
Damsit duduk terpaku di teras depan rumahnya. Ia
terbayang lagi dengan kejadian sepuluh puluh
tahun yang lalu. Kejadian yang membuat hidupnya selalu dihantui rasa bersalah,
namun itu sudah menjadi perjanjian yang harus ditepati. Di mana ia menyaksikan
sendiri betapa tragisnya suster Martha tewas mengenaskan. Lehernya digorok
seperti binatang. Tubuhnya terseret di
lorong gelap. Darah berserakan di lantai dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia
sangat ketakutan.
“Pak...” tegur istrinya membuyarkan
lamunan Damsit. “Kok melamun? Nggak baik melamun sore-sore begini. Apa yang
papa lamun kan?”
“Hmm... nggak apa-apa, Ma...” jawab
Damsit berbohong.
“Bapak jangan merahasiakan dari ibu.”
“Nggak ada apa-apa, Bu.” Lagi-lagi
Damsit memberi pernyataan palsu. Ada yang ia sembunyikan dari istrinya. Ketika
sang istri masuk ke dalam rumah, Damsit pun mengingat cerita itu. Malam itu di
sebuah rumah sederhana. Asap rokok
menebal, membuat kabut tipis di ruangan kecil berukuran 3x4. Wajah Pandapotan terlihat tegang dan
memerah. Sedangkan
Damsit terlihat biasa saja. Mereka memerhatikan
laki-laki tua di depannya. Laki-laki berkulit coklat gelap berjanggut putih
dengan sebatang rokok kretek di bibirnya. Sesekali laki-laki itu mengepulkan
asap rokoknya sambil menatap wajah Pandapotan dengan lekat. Ia tidak banyak
bicara namun di wajahnya menyimpan beribu tanda tanya. Pandapotan yang
diperhatikan seperti itu mulai tidak tenang.
“Bagaimana, Pak? Apakah
ada jalan keluarnya?” tanya Pandapotan ragu.
Laki-laki itu masih
terdiam sambil mengepulkan asap rokoknya, kemudian melumatkan nya di atas asbak
aluminium. Ia manggut-manggut sendiri seolah berbicara pada mahluk gaib di
depannya. Laki-laki itu melihat guci tanah yang berisi air putih dan beberapa
bunga setaman. Bau kembang dan kemenyan menyeruak memenuhi kamar.
“Anda serius dengan
keinginan anda?” tanya laki-laki itu sambil menatap wajah Pandapotan yang
terlihat tegang.
“Iya, Pak...” jawabnya
tegas.
“Baik, saya akan melakukan
apa yang anda minta. Sekarang anda pulanglah. Semuanya akan berjalan lancar,”
Pandapotan terlihat
bingung, namun ia beranjak juga dari ruangan itu setelah memberikan beberapa
lembar uang ke laki-laki tua berjanggut putih. Semuanya sudah ia pertimbangkan.
Apa pun resikonya dia sudah siap.
Malam kembali menawarkan
kepekatan pada jalan-jalan setapak menuju jalan utama dari rumah laki-laki tua
itu. Perkebunan karet tumbuh subur dan membuat keadaan semakin gelap. Tidak ada
penerangan sama sekali.
“Bagaimana, Pak dokter?”
tanya Damsit, yang dulu seorang. Ia yang memperkenalkan Pandapotan pada laki-laki tua itu. Seorang
dukun.
“Semuanya akan berjalan
lancar kata bapak tua itu,” jawab Pandapotan.
Damsit manggut-manggut.
“Trus tujuan kita kemana,
Pak?” tanya Damsit kemudian.
“Kita kembali ke rumah
sakit saja.”
“Baik, Pak.”
Damsit membukakan pintu
untuk Pandapotan. Mobil kijang melaju di jalan tanah dan berlumpur. Dalam
__ADS_1
perjalanan, Pandapotan hanya diam dan termenung. Apakah laki-laki tua itu bisa
dipercaya atau hanya memanfaatkan uangnya saja.
“Jangan khawatir, Pak
dokter. Laki-laki itu orang sakti. Yakin saja padanya, semua pasti berjalan
lancar,”
“Aku jadi khawatir, Damsit.
