ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 27


__ADS_3

Damsit  duduk terpaku di teras depan rumahnya. Ia


terbayang lagi dengan kejadian sepuluh  puluh


tahun yang lalu. Kejadian yang membuat hidupnya selalu dihantui rasa bersalah,


namun itu sudah menjadi perjanjian yang harus ditepati. Di mana ia menyaksikan


sendiri betapa tragisnya suster Martha tewas mengenaskan. Lehernya digorok


seperti binatang.  Tubuhnya terseret di


lorong gelap. Darah berserakan di lantai dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia


sangat ketakutan.


“Pak...” tegur istrinya membuyarkan


lamunan Damsit. “Kok melamun? Nggak baik melamun sore-sore begini. Apa yang


papa lamun kan?”


“Hmm... nggak apa-apa, Ma...” jawab


Damsit berbohong.


“Bapak jangan merahasiakan dari ibu.”


“Nggak ada apa-apa, Bu.” Lagi-lagi


Damsit memberi pernyataan palsu. Ada yang ia sembunyikan dari istrinya. Ketika


sang istri masuk ke dalam rumah, Damsit pun mengingat cerita itu. Malam itu di


sebuah rumah sederhana. Asap rokok


menebal, membuat kabut tipis di ruangan kecil berukuran 3x4. Wajah Pandapotan terlihat tegang dan


memerah. Sedangkan


Damsit terlihat biasa saja. Mereka  memerhatikan


laki-laki tua di depannya. Laki-laki berkulit coklat gelap berjanggut putih


dengan sebatang rokok kretek di bibirnya. Sesekali laki-laki itu mengepulkan


asap rokoknya sambil menatap wajah Pandapotan dengan lekat. Ia tidak banyak


bicara namun di wajahnya menyimpan beribu tanda tanya. Pandapotan yang


diperhatikan seperti itu mulai tidak tenang.


“Bagaimana, Pak? Apakah


ada jalan keluarnya?” tanya Pandapotan ragu.


Laki-laki itu masih


terdiam sambil mengepulkan asap rokoknya, kemudian melumatkan nya di atas asbak


aluminium. Ia manggut-manggut sendiri seolah berbicara pada mahluk gaib di


depannya. Laki-laki itu melihat guci tanah yang berisi air putih dan beberapa


bunga setaman. Bau kembang dan kemenyan menyeruak memenuhi kamar.


“Anda serius dengan


keinginan anda?” tanya laki-laki itu sambil menatap wajah Pandapotan yang


terlihat tegang.


“Iya, Pak...” jawabnya


tegas.


“Baik, saya akan melakukan


apa yang anda minta. Sekarang anda pulanglah. Semuanya akan berjalan lancar,”


Pandapotan terlihat


bingung, namun ia beranjak juga dari ruangan itu setelah memberikan beberapa


lembar uang ke laki-laki tua berjanggut putih. Semuanya sudah ia pertimbangkan.


Apa pun resikonya dia sudah siap.


Malam kembali menawarkan


kepekatan pada jalan-jalan setapak menuju jalan utama dari rumah laki-laki tua


itu. Perkebunan karet tumbuh subur dan membuat keadaan semakin gelap. Tidak ada


penerangan sama sekali.


“Bagaimana, Pak dokter?”


tanya Damsit, yang dulu seorang. Ia yang memperkenalkan  Pandapotan pada laki-laki tua itu. Seorang


dukun.


“Semuanya akan berjalan


lancar kata bapak tua itu,” jawab Pandapotan.


Damsit manggut-manggut.


“Trus tujuan kita kemana,


Pak?” tanya Damsit kemudian.


“Kita kembali ke rumah


sakit saja.”


“Baik, Pak.”


Damsit membukakan pintu


untuk Pandapotan. Mobil kijang melaju di jalan tanah dan berlumpur. Dalam

__ADS_1


perjalanan, Pandapotan hanya diam dan termenung. Apakah laki-laki tua itu bisa


dipercaya atau hanya memanfaatkan uangnya saja.


“Jangan khawatir, Pak


dokter. Laki-laki itu orang sakti. Yakin saja padanya, semua pasti berjalan


lancar,”


“Aku jadi khawatir, Damsit.


