
Hanna terbangun dengan kepala berat. Rasanya seperti
ditumpuki berton-ton batu bata. Ia membuka matanya yang masih berat. Hanna
melirik ke samping tempat tidur. Ia melihat si nenek masih terbaring dengan
posisi miring. Hanna menguap lebar, kemudian ia terpaku. Ia tersadar ketika
melihat sosok neneknya yang sangat asing. Rambutnya awut-awutan, bajunya kusam
dan tubuhnya pucat kebiruan. Hanna melirik dengan perlahan sambil bergidik
ketakutan. Itu bukan sosok neneknya. Jantung Hanna berdebuk kencang dan tidak
teratur. Tubuh itu bergerak dan
memalingkan tubuhnya ke Hanna.
“AARRGKKHHH…” Hanna menjerit histeris dan membuat sang
nenek tergopoh-gopoh menghampiri Hanna dari dapur.
“Hanna… Ada apa?” teriak san nenek.
Hanna menangis sambil menggigit bibirnya. Ia terjatuh di lantai dan duduk menyandar ke dinding.
“Hanna takut, Neekk… Tadi ada sosok perempuan di tempat
tidur.” Ucapnya sambil menangis.
Sang nenek mengedarkan pandang ke seluruh kamarnya. Ia
terdiam sejenak lalu berujar ke Hanna.
“Sudah, nggak ada apa-apa. Biar nenek yang nangani.”
“Kenapa sosok itu selalu mengikuti Hanna, Nek…?” Tanya Hanna tersedu.
Sang Nenek menghampiri Hanna dan mengelus rambutnya.
Kemudian ia manggut-manggut sambil menatap Hanna dengan lekat. Nenek melihat sosok jahat yang mengganggu Hanna.
“Kurang ajar…” Guman sang Nenek pelan. "Jangan main-main denganku! Aku akan menghabisimu!" Kata nenek dengan suara lantang.
Hanna terkejut dan menatap neneknya. Ia benar-benar heran melihat nenek yang berbicara sendiri. Ternyata nenek memiliki ilmu supranatural. Hanna baru tahu.
“Ada apa, Nek?” Tanya Hanna ingin tahu.
“Nggak apa-apa? Kamu datang bulan?” tanya nenek kemudian.
Hanna mengangguk. "Memangnya kenapa?" Tanya Hanna ingin tahu.
“Dia mencium darahmu. Itu sebabnya dia mengikutimu.”
Hanna terkejut dan bergidik. Ia mengelus lengannya yang meremang.
“Siapa?” Tanyanya.
“Perempuan iblis itu.” Jawab nenek.
"Perempuan iblis?" Gumam Hanna pelan.
Hanna mendegut ludahnya. Ia teringat kemarin pembalutnya jatuh dan
masuk ke dalam toilet. Mungkin saja mahluk itu mencium darah keperawanannya dan mengikutinya sampai rumah.
Hanna memperhatikan neneknya dengan lekat
sambil ketakutan.
“Neek… Hanna takut…”
“Sudah, jangan takut. Ada nenek di sini. Ingat pesan nenek,
jangan buang darah haidmu sebarangan. Karena mahluk lain bisa menciummu dan menginginkan darahmu.
“Iya, Nek. Tapi kemarin pembalut Hanna jatuh ke toilet. Hanna nggak sengaja.”
Sang nenek terdiam sejenak,
seperti menerawang kejadian kemarin.
“Sudah, sekarang kamu wudhu dulu trus
sholat.”
“Hanna kan lagi datang bulan, Nek.”
“Oh iya, Nenek lupa. Ya udah, bantu nenek di dapur yuk.”
Hanna mengangguk dan beranjak dari tempat tidur. Ia mengikuti
langkah nenek dan membantu nenek masak di dapur. Pagi pun menjelang dengan
sinar matahari yang muncul malu-malu.
###
Pagi itu, beberapa pelajar baru berdatangan ketika Hanna duduk di
bangku yang ada di koridor. Ia memperhatikan pelajar-pelajar itu sambil terpaku. Kemudian
pandangannya menyapu halaman sekolah serta ruang-ruang yang masih kosong. Ia
benar-benar tidak tahu tentang sekolah itu dan mengapa sosok-sosok itu
mengikutinya. Tiba-tiba aja ia terkejut ketika melihat rambut panjang keluar dari
pintu ruang kelas di sudut koridor. Rambut itu tergerai di lantai keramik.
Hanna membelalakan matanya dan ketakutan. Tangan-tangan pucat juga keluar
dengan kuku-kuku yang tajam.
“Hanna…?” Tiba-tiba saja Keyla menegurnya.
Hanna tercekat dan spontan menoleh ke Keyla.
__ADS_1
“Kamu ngapain di situ?” tanya Keyla kemudian.
Hanna menunjuk ruangan sudut di mana rambut-rambut itu
keluar. Keyla melihat ruangan itu dengan heran.
“Ada apa?” tanya Keyla.
“Disitu, Key…. Aada…”
“Nggak ada apa-apa, Han. Udah ah, jangan bikin takut.” Keyla
duduk di samping Hanna.
Hanna menoleh ke samping kanan. Rambut-rambut itu sudah
tidak ada. Hanna mengerutkan kening dan mencari-cari rambut itu. Rambut itu
memang sudah hilang.
“Kita ke ruangan yuk.” Ajak Keyla.
Hanna masih bermalasan dan
tetap duduk di bangkunya.
“Sebentar. Aku lagi nunggu
Anton.” Ujarnya.
“Hmm... Anton? Hayooo... Kamu
ada apa dengan Anton.”
