ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 29


__ADS_3

Ini hari kesembilan Raisa mengajar di sekolah itu. Hari


ini ia ingin menemui guru olah raga bernama Andriano. Seorang guru muda,


cakep dan pintar. Pukul tujuh Raisa keluar dari kamarnya bersama seorang guru bernama Sisca. Raisa baru bertemu


dengannya. Raisa mencoba menyapa Sisca, namun gadis itu tidak menggubrisnya.


Karena merasa sudah menjadi guru senior di sekolah itu. Sisca memang


sedikit arogan  dan jutek.


“Hai... aku Raisa,” ucap Raisa


sambil mengulurkan tangan.


Sisca diam saja sambil


berjalan menatap ke depan.


“Kamu sudah lama jadi guru di sini?” tanya Raisa lagi.


“Kalau iya memangnya kenapa?” jawab gadis itu ketus seraya


membalikkan pertanyaan.


“Gak apa-apa. Aku hanya ingin


tau aja,” kata Raisa


“Kamu nggak perlu mengurusi


urusan orang. Mending kerjakan saja tugasmu!” suara Sisca


terdengar ketus.


“Maaf, kalau aku


mengganggumu,”


Gadis itu terus berlalu


meninggalkan Raisa.


“Ughh... sombong amat!” umpat


Raisa kesal.


Raisa menemui Andriano di


ruangannya. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah ada suara mempersilahkan


masuk, Raisa masuk dengan jantung berdebar. Seperti apa sih sosok Andriano,


guru olah raga ang dibilang cakep itu.


“Oh My God... cakep banget,” gumamnya dalam hati.


“Pagi,  pak...” sapa nya basa-basi.


Andriano masih sibuk dengan


tulisannya. Ia hanya mengangguk sekenanya.


“Nama kamu siapa?” tanyanya


datar sambil terus sibuk dengan berkas-berkasnya.


“Raisa, Pak.”


“Oh... Sudah pernah mengajar


sebelumnya?”


“Hmm... sudah, Pak...” jawab Raisa gagu.


“Okeh... ada kelas di


ruang 10. Kebetulan guru yang menangani kelas itu ada halangan.  Tadi


ia berpesan ke saya dan minta tolong untuk mencari guru pengganti. Kepala sekolah

__ADS_1


mengusulkan kamu dan saya disuruh menyampaikannya.” ucap Andriano seraya menghentikan kegiatannya.


“Baik, Pak.” Raisa menganggukkan kepalanya, lalu


keluar dari ruangan Andriano sambil menerima beberapa buku pelajaran yang diberikan Andriano.


“Heh... sombong banget guru


olah raganya,” kata Raisa dalam


hati. “Tapi cakep sih...” Raisa ngomong sendiri sambil tersenyum.


Raisa berjalan di koridor


sambil melihat nama absensi para murid di dalam map merah. Kemudian ia mendongak dan memperhatikan jalannya. Raisa


berhenti sejenak sambil mengerutkan dahinya. Koridor yang ia lewati berubah


arah. Ada dua koridor yang sama di sana. Raisa seperti orang linglung. Lupa di mana letak ruang



ke kiri atau ke kanan.



Pandangan Raisa mengedar pada


halaman sekolah yang terlihat sunyi. Dahi Raisa membuat kerutan tipis. Raisa menarik nafasnya dalam-dalam. Mengambil keputusan kemana ia harus


melangkah. Akhirnya ia melangkahkan kakinya ke kiri. Kiri tidak selalu salah


dalam mengambil keputusan. Tapi kali ini ia benar-benar salah melangkah.


Koridor sekolah terlihat sepi sekali. Raisa kembali


menghentikan langkahnya ketika melihat pohon beringin yang bertengger di


sebelah kanan koridor. Beringin? Sejak kapan pohon itu ada di halaman? Batinnya. Pohon itu membuat pikirannya kalut, namun dengan keberanian yang masih


tersisa, Raisa kembali berjalan sambil berdoa. Keringat dingin mulai mengucur


di keningnya.


sambil memalingkan wajahnya dari batang beringin yang terlihat menyeramkan. Ia


melirik sekilas ke arah pohon beringin dan lagi-lagi ia terkejut ketika melihat


sosok perempuan berwajah pucat berdiri menatapnya. Raisa berlari kecil dan


terus berdoa. Jantungnya berdebar kencang tak menentu.


