ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 14


__ADS_3

Suara tapak sepatu terdengar beradu di lantai keramik. Sorta


berjalan sambil mendekap buku-buku pembelajaran di dadanya. Perempuan berusia


empat puluh tahunan itu tampak sangat berwibawa menjadi seorang guru. Ia tegas


dalam mata pelajaran, namun ia tidak mampu mengatasi masalah belajar anaknya.


Ia sebenarnya sangat tertekan ketika putrinya tidak lulus dalam UAN. Ia


memiliki putri pembangkang yang tidak bisa ia nasehati.


“Bu Sorta..!”


Tiba-tiba seseorang memanggilnya. Sorta menghentikan


langkahnya dan membalikkan tubuhnya melihat orang yang


menyapanya. Dari jauh terlihat Hanna berlari-lari kecil menghampiri Sorta.


Sorta mengerutkan keningnya.


“Hanna..?” Gumamnya pelan.


“Gimana kabar ibu?” Tanya Hanna.


“Baik. Ada apa?” Soeta balik bertanya.


“Hmm… Saya cuma mau ngobrol-ngobrol aja, Bu.”


“Hayo… kamu mau cerita soal gebetan barumu ya?”


“Bukan, Bu… Tapi tentang sekolah ini.”


Sorta terdiam sejenak sambil menatap wajah Hanna. Ia


tersenyum tipis lalu berujar.


“Kamu kan sudah tahu soal sekolah ini. Tidak perlulah ibu cerita lagi. Lagi pula tidak ada yang harus diceritakan. Kamu juga sudah tahu."


“Ibu sudah lama kan mengajar disini?”


“Ya, sudah tujuh tahun. Memangnya kenapa?”


“Hmm… ibu pasti tahu dengan kejadian lima tahun lalu itu


kan?”


Sorta terdiam, lalu melangkahkan kakinya dengan segera. Ia


tidak menjawab pertanyaan Hanna. Hanna mengikuti langkah Sorta, namun Sorta


tetap tidak menjawab pertanyaan Hanna. Kajadian lima tahun itu hanyalah sebuah kecelakaan baginya.


“Bu, saya ingin tahu cerita itu.” Kata Hanna lagi.


“Saya tidak akan pernah mau cerita ke kamu, Han. Kejadian itu sangat mengerikan.”


“Bu… Please…. Kemarin saya mengalami kejadian yang sangat


menakutkan. Saya berada di tempat di mana murid-murid itu bunuh diri.”


“Apa maksud kamu?” Soeta mengerutkan dahinya.


Hanna mendegut ludahnya sejenak. Mereka berhenti lagi di perempatan


koridor.


“Siang itu saat saya keluar dari kamar mandi, semuanya


berubah asing. Saya tidak menemukan teman-teman lainnya. Setelah itu saya


melihat tujuh pelajar keluar dari ruang guru dengan wajah penuh emosi. Saya


tidak tahu apa yang terjadi dan tiba-tiba saja saya mendengar suara jatuh dari


atap lantai tiga. Ketika saya melihat ke bawah, ternyata mereka yang melompat


dari sana. Saya melihat banyak ceceran darah, Bu.”


Sorta duduk di bangku yang terletak di pinggir ruangan.


Wajahnya tampak murung dan sedih.


“Bu, kenapa?” tanya Hanna penasaran.


Mata Sorta berkaca-kaca, lalu ia menghapusnya dengan cepat.


Ia tidak ingin mengingat kejadian itu sebenarnya.


“Kamu tahu, saya adalah orang yang gagal dalam mendidik


anak. Saya tidak mampuh mengalahkan keegoisan anak saya sendiri. Walau saya


seorang guru dan banyak mengajarkan tentang ilmu pengetahuan. Pendidikan itu


perlu, namun di sisi lain saya gagal.”


Hanna mempehatikan wajah Sorta yang berubah sedih. Ia tidak


tahu apa maksud Sorta.


“Lantas?” Tanya Hanna ingin tahu.


Lama Sorta terdiam dengan mata menatap sesuatu. Pikirannya


melayang-layang.


“Satu di antara tujuh murid itu adalah anak saya.” Tutur Soeta dengan wajah sedih.


Hanna terkejut dan membelalakkan matanya.


“Anak ibu?”


“Ya, putri saya. Natalie namanya. Dia masih begitu labil


dengan emosinya yang tinggi. Saya tidak bisa menolongnya ketika ia tidak lulus


dalam ujian UN. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, namun dia berang dan marah


kepada saya. Dia menuding saya sebagai orang tua yang kejam. Padahal saya sudah


berbuat banyak untuknya. Saya tidak menyangka dia nekat melakukan hal itu.”


Suara Sorta berubah serak.


“Bu… Maafkan saya. Saya tidak bermaksud mengungkit masalah


itu. Saya hanya ingin tahu saja. Masalahnya saya selalu dihantui arwah-arwah itu.”


