
Sekolah itu terlihat biasa
saja, tapi akan terasa menyeramkan kala malam hari. Seperti ada sosok yang
tidak ingin lorong-lorong itu diberi penerangan. Ada sosok siswi dengan tubuh
melepuh di sudut koridor. Konon siswi itu tewas terbakar. Kejadian itu sudah
sepuluh tahun yang lalu.
Pagi itu suasana
seperti biasa, cerah dengan sulur matahari pagi. Siswa-siswi baru pun mulai
berdatangan dengan seragam baru mereka. Raisa memperhatikan pemandangan yang
indah itu. Ia teringat masa-masa sekolah dulu. Raisa tersenyum tipis mengingat
masa itu.
Di sebuah ruangan, beberapa guru sedang bergunjing. Mereka membicarakan tentang kejadian-kejadian aneh yang sering mereka alami. Belum
lagi kejadian kecelakaan yang kerap kali menjadi buah-bibir mereka. Konon arwah
kecelakaan itu selalu gentayangan. Mencari anggota tubuhnya yang berserakan dan sering menghantui para guru disekolah. Guru-guru lama pasti tahu cerita itu, apalagi cerita tentang sekolah itu.
Farida. Guru matematika juga sebagai guru senior, terlihat berjalan di koridor sambil mendekap beberapa map dan buku di
dadanya.Wajahnya terlihat bisa saja dengan dandanan yang
cukup membuat para siswa tak berkutik. Farida termasuk guru killer di sekolah itu.
Raisa mengalihkan pandang dan berjalan masuk ke ruang guru.
“Selamat pagi...”
Raisa menyapa pada guru yang lain.
“Pagi...” Jawab
mereka.
“Kenalkan saya Raisa,
Bu. Guru honorer baru.”
“Oh, selamat datang, bu
Raisa. Senang berkenalan dengan ibu.”
“Sama-sama, Bu.”
Raisa berjalan menuju
kursinya yang sudah diberitahu kemarin. Ia meletakkan berkas-berkas dan
buku-buku di atas meja. Kemudian sebagian buku diletakan nya di Buffett yang
sudah disediakan. Raisa duduk di kursi kayu yang sudah terlihat lama. Ada
sebuah nama yang diukir pakai pisau di sana. Tiara. Raisa merabanya dengan
kanan kanan dan tangan itu diperhatikan oleh seorang guru bernama Lenny.
“Itu bekas meja bu
Tiara.” Ucapnya memberitahu.
Raisa hanya tersenyum
dan mengangguk.
“Oh iya, nama saya bu
Lenny.” Kata perempuan yang lebih tua darinya. Lenny sudah mengajar di sekolah
itu selama sepuluh tahun.
“Apakah bu Tiara
sudah pensiun?”
Lenny terdiam,
kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri meja Raisa.
“Bu Tiara sudah
meninggal!” Ucapnya mengejutkan Raisa.
“Meninggal?”
__ADS_1
“Husst...”
Raisa mengerutkan
keningnya dan merasa bingung apa maksud bu Lenny.
“Sudah bell,
sebaiknya ibu segera menuju ruang kelas.”
“Baik, Bu.” Kata Raisa
sambil bangkit dari kursinya. Raisa pun masuk ke ruang kelas.
Lenny, perempuan
berusia 47 tahun. Guru yang sudah mengabdi selama sepuluh tahun itu sering sekali menghadapi hal-hal aneh
yang sangat menakutkan. Membuat bulu kudu terus merinding. Di mana sosok tubuh melepuh meminta
tolong padanya. Belum lagi tujuh pelajar yang tewas mengenaskan. Arwah itu
tetap bergentayangan di sekolah.
”Saya takut, Bu. Kemarin saya melihat penampakan.” tutur
seorang guru yang bercengkrama sore itu. Nia, guru yang baru lima bulan mengajar
dari luar kota merasa terganggu. Ia sangat ketakutan bila menjada jam mengajar
sore hari.
”Saya juga sering melihat yang lebih mengerikan dari
itu.”ujar guru yang satunya.
”Saya takut sekali, bu Lenny.”