Perasaanku nggak enak,”
“Itu biasa, Pak dokter.
Nanti juga bapak akan merasakan hasilnya.”
Pandapotan kembali terdiam
sepanjang perjalanan pulang. Perkebunan karet terlihat sangat gelap dan
mencekam. Seperti ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari jauh. Mata merah
yang menakutkan.
Hujan baru
saja reda, namun masih menyisakan hawa dingin di sekitar perkebunan kelapa
sawit. Gelap dan sepi. Kabut tipis menyelimuti sebagian perkebunan. Hawanya
menawarkan atmosfer yang sangat menakutkan. Seperti ada sosok mahluk halus yang
bergentayangan mencari tumbal.
Koridor rumah sakit terlihat sepi dan
mencekam. Beberapa waktu lalu seorang perawat gantung diri di pohon beringin
yang bertengger di dekat rumah sakit. Konon arwahnya gentayangan menakuti siapa
saja yang melintasi pohon itu.
Tidak ada hewan malam yang bersuara.
Senyap. Aroma rumah sakit yang khas dengan obat-obatan menyeruak hingga ke
sudut koridor. Bau kamper, amis dan memuakkan serta bau-bau tak sedap lainnya
juga membuat bulu kuduk merinding. Belum lagi wangi bunga melati yang entah dari mana datangnya.
Wangi bunga itu juga membuat suasana menjadi mencekam.
Di ujung koridor terlihat seorang
Perawat berjalan tergesa sambil mendekap berkas-berkas pasien di dadanya.
Perawat itu terlihat gelisah dan ketakutan. Pandangannya mengedar ke kanan dan
ke kiri. Tidak ada pengunjung sama sekali yang dijumpai. Tidak seperti biasanya
yang selalu ramai dengan sanak-saudara pasien. Malam ini terasa sunyi dan
tidur bersama pasien.
Perawat itu mendegut ludahnya beberapa
kali ketika melewati beberapa ruang-ruang kosong sepanjang koridor. Detak
jantungnya mulai tak menentu ketika harus melewati ruang otopsi. Di mana
kemarin beberapa ahli forensik membedah dada sosok mayat korban tabrak lari
yang sangat mengenaskan.
Perawat itu mempercepat langkahnya hingga
menimbulkan suara telapak kaki yang beradu kencang. Di sudut koridor ia melihat
seorang suster berjalan sambil mendorong tempat tidur pasien. Perawat itu
sedikit merasa lega dan terus mempercepat langkahnya agar ia bisa bersama sang
suster. Di perempatan koridor Perawat itu terkejut setengah mati. Suster yang
ia lihat tadi sudah tidak ada. Ia memperhatikan ruang-ruang pasien yang kosong
dan mati lampunya. Jantung Perawat itu kembali berdebar kencang. Sedikit
berlari ia melewati ruangan-ruangan itu. Lorong-lorong itu terlihat gelap dan
menakutkan.
Keringat dingin mengucur dari
keningnya. Ingin ia menjerit dan menangis, namun bibirnya terus bergetar.
Jantungnya berdebar tidak menentu. Ia terus berjalan sambil mengatur detak
jantungnya.Terbesit lagi di benaknya tentang cerita-cerita misteri dari
temannya. Sosok arwah seorang perawat dengan wajah pucat dan sebagian wajahnya
sudah busuk penuh belatung. Kuku-kuku tangannya panjang dan runcing. Rambutnya
panjang tidak terurus.
Perawat itu mulai tak nyaman ketika
mendengar suara menangis sesenggukan dari sudut ruang kosong. Ia melangkahkan
kakinya dengan berat. Ingin kembali ke ruang perawatan itu sama saja bunuh
diri. Ia sudah melaluinya dengan rasa ketakutan yang sangat luar biasa. Perawat
itu mengintai dari balik dinding, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Perawat
itu kembali melangkahkan kakinya berjalan tergesa. Ia berhenti sejenak ketika
melihat lorong gelap di depannya. Lorong itu terkenal angker. Selalu saja ada
__ADS_1
penampakan saat malam tiba. Lampunya sudah puluhan kali diganti, namun tetap
saja mati.
