
Mereka sudah mengatur rencana ingin
mengakhiri permainan mereka setahun yang lalu. Siang itu mereka berkumpul dan
membicarakan aksi mereka malam nanti. Keyla, Nico dan Ziad. Keyla terlihat
takut dengan apa yang akan terjadi nanti, sementara Nico juga khawatir tidak
bisa mengakhiri permainan mereka dengan baik. Ziad lebih bersemangat ingin
menunjukkan kehebatannya.
“Malam ini kita
akhiri semua permainan itu.” Ucap Ziad mantap.
Keyla hanya diam
sambil menarik nafasnya. Setelah mereka selesai membicarakan rencana yang
matang, mereka pun bubar. Keyla masih tak percaya kalau nanti malam ia akan
kembali ke sekolahnya. Di mana rasa takut masih menyelimuti dirinya.
Di sekolah biasa-biasa saja walau banyak siswa yang pindah sekolah karena kejadian kenakutkan.
Keyla melangkahkan kaki dengan
perlahan di koridor sekolah. Ia berjalan sambil menundukkan kepala. Hanna
yang ketepatan melihat Keyla langsung menyapanya.
“Key... kamu
dari mana aja sih?”
Keyla mendongak
dan Hanna melihat wajah Keyla yang muram.
“Kamu kenapa?”
Keyla diam saja
dan mencari tempat duduk di sisi kelas, lalu ia duduk dengan pandangan semu.
Hanna menghampiri Keyla dan duduk di sampingnya.
“Key... Ada apa?”
Tanya Hanna penasaran.
Keyla menarik
nafasnya sejenak, lalu berujar.
“Han... Aku takut
sekali. Malam ini kami akan kembali ke sekolah untuk mengakhiri permainan itu.”
Hanna tampak terkejut.
“Key... Aku nggak
tahu harus berbicara apa. Kamu harus hati-hati dan kamu harus punya pegangan
untuk menjaga tubuhmu.”
Keyla menunduk dan
kembali terdiam. Hanna merasa iba melihat sahabatnya itu.
“Han... kalau
terjadi apa-apa kepadaku, kamu adalah teman terbaikku. Terima kasih sudah
menjadi temanku.”
“Key... Jangan
bicara seperti itu. Kamu masi bisa mempertahankan kehidupanmu.”
Keyla berusaha
tersenyum ke Hanna agar sahabatnya tidak mengkhawatirkan dirinya.
“Aku akan
baik-baik aja kok, Han. Tenang aja.”
Hanna menggenggam
jemari tangan Keyla dan memberi semangat kepada sahabatnya itu. Kemudian mereka
tersenyum bersamaan.
Langit mendung
diiringi suara guntur yang keras. Malam tampak mencekam dengan hembusan angin yang
menerpa pohon-pohon di sekitar sekolah. Menerbangkan
dedaunan yang berguguran di halaman. Gedung sekolah terlihat sepi, gelap dan
menakutkan.
__ADS_1
Keyla
memperhatikan gedung sekolah itu dengan lekat sebelum mereka masuk ke dalamnya.
Gedung sekolah tampak angkuh dan gelap. Seperti sosok monster yang ingin
melahap mangsanya.
Ragu Keyla
melangkahkan kakinya ketika Ziad dan Nico sudah masuk lebih dulu.
“Ayo, Key...” Ajak
Nico kemudian.
Keyla tergagap dan langsung melangkahkan kakinya. Langit tampak hitam
kelam ketika ia mengedarkan pandang ke angkasa. Listrik padam sejak magrib
tadi. Keyla menyalakan senter kecilnya, lalu mengikuti langkah Nico dan Ziad.
Jantungnya sempat berdetak kencang melihat suasana yang begitu gelap dan menyeramkan.
Hembusan angin menerbangkan daun-daun yang berguguran di halaman sekolah. Ia
mendegut ludahnya ketika berhenti sejenak di anak tangga. Tiba-tiba saja ia
tercekat ketika melihat sosok seorang gadis di sudut koridor yang
berseberangan. Sosok itu berambut panjang dengan baju yang kusam tengah
menatapnya tajam.
“Key… Ada apa?” tanya Nico penasaran.
Keringat dingin mengucur deras dari kening
Keyla.
“Di sana, Nic…” Ucap Keyla sambil mengarahkan
pandangannya ke koridor seberang.
