ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 34


__ADS_3

Dering suara ponsel membahana di kamar


Raisa. Raisa mengambil ponselnya dan melihat nama di layar. Ada nama mama di


sana. Kemudian Raisa menekan tombol oke dan menyapa mama dengan lembut.


“Ya, Ma.” Sapa Raisa.


“Raisa... sebaiknya kamu pulang saja dan


keluar dari sekolah itu. Mama khawatir.”


“Raisa baik-baik saja, Ma.”


“Tapi, Raisa...” Mama menghentikan


kata-katanya. “Ada yang ingin mama bicarakan sama kamu.”


“Bicara apa, Ma? Bicara aja.”


“Mmm... kamu sibuk?”


“Ya, sebentar lagi ada kelas.”


“Ya sudah, nanti saja.” Kata mama


sambil mematikan ponselnya.


Raisa meletakkan ponselnya di atas


meja kemudian ia bersiap-siap ke sekolah.


Mama terpaku di ruang tamu. Papa yang


baru keluar dari kamar menjadi heran. Papa menghampiri mama dan menanya apa


yang terjadi hingga mama bengong masih pagi.


“Ada apa, Ma?”


Mama tercekat ketika papa menegurnya.


Refleks mama menoleh ke arah papa dan berusaha mengulas senyum tipis. Tapi


senyum itu terasa pahit. Mama menghela nafas dengan berat dan menghembuskan nya


perlahan.


“Pa, mama mau jenguk Raisa.”


“Menjenguk Raisa? Memangnya Raisa


sakit?”


“Enggak, Pa. Mama kangen aja.” Kata mama


kemudian.


“Hari minggu aja kita jenguk


sama-sama, Ma.”


“Mama aja, Pa. Papa nggak usah ikut.”

__ADS_1


Papa heran dan membuat lipatan di


keningnya.


“Ya udah kalau begitu. Tapi mama


hati-hati.”


“Iya, Pa.”


“Papa berangkat dulu.”


Mama menganggukkan kepala dan bangkit


mengikuti langkah papa keluar. Mama mengantar papa sampai di teras depan.


Raisa mendengar kasak-kusuk di ruang


guru. Masih pukul tujuh pagi. Di ruang guru ada Santi, Tari dan guru lainnya.


Raisa mendengar tentang penampakan perempuan terbakar. Tubuhnya meleleh dan


ingin menuntut balas. Siapa perempuan yang mereka maksud. Kemudian mereka pun


diam. Raisa mengambil tugas-tugas muridnya dari dalam laci meja kerja. Kemudian


ia permisi untuk masuk ke kelas.


Di koridor, Raisa bertemu dengan Hadrian.


Kepala sekolah yang sudah lama bertugas di sekolah itu. Mereka saling bertegur


sapa sekenanya dan Raisa melihat keanehan pada diri Hadrian. Raisa tidak


ambil pusing dan ia masuk ke kelasnya.


kursinya dan memperhatikan murid-murid berseragam putih abu-abu itu dengan


seksama. Ada satu siswi yang rambutnya menutupi wajahnya. Raisa menarik nafas


dalam ketika melihat gadis itu. Ia yakin kalau muridnya itu bukan manusia.


Raisa mencoba menenangkan diri sambil


mengambil buku absensi dari dalam tasnya. Ketika ia mendongakkan kepalanya,


siswi itu menghilang. Gadis itu sudah tidak ada di bangkunya. Raisa heran,


ketika melihat bangku itu kosong.


Nama-nama murid sudah dipanggil dan


semua hadir. Ketika nama terakhir dipanggil, tidak menyahut. Usut punya usut


siswi yang bernama Ketty, meninggal dunia dua hari yang lalu karena kecelakaan.


Bangkunya tepat di bangku kosong. Jadi sosok yang tadi itu Ketty? Pikirnya.


Raisa mulai tidak konsentrasi. Ia menyuruh murid-muridnya untuk mengerjakan


soal bahasa Inggris.


Setelah bel berdentang dan menandakan

__ADS_1


sekolah telah usai, semua murid berhamburan keluar. Ruangan kelas pun kosong.


Raisa masih berada di tempat duduknya. Ia memasukkan berkas-berkas dan lembar


latihan para murid. Refleks Raisa terkejut ketika dan sebuah tangan yang


menyerahkan lembar latihannya. Raisa tidak berani menoleh ke kanan dan dia


buru-buru keluar. Jantungnya berdebar sangat kencang.


“Bu Raisa...” Suara itu terdengar


nyaring di telinga Raisa dan ia berhenti sejenak, lalu kembali melangkahkan


kakinya. Tengkuknya merinding tiada terkira dan seperti ada hembusan angin yang


menerbangkan hela rambutnya.


Di ruang makan Raisa bertemu dengan


Melda yang pagi itu juga ia ada kelas. Mereka ngobrol masalah yang mereka


hadapi di sekolah. Raisa bertanya tentang kejadian tadi malam yang menimpa


Melda.


“Serem sekali, Raisa. Malam itu aku


melihat sosok gadis di kamar mandi.” Cerita Melda pagi itu. Kejadian itu masih


bermain-main di matanya. Mata gadis itu yang berlubang dan arwah yang pecah


kepalanya. “Kira-kira siapa ya arwah itu?” tanya Melda kemudian.


“Aku juga sering mengalami hal yang


aneh dan menakutkan, Melda. Sepertinya sekolah ini yang bermasalah. Pak Damsit


tahu semua cerita di balik sekolah ini. Tadi juga aku melihat siswaku yang


tidak hadir. Ternyata dia sudah meninggal karena kecelakaan. Serem...” Raisa


mengelus lengannya.


“Sebaiknya kita tanyakan pak Damsit


aja, Raisa.”


“Dia sudah menceritakannya padaku.


Tapi sepertinya tidak semuanya. Aku masih penasaran, Mel.”


“Aku juga.” Melda juga mengelus


lengannya. “Asrama kita juga serem. Angker kayaknya. Aku selalu ketakutan,


Raisa. Kayak ada sosok yang mengawasi aku.”


“Apa yang harus kita lakukan, Mel?”


tanya Raisa bingung.


“Aku juga gak tau, Raisa. Apa kita

__ADS_1


resign aja dari sekolah?”


“Hmm..” Raisa bingung.


__ADS_2