ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 23


__ADS_3

Raisa terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak.


Namun ia terkejut ketika sadar ia tidur di lantai. Padahal tadi malam ia


benar-benar tidur di tempat tidurnya, mengapa bisa di lantai dekat kamar mandi


pula. Raisa mengerutkan dahinya sambil terus berpikir. Apakah tadi malam ia


mengigau? Tidak. Raisa tidak pernah mengigau. Mahluk-mahluk itu yang


memindahkan Raisa dari tempat tidurnya. Mahluk itu mengganggu Raisa.


Raisa bangkit dengan berat.


Tubuhnya terasa sakit semua. Kepalanya sedikit pusing. Raisa beranjak membuka


jendela kamar. Pandangannya mengedar pada batang pohon yang menjulang tinggi di


depannya. Pohon itu benar-benar membuatnya bergidik. Seperti sosok raksasa yang


ingin menerkamnya. Rumput hijau terhampar luas bak permadani. Bunga-bunga perdu


seperti mawar tumbuh subur dan berbunga. Bunganya warna warni, ada merah, pink,


kuning dan putih.


Raisa melirik jam weker di


atas meja yang terletak di tengah sisi tempat tidur. Sudah jam tujuh. Raisa


menghela berat sambil mengedarkan pandang pada ruang kamarnya. Terlihat


lengang. Raisa kembali berjalan menghampiri lemari kecil dan mengambil sebuah


teko dari atasnya. Pagi ini ia ingin membuat sarapan mie instan. Walau Raisa


sendiri tahu mie itu tidak bagus untuk kesehatannya. Tapi untuk saat ini Raisa


mengacuhkan semuanya. Ia belum sempat berbelanja untuk memasak nasi atau lauk.


Lagi-lagi pikiran Raisa


terseret pada pohon rindang yang


tidak jauh dari asrama. Ada apa di pohon itu hingga pihak sekolah tidak menebangnya? Bukankah karena pohon


itu, sekolah terkesan angker?


Raisa mendesah sejenak.


Mengapa teman sekamarnya belum juga datang sampai sekarang. Padahal kepala


asrama sudah memberi tahu kalau teman sekamarnya akan datang kemarin.


Setelah menyantap mie instan


dengan rasa ayam panggang, Raisa kembali ingin melihat-lihat keadaan sekolah. Siapa tahu saja dia bisa membantu penjaga


atau ada guru lain yang memerlukan bantuannya. Raisa menghela berat sambil terus berjalan di koridor yang menyambungkan


ruang-ruang lainnya. Raisa bergidik ketika melewati beberapa ruang di sudut


koridor. Koridor terasa lembab dan dingin. Buru-buru ia menjauh dari ruangan


itu.


Raisa kembali ke kamarnya untuk merapikan buku-buku ke Buffett. Tiba-tiba


suara pintu


kamar diketuk dari luar. Raisa terkejut dan menghentikan kegiatannya. Ia


beranjak membukakan pintu. Sosok wajah kelelahan terlihat di wajah seorang


gadis dengan koper besar di tangan kanannya.


“Kamu


Raisa?” tanyanya.


“Ya,”


jawab Raisa pendek.


“Aku Melda,


temen sekamar mu,”


“Oh,


ya... silahkan masuk, Mel.”


Raisa


tersenyum dan mempersilahkan Melda masuk ke kamarnya. Raisa menutup kembali


pintu kamarnya lalu mengikuti langkah Melda. Melda meletakkan kopernya, lalu


duduk di atas tempat tidur. Sejenak ia memperhatikan sudut-sudut kamar. Dia


terlihat kelelahan.

__ADS_1


“Kamu


dari mana?” tanya Raisa ikut duduk di tempat tidur.


“Aku


dari Medan.”


“Wah,


jauh sekali.”


“Kalau


kamu?” tanya Melda kemudian.


“Aku


dari Jakarta,” jawab Raisa.


“Ohh...


kapan kamu tiba di sekolah ini?”


“Kemarin.” Jawab Raisa


Melda


menghela nafas dengan berat. Lelah setelah perjalanan jauh. “Aku mandi dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi,” kata Melda.


“Ya.


Senang berkenalan denganmu, Mel...”


Melda hanya


tersenyum, lalu mengambil handuk dari kopernya. Raisa kembali duduk sambil


membaca sebuah novel karya novelis kebanggaannya. Lagi-lagi Raisa penasaran


tentang pohon rindang fenomenal itu. Mengapa pihak sekolah tidak menebangnya


saja, dari pada membuat beberapa siswa ketakutan.


Raisa


beranjak dari duduknya menuju jendela kamar. Perlahan ia membuka gorden kamar


dan mengintai pohon itu. Lama ia memperhatikan batang yang


besar dan akar yang menjuntai sampai ke tanah. Baru saja Raisa mengedipkan


matanya sejenak, tiba-tiba ia terkejut melihat bayangan hitam keluar dari


terkira.


Sosok


tubuh berbulu lebat, hitam dan besar. Benar-benar membuat Raisa ketakutan dan


terus bergidik. Ia tidak tahu mahluk apa itu. Seluruh tubuhnya berbulu hitam.