“Raisa....” terdengar


suara nyaring memanggilnya.


Raisa kembali berlari dan


ketakutan. Tiba-tiba saja ia menubruk seseorang di depannya.


“Akh..” Raisa menjerit


kaget. Berkas-berkasnya jatuh ke lantai.


“Hei... kalau jalan


lihat-lihat, bu Raisa.”


sergah orang yang ia tubruk.


Raisa melihat seseorang yang


memakinya. Ternyata Andriano.


“Maaf, Pak... saya nggak sengaja,” kata Raisa sambil


memungut berkas yang berserakan.


“Ibu dari mana aja? Saya tunggu dari tadi nggak


muncul-muncul?”

__ADS_1


“Saya salah jalan, Pak,”


“Salah jalan? Ruang kelas


10 itu ada di sebelah koridor


ruangan saya. Kenapa kamu larinya ke lorong itu?”


Raisa menunduk nggak bisa


menjawab. Dia juga bingung mengapa tiba-tiba berada di koridor ujung.


“Sudah, sekarang ibu


segera masuk ke ruangan.”


“Baik, Pak...”


Raisa merasa lega. “Ughh...


syukurlah...” gumamnya.


Raisa berjalan dengan gemetar


sambil menggerutu kesal.


“Ughh... galak amat guru


olah raganya.” Umpatnya dalam hati. Raisa


masuk ruang kelas 10. ###


Irene minta tolong lagi


melalui ponsel Raisa. Hari ini tepatnya kamis malam  jum,at, Raisa mengajar di kelas 13. Raisa


terpaku menerima tugas itu. Dan sore itu ia sangat ragu melangkah ke ruang


belakang. Raisa merasakan keheningan yang sangat menakutkan. Ia berhenti di


depan ruangan 113 dan memperhatikan tulisan itu. Ada suara tangisan lembut di


dalamnya. Raisa tercekat dan buru-buru membuka ruangan. Ruangan kosong dan sepi.


Raisa terkejut kemana murid-murid itu? Pandangannya mengawasi setiap sudut


ruangan. Bangku-bangku di sana berserakan dan berdebu. Dinding-dindingnya juga


sudah dipenuhi sarang laba-laba. Raisa mendegut ludahnya yang pahit. Mendadak


saja sekujur tubuhnya merinding. Buru-buru ia keluar dari ruangan itu. Api suasana


di luar ruangan sangat berbeda dari saat ia masuk.


Raisa terkejut dan heran. Ia


tidak tahu berada di mana. Pandanganya terlihat nanar memperhatikan gedung lain yang


menakutkan. Ia melihat beberapa dokter dan suster di sana. Siapa dokter dan


suster itu?


Langkah Raisa memburu


berjalan di koridor. Tapi ia tidak menemukan ruang- ruang kelas, melainkan bangsal


rumah sakit. Raisa ketakutan dan hampir menangis. Ia tidak menemukan asrama


tempat ia tinggal. Semuanya menjadi asing.


Raisa ketakutan dan sedikit


berlari melalui koridor. Suara telapak sepatunya beradu di lantai dan menimbulkan


suara beradu. Wajah para dokter dan suster yang berada di koridor berubah pucat


dan kelopak menghitam. Mereka memperhatikan Raisa yang ketakutan. Kemudian wajah-wajah


itu berubah membusuk dan penuh belatung. Raisa menjerit ketakutan. Ia berlari di


koridor yang tak berujung hingga nafasnya tersengal. Tiba-tiba semuanya gelap. Raisa

__ADS_1


pingsan di ruang kelas 113!


__ADS_2