ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 38


__ADS_3

“Kita harus menjemput Raisa


secepatnya, Pa.” Kata mama. Mama terlihat cemas dan mama merasa tidak tenang.


Sosok-sosok arwah penasaran itu bermain-main di mata mama. Sementara papa tidak


percaya dengan cerita mama yang dianggap ngibul.


“Tenang, Ma. Jangan gegabah.


Kenapa mama percaya sama tahayul? Itu semua omong kosong, Ma. Hantu itu tidak


bisa mencelakai manusia.”


“Pa, percaya sama mama.”


“Sudahlah, Ma. Papa capek.


Papa mau istirahat.” Kata papa dan masuk ke kamar. Mama menghela berat dan bingung


di ruang tamu.


Akhirnya mama nekat pergi


sendiri ke sekolah Raisa.



Setelah usai sekolah, Adriano


menemui Raisa. Ia ingin tahu cerita dari Raisa. Mereka sepakat untuk tidak


menceritakan hal itu di sekolah. Akhirnya mereka membuat janji untuk bertemu di


luar.


“Sekolahan itu angker, Pak!”


kata Raisa serius.


“Angker?” Dahi Adriano


berkerut.


“Banyak kejadian misteri di


sana. Bukan sekali saja saya merasakan keanehan sekolah itu.”


Adriano diam dan terpaku untuk


beberapa saat. Ia juga pernah melihat penampakan. Sekolah itu benar-benar

__ADS_1


angker. Pantas saja sekolah itu kurang diminati banyak siswa.



Raisa kembali ke asrama saat


hari mulai gelap. Untuk menuju asrama ia harus melewati gedung sekolah.


Pandanganya mengedar ke halaman sekolah yang sepi. Gelap dan memberikan suasana


mencekam.


Di ujung koridor ia melihat


seorang perempuan menggendong bayi sambil bernyanyi pilu. Raisa tercekat dan


bergidi. Perempuan berambut panjang dengan baju penuh lumuran darah bergerak


lambat. Raisa mempercepat langkahnya, namun sosok perempuan itu sudah berada di


depannya. Sekonyong-konyong saja Raisa menjerit dan berlari ketakutan. Nafasnya


memburu dan tubuhnya merinding tiada terkira. Raisa berlari di koridor dan


maniki anak tangga. Ia seperti dituntun untuk menuju lantai empat. Sosok-sosok


arwah yang lain pun bermunculan. Raisa menjerit-jerit ketakutan. Ia masuk ke


gudang yang sudah ia buka waktu itu. Terlihat gelap dan menakutkan. Bibir Raisa


kerjanya jatuh tidak tahu kemana.


Raisa berjalan dengan kaki


gemetar memasuki gudang gelap. Di luar awan hitam mulai berarak gelisah. Angin


berhembus semakin dingin. Suara petir terdengar menggelegar. Raisa terkejut


beberapa kali mendengar suara gemuruh di langit. Raisa mengambil ponselnya di


saku rok dan berusaha menghubungi Adriano. Tidak ada jawaban dan Raisa semakin


ketakutan. Ia duduk berjongkok sambil menggigit bibirnya.


Kilatahan cahaya petir


menerangi sebagian gudang. Raisa melihat ada cowok yang berdiri mematung sambil


sesenggukan di ujung gudang. Ia melihat cowok itu takut-takut dan mengamatinya


dengan lekat. Cahaya petir meneranginya sekilas. Itu Adriano. Pikirnya. Mengapa

__ADS_1


Adriano anak di gudang?


“Pak Adriano?” Gumamnya Pelan.


Raisa bangkit dari duduknya dan menghampiri Adriano dengan langkah perlahan.


“Pak Adriano?” Panggilnya


kemudian. Adriano bergeming dan tetap di tempatnya. Raisa melihat tubuh Adriano


yang berguncang karena menahan tangis. Raisa penasaran dan mendekati Adriano.


“Pak...” sapanya lagi. Raisa


pun terkejut begitu melihat seorang laki-laki terbujur di lantai bersimbah


darah di kepalanya. Raisa ingin menjerit tapi tertahan dan ia menutup mulutnya.


Raisa menangis tertahan. Laki-laki yang terbujur di lantai itu ternyata


Adriano. Bukankah tadi ia bersama Adriano? Adriano tewas karena terkejut


melihat penampakan yang mengerikan di gudang itu.


Raisa pun berlari menuju pintu


keluar. Ia menjerit tetapi suaranya tidak keluar. Ia tersandung dan jatuh.


Buru-buru ia bangkit dan berlari ketakutan. Raisa keluar dan menangis di depan


pintu.


Hujan turun sangat deras dan


Raisa menuruni anak tangga. Sesekali kilatan cahaya menerangi sekolah. Raisa


menghentikan langkahnya ketika melihat Adriano berdiri tegak di anak tangga.


Kepalanya masih mengucur cairan merah yang amis memuakan. Raisa ketakutan. Ia


juga melihat sosok perempuan. Perempuan itu adalah Faridah. Guru killer yang


tewas di gudang itu. Raisa menangis dan melangkah mundur ketakutan.


Hujan mulai reda dan


menyisakan hawa yang sangat dingin. Suara-suara aneh pun bermunculan menghantui


Raisa. Ia melihat sosok-sosok arwah yang tewas di sekolah itu. Mereka keluar


dari dalam gudang. Ternyata gudang itu tempat penyimpanan mayat dan bekas kamar

__ADS_1


mayat.



__ADS_2