Sorta tersenyum pahit. "Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Mereka sudah tenang


di sana.” Sorta bangkit dari tempat duduknya. “Saya ke ruangan dulu. Kamu


masuklah. Sebentar lagi bell sekolah berdentang.”


“Iya, Bu.” Hanna menganggukan kepalanya.


Rasanya seperti dalam sebuah film horror kejadian yang dialami Hanna. Ia benar-benar tidak menyangkah sesungguhnya yang terjadi di balik


itu semua. Hanna melangkahkan kakinya ketika bell sekolah berdentang keras.


###


Hanna bercerita ke Anton tentang tujuh arwah penasaran itu


yang salah satu di antaranya anak dari guru mereka. Ketujuh pelajar itu tidak lulus ujian akhir dan meluapkan emosi mereka dengan cara bunuh diri. Mereka terjun dari lantai empat bersamaan. Darah membanjiri lantai halaman sekolah. Itu tidak membuat


keadaan mereka membaik malah sebaliknya. Arwah mereka tidak diterima oleh Tuhan


dan gentayangan mengantui murid-murid di sekolah.


“Aku benar-benar tidak bisa melupakan kejadian itu, Ton.


Aku melihat sendiri bagaimana mereka terjun bebas dari atap lantai tiga.”


“Sebaiknya kamu jangan mengingat kejadian itu, Han. Sekarang kamu dihantui arwah mereka. Kamu sepertinya perlu penyegaran, Han. Gimana kalau kita

__ADS_1


nonton aja?”


“Hmm… Nonton apa?”


“Nonton film. Kamu suka nonton?”


Hanna mengangguk.


“Sudah lama sekali aku tidak nonton di bioskop, Ton.”


“Ntar pulang sekolah kita nonton yuk.”


“Pake baju sekolah?”


“Nanti kita beli kaus aja di sana. Tidak ada masalah kan? Lagi pula kita nonton kan setelah


pulang sekolah.”


“Hmmm… aku telpon nenekku dulu.”


“Okey…”


Hanna memencet ponselnya dan menghubungi sang nenek.


Perbincangan mereka tidak jelas, namun ada senyum di bibir Hanna.


“Makasih, Nek.” Ucapnya kemudian.


“Bagaimana?”


“Nenek membolehkan aku pergi.”


“Sip.”


“Keyla gimana?”


“Ajak aja kalau dia mau ikut.”


“Hmm… iya deh.”


Keduanya tersenyum.


###


Sekolah sudah terlihat sepi. Hanya beberapa murid yang masih mengikuti


ekskul dan beberapa murid yang asyik main basket. Mery terlihat berjalan di


lapangan basket sambil menghampus keringatnya dengan handuk kecil. Gadis itu


baru saja selesai main basket bersama teman-temannya. Ia duduk di kursi sambil


mengambil air meneral dari tasnya kemudian menenggak air itu sedikit demi sedikit.


Setelah itu ia beranjak menuju kamar mandi perempuan.


“Mer, tunggu...”


Panggil seorang temannya.


Mery menghentikan


langkahnya. Ia melihat seorang gadis berambut sebahu yang dikuncir kuda.


Tubuhnya berkeringat.


“Temeni aku ya.”


Ucapnya.


“Huh. Kamu itu


penakut amat.”


“Serem kalau


sendirian. Nggak enak juga nggak ganti baju.”


“Ya udah ayo.”


Mereka sama-sama


baju ganti dari dalam tasnya. Baju itu ia letakkan di tempat gantungan baju.


Temannya bernama Nita itu sudah lebih dulu masuk ke toilet dan mengganti


bajunya.


Mery yang berada


di toilet tiba-tiba saja merinding. Ada helai-helai rambur yang tercuntai dari


atap kamar mandi. Rambut itu menyentuh kepala Mery dan ia terkejut. Ia segera


mendongak dan hampir menjerit ketika melihat sosok perempuan tua berajah pucat


mengerikan menatapnya dari langit-langit kamar mandi. Mery buru-buru keluar dan


mengambil tasnya. Ia belum sempat ganti baju.


“GGGRRRHHHH.....


HHHHAAAAGGGGGG....” Suara desisan itu membuat Mery ketakutan.


Tangannya


gemetaran memegang handel pintu dan berusaha membuka pintu kamar mandi. Pintu


terkunci. Ia panik dan memanggil sahabatnya.


“Nitaaa... Kamu


masih di dalam? Nitt...?”


Tidak ada


siapa-siapa di dalam kamar mandi. Mary semakin ketakutan. Tiba-tiba saja


ponselnya berdering dan ia sangat terkejut. Ia memekik kecil saking takutnya.


Mery mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat panggilan masuk. Dari Nita.


Mery mengerutkan keningnya.


“Halo, Mer... Kamu


di mana?”


“Kamu keterlaluan


ya, Nit. Ninggalin aku di kamar mandi.”


“Maksudmu? Kamar


mandi mana?”


“Aku lagi di kamar


mandi sekolah. Aku terjebak di sini.”


