
Raisa terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak.
Namun ia terkejut ketika sadar ia tidur di lantai. Padahal tadi malam ia
benar-benar tidur di tempat tidurnya, mengapa bisa di lantai dekat kamar mandi
pula. Raisa mengerutkan dahinya sambil terus berpikir. Apakah tadi malam ia
mengigau? Tidak. Raisa tidak pernah mengigau. Mahluk-mahluk itu yang
memindahkan Raisa dari tempat tidurnya. Mahluk itu mengganggu Raisa.
Raisa bangkit dengan berat.
Tubuhnya terasa sakit semua. Kepalanya sedikit pusing. Raisa beranjak membuka
jendela kamar. Pandangannya mengedar pada batang pohon yang menjulang tinggi di
depannya. Pohon itu benar-benar membuatnya bergidik. Seperti sosok raksasa yang
ingin menerkamnya. Rumput hijau terhampar luas bak permadani. Bunga-bunga perdu
seperti mawar tumbuh subur dan berbunga. Bunganya warna warni, ada merah, pink,
kuning dan putih.
Raisa melirik jam weker di
atas meja yang terletak di tengah sisi tempat tidur. Sudah jam tujuh. Raisa
menghela berat sambil mengedarkan pandang pada ruang kamarnya. Terlihat
lengang. Raisa kembali berjalan menghampiri lemari kecil dan mengambil sebuah
teko dari atasnya. Pagi ini ia ingin membuat sarapan mie instan. Walau Raisa
sendiri tahu mie itu tidak bagus untuk kesehatannya. Tapi untuk saat ini Raisa
mengacuhkan semuanya. Ia belum sempat berbelanja untuk memasak nasi atau lauk.
Lagi-lagi pikiran Raisa
terseret pada pohon rindang yang
tidak jauh dari asrama. Ada apa di pohon itu hingga pihak sekolah tidak menebangnya? Bukankah karena pohon
itu, sekolah terkesan angker?
Raisa mendesah sejenak.
Mengapa teman sekamarnya belum juga datang sampai sekarang. Padahal kepala
asrama sudah memberi tahu kalau teman sekamarnya akan datang kemarin.
Setelah menyantap mie instan
dengan rasa ayam panggang, Raisa kembali ingin melihat-lihat keadaan sekolah. Siapa tahu saja dia bisa membantu penjaga
atau ada guru lain yang memerlukan bantuannya. Raisa menghela berat sambil terus berjalan di koridor yang menyambungkan
ruang-ruang lainnya. Raisa bergidik ketika melewati beberapa ruang di sudut
koridor. Koridor terasa lembab dan dingin. Buru-buru ia menjauh dari ruangan
itu.
Raisa kembali ke kamarnya untuk merapikan buku-buku ke Buffett. Tiba-tiba
suara pintu
kamar diketuk dari luar. Raisa terkejut dan menghentikan kegiatannya. Ia
beranjak membukakan pintu. Sosok wajah kelelahan terlihat di wajah seorang
gadis dengan koper besar di tangan kanannya.
“Kamu
Raisa?” tanyanya.
“Ya,”
jawab Raisa pendek.
“Aku Melda,
temen sekamar mu,”
“Oh,
ya... silahkan masuk, Mel.”
Raisa
tersenyum dan mempersilahkan Melda masuk ke kamarnya. Raisa menutup kembali
pintu kamarnya lalu mengikuti langkah Melda. Melda meletakkan kopernya, lalu
duduk di atas tempat tidur. Sejenak ia memperhatikan sudut-sudut kamar. Dia
terlihat kelelahan.
__ADS_1
“Kamu
dari mana?” tanya Raisa ikut duduk di tempat tidur.
“Aku
dari Medan.”
“Wah,
jauh sekali.”
“Kalau
kamu?” tanya Melda kemudian.
“Aku
dari Jakarta,” jawab Raisa.
“Ohh...
kapan kamu tiba di sekolah ini?”
“Kemarin.” Jawab Raisa
Melda
menghela nafas dengan berat. Lelah setelah perjalanan jauh. “Aku mandi dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi,” kata Melda.
“Ya.
Senang berkenalan denganmu, Mel...”
Melda hanya
tersenyum, lalu mengambil handuk dari kopernya. Raisa kembali duduk sambil
membaca sebuah novel karya novelis kebanggaannya. Lagi-lagi Raisa penasaran
tentang pohon rindang fenomenal itu. Mengapa pihak sekolah tidak menebangnya
saja, dari pada membuat beberapa siswa ketakutan.
Raisa
beranjak dari duduknya menuju jendela kamar. Perlahan ia membuka gorden kamar
dan mengintai pohon itu. Lama ia memperhatikan batang yang
besar dan akar yang menjuntai sampai ke tanah. Baru saja Raisa mengedipkan
matanya sejenak, tiba-tiba ia terkejut melihat bayangan hitam keluar dari
terkira.
Sosok
tubuh berbulu lebat, hitam dan besar. Benar-benar membuat Raisa ketakutan dan
terus bergidik. Ia tidak tahu mahluk apa itu. Seluruh tubuhnya berbulu hitam.
