
Gedung sekolah itu
terlihat suram. Bila malam tiba ada empat belas sosok pelajar yang berdiri
membeku di atap lantai tiga gedung sekolah. Empat belas diantara mereka, enam
penunggu baru. Mereka hanya diam mematung dengan wajah pucat dan berlumuran
darah. Mereka, Ziad, Nico, Ardan, Jardi, Mery dan Keyla. Mereka lah penunggu
sekolah itu. Kini mereka bisa bersama lagi seperti dulu.
Dalam diam sosok
Keyla menitikkan air mata darah yang mengalir dari matanya yang memerah. Ia
tidak ingin kematiannya seperti itu. Maka dari itu mereka gentayangan di gedung
sekolah.
Sejak kematian
Keyla, Hanna pun pindah sekolah. Ia tidak ingin kehidupannya selalu dihantui
arwah-arwah gentayangan di sekolah itu.
Tahun ajaran baru pun dimulai. Sekolah itu kini
direnovasi dan dicat kembali. Sekolah itu tampak seperti sekolah baru. Dinding
berwarna putih dan lantai juga berwarna putih. Terlihat lebih bersih dan
tampak lebih nyaman.
Di kamar berukuran sedang, dengan dinding
setengah wallpaper, terlihat seorang gadis sedang memasukan baju-bajunya ke
dalam koper. Di sampingnya terlihat perempuan baya duduk sambil ikut membantu
melipat baju-baju. Perempuan baya yang dipanggilnya mama seakan tidak
mengijinkan kepergian gadis itu.
“Raisa...” perempuan itu mendesah berat. “Mama khawatir kamu
merantau jauh dari mama. Apa lagi di kota kecil.
Mama nggak tau seluk beluk kota itu. Trus nanti kamu ditugaskan di mana?” tanya mama sambil ikut memasukan baju-baju Raisa ke dalam koper
besar. Raisa menghela nafas sejenak lalu berujar sambil memasukan baju-bajunya.
“Ini
kesempatan Raisa, Ma. Raisa juga mau menambah pengalaman sebagai guru di sana. Lagi pula Raisa sudah lama menganggur. Raisa
nggak mau merepotkan papa dan mama terus-menerus.” Kata
Raisa.
Mama
terdiam sambil memperhatikan wajah Raisa.
“Mama
masih sanggup mengurus kamu, apalagi kebutuhan sehari-harimu, Raisa.”
“Sudahlah,
Ma... Raisa ingin mencari penghasilan sendiri. Kalau Raisa terus-terusan minta
mama, kapan Raisa mandiri? Kapan Raisa bisa membalas kebaikan mama?”
Mama
kembali terdiam. Hatinya masih saja terganjal atas kepergian Raisa. Mama memang tidak ingin jauh dari Raisa, anak perempuan
satu-satunya.
“Tapi
jangan lupa selalu kabarin mama ya? Mama masih tidak bisa melepas kamu
begitu aja, Raisa...” kata mama.
“Sudahlah,
Ma... Raisa kan sudah dewasa, jangan dikhawatirkan terus... Kapan anak kita
bisa mandiri?” papa ikut nyeletuk dari pintu kamar Raisa. Mama mendongak
menatap papa.
“Tapi,
Pa...” mama bergumam pelan.
“Tapi
__ADS_1
apalagi? Bukannya papa juga nggak sayang sama Raisa. Tapi biarkan Raisa sendiri
yang menentukan jalan hidupnya, Ma. Raisa sudah dewasa,”
“HHH...
Papa selalu saja begitu.”
“Iya,
Ma... Mama jangan khawatir. Raisa akan baik-baik aja kok,” sambung Raisa
kemudian.
Mama terdiam
lagi. Papa berlalu ke ruang tengah.
“Mama
masih khawatir terjadi apa-apa sama kamu, Raisa. Perasaan mama nggak enak...”
“Sudahlah,
Ma. Kita serahkan aja semuanya sama Allah. Mama harus yakin, hanya Dia yang bisa
melindungi kita.”
Mama tersenyum
pahit. Hatinya masih tetap nggak rela harus berpisah dengan Raisa. Selama ini
Raisa memang tidak pernah merantau ke kota mana pun. Kuliah aja
Raisa harus di kota kelahirannya. Lantas mendapat tawaran pekerjaan ke luar kota,
rasanya mama tidak rela.
Raisa
menutup koper besarnya dan mempersiapkan perlengkapan lainnya. Beberapa hari
yang lalu ia mendapat kabar dari sebuah rumah sakit, kalau lamaran kerjanya
diterima sebagai perawat. Setelah beberapa bulan lalu ia kehilangan pekerjaannya
sebagai perawat di sebuah praktek dokter, ia tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan ini.
