
Pagi itu Keyla
menemui Nico. Cowok berperawakan tinggi, agak kurus dan pemain basket di
sekolah. Ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan.
Keyla berjalan tergesa di koridor sekolah. Matanya mencari-cari sosok
Nico yang biasanongkrong di koridor sekolah. Tapi
sayang, Keyla tidak menemukan Nico. Ia beranjak ke ruangan Nico di lantai tiga.
Di ruangan juga tidak ada.
“Kemana sih anak
itu?” gumamnya dalam hati.
Keyla berjalan
lagi menuju ruangan kelas Ziad, sahabat Nico. Dan ternyata mereka ada disana.
Keyla langsung saja menghampiri Nico, Ziad dan Ardan. Mereka tengah asyik ngobrol
sambil tertawa terbahak. Entah apa yang mereka perbincangkan. Mereka bersahabat
dan membuat sebuah geng di sekolah. Genk itu terdiri dari Nico, Ziad, Ardan,
Mery dan Keyla.
“Nic, aku mau
bicara.” Kata Keyla ketika mendekat.
Mereka terdiam dan
sama-sama memandang Keyla. Keyla melipat tangannya di dada. Wajahnya terlihat
gelisah.
“Ada apa, Key?”
Tanya Nico kemudian.
“Sebaiknya kita
keluar aja. Disini nggak enak, Nic.”
“Heii...
sebenarnya ada apa?”
“Aku mau membicarakan
hal ini diluar.”
“Okey.”
Mereka keluar
ruangan dan memilih taman untuk tempat ngobrol.
“Sebenarnya ada
apa sih, Key?” Tanya Ziad ingin tahu di selah perjalanan mereka ke taman.
“Zii... aku takut.
Setiap hari aku dihantui sama arwah gentayangan. Aku nggak mau mati ketakutan,
Zi. Sejak Mery tewas, semuanya jadi mengerikan.”
“Sudahlah, Key. Kematian
Mery itu memang kecelakaan. Dia teledor sampai jatuh dari lantai tiga. Kamu
begitu aja takut. Apa sih yang kamu takutkan? Kuntilanak?
Genderuwo? Atau sosok setan tanpa kepala? Itu semua bulshit!”
“Nic, dengerin aku
dulu. Sebelum kematian pelajar putri, ada seorang murid yang
ketakutan karena melihat penampakkan dan dia lari ke jalan. Pelajar itu tewas
ditabrak truk.” Keyla menjelaskan, kemudian ia melanjutkan kata-katanya. “Arwah
Jardi datang ke kamarku. Aku taku, Nic.... Dan kejadian aneh sudah aku alami di
rumah. Aku juga melihat Jardi di ruanganku.”
Semua terdiam dan saling pandang.
“Jardi?” Nico penasaran.
“Ya.”
“Sudahlah. Hal ini
nggak perlu kita bahas lagi. Semuanya sudah selesai, Key. Jardi udah tenang di
alam sana.”Ucap Ziad.
“Tapi aku takut,
Zi... Arwah Jardi gentayangan menakuti aku.”
Keempatnya terdiam lagi dan situasi menjadi
hening. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kemudian terdengar suara bel sekolah
berdentang beberapa kali. Tidak ada yang mereka bicarakan lagi. Keyla
melangkahkan kakinya dengan berat memasuki ruangan kelasnya. Nico dan
kawan-kawannya pun beranjak memasuki kelas mereka masing-masing.
Di ruangan, Hanna duduk anteng di kursinya. Hanna menatap Keyla yang baru saja masuk.
Keyla berusaha tersenyum ke Hanna.
__ADS_1
“Kamu darimana sih, Key. Katanya sebentar.”
“Sory, Han. Tadi ada urusan penting.”
“Hmm…”
Mata pelajaran
segera dimulai, namun Keyla terlihat terpaku dengan pandangan kosong. Ia sama
sekali tidak memperhatikan guru di depan kelas yang sibuk menerangkan
pelajarannya.
Jam istirahatsekolah, Keyla menemui Mery yang berbeda kelas. Gadis berambut pendek
berkulit kuning itu tengah cekakak cekiki bersama teman-temannya. Keyla
menghampiri Mery dan mengajaknya menjauh dari teman-teman lain.
“Ada apa, Key?”
Tanyanya heran.
“Aku takut, Mer.
Arwah Jardi muncul di kamarku.”
“Arwah Jardi? Alaaa... itu halusinasimu aja, Key. Kau jangan jadi
paranoid. Semua itu nggak mungkin.”
“Mer... Aku
serius. Apa yang harus aku lakukan?”
“Kamu nggak perlu ngelakuin apa-apa.”
“Mer… Bantu aku untuk memikirkannya.”
“Itu bukan masalahku, Key.”
“Ya, karena bukan kamu yang mengalaminya.”
“Sudahlah, aku nggak ada waktu untuk membahas itu
oke? Lebih baik kamu jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu ketakutan
sendiri.” Mery melangkahkan kakinya meninggalkan Keyla. Keyla terlihat kesal.
“Mer… tunggu! Aku belum selesai bicara!”
Mery tak perduli. Ia terus saja berjalan
meninggalkan Keyla. Pikiran Keyla menjadi kacau. Ia kembali ke ruangannya dan
nemui Hanna. Keyla mengajak Hanna ke kantin sekolah. Mereka pun duduk manis
sambil sibuk
memesan makanan. Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dan jejeritan histeris dari seorang murid cewek.
