ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 16


__ADS_3

Pagi itu gerimis mengguyur kota medan.


Hawa dingin menusuk sampai ke tulang ari. Mery tiba di sekolah saat gerimis


belum juga reda. Ia mengibaskan sisa air gerimis yang membasahi kepalanya. Mery


berlari kecil di koridor sekolah. Ia menaiki anak tangga sampai ke lantai tiga dengan nafas tersengal. Di lantai tiga ia segera masuk ke


ruangannya. Ruangan itu masih sepi. Mery berhenti tepat di depan pintu dan


melihat sosok menakutkan di sudut ruangan. Mery terkejut dan ketakutan. Sosok


itu berubah mengerikan dan ingin menghampirinya. Sekonyong-konyong saja Mery


mundur dan lari ketakutan.


Mery lari sekencang-kencangnya dan saking


takutnya ia menabrak pembatas koridor. Mery terpelanting dan…


BRAAKKK…


Mery jatuh dari lantai tiga dan terjerembab di


lantai dasar. Ia menggelinjang beberapa kali. Darah mengalir dari kepalanya. Mery


pun tewas seketika. Beberapa murid yang melihat kejadian itu menjerit dan


panik. Pagi itu baru beberapa guru saja yang datang. Sekolah heboh di pagi yang


dingin.


Hanna yang baru saja tiba heran melihat pelajar


yang berkerumun di halaman. Jenazah Mery ditutupi kain seadanya.


“Ada apa?” Tanyanya kepada seorang murid yang


baru melihat.


“Ada yang jatuh dari lantai tiga.”


Hanna mengerutkan kening dan buru-buru


menghampiri mayat Mery. Gerimis reda dengan diiringi kepergian Mery yang


tragis. Hanna terlihat shock melihat darah yang mengalir dan tergenang karena air hujan.


Keyla melamun di ruangannya. Setelah mendengar


pengumuman tentang kematian temannya, ia terlihat shock. Padahal baru kemarin


ia menemui Mery dan kemarin Mery menelponnya. Ia nggak habis


pikir mengapa kejadian itu bisa terjadi pada Mery.


“Sudahlah, Key… Itu hanya sebuah kecelakaan.”


“Han…” Key meremas jemari tangan Hanna. “Aku


takut…”


Hanna hanya memberikan semangat ke Keyla.


“Tenang… Kamu masih punya aku.”


Keyla tersenyum datar, namun pikriannya terus saja


berkecambuk. Ia nggak mau bernasip sama seperti Mery.


“Tapi, Han...”


Hanna menatap


sahabatnya itu dengan lekat.


“Masih ada yang


belum kamu ceritakan ke aku, Key.”


Keyla menunduk


kepala. Ia merasa bersalah sudah menutupi cerita itu dari Hanna. Hari itu juga


Hanna menceritakan semua kejadian yang sebanarnya. Bahwa Keyla lah yang


mendorong Jardi saat ketakutan.


Ziad dan Nico


tidak suka Jardi ikut gabung bersama mereka. Ziad selalu saja menyalahkan Jardi


yang penakut dan dianggap merusak Genk Mereka. Jardi memiliki paras biasa-biasa


saja. Berkulit hitam gelap dibading dengan teman-teman lainnya. Ziad dan Nico


yang bisa dikatakan cowok tampan merasa terganggu dengan kehadiran Jardi.


Suatu hari mereka


pernah menghajar Jardi sampai babak belur, namun Jardi tetap ingin ikut


dalam Genk mereka. Terlebih karena ia menyukai salah satu cewek di situ.


Jardi menyukai Keyla, namun Keyla tidak menggubris pernyataan cinta Jardi. Ia


tidak tertarik dengan Jardi yang berparas jelek.


Jardi tak putus


asah walau Keyla sudah menolak cintanya, bahkan memaki-makinya di depan umum.


Keyla juga merasa risih bila di dekat Jardi. Dan saat permainan itu mereka


lakukan, entah pikiran apa yang merasuki Keyla hingga ia mendorong Jardi sampai


jatuh dari atap lantai tiga.


“Key... kenapa itu


kamu lakukan?” Gumam Hanna tak percaya.


Keyla terdiam dan


menunduk. Matanya berkaca-kaca sambil mengingat kejadian setahun yang lalu.


“Aku menyesal,


Han... Aku menyesal...” Isaknya meledak.


“Kenapa kamu tidak


berterus terang dan membiarkan kejadian itu seolah-olah hanya kecelakaan?”


“Aku takut dan


panik. Aku nggak mau dipenjara.”


“Hmm... “ Hanna


terdiam.


Situasi hening


di antara mereka berdua. Bell tanda masuk pun sudah berdentang. Lunglai Keyla


beranjak dari tempat duduknya. Hanna sudah lebih dulu beranjak dan berjalan di


koridor.