“Raisa
dan mengecup pipinya.
“Hati-hati
ya, Raisa. Kalau kamu nggak betah di sana, segera
pulang,”
Raisa
tersenyum tipis. “Iya, Ma...”
Kemudian
ia pamit ke papa yang lebih tegar dari mama. Tidak banyak yang
diucapkan papa selain kata sukses dan hati-hati.
Raisa
keluar dari gerbang rumah. Ia segera menuju stasiun bus. Ia segera masuk ke
bus besar yang akan membawanya ke kota kecil. Raisa selalu berharap ini
pengalaman terbaiknya bekerja di salah satu sekolah. Bus melaju
meninggalkan kota kelahirannya.
Raisa tiba
di sebuah kota kecil yang masih banyak lahan kosong. Dari kota itu ia naik
angkutan umum menuju sekolah yang terletak tidak jauh dari kota. Jarak
yang cukup jauh dari hingar-bingar kota. Alamnya juga masih asri.
Menjadi seorang guru memang keinginannya sejak kecil dan begitu ia
diterima di salah satu sekolah, Raisa senang sekali. Ia langsung saja mempersiapkan
semua kebutuhannya selama di sana. Beberapa potong baju dan buku-buku
pelajaran. Kebetulan pihak sekolah menyediakan sebuah kamar dekat sekolah.
Raisa memperhatikan gedung sekolah di depannya. Gedung itu terlihat bagus karena
sudah direnovasi. Di sebelah gedung ada sebuah rumah berlantai dua untuk
__ADS_1
penjaga sekolah. Dan di lantai dua empa guru honorer dari luar kota.
Raisa
memasuki gerbang sekolah dengan langkah lambat. Ia masih memperhatikan
gedung itu dengan lekat. Raisa menarik kopernya di lantai keramik setelah
melewati koridor masuk. Ia ingin menemui penjaga sekolah.
“Bu Raisa ya?” tanya seorang laki-laki sedikit
agak tua.
“Iya, Pak.” Jawab Raisa seraya mengangguk.
“Mari saya antar ke kamar.” Kata laki-laki iu
sambil menarik koper Raisa. Kemudian mereka berjalan menuju lantai dua. “Baru bu
Raisa yang datang dari lima guru yang diterima.”
“Oh begitu.”
“Iya, bu. Semoga betah mengajar di sini.”
Raisa mengulas senyum manisnya. Penjaga yang
bernama Rahmat membuka pintu kamar, lalu memberikan kunci kamar ke Raisa.
Raisa masuk
ke kamarnya dan meletakkan kopernya begitu saja. Pandangannya mengedar ke
sudut-sudut ruangan. Dindingnya bercat putih dan ada beberapa lukisan di sana.
Raisa membuka jendela kamar dan menebarkan pandang. Dari jendela kamar ia kembali
melihat pohon rindang yang tumbuh begitu subur dengan daun-daun hijau
tua secara langsung. Awalnya pohon itu tidak begitu merasuki pikirannya, namun
ketika ia mengingat cerita-cerita orang, kalau pohon beringin itu biasanya
dihuni mahluk-mahluk halus, pikirannya jadi kacau. Raisa mulai tidak
tenang. Konon batang pohon beringin itu adalah pintu untuk menuju dunia lain.
“Raisa...”
tiba-tiba saja seseorang memanggilnya. Itu suara kepala asrama.
Raisa
tercekat dan berpaling ke arah kepala asrama.
“Iya,
Bu...” sahutnya seraya mendekati kepala asrama.
“Sebentar
lagi teman asrama mu akan datang. Saya harap kamu bisa mengakrabkan diri
dengannya. Kalau ada apa-apa temu saya,”
“Iya,
makasih, Bu...” ucap Raisa tersenyum.
Perempuan
baya itu meninggalkan Raisa dengan senyum yang biasa saja. Raisa menutup pintu
kamar, lalu membuka kopernya dan menyusun baju-bajunya ke dalam lemari. Raisa membersihkan
kembali kamarnya.
Raisa
menyapu lantai kamar yang terbuat dari keramik berwarna putih. Masih banyak
debu dan kotoran lain di sana. Tiba-tiba saja ia terkejut ketika melihat
beberapa helai rambut dari bawah tempat tidur. Dahi Raisa berkerut.
“Rambut
siapa ini?” gumamnya dalam hati.
Raisa
mengumpulkan helai-helai rambut itu hingga ia menemukan seikat kecil untaian
rambut. Raisa menggulung rambut itu dan membuangnya ke keranjang sampah.
Setelah itu ia menyibakkan sprei tempat tidur yang juga masih berdebu. Sepertinya
pihak sekolah sekedarnya saja membersihkan kamar asrama.
__ADS_1