“Ada apa, Key?”
Tanya Hanna.
“Nggak tahu, Han.”
“Kita lihat yuk.”
“Trus pesenan kita
gimana?”
“Nanti kita balik
lagi.”
Hanna dan Keyla beranjak dari tempat duduk mereka dan segera berhambur ke ruangan BP.
Murid-murid berdesakkan melihat apa yang terjadi. Guru-guru juga terlihat panik
dan ketakutan. Seorang siswi tiba-tiba saja menjerit-jerit ketika keluar dari
kamar mandi.
“Agghkk...
lepaskan aku..! Lepaskan aku!!!” Jerit siswi itu sambil memelototkan matanya.
“Pergi kalian!!!
Jangan ganggu aku!!!”
Hanna bergidik
ngeri ketika manatap wajah siswi bernama Luwita yang menjerit-jerit itu. Keyla
memegang lengan Hanna.
“AKU AKAN BALAS PERBUATAN KALIAN!” ucapnya
lagi.
Keyla ketakutan.
“Udah yuk... Kita
ke kantin aja. Aku takut, Han...” Ucap Keyla sambil mengelus lengannya.
Sementara para
guru sibuk mencari orang pintar untuk mengusir roh yang
masuk ke tubuh Luwita. Guru agama berusaha membaca apa saja yang mereka ketahui namun Luwita tetap menjerit-jerit.
Hanna dan Keyla
sudah kembali ke kantin. Pesanan mereka pun sudah datang, namun Keyla tidak
__ADS_1
bernafsu untuk menyantapnya.
“Han, aku nggak
tau lagi harus bagaimana? Aku sangat takut.”
“Tenang, Key.
Selama kamu tidak berbuat kesalahan, roh-roh itu tidak akan mengganggumu.
Jangan biarkan pikiranmu kosong dan dikuasai mereka.”
Keyla menunduk.
Tiba-tiba saja kejadian setahun lalu muncul di benaknya. Kejadian yang tidak
pernah ia duga sama sekali. Kejadian itu ia kubur dalam-dalam dan berusaha
melupakannya. Namun bayangan itu kembali muncul dalam kehidupannya. Hanna
menegur Keyla yang sedang melamun.
“Key... Keyla...
Kamu kenapa? Kok jadi melamun?”
“Hmm... nggak
apa-apa, Han.”
“Sudah ah, jangan
mikirin yang begituan.”
Keyla hanya
tersenyum datar. Hanna menyantap hidangannya sampai habis dan bell sekolah pun
berdentang.
Sekolah sudah usai
dan murid-murid sudah pada keluar. Di ruangan tinggal Hanna yang masih sibuk
memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Keyla sudah keluar lebih dulu. Setelah
memasukkan buku-bukunya, Hanna berniat ingin menemui Pak Damsit, sang penjaga
sekolah. Tapi dia ingin sendiri ketika Anton mengajaknya pulang bersama.
Akhirnya Anton membiarkan Hanna sendiri menemui Pak Damsin. Ia ingin tahu
sebenarnya ada apa di sekolah itu.Hanna
keluar dari gedung sekolah dan menuju rumah Pak Damsit.
Hanna memperhatikan rumah setengah beton itu dengan
lekat. Halamannya begitu sempit dan tidak terurus. Tanahnya terlihat lembab karena beberapa hari
diguyur hujan. Ragu Hanna untuk mengetuk pintu rumah Pak Damsit, namun
tiba-tiba saja pintu terbuka.
“Ada apa kamu kemari?” Tanya Pak Damsit ketika
pintu terkuak lebar.
“Hmm…” Hanna gugup. “Begini, Pak… ada yang
ingin saya bicarakan.”
“Bicara apa?”
“Hmm…” Hanna kembali terlihat gugup.
“Silahkan duduk dulu, Nak.” Ucap Pak Damsit.
Hanna duduk setelah membersikan kursi kayu yang
sudah reot. Pak Damsit mengambil rokoknya dan menyulutnya. Asap mengepul.
“Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?”
Tanya Pak Damsit memulai cerita.
“Begini, Pak. Mmm… akhir-akhir ini saya melihat
sosok aneh di sekolah. Sebenarnya di sekolah itu ada apa sih?”
Pak Damsit terdiam sambil menatap Hanna dengan
tajam.
“Nggak ada apa-apa.” Jawab Pak Damsit pendek.
“Pak… saya yakin bapak pasti tahu cerita di
sekolah itu.”
“Sudahlah, Nak. Kamu pulang aja. Nggak ada
gunanya kamu menanyakan hal itu. Saya tidak akan cerita.”
“Jadi benar kalau sekolah itu ada penunggunya?”
“Kamu jangan asal bicara. Tidak ada apa-apa di
sekolah itu.”
“Tapi, Pak.”
“Sudahlah. Kamu pulang saja. Sudah sore.” Pak
Damsit beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumahnya. Hanna hanya
bisa melenguh dengan rasa kecewa. Pak Damsit seperti menutup-nutupi sesuatu di
sekolah itu. Hanna beranjak dan meninggalkan rumah Pak Damsit.
__ADS_1