ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 22


__ADS_3

Gedung sekolah itu


terlihat suram. Bila malam tiba ada empat belas sosok pelajar yang berdiri


membeku di atap lantai tiga gedung sekolah. Empat belas diantara mereka, enam


penunggu baru. Mereka hanya diam mematung dengan wajah pucat dan berlumuran


darah. Mereka, Ziad, Nico, Ardan, Jardi, Mery dan Keyla. Mereka lah penunggu


sekolah itu. Kini mereka bisa bersama lagi seperti dulu.


Dalam diam sosok


Keyla menitikkan air mata darah yang mengalir dari matanya yang memerah. Ia


tidak ingin kematiannya seperti itu. Maka dari itu mereka gentayangan di gedung


sekolah.


Sejak kematian


Keyla, Hanna pun pindah sekolah. Ia tidak ingin kehidupannya selalu dihantui


arwah-arwah gentayangan di sekolah itu.


Tahun ajaran baru pun dimulai. Sekolah itu kini


direnovasi dan dicat kembali. Sekolah itu tampak seperti sekolah baru. Dinding


berwarna putih dan lantai juga berwarna putih. Terlihat lebih bersih dan


tampak lebih nyaman.


Di kamar berukuran sedang, dengan dinding


setengah wallpaper, terlihat seorang gadis sedang memasukan baju-bajunya ke


dalam koper. Di sampingnya terlihat perempuan baya duduk sambil ikut membantu


melipat baju-baju. Perempuan baya yang dipanggilnya mama seakan tidak


mengijinkan kepergian gadis itu.


“Raisa...” perempuan itu mendesah berat. “Mama khawatir kamu


merantau jauh dari mama. Apa lagi di kota kecil.


Mama nggak tau seluk beluk kota itu. Trus nanti kamu ditugaskan di mana?” tanya mama sambil ikut memasukan baju-baju Raisa ke dalam koper


besar. Raisa menghela nafas sejenak lalu berujar sambil memasukan baju-bajunya.


“Ini


kesempatan Raisa, Ma. Raisa juga mau menambah pengalaman sebagai guru di sana. Lagi pula Raisa sudah lama menganggur. Raisa


nggak mau merepotkan papa dan mama terus-menerus.” Kata


Raisa.


Mama


terdiam sambil memperhatikan wajah Raisa.


“Mama


masih sanggup mengurus kamu, apalagi kebutuhan sehari-harimu, Raisa.”


“Sudahlah,


Ma... Raisa ingin mencari penghasilan sendiri. Kalau Raisa terus-terusan minta


mama, kapan Raisa mandiri? Kapan Raisa bisa membalas kebaikan mama?”


Mama


kembali terdiam. Hatinya masih saja terganjal atas kepergian Raisa. Mama memang tidak ingin jauh dari Raisa, anak perempuan


satu-satunya.


“Tapi


jangan lupa selalu kabarin mama ya? Mama masih tidak bisa melepas kamu


begitu aja, Raisa...” kata mama.


“Sudahlah,


Ma... Raisa kan sudah dewasa, jangan dikhawatirkan terus... Kapan anak kita


bisa mandiri?” papa ikut nyeletuk dari pintu kamar Raisa. Mama mendongak


menatap papa.


“Tapi,


Pa...” mama bergumam pelan.


“Tapi

__ADS_1


apalagi? Bukannya papa juga nggak sayang sama Raisa. Tapi biarkan Raisa sendiri


yang menentukan jalan hidupnya, Ma. Raisa sudah dewasa,”


“HHH...


Papa selalu saja begitu.”


“Iya,


Ma... Mama jangan khawatir. Raisa akan baik-baik aja kok,” sambung Raisa


kemudian.


Mama terdiam


lagi. Papa berlalu ke ruang tengah.


“Mama


masih khawatir terjadi apa-apa sama kamu, Raisa. Perasaan mama nggak enak...”


“Sudahlah,


Ma. Kita serahkan aja semuanya sama Allah. Mama harus yakin, hanya Dia yang bisa


melindungi kita.”


Mama tersenyum


pahit. Hatinya masih tetap nggak rela harus berpisah dengan Raisa. Selama ini


Raisa memang tidak pernah merantau ke kota mana pun. Kuliah aja


Raisa harus di kota kelahirannya. Lantas mendapat tawaran pekerjaan ke luar kota,


rasanya mama tidak rela.


Raisa


menutup koper besarnya dan mempersiapkan perlengkapan lainnya. Beberapa hari


yang lalu ia mendapat kabar dari sebuah rumah sakit, kalau lamaran kerjanya


diterima sebagai perawat. Setelah beberapa bulan lalu ia kehilangan pekerjaannya


sebagai perawat di sebuah praktek dokter, ia tidak mau menyia-nyiakan


kesempatan ini.