Kuku tangannya panjang. Wajahnya tidak kelihatan karena Raisa melihat sosok itu
dari belakang. Tiba-tiba aja ia terkejut melihat sosok perempuan yang berdiri di
koridor sekolah menatapnya tajam. Wajahnya pucat dengan kelopak
mata yang menghitam. Buru-buru ia menutup gorden jendela kamarnya.
“Raisa...
Kamu sedang apa?” tiba-tiba saja Melda menegurnya. Raisa tercekat dan menoleh
ke Melda.
“HHH...
nggak apa-apa,” sahutnya sambil menutup gorden jendela kamar.
“Wajahmu
kok tegang begitu? Seperti baru melihat hantu aja,”
Raisa
berusaha tersenyum, namun bayangan itu terus saja menghantuinya hingga
senyumnya terlihat hambar.
“Ah,
kamu ada-ada aja, Mel...”
Melda
mengganti bajunya.Kemudian ia duduk di atas tempat tidur sambil
terus mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Raisa masih terpaku dengan
pikiran tak menentu sambil memperhatikan Melda. Pikiran Raisa lagi-lagi terusik
__ADS_1
tentang rumor ang ia dengar. Konon sekolah itu dulu bekas rumah sakit
‘Apakah
cerita itu benar adanya?’ gumam Raisa dalam hati.
Konon
cerita itu terjadi pada tahun 1972. Dulu ada seorang dokter yang memelihara
mahluk halus untuk pesugihan, sehingga banyak perawat dan dokter raib tanpa
jejak. Belum lagi kejadian tragis yang menimpa para perawat baru dan dokter
muda. Beberapa orang tak dikenal menggorok leher dokter dan perawat. Ada juga
yang menyayat dada perawat hingga terkuak lebar. Mereka mengambil organ-organ
beberapa dokter dan perawat serta membawanya entah kemana. Konon organ-organ
itu dijual mereka ke negara lain.
Ada
juga cerita tentang perawat yang gantung diri di salah satu kamar asrama.
Kematiannya sangat tragis. Setelah diteliti, perawat itu bunuh diri karena
diperkosa seorang dokter hingga hamil. Sang dokter tidak mau bertanggung jawab
malah melarikan diri ke Jakarta.
Kini rumah sakit itu dijadikan sekolah.
Dinda berjalan dengan rasa
takut. Ia melihat koridor-koridor sekolah di depannya yang terlihat sepi. Apalagi halaman depan sekolah terlihat gelap,
membuat jantung Dinda berdetak tidak menentu. Malam itu Dinda baru tiba
di sekolah.
Keringat dingin mengucur deras
dari keningnya. Ia mendegut ludah ketika koridor gelap. Koridor itu memang selalu gelap. Tidak ada
lampu. Padahal sudah beberapa kali diganti bola lampunya, namun selalu mati.
Pandangan Dinda mengedar ke taman dan koridor di sebelahnya.
Takut-takut ia melangkahkan
kakinya. Di ujung koridor ia melihat seorang perempuan berjalan ke arahnya. Sedikit merasa lega, Dinda
melangkahkan kakinya dan berjalan di koridor gelap. Namun suara telapak kaki
perempuan itu menghilang begitu
saja. Dinda terkejut dan mendongak mencari bayangan perempuan itu.Tidak ada.
Deg...!
Jantung Dinda bergemuruh
kencang. Perasaannya mulai gelisah. Kini ia sudah berada di tengah koridor yang
gelap. Matanya mengedar melihat ruang-ruang gelap di sisi kiri dan kanannya.
Pandangannya nanar ketika melihat pintu-pintu ruang gelap itu terbuka. Ia
seperti melihat penggalan-penggalan adegan pembantaian yang mengerikan di
ruangan itu. Di mana seorang perawat digorok lehernya dan dibelah dadanya. Beberapa laki-laki
berbadan gelap mengambil jantung sang perawat. Darah mengucur deras berserakan
di lantai. Dinda ketakutan dengan bibir gemetar. Tiba-tiba saja perawat itu
bangkit dengan sosok yang mengerikan. Lehernya hampir putus berlumuran darah
dan berjalan mendekati Dinda.
“Akhhh.....” Dinda
menjerit histeris sambil berlari. Koper dan berkasnya berserakan di lantai. Dinda ketakutan
sambil menangis. Koridor-koridor di depannya terlihat lebih panjang dari
sebelumnya. Dinda berlari lagi dengan nafas tersengal. Tiba-tiba saja ia
berhenti ketika mendengar suara mendesis aneh dan menggeram seperti binatang
buas. Dinda mendegut ludah dengan bibir gemetar. Ia sesenggukan dengan keringat
bercucuran.
“Aaarrrhhggggkkkk....” Dinda
kembali menjerit histeris.
“Bu… sadar, Bu.” Pak Rahmat tiba-tiba menyadarkan Dinda. Dinda ttercekat
__ADS_1
dan ia melihat pak Rahmat dan merasa lega.