ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 26


__ADS_3

Hadrian terpaku di ruang kerjanya. Laki-laki


berusia 55 tahun itu masih tampak segar, meski sebagian rambutnya sudah


memutih. Entah mengapa pikirannya kacau balau sejak hilangnya bu Farida.


Tidak ada yang tahu kemana Farida pergi. Padahal Farida tidak pernah pergi tanpa


pamit. Kemana-mana ia selalu saja meminta izin terlebih dahulu.


Hadrian bersandar di kursi empuk di ruang


kerjanya. Di matanya seolah terpampang jelas kejadian sepuluh tahun


lalu. Wajah gadis belia yang mengerang meregang nyawa dalam kobaran api. Si


jago merah melahapnya hidup-hidup hingga seluruh tubuhnya melepuh. Bahu daging bakar pun menyeruak memuakkan.


Hadrian tertidur di ruang kerjanya. Tapi tiba-tiba


saja seseorang menyapa.


”Pak... Pak Hadrian...” suara itu terdengar lembut.


Hadrian  terbangun sambil menghapus matanya. Ia melihat


Farida berdiri di depannya.


”Farida...”


selah Hadrian terkejut. ”Kamu kemana saja, Farida? Kami semua kehilangan kamu?”


Hadrian bangkit dari rebahan nya.


”Bapak tidak perlu mencari saya. Saya disini saja kok,” ucap Farida dengan wajah dingin.


”Tapi


beberapa hari ini kamu tidak kelihatan, Farida. Kenapa tidak memberi kabar ke


saya?”


Farida


menunduk.


”Sudahlah, Pak. Bapak tidak perlu mencari saya. Saya tidak apa-apa. Saya


pergi dulu, masih banyak pekerjaan lain yang harus saya selesaikan,” kata Farida segera beranjak dari ruangan Hadrian.


”Farida, tunggu...” panggil Hadrian seraya bangkit dari duduknya. Ia berusaha mengejar bayangan Farida,


namun bayangan itu sudah


tidak terlihat lagi ketika melewati koridor. Farida melangkah dengan begitu


cepat dan masuk ke ruang kelas.


Hadrian  buru-buru mengejarnya dan berusaha masuk ke ruang kelas. Tapi pintu ruang kelas terkunci rapat. Tangan Hadrian berusaha lagi menggoyang-goyangkan handle pintu. Tapi mendadak saja sebuah


tangan dengan kuku-kuku tajam berwarna hitam menggapai tangan Hadrian dengan erat. Hadrian terbelalak kaget, takut dan kalut.


Dari arah belakang sosok mengerikan berusaha mencekik lehernya. Sosok siswi yang habis terbakar.  Hadrian menjerit sekuat tenaganya. Berusaha melepaskan genggaman tangan mengerikan


itu dari pergelangan tangannya.


”Akhh....”


jerit Hadrian keras.


”Pak... Pak Hadrian, bangun, Pak...” tiba-tiba saja


sebuah suara membuyarkan mimpi buruknya. Hadrian terbangun


sambil tercekat. Ia melihat wajah Raisa di depannya.

__ADS_1


”Bapak kenapa? Mimpi buruk?” tanya Raisa heran. Hadrian menghapus keringat di keningnya, sambil mengatur nafasnya yang terlihat tersengal.


“Kamu siapa?” tanya


Hadrian gugup.


“Saya Raisa, Pak.


Guru baru di sekolah ini. Kebetulan saya masuk sore.”


“HHH... Saya mimpi


buruk. Mengerikan sekali,”


Hadrian menghela


berat, namun enggan memberitahu ke Raisa tentang mimpinya.


”Sudah jam


berapa, bu Raisa?”tanya


Hadrian lagi.


”Sudah sore, Pa. “


“Sore?” Kening


Hadrian berkerut. Padahal ia tadi terlelap sejenak dan masih pagi. Selama itu


kah ia tertidur?


“Ya sudah, saya


pulang dulu.” Kata Hadrian bingung.