“Zi... kita harus


menyelesaikan permainan itu. Aku nggak mau dihantui arwah Jardi terus menerus.”


Ucap Keyla siang itu.


Ziad menatap Keyla


yang masih ketakutan.


“Kenapa sih kalian


takut sekali dengan arwah Jardi? Arwah itu nggak bisa menyakiti kalian! Jangan


bodoh!”


“Zii... aku takut

__ADS_1


melihat sosoknya.”


“Okey... Kita akan


mengakhiri permainan itu. Aku bosan mendengar keluhanmu, Key. Di mana jiwa


pemberanimu waktu dulu?”


Keyla diam dan


menatap wajah Ziad. Ia mengagumi wajah itu setahun yang lalu, tapi kini tidak


lagi. Ziad cowok playboy yang memacari semua cewek di sekolahnya. Keyla muak


melihat wajah itu. Ia melakukan tindakan bodoh yang menewaskan Jardi juga


karena Ziad. Ziad lah yang menyuruh Keyla untuk mendorong Jardi hingga jatuh.


“Kita harus


memberitahu Nico dan Ardan.” Ucap Keyla.


“Kamu hubungi


mereka. Kita kumpul di gudang pada kamis malam depan.”


Keyla mendegut


ludahnya. Malam jum’at membuatnya semakin takut. Malam di mana Jardi tewas


mengenaskan. Keyla menarik nafasnya dengan berat lalu pergi meninggalkan Ziad.


###


Hanna mencari-cari


sosok Keyla yang entah kemana. Ia menyedot minumannya sambil celingak-celinguk


di halaman sekolah.


“Hei...” Tiba-tiba


seseorang menyapanya.


“Huh, Anton.


Ngejutin aja ah.”


“Kamu suka sekali bengong sendirian. Awas loh nanti didatangi


nenek lampir.”


“Huh, kamu mulai deh. Aku lagi mencari Keyla. Ke mana sih anak itu?”


Hanna kembali


menyedot minumannya. Disaat ia memegang cup minuman, Anton melihat lebam yang sudah


mulai memudar. Kemudian ia melihat kalung yang dikenakan Hanna.


“Itu pasti kalung


anti badai kan? Hahaha...” Anton tertawa lebar.


“Husst... Ini


untuk jaga badan.”


“Jaga badan itu


bukan kalung, tapi sholat.”


“Aku sholat juga.”


“Hmmm...”


Hanna membuang cupnya ke tempat sampah. Kemudian ia bertanya-tanya lagi ke Anton.


“Ton, waktu kamu


bisa ngelihat hantu itu gimana perasaan kamu?”


“Hmm, aku bisa


ngelihat hantu sejak masih kecil. Jadi udah biasa aja.”


sih?”


“Awalnya nyeremin.


Apalagi kalau wujudnya nggak utuh. Serem sekali.”


“Iiii...” Hanna


bergidik.


Dari jauh Keyla


berjalan dengan wajah datar. Ia menghampiri Hanna yang masih ngobrol dengan


Anton.


“Kamu dari mana


aja, Key? Aku cari-cari dari tadi.”


“Dari kelasnya


Ziad.”


“Ziad? Ngapain?”


“Nggak apa-apa.”


Keyla melihat


Anton yang asyik memperhatikan mereka. Keyla nggak mau Anton juga mengetahui


masalah itu.


“Kita masuk yuk.”


Ajak Keyla kemudian.


Mereka


meninggalkan halaman dan masuk ke kelas. Di tengah perjalanan, Hanna


mengusulkan agar Keyla meminta maaf kepada orang tua Jardi.


“Kamu harus minta


maaf, Key...”


“Aku takut, Han.


Bagaimana kalau mereka melaporkan aku ke polisi? Trus bagaimana papa dan


mamaku?”


“Itu sudah menjadi


resikomu.”


Keyla menundukan


kepalanya sambil berjalan.


Hanna dan Keyla ke


rumah Pak Damsit setelah sekolah usai. Takut-takut Keyla menghadapi orangtua


Jardi. Pak Damsit keluar setelah Hanna memanggilnya. Mereka duduk setelah


dipersilahkan. Saat Keyla menceritakan kejadian yang sebenarnya, laki-laki


paruh baya itu pun terpaku dengan wajah memerah.


“Kalian yang sudah


membunuh anak saya, kalian juga harus menanggung akibatnya!” Kata pak Damsit dengan suara tegas.


Hanna dan Keyla


sontak terkejut.


“Pak... Saya minta

__ADS_1


maaf. Saya hilaf.”


“Tidak ada kata


maaf untuk orang yang membunuh masa depan saya! Saya sudah membangunkan arwah Jardi untuk membalaskan dendamnya.”


Keyla terbelalak,


begitu juga dengan Hanna.


