adalah kamar mayat. Banyak mayat yang tidak diambil keluarganya
dan ditanam di situ.
Ada juga seorang gadis yang bunuh diri
karena ditinggal kekasihnya dan mayatnya dibiarkan begitu saja. Mama bergidik
menceritakan kejadian masa lalu. Sedangkan seorang dokter yang tubuhnya hangus
adalah anak pemilik rumah sakit. Dokter spesialis itu baru menamatkan
spesialisnya di luar negeri, tapi papanya melakukan perjanjian dengan setan.
Pesugihan tujuh darah perawan. Sebelum mencapai perawan yang ketujuh, mama dan
perawat lainnya membakar dokter itu hingga tewas. Sebagian rumah sakit pun
terbakar.
“Mama?” Guman Raisa.
“Maafin mama, Raisa. Mama tidak
menceritakannya kepadamu. Sekarang pulanglah.”
Raisa tertunduk dan menangis. Ia tidak
tahu harus berbuat apa. Pantas saja arwah itu ingin menuntut balas!
“Raisa harus menyelesaikannya, ma.
Sampai kapan arwah itu mengejar Raisa?”
“Raisa, mama mohon sama kamu. Mama
sayang kamu.”
“Sudahlah, Ma. Mama pulang saja.
Kesalahan mama masa lalu biar Raisa yang menanggungnya.”
“Tidak, Sa. Mama tidak terima. Mama
tidak ikhlas!”
Raisa diam terpaku dengan mata merebak
dan mengacuhkan mama. Mama akhirnya pamit pulang dan ingin meminta bantuan pada
para ustad. Biar mama yang menebus kesalahannya.
__ADS_1