
“Kita harus menjemput Raisa
secepatnya, Pa.” Kata mama. Mama terlihat cemas dan mama merasa tidak tenang.
Sosok-sosok arwah penasaran itu bermain-main di mata mama. Sementara papa tidak
percaya dengan cerita mama yang dianggap ngibul.
“Tenang, Ma. Jangan gegabah.
Kenapa mama percaya sama tahayul? Itu semua omong kosong, Ma. Hantu itu tidak
bisa mencelakai manusia.”
“Pa, percaya sama mama.”
“Sudahlah, Ma. Papa capek.
Papa mau istirahat.” Kata papa dan masuk ke kamar. Mama menghela berat dan bingung
di ruang tamu.
Akhirnya mama nekat pergi
sendiri ke sekolah Raisa.
Setelah usai sekolah, Adriano
menemui Raisa. Ia ingin tahu cerita dari Raisa. Mereka sepakat untuk tidak
menceritakan hal itu di sekolah. Akhirnya mereka membuat janji untuk bertemu di
luar.
“Sekolahan itu angker, Pak!”
kata Raisa serius.
“Angker?” Dahi Adriano
berkerut.
“Banyak kejadian misteri di
sana. Bukan sekali saja saya merasakan keanehan sekolah itu.”
Adriano diam dan terpaku untuk
beberapa saat. Ia juga pernah melihat penampakan. Sekolah itu benar-benar
__ADS_1
angker. Pantas saja sekolah itu kurang diminati banyak siswa.
Raisa kembali ke asrama saat
hari mulai gelap. Untuk menuju asrama ia harus melewati gedung sekolah.
Pandanganya mengedar ke halaman sekolah yang sepi. Gelap dan memberikan suasana
mencekam.
Di ujung koridor ia melihat
seorang perempuan menggendong bayi sambil bernyanyi pilu. Raisa tercekat dan
bergidi. Perempuan berambut panjang dengan baju penuh lumuran darah bergerak
lambat. Raisa mempercepat langkahnya, namun sosok perempuan itu sudah berada di
depannya. Sekonyong-konyong saja Raisa menjerit dan berlari ketakutan. Nafasnya
memburu dan tubuhnya merinding tiada terkira. Raisa berlari di koridor dan
maniki anak tangga. Ia seperti dituntun untuk menuju lantai empat. Sosok-sosok
arwah yang lain pun bermunculan. Raisa menjerit-jerit ketakutan. Ia masuk ke
gudang yang sudah ia buka waktu itu. Terlihat gelap dan menakutkan. Bibir Raisa
kerjanya jatuh tidak tahu kemana.
Raisa berjalan dengan kaki
gemetar memasuki gudang gelap. Di luar awan hitam mulai berarak gelisah. Angin
berhembus semakin dingin. Suara petir terdengar menggelegar. Raisa terkejut
beberapa kali mendengar suara gemuruh di langit. Raisa mengambil ponselnya di
saku rok dan berusaha menghubungi Adriano. Tidak ada jawaban dan Raisa semakin
ketakutan. Ia duduk berjongkok sambil menggigit bibirnya.
Kilatahan cahaya petir
menerangi sebagian gudang. Raisa melihat ada cowok yang berdiri mematung sambil
sesenggukan di ujung gudang. Ia melihat cowok itu takut-takut dan mengamatinya
dengan lekat. Cahaya petir meneranginya sekilas. Itu Adriano. Pikirnya. Mengapa
__ADS_1
Adriano anak di gudang?
“Pak Adriano?” Gumamnya Pelan.
Raisa bangkit dari duduknya dan menghampiri Adriano dengan langkah perlahan.
“Pak Adriano?” Panggilnya
kemudian. Adriano bergeming dan tetap di tempatnya. Raisa melihat tubuh Adriano
yang berguncang karena menahan tangis. Raisa penasaran dan mendekati Adriano.
“Pak...” sapanya lagi. Raisa
pun terkejut begitu melihat seorang laki-laki terbujur di lantai bersimbah
darah di kepalanya. Raisa ingin menjerit tapi tertahan dan ia menutup mulutnya.
Raisa menangis tertahan. Laki-laki yang terbujur di lantai itu ternyata
Adriano. Bukankah tadi ia bersama Adriano? Adriano tewas karena terkejut
melihat penampakan yang mengerikan di gudang itu.
Raisa pun berlari menuju pintu
keluar. Ia menjerit tetapi suaranya tidak keluar. Ia tersandung dan jatuh.
Buru-buru ia bangkit dan berlari ketakutan. Raisa keluar dan menangis di depan
pintu.
Hujan turun sangat deras dan
Raisa menuruni anak tangga. Sesekali kilatan cahaya menerangi sekolah. Raisa
menghentikan langkahnya ketika melihat Adriano berdiri tegak di anak tangga.
Kepalanya masih mengucur cairan merah yang amis memuakan. Raisa ketakutan. Ia
juga melihat sosok perempuan. Perempuan itu adalah Faridah. Guru killer yang
tewas di gudang itu. Raisa menangis dan melangkah mundur ketakutan.
Hujan mulai reda dan
menyisakan hawa yang sangat dingin. Suara-suara aneh pun bermunculan menghantui
Raisa. Ia melihat sosok-sosok arwah yang tewas di sekolah itu. Mereka keluar
dari dalam gudang. Ternyata gudang itu tempat penyimpanan mayat dan bekas kamar
__ADS_1
mayat.