ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 6


__ADS_3

Hanna terbangun dengan kepala berat. Rasanya seperti


ditumpuki berton-ton batu bata. Ia membuka matanya yang masih berat. Hanna


melirik ke samping tempat tidur. Ia melihat si nenek masih terbaring dengan


posisi miring. Hanna menguap lebar, kemudian ia terpaku. Ia tersadar ketika


melihat sosok neneknya yang sangat asing. Rambutnya awut-awutan, bajunya kusam


dan tubuhnya pucat kebiruan. Hanna melirik dengan perlahan sambil bergidik


ketakutan. Itu bukan sosok neneknya. Jantung Hanna berdebuk kencang dan tidak


teratur.  Tubuh itu bergerak dan


memalingkan tubuhnya ke Hanna.


“AARRGKKHHH…” Hanna menjerit histeris dan membuat sang


nenek tergopoh-gopoh menghampiri Hanna dari dapur.


“Hanna… Ada apa?” teriak san nenek.


Hanna menangis sambil menggigit bibirnya. Ia terjatuh di lantai dan duduk menyandar ke dinding.


“Hanna takut, Neekk… Tadi ada sosok perempuan di tempat


tidur.” Ucapnya sambil menangis.


Sang nenek mengedarkan pandang ke seluruh kamarnya. Ia


terdiam sejenak lalu berujar ke Hanna.


“Sudah, nggak ada apa-apa. Biar nenek yang nangani.”


“Kenapa sosok itu selalu mengikuti Hanna, Nek…?” Tanya Hanna tersedu.


Sang Nenek menghampiri Hanna dan mengelus rambutnya.


Kemudian ia manggut-manggut sambil menatap Hanna dengan lekat. Nenek melihat sosok jahat yang mengganggu Hanna.


“Kurang ajar…” Guman sang Nenek pelan. "Jangan main-main denganku! Aku akan menghabisimu!" Kata nenek dengan suara lantang.


Hanna terkejut dan menatap neneknya. Ia benar-benar heran melihat nenek yang berbicara sendiri. Ternyata nenek memiliki ilmu supranatural. Hanna baru tahu.


“Ada apa, Nek?” Tanya Hanna ingin tahu.


“Nggak apa-apa? Kamu datang bulan?” tanya nenek kemudian.


Hanna mengangguk. "Memangnya kenapa?" Tanya Hanna ingin tahu.


“Dia mencium darahmu. Itu sebabnya dia mengikutimu.”


Hanna terkejut dan bergidik. Ia mengelus lengannya yang meremang.


“Siapa?” Tanyanya.


“Perempuan iblis itu.” Jawab nenek.


"Perempuan iblis?" Gumam Hanna pelan.


Hanna mendegut ludahnya. Ia teringat kemarin pembalutnya jatuh dan


masuk ke dalam toilet. Mungkin saja mahluk itu mencium darah keperawanannya dan mengikutinya sampai rumah.


Hanna memperhatikan neneknya dengan lekat


sambil ketakutan.


“Neek… Hanna takut…”


“Sudah, jangan takut. Ada nenek di sini. Ingat pesan nenek,


jangan buang darah haidmu sebarangan. Karena mahluk lain bisa menciummu dan menginginkan darahmu.


“Iya, Nek. Tapi kemarin pembalut Hanna jatuh ke toilet. Hanna nggak sengaja.”


Sang nenek terdiam sejenak,


seperti menerawang kejadian kemarin.


“Sudah, sekarang kamu wudhu dulu trus


sholat.”


“Hanna kan lagi datang bulan, Nek.”


“Oh iya, Nenek lupa. Ya udah, bantu nenek di dapur yuk.”


Hanna mengangguk dan beranjak dari tempat tidur. Ia mengikuti


langkah nenek dan membantu nenek masak di dapur. Pagi pun menjelang dengan


sinar matahari yang muncul malu-malu.


###


Pagi itu, beberapa pelajar baru berdatangan ketika Hanna duduk di


bangku yang ada di koridor. Ia memperhatikan pelajar-pelajar itu sambil terpaku. Kemudian


pandangannya menyapu halaman sekolah serta ruang-ruang yang masih kosong. Ia


benar-benar tidak tahu tentang sekolah itu dan mengapa sosok-sosok itu


mengikutinya. Tiba-tiba aja ia terkejut ketika melihat rambut panjang keluar dari


pintu ruang kelas di sudut koridor. Rambut itu tergerai di lantai keramik.


Hanna membelalakan matanya dan ketakutan. Tangan-tangan pucat juga keluar


dengan kuku-kuku yang tajam.


“Hanna…?” Tiba-tiba saja Keyla menegurnya.


Hanna tercekat dan spontan menoleh ke Keyla.

__ADS_1


“Kamu ngapain di situ?” tanya Keyla kemudian.


Hanna menunjuk ruangan sudut di mana rambut-rambut itu


keluar. Keyla melihat ruangan itu dengan heran.


“Ada apa?” tanya Keyla.


“Disitu, Key…. Aada…”


“Nggak ada apa-apa, Han. Udah ah, jangan bikin takut.” Keyla


duduk di samping Hanna.


Hanna menoleh ke samping kanan. Rambut-rambut itu sudah


tidak ada. Hanna mengerutkan kening dan mencari-cari rambut itu. Rambut itu


memang sudah hilang.


“Kita ke ruangan yuk.” Ajak Keyla.


Hanna masih bermalasan dan


tetap duduk di bangkunya.


“Sebentar. Aku lagi nunggu


Anton.” Ujarnya.


“Hmm... Anton? Hayooo... Kamu


ada apa dengan Anton.”


