ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 24


__ADS_3

Sekolah itu terlihat biasa


saja, tapi akan terasa menyeramkan kala malam hari. Seperti ada sosok yang


tidak ingin lorong-lorong itu diberi penerangan. Ada sosok siswi dengan tubuh


melepuh di sudut koridor. Konon siswi itu tewas terbakar. Kejadian itu sudah


sepuluh tahun yang lalu.


Pagi itu suasana


seperti biasa, cerah dengan sulur matahari pagi. Siswa-siswi baru pun mulai


berdatangan dengan seragam baru mereka. Raisa memperhatikan pemandangan yang


indah itu. Ia teringat masa-masa sekolah dulu. Raisa tersenyum tipis mengingat


masa itu.


Di sebuah ruangan, beberapa guru sedang bergunjing. Mereka membicarakan tentang kejadian-kejadian aneh yang sering mereka alami. Belum


lagi kejadian kecelakaan yang kerap kali menjadi buah-bibir mereka. Konon arwah


kecelakaan itu selalu gentayangan. Mencari anggota tubuhnya yang berserakan dan sering menghantui para guru disekolah. Guru-guru lama pasti tahu cerita itu, apalagi cerita tentang sekolah itu.


Farida. Guru matematika juga sebagai guru senior, terlihat berjalan di koridor sambil mendekap beberapa map dan buku di


dadanya.Wajahnya terlihat bisa saja dengan dandanan yang


cukup membuat para siswa tak berkutik. Farida termasuk guru killer di sekolah itu.


Raisa mengalihkan pandang dan berjalan masuk ke ruang guru.


“Selamat pagi...”


Raisa menyapa pada guru yang lain.


“Pagi...” Jawab


mereka.


“Kenalkan saya Raisa,


Bu. Guru honorer baru.”


“Oh, selamat datang, bu


Raisa. Senang berkenalan dengan ibu.”


“Sama-sama, Bu.”


Raisa berjalan menuju


kursinya yang sudah diberitahu kemarin. Ia meletakkan berkas-berkas dan


buku-buku di atas meja. Kemudian sebagian buku diletakan nya di Buffett yang


sudah disediakan. Raisa duduk di kursi kayu yang sudah terlihat lama. Ada


sebuah nama yang diukir pakai pisau di sana. Tiara. Raisa merabanya dengan


kanan kanan dan tangan itu diperhatikan oleh seorang guru bernama Lenny.


“Itu bekas meja bu


Tiara.” Ucapnya memberitahu.


Raisa hanya tersenyum


dan mengangguk.


“Oh iya, nama saya bu


Lenny.” Kata perempuan yang lebih tua darinya. Lenny sudah mengajar di sekolah


itu selama sepuluh tahun.


“Apakah bu Tiara


sudah pensiun?”


Lenny terdiam,


kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri meja Raisa.


“Bu Tiara sudah


meninggal!” Ucapnya mengejutkan Raisa.


“Meninggal?”

__ADS_1


“Husst...”


Raisa mengerutkan


keningnya dan merasa bingung apa maksud bu Lenny.


“Sudah bell,


sebaiknya ibu segera menuju ruang kelas.”


“Baik, Bu.” Kata Raisa


sambil bangkit dari kursinya. Raisa pun masuk ke ruang kelas.


Lenny, perempuan


berusia 47 tahun. Guru yang sudah mengabdi selama sepuluh tahun itu sering sekali menghadapi hal-hal aneh


yang sangat menakutkan. Membuat bulu kudu terus merinding. Di mana sosok tubuh melepuh meminta


tolong padanya. Belum lagi tujuh pelajar yang tewas mengenaskan. Arwah itu


tetap bergentayangan di sekolah.


”Saya takut, Bu. Kemarin saya melihat penampakan.” tutur


seorang guru yang bercengkrama sore itu. Nia, guru yang baru lima bulan mengajar


dari luar kota merasa terganggu. Ia sangat ketakutan bila menjada jam mengajar


sore hari.


”Saya juga sering melihat yang lebih mengerikan dari


itu.”ujar guru yang satunya.


”Saya takut sekali, bu Lenny.”