“Nggak ada apa-apa.”
“Trus, ngapain coba sampai
nunggu dia?”
“Ada yang mau aku omongin sama
dia.”
“Udah ah, nanti juga ketemu di
kelas. Yuk.” Keyla menarik lengan Hanna.
Hanna beranjak dari tempat duduknya dengan malas. Kemudian mereka berdua berjalan di koridor
dan masuk ke ruangan. Hanna duduk sambil memperhatikan teman-temannya yang asyik ngobrol
sana-sini. Tak lama Anton pun muncul di pintu kelas. Hanna tersenyum tipis.
Hatinya terasa bahagia pagi itu. Anton menuju kursinya dan membuat senyuman
manis ke Hanna.
Selama mata pelajaran, pikiran
Hanna menjadi buyar. Antara bahagia dan takut. Bahagia karena ada sosok tampan
“Gimana kabarmu?” Tanya Anton.
“Baik.”
“Aku ada sesuatu untukmu.”
“Apa?”
“Nih.”
Anton memberi sekuntum bunga
yang di petik dari taman sekolah. Hanna terlihat tersipu malu sambil menerima
pemberian Anton.
“Aku suka kamu, Han...”
Bisiknya pelan.
Wajah Hanna memerahdadu ketika mendengar kalimat itu langsung dari bibir Anton. Ia hampir
saja tak percaya dengan cowok itu. Tak sengaja Anton melihat bekas lebam di
lengan Hanna.
“Lenganmu kenapa, Han?”
Tanyanya penasaran.
Hanna berusaha menutupi
lengannya namun sayang Anton sudah lebih dulu melihatnya.
“Kata nenek lenganku
dicengkram mahluk halus. Tapi udah diobati kok sama
nenekku.”
“Oh... Nenekmu bisa mengobati
juga?”
Hanna mengangguk.
“Nenekku punya ilmu kebathinan.
Tapi nenek nggak mau mengakuinya.”
“Hmm... Itu sudah jadi petuah
untuk nenekmu kali. Biasanya orang pintar itu diam saja walau memiliki ilmu.”
“Gitu ya?”
__ADS_1
“Iya.”
Hanna terdiam dan
memperhatikan sang guru yang sibuk menerangkan mata pelajarannya. Hanna
berusaha konsentrasi ke mata pelajaran. Anton
sesekali memperhatikan Hanna, lalu ia bercerita tentang sekolah mereka.
Konon ada ruang bawah tanah yang gelap dan sudah ditutup
berpuluh tahun lalu. Di ruangan itu banyak orang dikubur hidup-hidup hingga arwahnya
gentayangan. Arwah itu yang kini menghantui para murid di sekolah.
“Ugh, kamu bikin aku semakin takut aja,
Ton.” Ucap Hanna.
“Aku serius, Han. Sekolah ini akan selalu minta tumbal
setiap tahunnya.”
Hanna bergidik lagi ketika Anton berkata seperti itu.
“Trus kenapa pihak sekolah nggak mau tahu?”
“Bukan nggak mau tahu. Mereka sudah membuat penangkal agar
sekolah ini tidak diganggu mahluk halus. Tapi ada sosok Jin yang sangat jahat
yang mampu menerobos benteng penangkal itu.”
“Jin?”
“Iya. Aku nggak tahu ada perjanjian apa dulunya dengan
pihak sekolah.”
“Hmmm…”
Hanna mengelus lengannya yang merinding. Kemudian matanya
memperhatikan sang guru yang sibuk mengajar dan berbicara panjang lebar.
“Hanna…!” Tegur Sorta, ketika Hanna sibuk ngobrol bersama
Anton.
Hanna tercekat dan mendongak menatap Bu Sorta di depan.
“Saya tidak suka ada murid yang ngobrol saat mata pelajaran
saya.”
“Maaf, Bu…” Hanna menunduk.
Sorta melanjutkan kembali pelajarannya. Suasana pun hening
mndengarkan penjelasan Sorta. Pikiran Hanna semakin kacau. Ia ingin mendengar
lagi cerita dari Anton.
Setelah mata pelajaran pertama selesai, Hanna kembali
memberondong pertanyaan ke Anton.
“Kamu tau darimana semua cerita itu?” Tanya Hanna
penasaran.
Keyla sibuk memasukkan buku-buku pelajarannya. Hanna yang
masih penasaran membiarkan buku-bukunya di atas meja.
“Aku bisa melihat arwah-arwah itu.”
Hanna mendegut ludahnya.
“Trus kamu bisa melihat arwah yang ada di kelas kita?”
Anton mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
“Ya. Ada sosok pelajar di sudut sana.” Kata Anton seraya
menunjuk sudut dinding. “Aku kenal arwah itu.”
“Siapa?”
“Kamu nggak perlu tahu. Sepertinya dia mengawasi seseorang
di kelas ini. Sekarang kita istirahat dulu, aku udah laper.”
“Huh… Kamu bikin aku penasaran aja. Aku takut nih...”
“Sudah... Kan ada aku.”
“Huh.” Hanna mencubit lengan
Anton.
“Aduh…”
“Ada apa sih, Han?” Tanya Keyla yang tidak mendengar
perbincangan mereka.
“Nggak apa-apa. Anton tuh bikin sensasi aja.”
“Duhh... yang lagi pedekate.” Ledek Keyla.
“Hust... Keyla...” Hanna
terlihat malu.
Ya udah kita ke kantin aja yuk.” Ajak Keyla.
__ADS_1
Hanna sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya.
Kemudian ia beranjak dan keluar ruangan bersama Keyla. Anton mengikuti Hanna dan Keyla.