
Dering suara ponsel membahana di kamar
Raisa. Raisa mengambil ponselnya dan melihat nama di layar. Ada nama mama di
sana. Kemudian Raisa menekan tombol oke dan menyapa mama dengan lembut.
“Ya, Ma.” Sapa Raisa.
“Raisa... sebaiknya kamu pulang saja dan
keluar dari sekolah itu. Mama khawatir.”
“Raisa baik-baik saja, Ma.”
“Tapi, Raisa...” Mama menghentikan
kata-katanya. “Ada yang ingin mama bicarakan sama kamu.”
“Bicara apa, Ma? Bicara aja.”
“Mmm... kamu sibuk?”
“Ya, sebentar lagi ada kelas.”
“Ya sudah, nanti saja.” Kata mama
sambil mematikan ponselnya.
Raisa meletakkan ponselnya di atas
meja kemudian ia bersiap-siap ke sekolah.
Mama terpaku di ruang tamu. Papa yang
baru keluar dari kamar menjadi heran. Papa menghampiri mama dan menanya apa
yang terjadi hingga mama bengong masih pagi.
“Ada apa, Ma?”
Mama tercekat ketika papa menegurnya.
Refleks mama menoleh ke arah papa dan berusaha mengulas senyum tipis. Tapi
senyum itu terasa pahit. Mama menghela nafas dengan berat dan menghembuskan nya
perlahan.
“Pa, mama mau jenguk Raisa.”
“Menjenguk Raisa? Memangnya Raisa
sakit?”
“Enggak, Pa. Mama kangen aja.” Kata mama
kemudian.
“Hari minggu aja kita jenguk
sama-sama, Ma.”
“Mama aja, Pa. Papa nggak usah ikut.”
__ADS_1
Papa heran dan membuat lipatan di
keningnya.
“Ya udah kalau begitu. Tapi mama
hati-hati.”
“Iya, Pa.”
“Papa berangkat dulu.”
Mama menganggukkan kepala dan bangkit
mengikuti langkah papa keluar. Mama mengantar papa sampai di teras depan.
Raisa mendengar kasak-kusuk di ruang
guru. Masih pukul tujuh pagi. Di ruang guru ada Santi, Tari dan guru lainnya.
Raisa mendengar tentang penampakan perempuan terbakar. Tubuhnya meleleh dan
ingin menuntut balas. Siapa perempuan yang mereka maksud. Kemudian mereka pun
diam. Raisa mengambil tugas-tugas muridnya dari dalam laci meja kerja. Kemudian
ia permisi untuk masuk ke kelas.
Di koridor, Raisa bertemu dengan Hadrian.
Kepala sekolah yang sudah lama bertugas di sekolah itu. Mereka saling bertegur
sapa sekenanya dan Raisa melihat keanehan pada diri Hadrian. Raisa tidak
ambil pusing dan ia masuk ke kelasnya.
kursinya dan memperhatikan murid-murid berseragam putih abu-abu itu dengan
seksama. Ada satu siswi yang rambutnya menutupi wajahnya. Raisa menarik nafas
dalam ketika melihat gadis itu. Ia yakin kalau muridnya itu bukan manusia.
Raisa mencoba menenangkan diri sambil
mengambil buku absensi dari dalam tasnya. Ketika ia mendongakkan kepalanya,
siswi itu menghilang. Gadis itu sudah tidak ada di bangkunya. Raisa heran,
ketika melihat bangku itu kosong.
Nama-nama murid sudah dipanggil dan
semua hadir. Ketika nama terakhir dipanggil, tidak menyahut. Usut punya usut
siswi yang bernama Ketty, meninggal dunia dua hari yang lalu karena kecelakaan.
Bangkunya tepat di bangku kosong. Jadi sosok yang tadi itu Ketty? Pikirnya.
Raisa mulai tidak konsentrasi. Ia menyuruh murid-muridnya untuk mengerjakan
soal bahasa Inggris.
Setelah bel berdentang dan menandakan
__ADS_1
sekolah telah usai, semua murid berhamburan keluar. Ruangan kelas pun kosong.
Raisa masih berada di tempat duduknya. Ia memasukkan berkas-berkas dan lembar
latihan para murid. Refleks Raisa terkejut ketika dan sebuah tangan yang
menyerahkan lembar latihannya. Raisa tidak berani menoleh ke kanan dan dia
buru-buru keluar. Jantungnya berdebar sangat kencang.
“Bu Raisa...” Suara itu terdengar
nyaring di telinga Raisa dan ia berhenti sejenak, lalu kembali melangkahkan
kakinya. Tengkuknya merinding tiada terkira dan seperti ada hembusan angin yang
menerbangkan hela rambutnya.
Di ruang makan Raisa bertemu dengan
Melda yang pagi itu juga ia ada kelas. Mereka ngobrol masalah yang mereka
hadapi di sekolah. Raisa bertanya tentang kejadian tadi malam yang menimpa
Melda.
“Serem sekali, Raisa. Malam itu aku
melihat sosok gadis di kamar mandi.” Cerita Melda pagi itu. Kejadian itu masih
bermain-main di matanya. Mata gadis itu yang berlubang dan arwah yang pecah
kepalanya. “Kira-kira siapa ya arwah itu?” tanya Melda kemudian.
“Aku juga sering mengalami hal yang
aneh dan menakutkan, Melda. Sepertinya sekolah ini yang bermasalah. Pak Damsit
tahu semua cerita di balik sekolah ini. Tadi juga aku melihat siswaku yang
tidak hadir. Ternyata dia sudah meninggal karena kecelakaan. Serem...” Raisa
mengelus lengannya.
“Sebaiknya kita tanyakan pak Damsit
aja, Raisa.”
“Dia sudah menceritakannya padaku.
Tapi sepertinya tidak semuanya. Aku masih penasaran, Mel.”
“Aku juga.” Melda juga mengelus
lengannya. “Asrama kita juga serem. Angker kayaknya. Aku selalu ketakutan,
Raisa. Kayak ada sosok yang mengawasi aku.”
“Apa yang harus kita lakukan, Mel?”
tanya Raisa bingung.
“Aku juga gak tau, Raisa. Apa kita
__ADS_1
resign aja dari sekolah?”
“Hmm..” Raisa bingung.