Perawat itu mendegut ludahnya seraya
menghentikan langkahnya. Jantungnya kembali berdebar kencang tak menentu.
Keringat dingin terus saja membasahi wajahnya. Bau amis menyengat di hidungnya.
Seperti bau darah segar yang memuakkan. Bau itu perlahan berubah menjadi bau
tak sedap. Bau bangkai yang sangat menjijikan. Perawat itu merasa mual dan mau
muntah. Tiba-tiba saja ia melihat sosok kepala dengan
isi perut tanpa tubuh terbang dan meringis berlumur darah.
“Akhhh.....” Perawat itu
menjerit histeris. Ia berlari
menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Berkas-berkas pasien berjatuhan di lantai.
Perawat itu menangis dengan nafas tersengal. Ia panik dan ketakutan.
Pandangannya nanar dan ia berlari tak tentu arah.
Di sudut lorong Kenanga ia berhenti
ketika melihat di depannya ada tulisan KAMAR MAYAT!
Deg... Jantungnya terus bergemuruh.
Di samping kamar mayat berdiri sosok perempuan berambut panjang.
Bajunya penuh bercak darah. Sosok itu membelakanginya sambil menyisir rambutnya
yang panjang. Bau melati dan bau amis berbaur menjadi satu. Bau itu membuat
sang perawat merasa mual dan mau muntah. Dengan perlahan sosok itu menoleh ke
arahnya. Perawat itu pun menjerit begitu melihat wajah hancur penuh belatung.
“Akhhh...!!!”
Perawat itu panik dengan keringat yang
bercucuran. Ingin menjerit dan berlari, namun bibirnya terasa tertutup sangat kuat.
Langkahnya seperti tertahan. Bulu kuduknya merinding tiada terkira.
“Toloooonggg....” teriaknya histeris.
Sosok itu menyeringai dan membuat
senyuman yang menakutkan. Dari mulutnya keluar darah kental berwarna merah
kehitaman. Sebagian wajahnya terkelupas busuk dengan mata terjuntai keluar.
Gigi-giginya hitam bertaring. Lidahnya menjulur panjang keluar.
“Akh....”
Perawat itu menjerit sambil terus berlari
ketakutan. Suara-suara aneh mulai bersahutan. Suara jeritan, tangisan dan
erangan-erangan yang entah dari mana datangnya memekakkan gendang telinga. Suara
tangisan pilu dari liang kubur. Suara cekikikan Kuntilanak membahana di
dahan-dahan pohon beringin. Perawat itu terus berlari di lorong-lorong gelap. Tiba-tiba
saja ia terbelalak dengan bibir gemetar ketika melihat sosok mengerikan keluar
dari lorong gelap. Sosok tinggi besar berbulu hitam dengan kuku-kuku yang tajam
dan runcing. Sosok mengerikan itu berjalan mendekatinya
sambil membawa jantung
manusia.
“Akh.....”
Perawat itu
menjerit lagi dan berlari sekencang-kencangnya. Tiba-tiba saja ia terjatuh.
Tubuhnya terseret di lorong gelap. Seperti ada yang menariknya dengan tragis.
Kemudian tubuhnya melayang ke atas berputar-putar, setelah itu jatuh
terjerembab di tanah. Jeritan dan tangisan seperti tak terdengar oleh siapapun.
“Akh...
Toloooonggg....”
SRET....
Perawat itu
menahan sakit yang tiada terkira ketika dadanya terkoyak lebar menganga. Darah
muncrat membasahi seragam putihnya. Sosok mahluk mengerikan yang wujudnya
seperti gorila itu mencabik jantungnya dan melahapnya seperti melahap
daging mentah. Tubuh sang perawat kejang menahan sebuah kematian.
Jeritan perawat
itu pun hilang bersama sayup suara lolongan anjing yang entah dari mana. Bau
amis dan bau kemenyan menyeruak di sepanjang koridor rumah sakit. Bau darah
segar menyusup ke lorong-lorong yang gelap. Sebagian tercium oleh pasien yang
di rawat di ruang-ruang sepi. Damsit dan Pandapotan melakukan pesugihan yang
__ADS_1
sampai saat ini tertutupi.