
Hadrian terpaku di ruang kerjanya. Laki-laki
berusia 55 tahun itu masih tampak segar, meski sebagian rambutnya sudah
memutih. Entah mengapa pikirannya kacau balau sejak hilangnya bu Farida.
Tidak ada yang tahu kemana Farida pergi. Padahal Farida tidak pernah pergi tanpa
pamit. Kemana-mana ia selalu saja meminta izin terlebih dahulu.
Hadrian bersandar di kursi empuk di ruang
kerjanya. Di matanya seolah terpampang jelas kejadian sepuluh tahun
lalu. Wajah gadis belia yang mengerang meregang nyawa dalam kobaran api. Si
jago merah melahapnya hidup-hidup hingga seluruh tubuhnya melepuh. Bahu daging bakar pun menyeruak memuakkan.
Hadrian tertidur di ruang kerjanya. Tapi tiba-tiba
saja seseorang menyapa.
”Pak... Pak Hadrian...” suara itu terdengar lembut.
Hadrian terbangun sambil menghapus matanya. Ia melihat
Farida berdiri di depannya.
”Farida...”
selah Hadrian terkejut. ”Kamu kemana saja, Farida? Kami semua kehilangan kamu?”
Hadrian bangkit dari rebahan nya.
”Bapak tidak perlu mencari saya. Saya disini saja kok,” ucap Farida dengan wajah dingin.
”Tapi
beberapa hari ini kamu tidak kelihatan, Farida. Kenapa tidak memberi kabar ke
saya?”
Farida
menunduk.
”Sudahlah, Pak. Bapak tidak perlu mencari saya. Saya tidak apa-apa. Saya
pergi dulu, masih banyak pekerjaan lain yang harus saya selesaikan,” kata Farida segera beranjak dari ruangan Hadrian.
”Farida, tunggu...” panggil Hadrian seraya bangkit dari duduknya. Ia berusaha mengejar bayangan Farida,
namun bayangan itu sudah
tidak terlihat lagi ketika melewati koridor. Farida melangkah dengan begitu
cepat dan masuk ke ruang kelas.
Hadrian buru-buru mengejarnya dan berusaha masuk ke ruang kelas. Tapi pintu ruang kelas terkunci rapat. Tangan Hadrian berusaha lagi menggoyang-goyangkan handle pintu. Tapi mendadak saja sebuah
tangan dengan kuku-kuku tajam berwarna hitam menggapai tangan Hadrian dengan erat. Hadrian terbelalak kaget, takut dan kalut.
Dari arah belakang sosok mengerikan berusaha mencekik lehernya. Sosok siswi yang habis terbakar. Hadrian menjerit sekuat tenaganya. Berusaha melepaskan genggaman tangan mengerikan
itu dari pergelangan tangannya.
”Akhh....”
jerit Hadrian keras.
”Pak... Pak Hadrian, bangun, Pak...” tiba-tiba saja
sebuah suara membuyarkan mimpi buruknya. Hadrian terbangun
sambil tercekat. Ia melihat wajah Raisa di depannya.
__ADS_1
”Bapak kenapa? Mimpi buruk?” tanya Raisa heran. Hadrian menghapus keringat di keningnya, sambil mengatur nafasnya yang terlihat tersengal.
“Kamu siapa?” tanya
Hadrian gugup.
“Saya Raisa, Pak.
Guru baru di sekolah ini. Kebetulan saya masuk sore.”
“HHH... Saya mimpi
buruk. Mengerikan sekali,”
Hadrian menghela
berat, namun enggan memberitahu ke Raisa tentang mimpinya.
”Sudah jam
berapa, bu Raisa?”tanya
Hadrian lagi.
”Sudah sore, Pa. “
“Sore?” Kening
Hadrian berkerut. Padahal ia tadi terlelap sejenak dan masih pagi. Selama itu
kah ia tertidur?
“Ya sudah, saya
pulang dulu.” Kata Hadrian bingung.