“Maksud bapak?”


Hanna penasaran.


“Kalian akan


merasakan akibatnya!” Pak Damsit beranjak dari tempat


duduknya lalu masuk ke dalam ruamahnya.


Hanna dan Keyla


saling pandang. Kerya bergidik dan ketakutan mendengar pengakuan Pak Damsit.


Dengan bergegas mereka meninggalkan rumah Pak Damsit.


“Bagaimana ini,


Han? Aku semakin takut.”


“Aku nggak tahu


harus bagaimana, Key. Sebaiknya kalian segera mengakhiri permainan itu. Bakar


papan permainan itu.”


Keyla diam saja


sambil menggigit bibirnya. Mereka pun berpisah ketika Keyla dijemput papanya.


Hanna menunggu angkutan umum di halte.


Hanna pulang dengan lunglai. Ia tidak percaya


sama sekali kalau Pak Damsit lah yang membangkitkan arwah Jardi untuk


membalaskan dendamnya.


###


Sore itu terlihat


Ardan masih berada di lapangan basket.  Ia


menghapus keringatnya dengan handuk kecil. Kemudian ia mengambil tasnya yang


terletak di pinggir lapangan. Ia bersama seorang temannya yang latihan basket


setiap sore. Biasanya ia langsung pulang, namun karena bajunya basah kuyup ia


ingin mandi dulu baru pulang.


Ardan membuka


kamar mandi yang sepi. Pandangannya mengedar ke dinding-dinding putih yang


sudah berubah kotor. Ardan segera membuka bajunya dan meletakkan tasnya begitu


saja. Kemudian ia mengambil air dan membasuh tubuhnya dengan gerakan


terburu-buru. Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terkunci sendiri. Ardan tercekat


dan menghentikan aktifitasnya. Ia mengawasi kamar mandi dengan seksama.


Air di bak mandi


berubah warna. Ardan terkejut dan bergerak mundur. Air itu berwarna merah


kehitaman. Ardan mebelalakkan matanya dan memperhatikan air itu yang


bergelombang. Kemudian keluar sosok dari dalamnya menyembul ke atas air. Sosok


itu adalah Jardi. Ardan semakin terkejut dan ketakutan. Ia gemetaran dan


berusaha membuka pintu kamar mandi.


Sosok arwah Jardi


berdiri di atas air. Wajahnya sangat menakutkan, hancur berlumuran darah.


“Jangan, Jar...


Aku nggak bersalah! Jangan sakiti aku!” Teriak Ardan.


Ardan berusaha


membuka pintu.


“AKU BUTUH


TEMAN...”


“TIDAKK..!”


Ardan kembali


berusaha membuka pintu pintu kamar mandi. Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka dan


Ardan berlari ketakutan. Ardan menaiki anak tangga dan menuju atap lantai


tiga.  Beberapa kali nafas Ardan tersengal.


Ia berlari dari koridor lantai satu sampai lantai tiga. Dari lantai tiga ia


menaiki anak tangga sambil mengawasi sekitarnya. Pelajar cowok berperawakan


tinggi berkulit kuling langsat itu terlihat berkeringat. Ia menghampiri sebuah


gudang dengan rasa was-was. Hari sudah menjelang sore.


Setelah tiba di


depan pintu gudang, ia berhenti dan memperhatikan pintu itu dengan lekat. Ia mendegut


ludah yang getir. Tangannya gemetar memegang handel pintu, lalu membukanya


perlahan. Ia melihat papan permainan itu masih berada di sana. Gudang itu


terlihat gelap dan hanya sinar matahari sore yang meneranginya dari celah-celah


jendela.


Ragu ia


melangkahkan kakinya masuk ke dalam gudang. Selangkah demi selangkah ia masuk


dengan takut-takut. Di dalam gudang penuh kursi-kursi rusak dan meja-meja yang


sudah tidak terpakai. Tiba-tiba saja pintu tertutup dari luar.


JEDAARR...


Ardan terkejut dan buru-buru kembali ke pintu. Ia panik dan ketakutan.  Di sudut jendela ia melihat sosok pelajar


berdiri menatapnya tajam. Pelajar itu terus menggedor pintu dan berusaha


membukanya.


Klek. Pintu pintu


terbuka dan ia berlari sekencang-kencangnya. Saking takutnya ia berlari dan


menabak pintu besi di depannya.


BRAAAK...


JEDAANKK...!


Tubuh Ardan  terpelanting dan terjerembab di lantai.


Hidungnya berdarah. Ia bangkit dengan sempoyongan dan tidak terkendali.


Akhirnya ia pun terjun bebas dari lantai empat ke lantai dasar.


BRUUGG.


Darah mengalir

__ADS_1


deras dari kepalanya. Ardan tewas seketika setelah tubuhnya menggelinjang beberapa kali.


__ADS_2