ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 25


__ADS_3

Angin malam semakin dingin. Sesekali


pandangan Farida mengarah ke lorong-lorong gelap yang menakutkan. Suara


binatang malam tidak terdengar sama-sekali.  Membuat malam semakin mencekam dan menakutkan.


Sesekali bulu kuduk Farida terasa merinding. Ia tahu arwah-arwah gentayangan itu


masih berkeliaran di sekitar sekolah. Tapi dia mencoba meyakinkan dirinya


dengan iman dan doa.


Dari


sebuah koridor dia melihat seorang perempuan perjalan sambil membawa bungkusan


kecil. Mata Farida terpaku melihatnya. Kemudian perempuan itu berbelok ke kiri masuk ke ruang kelas. Ruang kelas?


Bukanya tidak ada kelas dan semua ruangan sudah dikunci? Farida kontan heran. Farida buru-buru mendekati ruangan


itu dan ia tidak mendapati sosok siapa pun. Ruang kelas terkunci.


Tiba-tiba


terdengar suara mendesis yang membuat bulu kuduk Farida merinding. Farida


memutar langkahnya dan  berusaha berlari,


tapi ia terjatuh di koridor.


Farida bergerak mundur dengan keringat terus mengucur deras.Seperti ada sosok yang ingin menangkapnya. Farida


bangkit dari jatuhnya dan berlari, tapi sebelah kakinya dicengkeram oleh tangan


hitam yang melepuh. Farida menjerit ketakutan. Farida berusaha melepaskan


tangan hitam itu dari kakinya.


Farida


bergerak mundur. Keringat membanjiri wajahnya. Tiba-tiba muncul sosok mengerikan di depannya. Sosok siswi yang tubuhnya


hangus terbakar. Kulitnya melepuh dan berasap. Farida berlari melewati koridor.


Namun koridor terasa tidak berujung dan ia tidak menemukan siapa pun di sana.


”Tolooonggg...”


teriaknya ketakutan.


Sosok itu pun melayang-layang


sambil tertawa nyaring. Mengejar Farida yang semakin ketakutan. Keringat


dingin terus membanjiri keningnya. Farida tersengal sambil menangis. Namun


mendadak saja sosok menghadangnya dari depan. Mata Farida pun


mendelik, melotot tajam ketika


sebatang  kayu menembus jantungnya. Tubuh


Farida kejang dan ia tewas


bersimbah darah.


Malam semakin


mencekam. Angin dingin menyapu bangunan sekolah dengan lembut.

__ADS_1


Suara burung hantu berkoar di kegelapan malam.


Raisa bangun dengan berat. Ia melihat


Melda sudah bangun dan merapikan tempat tidurnya. Raisa mengucek matanya.


“Sudah jam berapa, Mel?” tanya Raisa


sambil menguap lebar.


“Jam 8, Raisa. Kamu gak ada kelas hari


ini?”


Raisa menutup mulutnya sejenak. “Aku


ada kelas sore.” jawab Raisa.  Matanya masih


terlihat sayu. Dia benar-benar tidak menikmati tidur yang nyenyak malam tadi.


“Bagaimana tidurmu?” tanya Melda.


“Aku nggak bisa tidur nyenyak, Mel.”


“Kenapa? Banyak nyamuk ya?”


Raisa menarik nafas berat.


“Nggak juga. Mungkin karena baru


pertama sekali disini,”


“Oh... Hari ini aku masuk pagi.” Kata


Melda.


seorang pendidik ya, Mel.”


“Oke deh.”


Melda keluar dari kamar dan


meninggalkan Raisa. Raisa beranjak menuju kamar mandi. Setelah mandi, Raisa


mengambil sapu untuk membersihkan lantai kamar. Lagi-lagi ia menemukan beberapa


helai rambut dari bawah kolong tempat tidurnya. Raisa mengerutkan keningnya.


Kemarin dia sudah membersihkan kolong tempat tidur, mengapa ada lagi


helai-helai rambut itu?


Raisa mengumpulkan rambut-rambut itu


dan menggulungnya. Diletakkannya rambut itu di dinding jendela. Karena


penasaran, Raisa ingin melihat ada apa di bawah tempat tidurnya. Ia menunduk


sedikit sambil mengintai kolong tempat tidur. Tidak ada apa-apa di sana. Lantas


rambut itu darimana? Sejuta tanda tanya bermain-main di kepala Raisa.


Pagi itu beberapa guru kehilangan Farida. Namun mereka tidak menemukan


sosok Farida. Sejak malam


itu mereka tidak


melihat Farida. Farida seperti ditelan bumi begitu saja.

__ADS_1


“Kami tidak


menemukan bu Frida, Pak.” kata seorang guru bernama Winda.


“Lalu kemana dia? Berkas murid-murid ada di tangan bu Farida. Apa kalian sudah benar-benar


mencari Farida?”tanya


kepala sekolah.


“Sudah, Pak. Bahkan kami sudah menghubungi


keluarganya. Kata mereka Farida belum pulang sejak kemarin.”


“Belum pulang?


Lantas kemana dia?”berkerut dahi kepala sekolah mendengar penuturan Winda.


“Saya tidak tahu, Pak.”


“Ya, sudah. Kamu lanjutkan


pekerjaan kamu.”Kata kepala sekolah


sambil memegang jidatnya.


“Baik, Pak.”


Winda berlalu dari ruang kepala sekolah. Winda masih berpikir panjang di luar ruangan kepala sekolah, lalu ia berjalan sambil mendekap beberapa berkas di


dadanya. Kemudian menemui teman-teman guru  lainnya dan menanyakan apakah mereka melihat bu Faridah.


“Kemarin aku melihat bu Farida. Malam itu dia seperti terburu-buru.” kata seorang guru bernama Mutia.


“Terus bu Farida kemana?”


“Saya tidak tahu, bu Winda. Memangnya kenapa sih,


kok semua pada kehilangan begitu?” tanya Mutia penasaran.


Winda berusaha memberikan


keterangan ke Mutia.


“Bu Farida sejak kemarin tidak pulang. Tidak seperti biasanya.”


“Lantas?”


“Pak Hadrian mencari tuh. Berkas-berkas murid baru ada di bu Farida.”


“Mm...kira-kira bu Farida kemana ya?”


Winda menggeleng. Kemudian


melanjutkan pekerjaanya. Suasana sekolah  memang terlihat menyeramkan. Belum lagi


banyaknya cerita-cerita dahulunya. Dulu


sekolahan mereka bekas rumah sakit.  Konon banyak dokter dan suster yang tewas di sana.


Konon bus sekolah yang mengangkut 150 murid kecelakaan dan semua murid tewas. Murid-murid itu pun sering muncul di beberapa


ruangan dan toilet. Para guru  sering sekali dihantui arwah-arwah murid itu dengan menyamar menjadi murid baru. Tubuh-tubuh mengerikan yang hangus


terbakar dan potonga-potongan tangan yang bergerak sendiri serta tubuh tanpa


kepala yang melayang-layang di kegelapan malam. Menebarkan bahu gosong dan amis


memuakkan.

__ADS_1


__ADS_2