ARWAH PENUNGGU SEKOLAH

ARWAH PENUNGGU SEKOLAH
Episode 4


__ADS_3

Pagi tak selalu cerah seperti kemarin-kemarin. Pagi ini awan berwarna kelabu


diiringin dengan hembusan angin yang dingin. Mendung dan mungkin sebentar lagi


akan turun hujan. Hanna bangun dari tidurnya dan melihat lengan kirinya yang masih


membekas cengkraman mahluk halus. Warna lebam itu terlihat jelas dan membuatnya


semakin takut.


“Hanna...


Bangun... Sudah jam enam. Kamu sekolah kan?” Panggil sang Nenek dari luar.


“Iya, Neek...


Sebentar.”


Hanna bangkit dari


tempat tidurnya dan segera menuju kamar mandi. Tiba-tiba saja bulu kuduknya


merinding. Hanna merasakan ada mahluk halus di dekatnya. Di langit-langit kamar


mandi sosok perempuan tua berambut panjang menatapnya


dengan posisi terbalik. Rambutnya berjuntai ke bawah hingga menyentuh pundak Hanna. Hanna dengan sigap keluar dari kamar


mandi dan keluar dari kamarnya. Sang Nenek yang berada di ruang makan jadi


heran.


“Kamu kenapa,


Han?” tanya Nenek penasaran.


“Hmmm...” Hanna


gugup. “Nggak apa-apa, Nek. Nggak ada air di kamar mandi. Hanna mandi di kamar


mandi sini aja ya.” Ucap Hanna segera masuk ke


kamar mandi.


Sang nenek


menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian menyiapkan sarapan untuk cucunya. Nasi goreng orak-arik sosis dan telur.


Hanna memakai


swetternya, lalu keluar dari kamar. Ia pamit ke nenek dan segera berlalu menuju


sekolah. Sesampainya di sekolah, Hanna lagi-lagi terpaku ketika memasuki


gerbang sekolahnya. Sekolah itu biasa saja seperti sekolah-sekolah lainnya.


Tapi ada yang aneh dan menakutkan jika masuk ke dalamnya. Hanna melangkah


dengan takut-takut. Gedung sekolah itu masih terlihat gelap karena cuaca yang


mendung. Tiba-tiba saja ada tangan yang menepuk pundaknya. Hanna berhenti dan


terbelalak ketakutan. Hanna menoleh dengan pelan.


“Heiii...” Sapa


seorang cowok berkulit sawo matang dengan suara yang ngebass.


Hanna


menghembuskan nafasnya dengan lega sembari


memelototkan matanya ke cowok itu.


“Uhhh... Antoon...


Jangan ngejutin gitu ah. Nggak seru tau.” Ucap Hanna kesal.


Anton, cowok yang

__ADS_1


dikenalnya beberapa hari lalu hanya terkekeh. Cowok itu memiliki paras yang biasa-biasa


saja, namun terlihat manis jika didekati.


“Kamu kenapa?


Kayak orang ketakutan gitu?” Tanya Anton


kemudian.


Hanna sewot sambil


melangkahkan kakinya dengan tergesa. Anton mengejarnya dengan sedikit berlari.


“Hann, tunggu...”


Hanna tetap


berjalan tergesa.


“Maaf ya... aku


cuma becanda aja kok.” Ucap Anton ketika jalan beriringan.


“Iya, tapi kamu


bikin aku takut.”


“Apa yang kamu


takutkan?”


Hanna berhenti


sebelum memasuki koridor. Ia melihat ke kanan dan ke kiri lalu menatap wajah


Anton dengan lekat. Cowok bermata tajam itu terlihat


serius memperhatikan Hanna.


“Kemaren aku


yang bikin aku takut. Aku nggak tahu ada apa sebenarnya di sekolah ini?”


“Udah... Nggak


usah dipikirin. Cerita-cerita hantu itu cuma isapan jempol belaka.”


“Nggak dipikirin


gimana? Arwah itu mengikuti aku, Ton. Sampai ke rumah malah. Apa urusannya sosok itu dengan kehidupanku?”


“Masak?”


“Iya. Sampai aku


takut di kamarku sendiri. Dia muncul di kamar dan kamar mandi.”


“Hmm...” Anton


hanya bisa ber hmm.


Hanna melangkahkan


kakinya menuju koridor. Diikuti Anton sambil menendang botol minuman yang


tergeletak. Di pertengahan koridor Hanna berhenti sejenak. Ia menoleh ke kanan


di mana kamar mandi itu pernah ada sosok perempuan tua menakutkan. Anton heran.


“Ada apa, Han?”


Tanyanya.


“Kemarin aku lihat


dia di sana.”


Anton terdiam

__ADS_1


sambil memperhatikan kamar mandi. Ada nuansa negatifnya. Dia hanya tersenyum


tipis.


“Sudah... jangan


diingat-ingat. Dia memang sudah menempati ruangan itu berpuluh tahun yang


lalu.”


Hanna mengerutkan


keningnya.


“Huh, sok tahu


ahk...”


Hanna kembali


melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Suara derap langkahnya terdengar


jelas di lantai keramik. Dengan segera ia memasuki ruangan


kelasnya diikuti Anton.


Hanna meletakkan


tasnya di atas meja dan duduk di kursinya. Anton duduk di kursi yang ada di


depan meja Hanna. Ia menatap wajah gadis itu dengan lekat.


“Kamu kenapa


menatapku begitu?” Tanya Hanna heran.


Anton tersenyum.


“Ternyata kamu manis juga ya.”


“Huh, gombal ah.”


Hanna tersipu sambil melipat tangannya.


“Hehehe...” Anton


terkekeh.


“Beneran. Aku nggak bohong, apa lagi kalau lagi


kesal. Kelihatan wajah aslinya.”


“Maksudmu kayak kuntilanak?”


“Hahahahah….” Anton tertawa lebar.


“Iii…” Hanna mencubit lengan cowok itu hingga


ia memekik.


“Aduh. Sakit tau.”


“Rasain!” Hanna sewot.


Beberapa saat


kemudian murid-murid yang lain pun berdatangan dan membuat ruangan menjadi ramai. Anton beranjak dari


tempat duduknya dan menuju meja belajarnya. Hanna hanya


mempehatikan Anton yang masih kesakitan. Ia tersenyum simpul.


Bell sekolah pun berdentang beberapa kali. Guru


Matematikan sudah datang dan sudah mempersiapkan bahan pelajaran hari ini.


Hanna berusaha memfokuskan pikiran ke pelajaran, namun pikiran-pikiran lain


mengusiknya. Sampai mata pelajaran pertama selesai Hanna tidak konsentrasi.

__ADS_1


__ADS_2