”Sudahlah, bu Nia. Berdo’a saja. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa.” nasehat Lenny. Nia hanya mendegut ludahnya yang pahit.


“Iya, bu. Saya juga


pernah melihat sosok pucat di lantai tiga. Iiiihhh... serem.” Badriah menimpali.


Guru agama yang kini usianya sudah 50 tahun.


“Istighfar, Bu.” Ujar


“Iya, Bu. Saya ke


ruang kelas XIII 10 dulu, Bu.” ucap Nia kemudian.


Guru-guru yang lain


juga bubar dan masuk ke kelas masing-masing. Terlihat koridor sekolah menjadi


sepi. Langit pun berubah gelap. Mendung dan sepertinya akan turun hujan deras.


Raisa yang juga


diminta untuk mengajar sore itu mendekap tubuhnya. Angin dingin menusuk


kulitnya. Konsentrasi belajar siswa-siswi di ruangan itu pun menjadi buyar.


Ruang kelas menjadi gelap dan mencekam. Rintik hujan pun mulai turun. Deras dan


membasahi bangunan di bawahnya. Membuat parit-parit kecil dan bersatu pada


kubangan besar.


Raisa duduk terpaku


dan mengerjapkan pandangannya sesaat. Ruang kelas pun berubah dalam sekejap


saja. Ia tidak melihat siswa-siswinya tadi melainkan siswa-siswi lain dengan


wajah datar dan pucat. Kelopak mata mereka menghitam dengan pandangan semu.


Raisa bergidik dan tiba-tiba sekujur tubuhnya merinding. Siswa-siswi itu seolah


ingin mencekiknya dengan kuku-kuku yang tajam. Tiba-tiba saja ia tercekat


ketika ada yang memanggil namanya.


“Bu Raisa!”


Raisa pun terbangun


dari tidur yang sesaat. Ia tampak bingung dan merasa heran. Ia membuka matanya


perlahan dan memperhatikan ruang kelasnya yang sudah sepi.

__ADS_1


“Bu Raisa kenapa


tidur disini?” tanya bu Nia heran.


“Saya ketiduran, Bu.


Maaf...”


“Anak-anak sudah pada


pulang.” Kata Nia lagi.


Hujan di luar sudah


redah dan menyisakan hawa dingin. Raisa beranjak dari kursinya dan membawa


buku-bukunya.


“Ayo kita keluar, bu.”


Ajak Nia kemudian.


Mereka keluar


bersamaan dan berjalan di koridor. Lagi-lagi Nia penasaran kenapa Raisa bisa


tertidur di ruang kelas.


“Kenapa ibu bisa


ketiduran?” tanya Nia lagi.


“Saya tidak tahu, Bu.


Perasaan tadi saya tidak tidur. Tapi saya melihat sesuatu yang aneh.”


“Aneh? Aneh bagaimana


maksud itu?” Nia mulai penasaran.


“Ah, sudahlah, Bu.


Tidak usah saya ceritakan. Nanti membuat suasana jadi tidak enak.”


“Ceritakan saja, Bu.


Saya ingin tahu ceritanya.”


Raisa diam sejenak


sambil melangkahkan kakinya. Suara telapak sepatu terdengar menggema sore itu.


“Saya melihat


siswa-siswi yang mengerikan!”


“Mengerikan?”


“Apakah sekolah ini


punya sejarah yang kelam, Bu?”


Nia menggigit


bibirnya dan berhenti sejenak. Ia menatap wajah Raisa dengan lekat, lalu


berujar.


“Dulu banya kejadian


yang mengerikan di sekolah ini, Bu. Tentang tujuh orang pelajar yang tewas


mengenaskan dan seorang siswi yang tewas terbakar.”


Raisa manggut-manggut


dan bergidik. Bulu kuduknya mulai merinding ketika ia mencium bahu kemenyan


melintas di hidungnya.


“Sebaiknya segera


kita pulang, Bu.” Kata Raisa takut.


“Iya, Bu. Saya juga


mulai merinding.” Nia buru-buru melangkahkan kakinya dan menuju parkiran. Ia


menyalakan motornya dan segera meninggalkan sekolah. Tinggal Raisa yang


berjalan di koridor menuju asramanya.

__ADS_1


__ADS_2