“Baik, Pak.”


Hadrian keluar dari


ruangannya dan Raisa menuju kelasnya.


merapikan lembar-lembar kertas di meja. Tiba-tiba ia tercekat ketika mendengar


sesenggukan seseorang yang menangis. Raisa buru-buru memasukan kertas-kertas


itu ke dalam map. Kemudian ia beranjak dari kursinya. Raisa keluar dari ruangan


dan memperhatikan koridor yang sangat sepi.


Pandangan Raisa mengedar pada halaman sekolah


yang terlihat remang.  Lampu koridor


berkedi-kedip. Di halaman sekolah ia melihat tujuh pelajar yang tubuhnya sangat


pucat. Raisa bergidik. Sekujur tubuhnya merinding. Raisa menarik nafasnya


dalam-dalam. Koridor sekolah terlihat sepi sekali. Raisa menghentikan


langkahnya melihat sosok murid perempuan yang berdiri kaku di halaman. Raisa melangkahkan


kakinya dan berusaha tidak melihat sosok-sosok itu. Keringat dingin mulai


mengucur di keningnya.


Raisa mempercepat langkahnya sambil


memalingkan wajahnya dari halaman sekolah yang terlihat menyeramkan. Ia melirik


sekilas ke arah rindang dan lagi-lagi ia terkejut ketika melihat sosok gadis


berwajah pucat berdiri menatapnya. Raisa berlari kecil dan terus berdoa.


Jantungnya berdebug kencang tak menentu.

__ADS_1


“Raisaaaaa....” terdengar suara


nyaring memanggilnya.


Raisa berlari dan ketakutan. Tiba-tiba


saja ia menubruk seseorang di depannya.


Buuugghh...


“Ahkkk...” Raisa menjerit kaget.


Berkas-berkasnya jatuh ke lantai.


“Heii... kalau jalan lihat-lihat!”


sergah orang yang ia tubruk.


Raisa melihat seseorang yang


memakinya. Seorang laki-laki bernama  Andriano. Dia guru olah raga.


“Maaf, Pak... saya nggak sengaja,”


kata Raisa sambil memungut berkas yang berserakan.


“Kamu siapa?” tanya Andriano.


“Saya Raisa, guru bahasa Indonesia.”


“Oh... kenapa belum pulang, Bu?”


“Ini saya mau pulang, Pak. Permisih.”


Kata Raisa ketakutan.


Andriano hanya memperhatikan langkah


Raisa yang berjalan di koridor sekolah. Raisa menenangkan pikirannya sejenak


untuk menghilangkan rasa takutnya. Ia terus melangkah menuju asrama. Buru-buru


ia masuk ke kamarnya dan meletakkan berkasnya di atas meja. Kemudian ia mengambil


air putih dan menenggaknya. Raisa menghela berat.


“Kamu kenapa, Raisa?” tanya Melda heran.


“Gak apa-apa kok.” Jawab Raisa gugup.


“Kenapa wajahmu pucat gitu kayak baru


ngelihat hantu aja.”


Raisa berusaha tersenyum, tapi


terkesan kaku. Kemudian ia mengambil handunya di gantungan baju.


“Aku mandi dulu.” Katanya sambil


keluar kamar menuju kamar mandi. Asrama terlihat sepi malam itu. Para guru


sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Takut-takut Raisa melangkahkan kakinya


ke ruang belakang. Ruang kamar mandi yang menghubungkan dapur dan ruang makan. Ketika


ia membuka pintu kamar mandi, Raisa melihat sosok seseorang menghadap ke


belakang dengan  rambut yang panjang.


Refleks Raisa menutup kembali pintu kamar mandi dan kembali ke kamarnya.


Tengkuknya merinding tiada terkira. Sosok berbaju putih yang terbakar

__ADS_1


menatapnya dari luar. Raisa duduk di atas tempat tidur dan terpaku. Siapa


sebenarnya sosok pelajar yang terbakar itu?


__ADS_2