
Ini hari kesembilan Raisa mengajar di sekolah itu. Hari
ini ia ingin menemui guru olah raga bernama Andriano. Seorang guru muda,
cakep dan pintar. Pukul tujuh Raisa keluar dari kamarnya bersama seorang guru bernama Sisca. Raisa baru bertemu
dengannya. Raisa mencoba menyapa Sisca, namun gadis itu tidak menggubrisnya.
Karena merasa sudah menjadi guru senior di sekolah itu. Sisca memang
sedikit arogan dan jutek.
“Hai... aku Raisa,” ucap Raisa
sambil mengulurkan tangan.
Sisca diam saja sambil
berjalan menatap ke depan.
“Kamu sudah lama jadi guru di sini?” tanya Raisa lagi.
“Kalau iya memangnya kenapa?” jawab gadis itu ketus seraya
membalikkan pertanyaan.
“Gak apa-apa. Aku hanya ingin
tau aja,” kata Raisa
“Kamu nggak perlu mengurusi
urusan orang. Mending kerjakan saja tugasmu!” suara Sisca
terdengar ketus.
“Maaf, kalau aku
mengganggumu,”
Gadis itu terus berlalu
meninggalkan Raisa.
“Ughh... sombong amat!” umpat
Raisa kesal.
Raisa menemui Andriano di
ruangannya. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah ada suara mempersilahkan
masuk, Raisa masuk dengan jantung berdebar. Seperti apa sih sosok Andriano,
guru olah raga ang dibilang cakep itu.
“Oh My God... cakep banget,” gumamnya dalam hati.
“Pagi, pak...” sapa nya basa-basi.
Andriano masih sibuk dengan
tulisannya. Ia hanya mengangguk sekenanya.
“Nama kamu siapa?” tanyanya
datar sambil terus sibuk dengan berkas-berkasnya.
“Raisa, Pak.”
“Oh... Sudah pernah mengajar
sebelumnya?”
“Hmm... sudah, Pak...” jawab Raisa gagu.
“Okeh... ada kelas di
ruang 10. Kebetulan guru yang menangani kelas itu ada halangan. Tadi
ia berpesan ke saya dan minta tolong untuk mencari guru pengganti. Kepala sekolah
__ADS_1
mengusulkan kamu dan saya disuruh menyampaikannya.” ucap Andriano seraya menghentikan kegiatannya.
“Baik, Pak.” Raisa menganggukkan kepalanya, lalu
keluar dari ruangan Andriano sambil menerima beberapa buku pelajaran yang diberikan Andriano.
“Heh... sombong banget guru
olah raganya,” kata Raisa dalam
hati. “Tapi cakep sih...” Raisa ngomong sendiri sambil tersenyum.
Raisa berjalan di koridor
sambil melihat nama absensi para murid di dalam map merah. Kemudian ia mendongak dan memperhatikan jalannya. Raisa
berhenti sejenak sambil mengerutkan dahinya. Koridor yang ia lewati berubah
arah. Ada dua koridor yang sama di sana. Raisa seperti orang linglung. Lupa di mana letak ruang
ke kiri atau ke kanan.
Pandangan Raisa mengedar pada
halaman sekolah yang terlihat sunyi. Dahi Raisa membuat kerutan tipis. Raisa menarik nafasnya dalam-dalam. Mengambil keputusan kemana ia harus
melangkah. Akhirnya ia melangkahkan kakinya ke kiri. Kiri tidak selalu salah
dalam mengambil keputusan. Tapi kali ini ia benar-benar salah melangkah.
Koridor sekolah terlihat sepi sekali. Raisa kembali
menghentikan langkahnya ketika melihat pohon beringin yang bertengger di
sebelah kanan koridor. Beringin? Sejak kapan pohon itu ada di halaman? Batinnya. Pohon itu membuat pikirannya kalut, namun dengan keberanian yang masih
tersisa, Raisa kembali berjalan sambil berdoa. Keringat dingin mulai mengucur
di keningnya.
sambil memalingkan wajahnya dari batang beringin yang terlihat menyeramkan. Ia
melirik sekilas ke arah pohon beringin dan lagi-lagi ia terkejut ketika melihat
sosok perempuan berwajah pucat berdiri menatapnya. Raisa berlari kecil dan
terus berdoa. Jantungnya berdebar kencang tak menentu.