“Raisa


dan mengecup pipinya.


“Hati-hati


ya, Raisa. Kalau kamu nggak betah di sana, segera


pulang,”


Raisa


tersenyum tipis. “Iya, Ma...”


Kemudian


ia pamit ke papa yang lebih tegar dari mama. Tidak banyak yang


diucapkan papa selain kata sukses dan hati-hati.


Raisa


keluar dari gerbang rumah. Ia segera menuju stasiun bus. Ia segera masuk ke


bus besar yang akan membawanya ke kota kecil. Raisa selalu berharap ini


pengalaman terbaiknya bekerja di salah satu sekolah. Bus melaju


meninggalkan kota kelahirannya.


Raisa tiba


di sebuah kota kecil yang masih banyak lahan kosong. Dari kota itu ia naik


angkutan umum menuju sekolah yang terletak tidak jauh dari kota. Jarak


yang cukup jauh dari hingar-bingar kota. Alamnya juga masih asri.


Menjadi seorang guru memang keinginannya sejak kecil dan begitu ia


diterima di salah satu sekolah, Raisa senang sekali. Ia langsung saja mempersiapkan


semua kebutuhannya selama di sana. Beberapa potong baju dan buku-buku


pelajaran. Kebetulan pihak sekolah menyediakan sebuah kamar dekat sekolah.


Raisa memperhatikan gedung sekolah di depannya. Gedung itu terlihat bagus karena


sudah direnovasi. Di sebelah gedung ada sebuah rumah berlantai dua untuk

__ADS_1


penjaga sekolah. Dan di lantai dua empa guru honorer dari luar kota.


Raisa


memasuki gerbang sekolah dengan langkah lambat. Ia masih memperhatikan


gedung itu dengan lekat. Raisa menarik kopernya di lantai keramik setelah


melewati koridor masuk. Ia ingin menemui penjaga sekolah.


“Bu Raisa ya?” tanya seorang laki-laki sedikit


agak tua.


“Iya, Pak.” Jawab Raisa seraya mengangguk.


“Mari saya antar ke kamar.” Kata laki-laki iu


sambil menarik koper Raisa. Kemudian mereka berjalan menuju lantai dua. “Baru bu


Raisa yang datang dari lima guru yang diterima.”


“Oh begitu.”


“Iya, bu. Semoga betah mengajar di sini.”


Raisa mengulas senyum manisnya. Penjaga yang


bernama Rahmat membuka pintu kamar, lalu memberikan kunci kamar ke Raisa.


Raisa masuk


ke kamarnya dan meletakkan kopernya begitu saja. Pandangannya mengedar ke


sudut-sudut ruangan. Dindingnya bercat putih dan ada beberapa lukisan di sana.


Raisa membuka jendela kamar dan menebarkan pandang. Dari jendela kamar ia kembali


melihat pohon rindang yang tumbuh begitu subur dengan daun-daun hijau


tua secara langsung. Awalnya pohon itu tidak begitu merasuki pikirannya, namun


ketika ia mengingat cerita-cerita orang, kalau pohon beringin itu biasanya


dihuni mahluk-mahluk halus, pikirannya jadi kacau. Raisa mulai tidak


tenang. Konon batang pohon beringin itu adalah pintu untuk menuju dunia lain.


“Raisa...”


tiba-tiba saja seseorang memanggilnya. Itu suara kepala asrama.


Raisa


tercekat dan berpaling ke arah kepala asrama.


“Iya,


Bu...” sahutnya seraya mendekati kepala asrama.


“Sebentar


lagi teman asrama mu akan datang. Saya harap kamu bisa mengakrabkan diri


dengannya. Kalau ada apa-apa temu saya,”


“Iya,


makasih, Bu...” ucap Raisa tersenyum.


Perempuan


baya itu meninggalkan Raisa dengan senyum yang biasa saja. Raisa menutup pintu


kamar, lalu membuka kopernya dan menyusun baju-bajunya ke dalam lemari. Raisa membersihkan


kembali kamarnya.


Raisa


menyapu lantai kamar yang terbuat dari keramik berwarna putih. Masih banyak


debu dan kotoran lain di sana. Tiba-tiba saja ia terkejut ketika melihat


beberapa helai rambut dari bawah tempat tidur. Dahi Raisa berkerut.


“Rambut


siapa ini?” gumamnya dalam hati.


Raisa


mengumpulkan helai-helai rambut itu hingga ia menemukan seikat kecil untaian


rambut. Raisa menggulung rambut itu dan membuangnya ke keranjang sampah.


Setelah itu ia menyibakkan sprei tempat tidur yang juga masih berdebu. Sepertinya


pihak sekolah sekedarnya saja membersihkan kamar asrama.

__ADS_1


__ADS_2