ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 20


__ADS_3

Mereka sudah mengatur rencana ingin


mengakhiri permainan mereka setahun yang lalu. Siang itu mereka berkumpul dan


membicarakan aksi mereka malam nanti. Keyla, Nico dan Ziad. Keyla terlihat


takut dengan apa yang akan terjadi nanti, sementara Nico juga khawatir tidak


bisa mengakhiri permainan mereka dengan baik. Ziad lebih bersemangat ingin


menunjukkan kehebatannya.


“Malam ini kita


akhiri semua permainan itu.” Ucap Ziad mantap.


Keyla hanya diam


sambil menarik nafasnya. Setelah mereka selesai membicarakan rencana yang


matang, mereka pun bubar. Keyla masih tak percaya kalau nanti malam ia akan


kembali ke sekolahnya. Di mana rasa takut masih menyelimuti dirinya.


Di sekolah biasa-biasa saja walau banyak siswa yang pindah sekolah karena kejadian kenakutkan.


Keyla melangkahkan kaki dengan


perlahan di koridor sekolah. Ia berjalan sambil menundukkan kepala. Hanna


yang ketepatan melihat Keyla langsung menyapanya.


“Key... kamu


dari mana aja sih?”


Keyla mendongak


dan Hanna melihat wajah Keyla yang muram.


“Kamu kenapa?”


Keyla diam saja


dan mencari tempat duduk di sisi kelas, lalu ia duduk dengan pandangan semu.


Hanna menghampiri Keyla dan duduk di sampingnya.


“Key... Ada apa?”


Tanya Hanna penasaran.


Keyla menarik


nafasnya sejenak, lalu berujar.


“Han... Aku takut


sekali. Malam ini kami akan kembali ke sekolah untuk mengakhiri permainan itu.”


Hanna tampak terkejut.


“Key... Aku nggak


tahu harus berbicara apa. Kamu harus hati-hati dan kamu harus punya pegangan


untuk menjaga tubuhmu.”


Keyla menunduk dan


kembali terdiam. Hanna merasa iba melihat sahabatnya itu.


“Han... kalau


terjadi apa-apa kepadaku, kamu adalah teman terbaikku. Terima kasih sudah


menjadi temanku.”


“Key... Jangan


bicara seperti itu. Kamu masi bisa mempertahankan kehidupanmu.”


Keyla berusaha


tersenyum ke Hanna agar sahabatnya tidak mengkhawatirkan dirinya.


“Aku akan


baik-baik aja kok, Han. Tenang aja.”


Hanna menggenggam


jemari tangan Keyla dan memberi semangat kepada sahabatnya itu. Kemudian mereka


tersenyum bersamaan.


Langit mendung


diiringi suara guntur yang keras. Malam tampak mencekam dengan hembusan angin yang


menerpa pohon-pohon di sekitar sekolah. Menerbangkan


dedaunan yang berguguran di halaman. Gedung sekolah terlihat sepi, gelap dan


menakutkan.

__ADS_1


Keyla


memperhatikan gedung sekolah itu dengan lekat sebelum mereka masuk ke dalamnya.


Gedung sekolah tampak angkuh dan gelap. Seperti sosok monster yang ingin


melahap mangsanya.


Ragu Keyla


melangkahkan kakinya ketika Ziad dan Nico sudah masuk lebih dulu.


“Ayo, Key...” Ajak


Nico kemudian.


Keyla tergagap dan langsung melangkahkan kakinya. Langit tampak hitam


kelam ketika ia mengedarkan pandang ke angkasa. Listrik padam sejak magrib


tadi. Keyla menyalakan senter kecilnya, lalu mengikuti langkah Nico dan Ziad.


Jantungnya sempat berdetak kencang melihat suasana yang begitu gelap dan menyeramkan.


Hembusan angin menerbangkan daun-daun yang berguguran di halaman sekolah. Ia


mendegut ludahnya ketika berhenti sejenak di anak tangga. Tiba-tiba saja ia


tercekat ketika melihat sosok seorang gadis di sudut koridor yang


berseberangan. Sosok itu berambut panjang dengan baju yang kusam tengah


menatapnya tajam.


“Key… Ada apa?” tanya Nico penasaran.


Keringat dingin mengucur deras dari kening


Keyla.


“Di sana, Nic…” Ucap Keyla sambil mengarahkan


pandangannya ke koridor seberang.