Kuku tangannya panjang. Wajahnya tidak kelihatan karena Raisa melihat sosok itu


dari belakang. Tiba-tiba aja ia terkejut melihat sosok perempuan yang berdiri di


koridor sekolah menatapnya tajam. Wajahnya pucat dengan kelopak


mata yang menghitam. Buru-buru ia menutup gorden jendela kamarnya.


“Raisa...


Kamu sedang apa?” tiba-tiba saja Melda menegurnya. Raisa tercekat dan menoleh


ke Melda.


“HHH...


nggak apa-apa,” sahutnya sambil menutup gorden jendela kamar.


“Wajahmu


kok tegang begitu? Seperti baru melihat hantu aja,”


Raisa


berusaha tersenyum, namun bayangan itu terus saja menghantuinya hingga


senyumnya terlihat hambar.


“Ah,


kamu ada-ada aja, Mel...”


Melda


mengganti bajunya.Kemudian ia duduk di atas tempat tidur sambil


terus mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Raisa masih terpaku dengan


pikiran tak menentu sambil memperhatikan Melda. Pikiran Raisa lagi-lagi terusik

__ADS_1


tentang rumor ang ia dengar. Konon sekolah itu dulu bekas rumah sakit


‘Apakah


cerita itu benar adanya?’ gumam Raisa dalam hati.


Konon


cerita itu terjadi pada tahun 1972. Dulu ada seorang dokter yang memelihara


mahluk halus untuk pesugihan, sehingga banyak perawat dan dokter raib tanpa


jejak. Belum lagi kejadian tragis yang menimpa para perawat baru dan dokter


muda. Beberapa orang tak dikenal menggorok leher dokter dan perawat. Ada juga


yang menyayat dada perawat hingga terkuak lebar. Mereka mengambil organ-organ


beberapa dokter dan perawat serta membawanya entah kemana. Konon organ-organ


itu dijual mereka ke negara lain.


Ada


juga cerita tentang perawat yang gantung diri di salah satu kamar asrama.


Kematiannya sangat tragis. Setelah diteliti, perawat itu bunuh diri karena


diperkosa seorang dokter hingga hamil. Sang dokter tidak mau bertanggung jawab


malah melarikan diri ke Jakarta.


Kini rumah sakit itu dijadikan sekolah.


Dinda berjalan dengan rasa


takut. Ia melihat koridor-koridor sekolah di depannya yang terlihat sepi. Apalagi halaman depan sekolah terlihat gelap,


membuat jantung Dinda berdetak tidak menentu. Malam itu Dinda baru tiba


di sekolah.


Keringat dingin mengucur deras


dari keningnya. Ia mendegut ludah ketika   koridor gelap. Koridor itu memang selalu gelap. Tidak ada


lampu. Padahal sudah beberapa kali diganti bola lampunya, namun selalu mati.


Pandangan Dinda mengedar ke taman dan koridor di sebelahnya.


Takut-takut ia melangkahkan


kakinya. Di ujung koridor ia melihat seorang perempuan berjalan ke arahnya. Sedikit merasa lega, Dinda


melangkahkan kakinya dan berjalan di koridor gelap. Namun suara telapak kaki


perempuan itu menghilang begitu


saja. Dinda terkejut dan mendongak mencari bayangan perempuan itu.Tidak ada.


Deg...!


Jantung Dinda bergemuruh


kencang. Perasaannya mulai gelisah. Kini ia sudah berada di tengah koridor yang


gelap. Matanya mengedar melihat ruang-ruang gelap di sisi kiri dan kanannya.


Pandangannya nanar ketika melihat pintu-pintu ruang gelap itu terbuka. Ia


seperti melihat penggalan-penggalan adegan pembantaian yang mengerikan di


ruangan itu. Di mana seorang perawat digorok lehernya dan dibelah dadanya. Beberapa laki-laki


berbadan gelap mengambil jantung sang perawat. Darah mengucur deras berserakan


di lantai. Dinda ketakutan dengan bibir gemetar. Tiba-tiba saja perawat itu


bangkit dengan sosok yang mengerikan. Lehernya hampir putus berlumuran darah


dan berjalan mendekati Dinda.


“Akhhh.....” Dinda


menjerit histeris sambil berlari. Koper dan berkasnya berserakan di lantai. Dinda ketakutan


sambil menangis. Koridor-koridor di depannya terlihat lebih panjang dari


sebelumnya. Dinda berlari lagi dengan nafas tersengal. Tiba-tiba saja ia


berhenti ketika mendengar suara mendesis aneh dan menggeram seperti binatang


buas. Dinda mendegut ludah dengan bibir gemetar. Ia sesenggukan dengan keringat


bercucuran.


“Aaarrrhhggggkkkk....” Dinda


kembali menjerit histeris.


“Bu… sadar, Bu.” Pak Rahmat tiba-tiba menyadarkan Dinda. Dinda ttercekat

__ADS_1


dan ia melihat pak Rahmat dan merasa lega.


__ADS_2