
Angin malam semakin dingin. Sesekali
pandangan Farida mengarah ke lorong-lorong gelap yang menakutkan. Suara
binatang malam tidak terdengar sama-sekali. Membuat malam semakin mencekam dan menakutkan.
Sesekali bulu kuduk Farida terasa merinding. Ia tahu arwah-arwah gentayangan itu
masih berkeliaran di sekitar sekolah. Tapi dia mencoba meyakinkan dirinya
dengan iman dan doa.
Dari
sebuah koridor dia melihat seorang perempuan perjalan sambil membawa bungkusan
kecil. Mata Farida terpaku melihatnya. Kemudian perempuan itu berbelok ke kiri masuk ke ruang kelas. Ruang kelas?
Bukanya tidak ada kelas dan semua ruangan sudah dikunci? Farida kontan heran. Farida buru-buru mendekati ruangan
itu dan ia tidak mendapati sosok siapa pun. Ruang kelas terkunci.
Tiba-tiba
terdengar suara mendesis yang membuat bulu kuduk Farida merinding. Farida
memutar langkahnya dan berusaha berlari,
tapi ia terjatuh di koridor.
Farida bergerak mundur dengan keringat terus mengucur deras.Seperti ada sosok yang ingin menangkapnya. Farida
bangkit dari jatuhnya dan berlari, tapi sebelah kakinya dicengkeram oleh tangan
hitam yang melepuh. Farida menjerit ketakutan. Farida berusaha melepaskan
tangan hitam itu dari kakinya.
Farida
bergerak mundur. Keringat membanjiri wajahnya. Tiba-tiba muncul sosok mengerikan di depannya. Sosok siswi yang tubuhnya
hangus terbakar. Kulitnya melepuh dan berasap. Farida berlari melewati koridor.
Namun koridor terasa tidak berujung dan ia tidak menemukan siapa pun di sana.
”Tolooonggg...”
teriaknya ketakutan.
Sosok itu pun melayang-layang
sambil tertawa nyaring. Mengejar Farida yang semakin ketakutan. Keringat
dingin terus membanjiri keningnya. Farida tersengal sambil menangis. Namun
mendadak saja sosok menghadangnya dari depan. Mata Farida pun
mendelik, melotot tajam ketika
sebatang kayu menembus jantungnya. Tubuh
Farida kejang dan ia tewas
bersimbah darah.
Malam semakin
mencekam. Angin dingin menyapu bangunan sekolah dengan lembut.
__ADS_1
Suara burung hantu berkoar di kegelapan malam.
Raisa bangun dengan berat. Ia melihat
Melda sudah bangun dan merapikan tempat tidurnya. Raisa mengucek matanya.
“Sudah jam berapa, Mel?” tanya Raisa
sambil menguap lebar.
“Jam 8, Raisa. Kamu gak ada kelas hari
ini?”
Raisa menutup mulutnya sejenak. “Aku
ada kelas sore.” jawab Raisa. Matanya masih
terlihat sayu. Dia benar-benar tidak menikmati tidur yang nyenyak malam tadi.
“Bagaimana tidurmu?” tanya Melda.
“Aku nggak bisa tidur nyenyak, Mel.”
“Kenapa? Banyak nyamuk ya?”
Raisa menarik nafas berat.
“Nggak juga. Mungkin karena baru
pertama sekali disini,”
“Oh... Hari ini aku masuk pagi.” Kata
Melda.
seorang pendidik ya, Mel.”
“Oke deh.”
Melda keluar dari kamar dan
meninggalkan Raisa. Raisa beranjak menuju kamar mandi. Setelah mandi, Raisa
mengambil sapu untuk membersihkan lantai kamar. Lagi-lagi ia menemukan beberapa
helai rambut dari bawah kolong tempat tidurnya. Raisa mengerutkan keningnya.
Kemarin dia sudah membersihkan kolong tempat tidur, mengapa ada lagi
helai-helai rambut itu?
Raisa mengumpulkan rambut-rambut itu
dan menggulungnya. Diletakkannya rambut itu di dinding jendela. Karena
penasaran, Raisa ingin melihat ada apa di bawah tempat tidurnya. Ia menunduk
sedikit sambil mengintai kolong tempat tidur. Tidak ada apa-apa di sana. Lantas
rambut itu darimana? Sejuta tanda tanya bermain-main di kepala Raisa.
Pagi itu beberapa guru kehilangan Farida. Namun mereka tidak menemukan
sosok Farida. Sejak malam
itu mereka tidak
melihat Farida. Farida seperti ditelan bumi begitu saja.
__ADS_1
“Kami tidak
menemukan bu Frida, Pak.” kata seorang guru bernama Winda.
“Lalu kemana dia? Berkas murid-murid ada di tangan bu Farida. Apa kalian sudah benar-benar
mencari Farida?”tanya
kepala sekolah.
“Sudah, Pak. Bahkan kami sudah menghubungi
keluarganya. Kata mereka Farida belum pulang sejak kemarin.”
“Belum pulang?
Lantas kemana dia?”berkerut dahi kepala sekolah mendengar penuturan Winda.
“Saya tidak tahu, Pak.”
“Ya, sudah. Kamu lanjutkan
pekerjaan kamu.”Kata kepala sekolah
sambil memegang jidatnya.
“Baik, Pak.”
Winda berlalu dari ruang kepala sekolah. Winda masih berpikir panjang di luar ruangan kepala sekolah, lalu ia berjalan sambil mendekap beberapa berkas di
dadanya. Kemudian menemui teman-teman guru lainnya dan menanyakan apakah mereka melihat bu Faridah.
“Kemarin aku melihat bu Farida. Malam itu dia seperti terburu-buru.” kata seorang guru bernama Mutia.
“Terus bu Farida kemana?”
“Saya tidak tahu, bu Winda. Memangnya kenapa sih,
kok semua pada kehilangan begitu?” tanya Mutia penasaran.
Winda berusaha memberikan
keterangan ke Mutia.
“Bu Farida sejak kemarin tidak pulang. Tidak seperti biasanya.”
“Lantas?”
“Pak Hadrian mencari tuh. Berkas-berkas murid baru ada di bu Farida.”
“Mm...kira-kira bu Farida kemana ya?”
Winda menggeleng. Kemudian
melanjutkan pekerjaanya. Suasana sekolah memang terlihat menyeramkan. Belum lagi
banyaknya cerita-cerita dahulunya. Dulu
sekolahan mereka bekas rumah sakit. Konon banyak dokter dan suster yang tewas di sana.
Konon bus sekolah yang mengangkut 150 murid kecelakaan dan semua murid tewas. Murid-murid itu pun sering muncul di beberapa
ruangan dan toilet. Para guru sering sekali dihantui arwah-arwah murid itu dengan menyamar menjadi murid baru. Tubuh-tubuh mengerikan yang hangus
terbakar dan potonga-potongan tangan yang bergerak sendiri serta tubuh tanpa
kepala yang melayang-layang di kegelapan malam. Menebarkan bahu gosong dan amis
memuakkan.
__ADS_1