Nico menoleh, namun tidak melihat apa-apa.
“Nggak ada apa-apa, Key. Ayo cepat sebelum tengah
malam.” Nico berlari lagi.
Keyla juga berlari dengan nafas tersengal.
Mereka menaiki anak tangga dan berlari di koridor. Lolongan anjing bersahutan
semakin mencekam. Kilatan cahaya dari langit sesekali menyambar di ujung jalan.
Suara desisan-desisan menakutkan pun mulai
terdengar di beberapa ruangan kosong. Keyla mulai ketakutan dan berkali-kali
mendegut ludahnya. Pandangannya terasa nanar dan bulu kudungnya mulai
merinding. Keyla berhenti lagi ketika ia melihat sosok perempuan berambut
panjang dengan lumuran darah di kepalanya.
“Nic… tunggu… Aku takut…!” Teriak Keyla.
Nico menghentikan langkahnya dan menghampiri
Keyla.
“Ada apa?” Tanyanya.
“Itu…” Ucap Keyla dengan suara serak.
Nico terkejut ketika melihat arwa-arwah
gentayangan muncul begitu saja di koridor.
“Kita harus segera ke atap lantai tiga, Key…
Ayooo…” Ucap Nico panik.
Nico menarik pergelangan tangan Keyla seraya
berlari. Ziad sudah lebih dulu tiba di atap lantai tiga. Ia mengawasi atap itu
yang terlihat kosong. Tidak ada bangunan lain selain gudang di sudut bangunan.
Dari lantai yang sudah berubah warna kehitaman,
keluar sosok-sosok menakutkan. Sosok arwah gentayangan yang konon mati bunuh
diri di sekolah itu. Kepala mereka hancur berlumuran darah. Ziad penik dan ketakutan. Ia terus berlari
menghampiri gudang.
###
Hanna gelisah di kamarnya. Pikirannya tertuju pada Keyal yang
malam ini nekat ke gedung sekolah. Hanna mondar-mandir di kamarnya sambil
menggigit bibir bawahnya. Kemudian ia mengambil ponselnya di atas meja. Ia
__ADS_1
segera menghubungi Anton.
“Ton, kita ke
sekolah malam ini.” Ucap Hanna antusias.
“Ke sekolah?
Ngapain? Kamu udah gila, Han? Ini udah malam.”
“Ton... Keyla ada
di sekolah bersama Nico dan Ziad. Mereka ingin mengakhiri permainan mereka. Kita
harus menolong Keyla, Ton... Aku khawatir.”
“Bagaimana
caranya, Han...?”
“Kita ke rumah Pak
Damsit.”
“Penjaga sekolah
itu? Maksudmu?”
“Jardi anak Pak
Damsit dan pak Damsitlah yang membangkitkan arwah Jardi untuk balas dendam.”
Anton semakin
bingung dengan cerita Hanna.
“Aku nggak ngerti
apa maksudmu, Han?”
“Sekarang kamu
jemput aja aku. Kita harus segera ke rumah Pak Damsit.”
Klik. Hanna
mematikan ponselnya sambil terus gelisah. Hanna mengambil jaktenya dan segera
keluar dari kamar. Ia menunggu Anton di ruang tamu, sementara nenek heran
melihat kegelisahan cucunya.
“Hanna... Ada apa
toh... Kok kelihatannya gelisah gitu?”
Hanna mendongak
menatap neneknya.
“Nek... Temen
Hanna malam ini mau ke gedung sekolah.”
“Untuk apa?”
“Mereka mau
mengakhiri permainan mereka yang mereka mainkan setahun lalu. Permainan itu
membuat beberapa arwah bangkit lagi dari kuburnya.”
“Hm...” Nenek
mengerutkan keningnya. “Lantas apa hubungannya dengan kamu?”
“Hanna khawatir,
Nek... Hanna kasihan melihat Keyla.”
“Trus kamu mau
ke sana juga?”
Hanna mengangguk
membuat neneknya menatap dirinya dengan lekat.
“Kamu harus
hati-hati, Han. Kalungmu jangan sampai terlepas, apalagi cincin itu.” Kata nenek memberi tahu.
Hanna melirik
cincinya, lalu mengangguk.
“Iya, Nek.”
Ucapnya.
Tak berapa lama
Anton pun datang menjemput Hanna. Mereka
langsung saja pergi setelah berpamitan kepada nenek.
__ADS_1