
Pagi itu gerimis mengguyur kota medan.
Hawa dingin menusuk sampai ke tulang ari. Mery tiba di sekolah saat gerimis
belum juga reda. Ia mengibaskan sisa air gerimis yang membasahi kepalanya. Mery
berlari kecil di koridor sekolah. Ia menaiki anak tangga sampai ke lantai tiga dengan nafas tersengal. Di lantai tiga ia segera masuk ke
ruangannya. Ruangan itu masih sepi. Mery berhenti tepat di depan pintu dan
melihat sosok menakutkan di sudut ruangan. Mery terkejut dan ketakutan. Sosok
itu berubah mengerikan dan ingin menghampirinya. Sekonyong-konyong saja Mery
mundur dan lari ketakutan.
Mery lari sekencang-kencangnya dan saking
takutnya ia menabrak pembatas koridor. Mery terpelanting dan…
BRAAKKK…
Mery jatuh dari lantai tiga dan terjerembab di
lantai dasar. Ia menggelinjang beberapa kali. Darah mengalir dari kepalanya. Mery
pun tewas seketika. Beberapa murid yang melihat kejadian itu menjerit dan
panik. Pagi itu baru beberapa guru saja yang datang. Sekolah heboh di pagi yang
dingin.
Hanna yang baru saja tiba heran melihat pelajar
yang berkerumun di halaman. Jenazah Mery ditutupi kain seadanya.
“Ada apa?” Tanyanya kepada seorang murid yang
baru melihat.
“Ada yang jatuh dari lantai tiga.”
Hanna mengerutkan kening dan buru-buru
menghampiri mayat Mery. Gerimis reda dengan diiringi kepergian Mery yang
tragis. Hanna terlihat shock melihat darah yang mengalir dan tergenang karena air hujan.
Keyla melamun di ruangannya. Setelah mendengar
pengumuman tentang kematian temannya, ia terlihat shock. Padahal baru kemarin
ia menemui Mery dan kemarin Mery menelponnya. Ia nggak habis
pikir mengapa kejadian itu bisa terjadi pada Mery.
“Sudahlah, Key… Itu hanya sebuah kecelakaan.”
“Han…” Key meremas jemari tangan Hanna. “Aku
takut…”
Hanna hanya memberikan semangat ke Keyla.
“Tenang… Kamu masih punya aku.”
Keyla tersenyum datar, namun pikriannya terus saja
berkecambuk. Ia nggak mau bernasip sama seperti Mery.
“Tapi, Han...”
Hanna menatap
sahabatnya itu dengan lekat.
“Masih ada yang
belum kamu ceritakan ke aku, Key.”
Keyla menunduk
kepala. Ia merasa bersalah sudah menutupi cerita itu dari Hanna. Hari itu juga
Hanna menceritakan semua kejadian yang sebanarnya. Bahwa Keyla lah yang
mendorong Jardi saat ketakutan.
Ziad dan Nico
tidak suka Jardi ikut gabung bersama mereka. Ziad selalu saja menyalahkan Jardi
yang penakut dan dianggap merusak Genk Mereka. Jardi memiliki paras biasa-biasa
saja. Berkulit hitam gelap dibading dengan teman-teman lainnya. Ziad dan Nico
yang bisa dikatakan cowok tampan merasa terganggu dengan kehadiran Jardi.
Suatu hari mereka
pernah menghajar Jardi sampai babak belur, namun Jardi tetap ingin ikut
dalam Genk mereka. Terlebih karena ia menyukai salah satu cewek di situ.
Jardi menyukai Keyla, namun Keyla tidak menggubris pernyataan cinta Jardi. Ia
tidak tertarik dengan Jardi yang berparas jelek.
Jardi tak putus
asah walau Keyla sudah menolak cintanya, bahkan memaki-makinya di depan umum.
Keyla juga merasa risih bila di dekat Jardi. Dan saat permainan itu mereka
lakukan, entah pikiran apa yang merasuki Keyla hingga ia mendorong Jardi sampai
jatuh dari atap lantai tiga.
“Key... kenapa itu
kamu lakukan?” Gumam Hanna tak percaya.
Keyla terdiam dan
menunduk. Matanya berkaca-kaca sambil mengingat kejadian setahun yang lalu.
“Aku menyesal,
Han... Aku menyesal...” Isaknya meledak.
“Kenapa kamu tidak
berterus terang dan membiarkan kejadian itu seolah-olah hanya kecelakaan?”
“Aku takut dan
panik. Aku nggak mau dipenjara.”
“Hmm... “ Hanna
terdiam.
Situasi hening
di antara mereka berdua. Bell tanda masuk pun sudah berdentang. Lunglai Keyla
beranjak dari tempat duduknya. Hanna sudah lebih dulu beranjak dan berjalan di
koridor.