“Nggak ada apa-apa.”


“Trus, ngapain coba sampai


nunggu dia?”


“Ada yang mau aku omongin sama


dia.”


“Udah ah, nanti juga ketemu di


kelas. Yuk.” Keyla menarik lengan Hanna.


Hanna beranjak dari tempat duduknya dengan malas. Kemudian mereka berdua berjalan di koridor


dan masuk ke ruangan. Hanna duduk sambil memperhatikan teman-temannya yang asyik ngobrol


sana-sini. Tak lama Anton pun muncul di pintu kelas. Hanna tersenyum tipis.


Hatinya terasa bahagia pagi itu. Anton menuju kursinya dan membuat senyuman


manis ke Hanna.


Selama mata pelajaran, pikiran


Hanna menjadi buyar. Antara bahagia dan takut. Bahagia karena ada sosok tampan


“Gimana kabarmu?” Tanya Anton.


“Baik.”


“Aku ada sesuatu untukmu.”


“Apa?”


“Nih.”


Anton memberi sekuntum bunga


yang di petik dari taman sekolah. Hanna terlihat tersipu malu sambil menerima


pemberian Anton.


“Aku suka kamu, Han...”


Bisiknya pelan.


Wajah Hanna memerahdadu ketika mendengar kalimat itu langsung dari bibir Anton. Ia hampir


saja tak percaya dengan cowok itu. Tak sengaja Anton melihat bekas lebam di


lengan Hanna.


“Lenganmu kenapa, Han?”


Tanyanya penasaran.


Hanna berusaha menutupi


lengannya namun sayang Anton sudah lebih dulu melihatnya.


“Kata nenek lenganku


dicengkram mahluk halus. Tapi udah diobati kok sama


nenekku.”


“Oh... Nenekmu bisa mengobati


juga?”


Hanna mengangguk.


“Nenekku punya ilmu kebathinan.


Tapi nenek nggak mau mengakuinya.”


“Hmm... Itu sudah jadi petuah


untuk nenekmu kali. Biasanya orang pintar itu diam saja walau memiliki ilmu.”


“Gitu ya?”

__ADS_1


“Iya.”


Hanna terdiam dan


memperhatikan sang guru yang sibuk menerangkan mata pelajarannya. Hanna


berusaha konsentrasi ke mata pelajaran. Anton


sesekali memperhatikan Hanna, lalu ia bercerita tentang sekolah mereka.


Konon ada ruang bawah tanah yang gelap dan sudah ditutup


berpuluh tahun lalu. Di ruangan itu banyak orang dikubur hidup-hidup hingga arwahnya


gentayangan. Arwah itu yang kini menghantui para murid di sekolah.


“Ugh, kamu bikin aku semakin takut aja,


Ton.” Ucap Hanna.


“Aku serius, Han. Sekolah ini akan selalu minta tumbal


setiap tahunnya.”


Hanna bergidik lagi ketika Anton berkata seperti itu.


“Trus kenapa pihak sekolah nggak mau tahu?”


“Bukan nggak mau tahu. Mereka sudah membuat penangkal agar


sekolah ini tidak diganggu mahluk halus. Tapi ada sosok Jin yang sangat jahat


yang mampu menerobos benteng penangkal itu.”


“Jin?”


“Iya. Aku nggak tahu ada perjanjian apa dulunya dengan


pihak sekolah.”


“Hmmm…”


Hanna mengelus lengannya yang merinding. Kemudian matanya


memperhatikan sang guru yang sibuk mengajar dan berbicara panjang lebar.


“Hanna…!” Tegur Sorta, ketika Hanna sibuk ngobrol bersama


Anton.


Hanna tercekat dan mendongak menatap Bu Sorta di depan.


“Saya tidak suka ada murid yang ngobrol saat mata pelajaran


saya.”


“Maaf, Bu…” Hanna menunduk.


Sorta melanjutkan kembali pelajarannya. Suasana pun hening


mndengarkan penjelasan Sorta. Pikiran Hanna semakin kacau. Ia ingin mendengar


lagi cerita dari Anton.


Setelah mata pelajaran pertama selesai, Hanna kembali


memberondong pertanyaan ke Anton.


“Kamu tau darimana semua cerita itu?” Tanya Hanna


penasaran.


Keyla sibuk memasukkan buku-buku pelajarannya. Hanna yang


masih penasaran membiarkan buku-bukunya di atas meja.


“Aku bisa melihat arwah-arwah itu.”


Hanna mendegut ludahnya.


“Trus kamu bisa melihat arwah yang ada di kelas kita?”


Anton mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


“Ya. Ada sosok pelajar di sudut sana.” Kata Anton seraya


menunjuk sudut dinding. “Aku kenal arwah itu.”


“Siapa?”


“Kamu nggak perlu tahu. Sepertinya dia mengawasi seseorang


di kelas ini. Sekarang kita istirahat dulu, aku udah laper.”


“Huh… Kamu bikin aku penasaran aja. Aku takut nih...”


“Sudah... Kan ada aku.”


“Huh.” Hanna mencubit lengan


Anton.


“Aduh…”


“Ada apa sih, Han?” Tanya Keyla yang tidak mendengar


perbincangan mereka.


“Nggak apa-apa. Anton tuh bikin sensasi aja.”


“Duhh... yang lagi pedekate.”  Ledek Keyla.


“Hust... Keyla...” Hanna


terlihat malu.


Ya udah kita ke kantin aja yuk.” Ajak Keyla.

__ADS_1


Hanna sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya.


Kemudian ia beranjak dan keluar ruangan bersama Keyla. Anton mengikuti Hanna dan Keyla.


__ADS_2