Perasaanku nggak enak,”


“Itu biasa, Pak dokter.


Nanti juga bapak akan merasakan hasilnya.”


Pandapotan kembali terdiam


sepanjang perjalanan pulang. Perkebunan karet terlihat sangat gelap dan


mencekam. Seperti ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari jauh. Mata merah


yang menakutkan.


Hujan baru


saja reda, namun masih menyisakan hawa dingin di sekitar perkebunan kelapa


sawit. Gelap dan sepi. Kabut tipis menyelimuti sebagian perkebunan. Hawanya


menawarkan atmosfer yang sangat menakutkan. Seperti ada sosok mahluk halus yang


bergentayangan mencari tumbal.


Koridor rumah sakit terlihat sepi dan


mencekam. Beberapa waktu lalu seorang perawat gantung diri di pohon beringin


yang bertengger di dekat rumah sakit. Konon arwahnya gentayangan menakuti siapa


saja yang melintasi pohon itu.


Tidak ada hewan malam yang bersuara.


Senyap. Aroma rumah sakit yang khas dengan obat-obatan menyeruak hingga ke


sudut koridor. Bau kamper, amis dan memuakkan serta bau-bau tak sedap lainnya


juga membuat bulu kuduk merinding. Belum lagi wangi  bunga melati yang entah dari mana datangnya.


Wangi bunga itu juga membuat suasana menjadi mencekam.


Di ujung koridor terlihat seorang


Perawat berjalan tergesa sambil mendekap berkas-berkas pasien di dadanya.


Perawat itu terlihat gelisah dan ketakutan. Pandangannya mengedar ke kanan dan


ke kiri. Tidak ada pengunjung sama sekali yang dijumpai. Tidak seperti biasanya


yang selalu ramai dengan sanak-saudara pasien. Malam ini terasa sunyi dan


tidur bersama pasien.


Perawat itu mendegut ludahnya beberapa


kali ketika melewati beberapa ruang-ruang kosong sepanjang koridor. Detak


jantungnya mulai tak menentu ketika harus melewati ruang otopsi. Di mana


kemarin beberapa ahli forensik membedah dada sosok mayat korban tabrak lari


yang sangat mengenaskan.


Perawat itu mempercepat langkahnya hingga


menimbulkan suara telapak kaki yang beradu kencang. Di sudut koridor ia melihat


seorang suster berjalan sambil mendorong tempat tidur pasien. Perawat itu


sedikit merasa lega dan terus mempercepat langkahnya agar ia bisa bersama sang


suster. Di perempatan koridor Perawat itu terkejut setengah mati. Suster yang


ia lihat tadi sudah tidak ada. Ia memperhatikan ruang-ruang pasien yang kosong


dan mati lampunya. Jantung Perawat itu kembali berdebar kencang. Sedikit


berlari ia melewati ruangan-ruangan itu. Lorong-lorong itu terlihat gelap dan


menakutkan.


Keringat dingin mengucur dari


keningnya. Ingin ia menjerit dan menangis, namun bibirnya terus bergetar.


Jantungnya berdebar tidak menentu. Ia terus berjalan sambil mengatur detak


jantungnya.Terbesit lagi di benaknya tentang cerita-cerita misteri dari


temannya. Sosok arwah seorang perawat dengan wajah pucat dan sebagian wajahnya


sudah busuk penuh belatung. Kuku-kuku tangannya panjang dan runcing. Rambutnya


panjang tidak terurus.


Perawat itu mulai tak nyaman ketika


mendengar suara menangis sesenggukan dari sudut ruang kosong. Ia melangkahkan


kakinya dengan berat. Ingin kembali ke ruang perawatan itu sama saja bunuh


diri. Ia sudah melaluinya dengan rasa ketakutan yang sangat luar biasa. Perawat


itu mengintai dari balik dinding, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Perawat


itu kembali melangkahkan kakinya berjalan tergesa. Ia berhenti sejenak ketika


melihat lorong gelap di depannya. Lorong itu terkenal angker. Selalu saja ada

__ADS_1


penampakan saat malam tiba. Lampunya sudah puluhan kali diganti, namun tetap


saja mati.