“Zi... kita harus
menyelesaikan permainan itu. Aku nggak mau dihantui arwah Jardi terus menerus.”
Ucap Keyla siang itu.
Ziad menatap Keyla
yang masih ketakutan.
“Kenapa sih kalian
takut sekali dengan arwah Jardi? Arwah itu nggak bisa menyakiti kalian! Jangan
bodoh!”
“Zii... aku takut
__ADS_1
melihat sosoknya.”
“Okey... Kita akan
mengakhiri permainan itu. Aku bosan mendengar keluhanmu, Key. Di mana jiwa
pemberanimu waktu dulu?”
Keyla diam dan
menatap wajah Ziad. Ia mengagumi wajah itu setahun yang lalu, tapi kini tidak
lagi. Ziad cowok playboy yang memacari semua cewek di sekolahnya. Keyla muak
melihat wajah itu. Ia melakukan tindakan bodoh yang menewaskan Jardi juga
karena Ziad. Ziad lah yang menyuruh Keyla untuk mendorong Jardi hingga jatuh.
“Kita harus
memberitahu Nico dan Ardan.” Ucap Keyla.
“Kamu hubungi
mereka. Kita kumpul di gudang pada kamis malam depan.”
Keyla mendegut
ludahnya. Malam jum’at membuatnya semakin takut. Malam di mana Jardi tewas
mengenaskan. Keyla menarik nafasnya dengan berat lalu pergi meninggalkan Ziad.
###
Hanna mencari-cari
sosok Keyla yang entah kemana. Ia menyedot minumannya sambil celingak-celinguk
di halaman sekolah.
“Hei...” Tiba-tiba
seseorang menyapanya.
“Huh, Anton.
Ngejutin aja ah.”
“Kamu suka sekali bengong sendirian. Awas loh nanti didatangi
nenek lampir.”
“Huh, kamu mulai deh. Aku lagi mencari Keyla. Ke mana sih anak itu?”
Hanna kembali
menyedot minumannya. Disaat ia memegang cup minuman, Anton melihat lebam yang sudah
mulai memudar. Kemudian ia melihat kalung yang dikenakan Hanna.
“Itu pasti kalung
anti badai kan? Hahaha...” Anton tertawa lebar.
“Husst... Ini
untuk jaga badan.”
“Jaga badan itu
bukan kalung, tapi sholat.”
“Aku sholat juga.”
“Hmmm...”
Hanna membuang cupnya ke tempat sampah. Kemudian ia bertanya-tanya lagi ke Anton.
“Ton, waktu kamu
bisa ngelihat hantu itu gimana perasaan kamu?”
“Hmm, aku bisa
ngelihat hantu sejak masih kecil. Jadi udah biasa aja.”
sih?”
“Awalnya nyeremin.
Apalagi kalau wujudnya nggak utuh. Serem sekali.”
“Iiii...” Hanna
bergidik.
Dari jauh Keyla
berjalan dengan wajah datar. Ia menghampiri Hanna yang masih ngobrol dengan
Anton.
“Kamu dari mana
aja, Key? Aku cari-cari dari tadi.”
“Dari kelasnya
Ziad.”
“Ziad? Ngapain?”
“Nggak apa-apa.”
Keyla melihat
Anton yang asyik memperhatikan mereka. Keyla nggak mau Anton juga mengetahui
masalah itu.
“Kita masuk yuk.”
Ajak Keyla kemudian.
Mereka
meninggalkan halaman dan masuk ke kelas. Di tengah perjalanan, Hanna
mengusulkan agar Keyla meminta maaf kepada orang tua Jardi.
“Kamu harus minta
maaf, Key...”
“Aku takut, Han.
Bagaimana kalau mereka melaporkan aku ke polisi? Trus bagaimana papa dan
mamaku?”
“Itu sudah menjadi
resikomu.”
Keyla menundukan
kepalanya sambil berjalan.
Hanna dan Keyla ke
rumah Pak Damsit setelah sekolah usai. Takut-takut Keyla menghadapi orangtua
Jardi. Pak Damsit keluar setelah Hanna memanggilnya. Mereka duduk setelah
dipersilahkan. Saat Keyla menceritakan kejadian yang sebenarnya, laki-laki
paruh baya itu pun terpaku dengan wajah memerah.
“Kalian yang sudah
membunuh anak saya, kalian juga harus menanggung akibatnya!” Kata pak Damsit dengan suara tegas.
Hanna dan Keyla
sontak terkejut.
“Pak... Saya minta
__ADS_1
maaf. Saya hilaf.”
“Tidak ada kata
maaf untuk orang yang membunuh masa depan saya! Saya sudah membangunkan arwah Jardi untuk membalaskan dendamnya.”
Keyla terbelalak,
begitu juga dengan Hanna.
