ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 36


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu sejak kematian Hadrian. Berita


kematian Hadrian menjadi buah bibir para guru. Mereka mulai kasak kusuk


membicarakan Hadrian. Karena kematian Hadrian dianggap tidak wajar.


Di ruang guru ada Tiara, Santi, Melda,


Andriano dan guru lain. Mereka bercengkrama tentang soal-soal latihan


murid-muridnya. Santi masih tetap saja berwajah jutek. Guru fisika yang


dianggap killer oleh murid-muridnya. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang murid


dari ruang kelas. Ia menjerit-jerit kepanasan. Teriakan itu membuat para guru


terkejut dan segera berhambur ke ruang kelas. Raisa bangkit dari kursinya dan


buru-buru keluar. Tak sengaja ia menubruk seorang siswa di koridor. Siswa itu


berhenti dan menatap Raisa dengan lekat.


“Dia akan mencari ibu. Dia akan


membunuh ibu!” Katanya dengan suara berat. Raisa yang melihat keanehan itu pun


ketakutan.


“Apa maksudmu?” tanyanya sediki panik.


Cowok berseragam putih abau-abu itu


hanya diam dengan pandangan ke depan.


Hal itu semakin membuat Raisa ketakutan. Raisa lalu pergi meninggalkan cowok bernama Raka. Murid yang


memiliki indera keenam.


“Siapa murid itu?” Pikir Raisa.


Belum habis Raisa berpikir tentang


murid cowok itu, ia dikejutkan dengan teriakan siswi yang kesurupan. Siswi


cewek itu melotot ke arah Raisa dan berkata dengan lantang begitu Raisa tiba di ruang kelas.


“Aku akan menuntut balas!” Suara itu


membuat Raisa bergidik dan buru-buru ia meninggalkan ruang kelas. Raisa


ketakutan. Mengapa arwah-arwah itu menutut kepadanya. Apa salah yang sudah ia


perbuat?


Raisa kembali ke asrama dan berdiri di


dekat jendela. Ia terpaku menyaksikan kejadian-kejadian menakutkan yang ia


alami. Ia memperhatikan gedung sekolah yang terlihat dari jendela kaca


kamarnya. Ia melihat ada tujuh siswa di atas gedung sekolah. Wajah-wajah mereka


terlihat pucat. Raisa bergidik dan mengelus lengannya. Tujuh murid itu bukan


manusia. Mereka arwah yang gentayangan.


“Raisa!” Panggil Melda mengejutkan.


Refleks Raisa menoleh ke belakang dan tercekat. “Kamu ngapain bengong disitu?”


tanya Melda yang baru masuk kamar.


“Melda? Kamu ngejutin aja. Untung


jantungku gak copot.” Kata Raisa mengtur pernafasannya.


“Memangnya kenapa? Kamu bengong

__ADS_1


disitu?”


“Aku takut.”


“Takut? Takut apa?” tanya Melda sambil


meletakkan tas kerjanya di atas meja belajar. Kemudian duduk di atas tempat


tidur sambil membuka sepatunya.


“Akhir-akhir ini murid-murid banyak


yang kesurupan.”


“Sudah ah, jangan cerita yang


serem-serem. Ini malam jum,at.” Kata Melda sambil mengambil handuk dari


gantungan. “Aku mau mandi dulu.”


Raisa hanya mengangguk dan


meremat-remat jemari tangannya. Ia kembali mengintai dari jendela kamar dan


alangkah terkejutnya Raisa. Ada sosok perempuan berpakaian perawat di lantai


empat. Perawat itu berdiri kaku menghadapnya. Raisa terkejut dan memalingkan


wajahnya sambil menutup gorden jendela.


“Siapa perawat itu?” pikirnya.


Malam merambat dengan diiringi suara


lolongan anjing yang entah dari mana. Melda sudah tidur terlebih dahulu dan


Raisa tidak dapat memjamkan matanya. Pikiran-pikiran lain mengusiknya. Raisa


penasaran tentang lantai empat yang digunakan sebagai lapangan. Ia mengintai


berhenti. Ia melihat perempuan berambut panjang tengah menggendong anak.


Kuntilanak! Raisa buru-buru menutup gorden jendela dan naik ke tempat tidur. Ia


menutup tubuhnya dengan selimut dan berusaha menutup matanya. Keringat dingin


mengucur deras dari keningnya. Suara-suara aneh terdengar menakutkan. Suara


tangisan pilu dan suara seorang bayi.


Pet! Lampu padam dan membuat kamar


menjadi gelap gulita.



Mama menemui Raisa di asrama. Mama


baru saja tiba dan menanyakan kabar Raisa yang matanya kelihatan sembab. Saat


mati lampu malam itu, Raisa berusaha tidur. Namun, bayanga-bayangan menakutkan


menyergapnya.


“Raisa tidak bisa tidur tadi malam,


Ma.” Kata Raisa ketika ditanya mama. Mama menggelengkan kepalanya dan menarik


nafas dengan berat.


“Sebaiknya kamu pulang saja, Raisa.


Mama khawatir terjadi apa-apa sama kamu.” Mama berusaja membujuk Raisa.


“Ini pengalaman Raisa, Ma.”


Mama terdiam dan berusaha ingin

__ADS_1


menceritakan tentang sekolah itu. Mama terkejut saat tiba di sekolah yang sudah


direnovasi. Sepuluh tahun yang lalu, sekolah itu tidak begitu bentuknya. Mama


tahu betul dan kini sekolah itu sudah berubah.


“Sebelumnya mama mau minta maaf sama


kamu.”


Raisa mengerutkan dahinya sambil


memperhatikan wajah mama.


“Maksud, Mama?”


Mama menarik nafas dan


menghembuskannya perlahan. Kemudian mama menceritakan kejadian sepuluh tahun


yang lalau saat ia menjadi perawat. Saat sekolah itu menjadi rumah sakit.


Banyak pengalaman mama tentang kejadian yang menakutkan. Konon kamar mandi


perempuan itu adalah kamar mayat. Banyak mayat yang tidak diambil keluarganya


dan ditanam di situ.


Ada juga seorang gadis yang bunuh diri


karena ditinggal kekasihnya dan mayatnya dibiarkan begitu saja. Mama bergidik


menceritakan kejadian masa lalu. Sedangkan seorang dokter yang tubuhnya hangus


adalah anak pemilik rumah sakit. Dokter spesialis itu baru menamatkan


spesialisnya di luar negeri, tapi papanya melakukan perjanjian dengan setan.


Pesugihan tujuh darah perawan. Sebelum mencapai perawan yang ketujuh, mama dan


perawat lainnya membakar dokter itu hingga tewas. Sebagian rumah sakit pun


terbakar.


“Mama?” Guman Raisa.


“Maafin mama, Raisa. Mama tidak


menceritakannya kepadamu. Sekarang pulanglah.”


Raisa tertunduk dan menangis. Ia tidak


tahu harus berbuat apa. Pantas saja arwah itu ingin menuntut balas!


“Raisa harus menyelesaikannya, ma.


Sampai kapan arwah itu mengejar Raisa?”


“Raisa, mama mohon sama kamu. Mama


sayang kamu.”


“Sudahlah, Ma. Mama pulang saja.


Kesalahan mama masa lalu biar Raisa yang menanggungnya.”


“Tidak, Sa. Mama tidak terima. Mama


tidak ikhlas!”


Raisa diam terpaku dengan mata merebak


dan mengacuhkan mama. Mama akhirnya pamit pulang dan ingin meminta bantuan pada


para ustad. Biar mama yang menebus kesalahannya.


__ADS_1


__ADS_2