Perawat itu mendegut ludahnya seraya


menghentikan langkahnya. Jantungnya kembali berdebar kencang tak menentu.


Keringat dingin terus saja membasahi wajahnya. Bau amis menyengat di hidungnya.


Seperti bau darah segar yang memuakkan. Bau itu perlahan berubah menjadi bau


tak sedap. Bau bangkai yang sangat menjijikan. Perawat itu merasa mual dan mau


muntah. Tiba-tiba saja ia melihat sosok kepala dengan


isi perut tanpa tubuh terbang dan meringis berlumur darah.


“Akhhh.....” Perawat itu


menjerit histeris. Ia berlari


menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Berkas-berkas pasien berjatuhan di lantai.


Perawat itu menangis dengan nafas tersengal. Ia panik dan ketakutan.


Pandangannya nanar dan ia berlari tak tentu arah.


Di sudut lorong Kenanga ia berhenti


ketika melihat di depannya ada tulisan KAMAR MAYAT!


Deg... Jantungnya terus bergemuruh.


Di samping kamar mayat berdiri sosok perempuan berambut panjang.


Bajunya penuh bercak darah. Sosok itu membelakanginya sambil menyisir rambutnya


yang panjang. Bau melati dan bau amis berbaur menjadi satu. Bau itu membuat


sang perawat merasa mual dan mau muntah. Dengan perlahan sosok itu menoleh ke


arahnya. Perawat itu pun menjerit begitu melihat wajah hancur penuh belatung.


“Akhhh...!!!”


Perawat itu panik dengan keringat yang


bercucuran. Ingin menjerit dan berlari, namun bibirnya terasa tertutup sangat kuat.


Langkahnya seperti tertahan. Bulu kuduknya merinding tiada terkira.


“Toloooonggg....” teriaknya histeris.


Sosok itu menyeringai dan membuat


senyuman yang menakutkan. Dari mulutnya keluar darah kental berwarna merah


kehitaman. Sebagian wajahnya terkelupas busuk dengan mata terjuntai keluar.


Gigi-giginya hitam bertaring. Lidahnya menjulur panjang keluar.


“Akh....”


Perawat itu menjerit sambil terus berlari


ketakutan. Suara-suara aneh mulai bersahutan. Suara jeritan, tangisan dan


erangan-erangan yang entah dari mana datangnya memekakkan gendang telinga. Suara


tangisan pilu dari liang kubur. Suara cekikikan Kuntilanak membahana di


dahan-dahan pohon beringin. Perawat itu terus berlari di lorong-lorong gelap. Tiba-tiba


saja ia terbelalak dengan bibir gemetar ketika melihat sosok mengerikan keluar


dari lorong gelap. Sosok tinggi besar berbulu hitam dengan kuku-kuku yang tajam


dan runcing. Sosok mengerikan itu berjalan mendekatinya


sambil membawa jantung


manusia.


“Akh.....”


Perawat itu


menjerit lagi dan berlari sekencang-kencangnya. Tiba-tiba saja ia terjatuh.


Tubuhnya terseret di lorong gelap. Seperti ada yang menariknya dengan tragis.


Kemudian tubuhnya melayang ke atas berputar-putar, setelah itu jatuh


terjerembab di tanah. Jeritan dan tangisan seperti tak terdengar oleh siapapun.


“Akh...


Toloooonggg....”


SRET....


Perawat itu


menahan sakit yang tiada terkira ketika dadanya terkoyak lebar menganga. Darah


muncrat membasahi seragam putihnya. Sosok mahluk mengerikan yang wujudnya


seperti gorila itu mencabik jantungnya dan melahapnya seperti melahap


daging mentah. Tubuh sang perawat kejang menahan sebuah kematian.


Jeritan perawat


itu pun hilang bersama sayup suara lolongan anjing yang entah dari mana. Bau


amis dan bau kemenyan menyeruak di sepanjang koridor rumah sakit. Bau darah


segar menyusup ke lorong-lorong yang gelap. Sebagian tercium oleh pasien yang


di rawat di ruang-ruang sepi. Damsit dan Pandapotan melakukan pesugihan yang

__ADS_1


sampai saat ini tertutupi.


__ADS_2