“Aku udah dari tadi pulang, Mer. Aku nggak ada di kamar mandi.”


“Kamu jangan


bercanda, Nit. Tadi kamu yang minta ditemeni.”


“Demi Allah, Mer.


Aku dijemput papa setelah selesai main basket.”


Mery mendut


ludahnya dan melihat pintu toilet masih tertutup. Keringat dingin mengucur


deras dari keningnya.


“Mer... halo...

__ADS_1


Meryy.... Kamu masih di situ?”


“Ii..i..iya,


Nit... Tolong telpon pak Damsit ya. Aku terkunci di kamar mandi.”


“Oke.”


Klik. Nita


mematikan ponselnya. Tengkuk Mery terasa membesar tiada terkira. Kalau yang


baru nelpon Nita lantas siapa yang di dalam toilet? Takut-takut Mery beranjak


dan mengambil bajunya yang masih tergantung di gantungan baju. Kamar mandi


terlihat mencekam dan senyap.


KREK!


Tiba-tiba saja


pintu kamar mandi terbuka dan muncul sosok Pak Damsit. Mery merasa lega dan


buru-buru mengambil bajunya.


“Terima kasih,


Pak.” Ucapnya seraya berlalu.


Mery berlari-lari


kecil keluar dari gedung sekolah. Pak Damsit hanya menggeleng-gelengkan


kepalanya. Ia mengawasi kamar mandi yang terlihat suram. Di sudut kamar mandi


ada sosok berambut panjang membelakanginya. Pak Damsit menutup pintu kamar


mandi dan memeriksa kamar mandi yang lain.


Setelah sampai di


rumah, Mery langsung masuk ke kamarnya. Ia meletakkan tas kecil yang


diselempangkan di bahunya. Ia memperhatikan kamar tidurnya lalu masuk ke kamar


mandi. Mery menyalakan kran air dan membasuh wajahnya. Gadis berperawakan


tomboy itu menghapus wajahnya dengan handuk. Tiba-tiba saja sekelabatan


bayangan putih melintas di belakangnya. Mery tercekat dan dengan cepat ia


berbalik ke belakang. Bayangan itu tidak ada.


Mery keluar dari


kamar mandi dan duduk di atas tempat tidurnya. Ia tidak mau terusik dengan


bayangan itu, namun tiba-tiba saja jendela kamarnya terbuka lebar.


JEDAARR...


Mery terkejut. Ia


memperhatikan jendela itu dengan lekat. Gordennya melambai-lambai tertiup


angin, namun gorden itu berubah menjadi sosok seseorang berdiri di sana. Mery


mendegut ludahnya. Sosok bayangan itu pun menunjukkan wujud aslinya. Sosok


seseorang yang sudah ia kenal.


“Jardi...”


Gumamnya dengan mata terbelalak.


Mery ketakutan.


Jantungnya bergemuru dengan kencang. Sosok arwah itu menatapnya dengan tajam.


Sebagian wajahnya hancur berlumuran darah.


“ARRGGHHH...” Mery


menjerit histeris.


Buru-buru ia keluar


dari kamarnya dan berlari menemui Mama di ruang tamu. Mama yang melihat Mery


ketakutan jadi heran.


“Kamu kenapa, Mer?


Kok kayak orang ketakutan gitu?”


“Hmm... Nggak


apa-apa, Ma.”


“Kenapa wajahmu


pucat begitu?”


“Tadi ada kecoak,


Ma.”


Mama menghela


berat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mery mulai merasa tidak tenang.


Sudah pukul sepuluh malam.


“Kamu tidur sana,


udah malam.”


“Sebentar lagi,


Ma.”


Mama menarik


nafasnya dengan berat kemudian beranjak dari tempat duduk.


“Mama ke kamar


dulu. Kamu jangan malam-malam kali tidurnya.”


“Iya, Ma.”


Mama pun berlalu


dan meninggalkan Mery sendiri di ruang tamu. Mery memperhatikan ruang tamu yang


sepi. Suasana jadi mencekam ketika Mery mematikan televisi yang menyala.


Adik-adiknya sudah pada tidur. Mery menggigit bibirnya sambil mengawasi ruang


tamu. Takut-takut ia beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke kamar.


Mery membuka pintu


kamar dengan ragu. Setelah pintu dibuka, ia melihat jendela kamarnya yang sudah


tertutup rapat. Mery masih ketakutan masuk ke kamarnya. Pelan ia menutup pintu


kamar dan naik ke tempat tidurnya. Mery menarik selimut dan menutupi sebagian


tubuhnya. Matanya masih mengawasi sekitar kamar.


“GGRRRHHH.....


HHHHHAAAAHHGGG....”


Tiba-tiba saja

__ADS_1


terdengar suara desisan menakutkan. Mery segera menutup wajahnya dengan selimut


dan memejamkan matanya. Desisan-desisan itu memenuhi gendang telinganya sampai ia tertidur.


__ADS_2