“Maksud bapak?”
Hanna penasaran.
“Kalian akan
merasakan akibatnya!” Pak Damsit beranjak dari tempat
duduknya lalu masuk ke dalam ruamahnya.
Hanna dan Keyla
saling pandang. Kerya bergidik dan ketakutan mendengar pengakuan Pak Damsit.
Dengan bergegas mereka meninggalkan rumah Pak Damsit.
“Bagaimana ini,
Han? Aku semakin takut.”
“Aku nggak tahu
harus bagaimana, Key. Sebaiknya kalian segera mengakhiri permainan itu. Bakar
papan permainan itu.”
Keyla diam saja
sambil menggigit bibirnya. Mereka pun berpisah ketika Keyla dijemput papanya.
Hanna menunggu angkutan umum di halte.
Hanna pulang dengan lunglai. Ia tidak percaya
sama sekali kalau Pak Damsit lah yang membangkitkan arwah Jardi untuk
membalaskan dendamnya.
###
Sore itu terlihat
Ardan masih berada di lapangan basket. Ia
menghapus keringatnya dengan handuk kecil. Kemudian ia mengambil tasnya yang
terletak di pinggir lapangan. Ia bersama seorang temannya yang latihan basket
setiap sore. Biasanya ia langsung pulang, namun karena bajunya basah kuyup ia
ingin mandi dulu baru pulang.
Ardan membuka
kamar mandi yang sepi. Pandangannya mengedar ke dinding-dinding putih yang
sudah berubah kotor. Ardan segera membuka bajunya dan meletakkan tasnya begitu
saja. Kemudian ia mengambil air dan membasuh tubuhnya dengan gerakan
terburu-buru. Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terkunci sendiri. Ardan tercekat
dan menghentikan aktifitasnya. Ia mengawasi kamar mandi dengan seksama.
Air di bak mandi
berubah warna. Ardan terkejut dan bergerak mundur. Air itu berwarna merah
kehitaman. Ardan mebelalakkan matanya dan memperhatikan air itu yang
bergelombang. Kemudian keluar sosok dari dalamnya menyembul ke atas air. Sosok
itu adalah Jardi. Ardan semakin terkejut dan ketakutan. Ia gemetaran dan
berusaha membuka pintu kamar mandi.
Sosok arwah Jardi
berdiri di atas air. Wajahnya sangat menakutkan, hancur berlumuran darah.
“Jangan, Jar...
Aku nggak bersalah! Jangan sakiti aku!” Teriak Ardan.
Ardan berusaha
membuka pintu.
“AKU BUTUH
TEMAN...”
“TIDAKK..!”
Ardan kembali
berusaha membuka pintu pintu kamar mandi. Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka dan
Ardan berlari ketakutan. Ardan menaiki anak tangga dan menuju atap lantai
tiga. Beberapa kali nafas Ardan tersengal.
Ia berlari dari koridor lantai satu sampai lantai tiga. Dari lantai tiga ia
menaiki anak tangga sambil mengawasi sekitarnya. Pelajar cowok berperawakan
tinggi berkulit kuling langsat itu terlihat berkeringat. Ia menghampiri sebuah
gudang dengan rasa was-was. Hari sudah menjelang sore.
Setelah tiba di
depan pintu gudang, ia berhenti dan memperhatikan pintu itu dengan lekat. Ia mendegut
ludah yang getir. Tangannya gemetar memegang handel pintu, lalu membukanya
perlahan. Ia melihat papan permainan itu masih berada di sana. Gudang itu
terlihat gelap dan hanya sinar matahari sore yang meneranginya dari celah-celah
jendela.
Ragu ia
melangkahkan kakinya masuk ke dalam gudang. Selangkah demi selangkah ia masuk
dengan takut-takut. Di dalam gudang penuh kursi-kursi rusak dan meja-meja yang
sudah tidak terpakai. Tiba-tiba saja pintu tertutup dari luar.
JEDAARR...
Ardan terkejut dan buru-buru kembali ke pintu. Ia panik dan ketakutan. Di sudut jendela ia melihat sosok pelajar
berdiri menatapnya tajam. Pelajar itu terus menggedor pintu dan berusaha
membukanya.
Klek. Pintu pintu
terbuka dan ia berlari sekencang-kencangnya. Saking takutnya ia berlari dan
menabak pintu besi di depannya.
BRAAAK...
JEDAANKK...!
Tubuh Ardan terpelanting dan terjerembab di lantai.
Hidungnya berdarah. Ia bangkit dengan sempoyongan dan tidak terkendali.
Akhirnya ia pun terjun bebas dari lantai empat ke lantai dasar.
BRUUGG.
Darah mengalir
__ADS_1
deras dari kepalanya. Ardan tewas seketika setelah tubuhnya menggelinjang beberapa kali.