ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 9


__ADS_3

Pagi itu Keyla


menemui Nico. Cowok berperawakan tinggi, agak kurus dan pemain basket di


sekolah. Ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan.


Keyla berjalan tergesa di koridor sekolah. Matanya mencari-cari sosok


Nico yang biasanongkrong di koridor sekolah. Tapi


sayang, Keyla tidak menemukan Nico. Ia beranjak ke ruangan Nico di lantai tiga.


Di ruangan juga tidak ada.


“Kemana sih anak


itu?” gumamnya dalam hati.


Keyla berjalan


lagi menuju ruangan kelas Ziad, sahabat Nico. Dan ternyata mereka ada disana.


Keyla langsung saja menghampiri Nico, Ziad dan Ardan. Mereka tengah asyik ngobrol


sambil tertawa terbahak. Entah apa yang mereka perbincangkan. Mereka bersahabat


dan membuat sebuah geng di sekolah. Genk itu terdiri dari Nico, Ziad, Ardan,


Mery dan Keyla.


“Nic, aku mau


bicara.” Kata Keyla ketika mendekat.


Mereka terdiam dan


sama-sama memandang Keyla. Keyla melipat tangannya di dada. Wajahnya terlihat


gelisah.


“Ada apa, Key?”


Tanya Nico kemudian.


“Sebaiknya kita


keluar aja. Disini nggak enak, Nic.”


“Heii...


sebenarnya ada apa?”


“Aku mau membicarakan


hal ini diluar.”


“Okey.”


Mereka keluar


ruangan dan memilih taman untuk tempat ngobrol.


“Sebenarnya ada


apa sih, Key?” Tanya Ziad ingin tahu di selah perjalanan mereka ke taman.


“Zii... aku takut.


Setiap hari aku dihantui sama arwah gentayangan. Aku nggak mau mati ketakutan,


Zi. Sejak Mery tewas, semuanya jadi mengerikan.”


“Sudahlah, Key. Kematian


Mery itu memang kecelakaan. Dia teledor sampai jatuh dari lantai tiga. Kamu


begitu aja takut. Apa sih yang kamu takutkan? Kuntilanak?


Genderuwo? Atau sosok setan tanpa kepala? Itu semua bulshit!”


“Nic, dengerin aku


dulu. Sebelum kematian pelajar putri, ada seorang murid yang


ketakutan karena melihat penampakkan dan dia lari ke jalan. Pelajar itu tewas


ditabrak truk.” Keyla menjelaskan, kemudian ia melanjutkan kata-katanya. “Arwah


Jardi datang ke kamarku. Aku taku, Nic.... Dan kejadian aneh sudah aku alami di


rumah. Aku juga melihat Jardi di ruanganku.”


Semua terdiam dan saling pandang.


“Jardi?” Nico penasaran.


“Ya.”


“Sudahlah. Hal ini


nggak perlu kita bahas lagi. Semuanya sudah selesai, Key. Jardi udah tenang di


alam sana.”Ucap Ziad.


“Tapi aku takut,


Zi... Arwah Jardi gentayangan  menakuti aku.”


Keempatnya terdiam lagi dan situasi menjadi


hening. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kemudian terdengar suara bel sekolah


berdentang beberapa kali. Tidak ada yang mereka bicarakan lagi. Keyla


melangkahkan kakinya dengan berat memasuki ruangan kelasnya. Nico dan


kawan-kawannya pun beranjak memasuki kelas mereka masing-masing.


Di ruangan, Hanna duduk anteng di kursinya. Hanna menatap Keyla yang baru saja masuk.


Keyla berusaha tersenyum ke Hanna.

__ADS_1


“Kamu darimana sih, Key. Katanya sebentar.”


“Sory, Han. Tadi ada urusan penting.”


“Hmm…”


Mata pelajaran


segera dimulai, namun Keyla terlihat terpaku dengan pandangan kosong. Ia sama


sekali tidak memperhatikan guru di depan kelas yang sibuk menerangkan


pelajarannya.



Jam istirahatsekolah, Keyla menemui Mery yang berbeda kelas. Gadis berambut pendek


berkulit kuning itu tengah cekakak cekiki bersama teman-temannya. Keyla


menghampiri Mery dan mengajaknya menjauh dari teman-teman lain.


“Ada apa, Key?”


Tanyanya heran.


“Aku takut, Mer.


Arwah Jardi muncul di kamarku.”


“Arwah Jardi? Alaaa... itu halusinasimu aja, Key. Kau jangan jadi


paranoid. Semua itu nggak mungkin.”


“Mer... Aku


serius. Apa yang harus aku lakukan?”


“Kamu nggak perlu ngelakuin apa-apa.”


“Mer… Bantu aku untuk memikirkannya.”


“Itu bukan masalahku, Key.”


“Ya, karena bukan kamu yang mengalaminya.”


“Sudahlah, aku nggak ada waktu untuk membahas itu


oke? Lebih baik kamu jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu ketakutan


sendiri.” Mery melangkahkan kakinya meninggalkan Keyla. Keyla terlihat kesal.


“Mer… tunggu! Aku belum selesai bicara!”


Mery tak perduli. Ia terus saja berjalan


meninggalkan Keyla. Pikiran Keyla menjadi kacau. Ia kembali ke ruangannya dan


nemui Hanna. Keyla mengajak Hanna ke kantin sekolah. Mereka pun duduk manis


sambil sibuk


memesan makanan. Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dan jejeritan histeris dari seorang murid cewek.