“Raisa....” terdengar
suara nyaring memanggilnya.
Raisa kembali berlari dan
ketakutan. Tiba-tiba saja ia menubruk seseorang di depannya.
“Akh..” Raisa menjerit
kaget. Berkas-berkasnya jatuh ke lantai.
“Hei... kalau jalan
lihat-lihat, bu Raisa.”
sergah orang yang ia tubruk.
Raisa melihat seseorang yang
memakinya. Ternyata Andriano.
“Maaf, Pak... saya nggak sengaja,” kata Raisa sambil
memungut berkas yang berserakan.
“Ibu dari mana aja? Saya tunggu dari tadi nggak
muncul-muncul?”
__ADS_1
“Saya salah jalan, Pak,”
“Salah jalan? Ruang kelas
10 itu ada di sebelah koridor
ruangan saya. Kenapa kamu larinya ke lorong itu?”
Raisa menunduk nggak bisa
menjawab. Dia juga bingung mengapa tiba-tiba berada di koridor ujung.
“Sudah, sekarang ibu
segera masuk ke ruangan.”
“Baik, Pak...”
Raisa merasa lega. “Ughh...
syukurlah...” gumamnya.
Raisa berjalan dengan gemetar
sambil menggerutu kesal.
“Ughh... galak amat guru
olah raganya.” Umpatnya dalam hati. Raisa
masuk ruang kelas 10. ###
Irene minta tolong lagi
melalui ponsel Raisa. Hari ini tepatnya kamis malam jum,at, Raisa mengajar di kelas 13. Raisa
terpaku menerima tugas itu. Dan sore itu ia sangat ragu melangkah ke ruang
belakang. Raisa merasakan keheningan yang sangat menakutkan. Ia berhenti di
depan ruangan 113 dan memperhatikan tulisan itu. Ada suara tangisan lembut di
dalamnya. Raisa tercekat dan buru-buru membuka ruangan. Ruangan kosong dan sepi.
Raisa terkejut kemana murid-murid itu? Pandangannya mengawasi setiap sudut
ruangan. Bangku-bangku di sana berserakan dan berdebu. Dinding-dindingnya juga
sudah dipenuhi sarang laba-laba. Raisa mendegut ludahnya yang pahit. Mendadak
saja sekujur tubuhnya merinding. Buru-buru ia keluar dari ruangan itu. Api suasana
di luar ruangan sangat berbeda dari saat ia masuk.
Raisa terkejut dan heran. Ia
tidak tahu berada di mana. Pandanganya terlihat nanar memperhatikan gedung lain yang
menakutkan. Ia melihat beberapa dokter dan suster di sana. Siapa dokter dan
suster itu?
Langkah Raisa memburu
berjalan di koridor. Tapi ia tidak menemukan ruang- ruang kelas, melainkan bangsal
rumah sakit. Raisa ketakutan dan hampir menangis. Ia tidak menemukan asrama
tempat ia tinggal. Semuanya menjadi asing.
Raisa ketakutan dan sedikit
berlari melalui koridor. Suara telapak sepatunya beradu di lantai dan menimbulkan
suara beradu. Wajah para dokter dan suster yang berada di koridor berubah pucat
dan kelopak menghitam. Mereka memperhatikan Raisa yang ketakutan. Kemudian wajah-wajah
itu berubah membusuk dan penuh belatung. Raisa menjerit ketakutan. Ia berlari di
koridor yang tak berujung hingga nafasnya tersengal. Tiba-tiba semuanya gelap. Raisa
__ADS_1
pingsan di ruang kelas 113!