”Sudahlah, bu Nia. Berdo’a saja. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa.” nasehat Lenny. Nia hanya mendegut ludahnya yang pahit.
“Iya, bu. Saya juga
pernah melihat sosok pucat di lantai tiga. Iiiihhh... serem.” Badriah menimpali.
Guru agama yang kini usianya sudah 50 tahun.
“Istighfar, Bu.” Ujar
“Iya, Bu. Saya ke
ruang kelas XIII 10 dulu, Bu.” ucap Nia kemudian.
Guru-guru yang lain
juga bubar dan masuk ke kelas masing-masing. Terlihat koridor sekolah menjadi
sepi. Langit pun berubah gelap. Mendung dan sepertinya akan turun hujan deras.
Raisa yang juga
diminta untuk mengajar sore itu mendekap tubuhnya. Angin dingin menusuk
kulitnya. Konsentrasi belajar siswa-siswi di ruangan itu pun menjadi buyar.
Ruang kelas menjadi gelap dan mencekam. Rintik hujan pun mulai turun. Deras dan
membasahi bangunan di bawahnya. Membuat parit-parit kecil dan bersatu pada
kubangan besar.
Raisa duduk terpaku
dan mengerjapkan pandangannya sesaat. Ruang kelas pun berubah dalam sekejap
saja. Ia tidak melihat siswa-siswinya tadi melainkan siswa-siswi lain dengan
wajah datar dan pucat. Kelopak mata mereka menghitam dengan pandangan semu.
Raisa bergidik dan tiba-tiba sekujur tubuhnya merinding. Siswa-siswi itu seolah
ingin mencekiknya dengan kuku-kuku yang tajam. Tiba-tiba saja ia tercekat
ketika ada yang memanggil namanya.
“Bu Raisa!”
Raisa pun terbangun
dari tidur yang sesaat. Ia tampak bingung dan merasa heran. Ia membuka matanya
perlahan dan memperhatikan ruang kelasnya yang sudah sepi.
__ADS_1
“Bu Raisa kenapa
tidur disini?” tanya bu Nia heran.
“Saya ketiduran, Bu.
Maaf...”
“Anak-anak sudah pada
pulang.” Kata Nia lagi.
Hujan di luar sudah
redah dan menyisakan hawa dingin. Raisa beranjak dari kursinya dan membawa
buku-bukunya.
“Ayo kita keluar, bu.”
Ajak Nia kemudian.
Mereka keluar
bersamaan dan berjalan di koridor. Lagi-lagi Nia penasaran kenapa Raisa bisa
tertidur di ruang kelas.
“Kenapa ibu bisa
ketiduran?” tanya Nia lagi.
“Saya tidak tahu, Bu.
Perasaan tadi saya tidak tidur. Tapi saya melihat sesuatu yang aneh.”
“Aneh? Aneh bagaimana
maksud itu?” Nia mulai penasaran.
“Ah, sudahlah, Bu.
Tidak usah saya ceritakan. Nanti membuat suasana jadi tidak enak.”
“Ceritakan saja, Bu.
Saya ingin tahu ceritanya.”
Raisa diam sejenak
sambil melangkahkan kakinya. Suara telapak sepatu terdengar menggema sore itu.
“Saya melihat
siswa-siswi yang mengerikan!”
“Mengerikan?”
“Apakah sekolah ini
punya sejarah yang kelam, Bu?”
Nia menggigit
bibirnya dan berhenti sejenak. Ia menatap wajah Raisa dengan lekat, lalu
berujar.
“Dulu banya kejadian
yang mengerikan di sekolah ini, Bu. Tentang tujuh orang pelajar yang tewas
mengenaskan dan seorang siswi yang tewas terbakar.”
Raisa manggut-manggut
dan bergidik. Bulu kuduknya mulai merinding ketika ia mencium bahu kemenyan
melintas di hidungnya.
“Sebaiknya segera
kita pulang, Bu.” Kata Raisa takut.
“Iya, Bu. Saya juga
mulai merinding.” Nia buru-buru melangkahkan kakinya dan menuju parkiran. Ia
menyalakan motornya dan segera meninggalkan sekolah. Tinggal Raisa yang
berjalan di koridor menuju asramanya.
__ADS_1