“Ada apa, Key?”


Tanya Hanna.


“Nggak tahu, Han.”


“Kita lihat yuk.”


“Trus pesenan kita


gimana?”


“Nanti kita balik


lagi.”


Hanna dan Keyla beranjak dari tempat duduk mereka dan segera berhambur ke ruangan BP.


Murid-murid berdesakkan melihat apa yang terjadi. Guru-guru juga terlihat panik


dan ketakutan. Seorang siswi tiba-tiba saja menjerit-jerit ketika keluar dari


kamar mandi.


“Agghkk...


lepaskan aku..! Lepaskan aku!!!” Jerit siswi itu sambil memelototkan matanya.


“Pergi kalian!!!


Jangan ganggu aku!!!”


Hanna bergidik


ngeri ketika manatap wajah siswi bernama Luwita yang menjerit-jerit itu. Keyla


memegang lengan Hanna.


“AKU AKAN BALAS PERBUATAN KALIAN!” ucapnya


lagi.


Keyla ketakutan.


“Udah yuk... Kita


ke kantin aja. Aku takut, Han...” Ucap Keyla sambil mengelus lengannya.


Sementara para


guru sibuk mencari orang pintar untuk mengusir roh yang


masuk ke tubuh Luwita. Guru agama berusaha membaca apa saja yang mereka ketahui namun Luwita tetap menjerit-jerit.


Hanna dan Keyla


sudah kembali ke kantin. Pesanan mereka pun sudah datang, namun Keyla tidak

__ADS_1


bernafsu untuk menyantapnya.


“Han, aku nggak


tau lagi harus bagaimana? Aku sangat takut.”


“Tenang, Key.


Selama kamu tidak berbuat kesalahan, roh-roh itu tidak akan mengganggumu.


Jangan biarkan pikiranmu kosong dan dikuasai mereka.”


Keyla menunduk.


Tiba-tiba saja kejadian setahun lalu muncul di benaknya. Kejadian yang tidak


pernah ia duga sama sekali. Kejadian itu ia kubur dalam-dalam dan berusaha


melupakannya. Namun bayangan itu kembali muncul dalam kehidupannya. Hanna


menegur Keyla yang sedang melamun.


“Key... Keyla...


Kamu kenapa? Kok jadi melamun?”


“Hmm... nggak


apa-apa, Han.”


“Sudah ah, jangan


mikirin yang begituan.”


Keyla hanya


tersenyum datar. Hanna menyantap hidangannya sampai habis dan bell sekolah pun


berdentang.



Sekolah sudah usai


dan murid-murid sudah pada keluar. Di ruangan tinggal Hanna yang masih sibuk


memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Keyla sudah keluar lebih dulu. Setelah


memasukkan buku-bukunya, Hanna berniat ingin menemui Pak Damsit, sang penjaga


sekolah. Tapi dia ingin sendiri ketika Anton mengajaknya pulang bersama.


Akhirnya Anton membiarkan Hanna sendiri menemui Pak Damsin. Ia ingin tahu


sebenarnya ada apa di sekolah itu.Hanna


keluar dari gedung sekolah dan menuju rumah Pak Damsit.


Hanna memperhatikan rumah setengah beton itu dengan


lekat. Halamannya begitu sempit dan tidak terurus.  Tanahnya terlihat lembab karena beberapa hari


diguyur hujan. Ragu Hanna untuk mengetuk pintu rumah Pak Damsit, namun


tiba-tiba saja pintu terbuka.


“Ada apa kamu kemari?” Tanya Pak Damsit ketika


pintu terkuak lebar.


“Hmm…” Hanna gugup. “Begini, Pak… ada yang


ingin saya bicarakan.”


“Bicara apa?”


“Hmm…” Hanna kembali terlihat gugup.


“Silahkan duduk dulu, Nak.” Ucap Pak Damsit.


Hanna duduk setelah membersikan kursi kayu yang


sudah reot. Pak Damsit mengambil rokoknya dan menyulutnya. Asap mengepul.


“Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?”


Tanya Pak Damsit memulai cerita.


“Begini, Pak. Mmm… akhir-akhir ini saya melihat


sosok aneh di sekolah. Sebenarnya di sekolah itu ada apa sih?”


Pak Damsit terdiam sambil menatap Hanna dengan


tajam.


“Nggak ada apa-apa.” Jawab Pak Damsit pendek.


“Pak… saya yakin bapak pasti tahu cerita di


sekolah itu.”


“Sudahlah, Nak. Kamu pulang aja. Nggak ada


gunanya kamu menanyakan hal itu. Saya tidak akan cerita.”


“Jadi benar kalau sekolah itu ada penunggunya?”


“Kamu jangan asal bicara. Tidak ada apa-apa di


sekolah itu.”


“Tapi, Pak.”


“Sudahlah. Kamu pulang saja. Sudah sore.” Pak


Damsit beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumahnya. Hanna hanya


bisa melenguh dengan rasa kecewa. Pak Damsit seperti menutup-nutupi sesuatu di


sekolah itu. Hanna beranjak dan meninggalkan rumah Pak Damsit.

__ADS_1



__ADS_2