“Baik, Pak.”
Hadrian keluar dari
ruangannya dan Raisa menuju kelasnya.
merapikan lembar-lembar kertas di meja. Tiba-tiba ia tercekat ketika mendengar
sesenggukan seseorang yang menangis. Raisa buru-buru memasukan kertas-kertas
itu ke dalam map. Kemudian ia beranjak dari kursinya. Raisa keluar dari ruangan
dan memperhatikan koridor yang sangat sepi.
Pandangan Raisa mengedar pada halaman sekolah
yang terlihat remang. Lampu koridor
berkedi-kedip. Di halaman sekolah ia melihat tujuh pelajar yang tubuhnya sangat
pucat. Raisa bergidik. Sekujur tubuhnya merinding. Raisa menarik nafasnya
dalam-dalam. Koridor sekolah terlihat sepi sekali. Raisa menghentikan
langkahnya melihat sosok murid perempuan yang berdiri kaku di halaman. Raisa melangkahkan
kakinya dan berusaha tidak melihat sosok-sosok itu. Keringat dingin mulai
mengucur di keningnya.
Raisa mempercepat langkahnya sambil
memalingkan wajahnya dari halaman sekolah yang terlihat menyeramkan. Ia melirik
sekilas ke arah rindang dan lagi-lagi ia terkejut ketika melihat sosok gadis
berwajah pucat berdiri menatapnya. Raisa berlari kecil dan terus berdoa.
Jantungnya berdebug kencang tak menentu.
__ADS_1
“Raisaaaaa....” terdengar suara
nyaring memanggilnya.
Raisa berlari dan ketakutan. Tiba-tiba
saja ia menubruk seseorang di depannya.
Buuugghh...
“Ahkkk...” Raisa menjerit kaget.
Berkas-berkasnya jatuh ke lantai.
“Heii... kalau jalan lihat-lihat!”
sergah orang yang ia tubruk.
Raisa melihat seseorang yang
memakinya. Seorang laki-laki bernama Andriano. Dia guru olah raga.
“Maaf, Pak... saya nggak sengaja,”
kata Raisa sambil memungut berkas yang berserakan.
“Kamu siapa?” tanya Andriano.
“Saya Raisa, guru bahasa Indonesia.”
“Oh... kenapa belum pulang, Bu?”
“Ini saya mau pulang, Pak. Permisih.”
Kata Raisa ketakutan.
Andriano hanya memperhatikan langkah
Raisa yang berjalan di koridor sekolah. Raisa menenangkan pikirannya sejenak
untuk menghilangkan rasa takutnya. Ia terus melangkah menuju asrama. Buru-buru
ia masuk ke kamarnya dan meletakkan berkasnya di atas meja. Kemudian ia mengambil
air putih dan menenggaknya. Raisa menghela berat.
“Kamu kenapa, Raisa?” tanya Melda heran.
“Gak apa-apa kok.” Jawab Raisa gugup.
“Kenapa wajahmu pucat gitu kayak baru
ngelihat hantu aja.”
Raisa berusaha tersenyum, tapi
terkesan kaku. Kemudian ia mengambil handunya di gantungan baju.
“Aku mandi dulu.” Katanya sambil
keluar kamar menuju kamar mandi. Asrama terlihat sepi malam itu. Para guru
sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Takut-takut Raisa melangkahkan kakinya
ke ruang belakang. Ruang kamar mandi yang menghubungkan dapur dan ruang makan. Ketika
ia membuka pintu kamar mandi, Raisa melihat sosok seseorang menghadap ke
belakang dengan rambut yang panjang.
Refleks Raisa menutup kembali pintu kamar mandi dan kembali ke kamarnya.
Tengkuknya merinding tiada terkira. Sosok berbaju putih yang terbakar
__ADS_1
menatapnya dari luar. Raisa duduk di atas tempat tidur dan terpaku. Siapa
sebenarnya sosok pelajar yang terbakar itu?