Nico menoleh, namun tidak melihat apa-apa.


“Nggak ada apa-apa, Key. Ayo cepat sebelum tengah


malam.” Nico berlari lagi.


Keyla juga berlari dengan nafas tersengal.


Mereka menaiki anak tangga dan berlari di koridor. Lolongan anjing bersahutan


semakin mencekam. Kilatan cahaya dari langit sesekali menyambar di ujung jalan.


Suara desisan-desisan menakutkan pun mulai


terdengar di beberapa ruangan kosong. Keyla mulai ketakutan dan berkali-kali


mendegut ludahnya. Pandangannya terasa nanar dan bulu kudungnya mulai


merinding. Keyla berhenti lagi ketika ia melihat sosok perempuan berambut


panjang dengan lumuran darah di kepalanya.


“Nic… tunggu… Aku takut…!” Teriak Keyla.


Nico menghentikan langkahnya dan menghampiri


Keyla.


“Ada apa?” Tanyanya.


“Itu…” Ucap Keyla dengan suara serak.


Nico terkejut ketika melihat arwa-arwah


gentayangan muncul begitu saja di koridor.


“Kita harus segera ke atap lantai tiga, Key…


Ayooo…” Ucap Nico panik.


Nico menarik pergelangan tangan Keyla seraya


berlari. Ziad sudah lebih dulu tiba di atap lantai tiga. Ia mengawasi atap itu


yang terlihat kosong. Tidak ada bangunan lain selain gudang di sudut bangunan.


Dari lantai yang sudah berubah warna kehitaman,


keluar sosok-sosok menakutkan. Sosok arwah gentayangan yang konon mati bunuh


diri di sekolah itu. Kepala mereka hancur berlumuran darah.  Ziad penik dan ketakutan. Ia terus berlari


menghampiri gudang.


###


Hanna gelisah di kamarnya. Pikirannya tertuju pada Keyal yang


malam ini nekat ke gedung sekolah. Hanna mondar-mandir di kamarnya sambil


menggigit bibir bawahnya. Kemudian ia mengambil ponselnya di atas meja. Ia

__ADS_1


segera menghubungi Anton.


“Ton, kita ke


sekolah malam ini.” Ucap Hanna antusias.


“Ke sekolah?


Ngapain? Kamu udah gila, Han? Ini udah malam.”


“Ton... Keyla ada


di sekolah bersama Nico dan Ziad. Mereka ingin mengakhiri permainan mereka. Kita


harus menolong Keyla, Ton... Aku khawatir.”


“Bagaimana


caranya, Han...?”


“Kita ke rumah Pak


Damsit.”


“Penjaga sekolah


itu? Maksudmu?”


“Jardi anak Pak


Damsit dan pak Damsitlah yang membangkitkan arwah Jardi untuk balas dendam.”


Anton semakin


bingung dengan cerita Hanna.


“Aku nggak ngerti


apa maksudmu, Han?”


“Sekarang kamu


jemput aja aku. Kita harus segera ke rumah Pak Damsit.”


Klik. Hanna


mematikan ponselnya sambil terus gelisah. Hanna mengambil jaktenya dan segera


keluar dari kamar. Ia menunggu Anton di ruang tamu, sementara nenek heran


melihat kegelisahan cucunya.


“Hanna... Ada apa


toh... Kok kelihatannya gelisah gitu?”


Hanna mendongak


menatap neneknya.


“Nek... Temen


Hanna malam ini mau ke gedung sekolah.”


“Untuk apa?”


“Mereka mau


mengakhiri permainan mereka yang mereka mainkan setahun lalu. Permainan itu


membuat beberapa arwah bangkit lagi dari kuburnya.”


“Hm...” Nenek


mengerutkan keningnya. “Lantas apa hubungannya dengan kamu?”


“Hanna khawatir,


Nek... Hanna kasihan melihat Keyla.”


“Trus kamu mau


ke sana juga?”


Hanna mengangguk


membuat neneknya menatap dirinya dengan lekat.


“Kamu harus


hati-hati, Han. Kalungmu jangan sampai terlepas, apalagi cincin itu.” Kata nenek memberi tahu.


Hanna melirik


cincinya, lalu mengangguk.


“Iya, Nek.”


Ucapnya.


Tak berapa lama


Anton pun datang menjemput Hanna. Mereka


langsung saja pergi setelah berpamitan kepada nenek.

__ADS_1


__ADS_2