
Di Bandara ...
Perbincangan keduanya mengenai pria yang memiliki obsesi berlebihan, bernama Axel, harus berakhir saat pesawat yang mereka tumpangi mendarat di bandara internasional kota A.
Para penumpang mengantri untuk turun dari pesawat.
“Martin, kau harus memikirkan tentang Sonia dan mafia kurang ajar bernama Axel, aku berharap kita bisa segera menghabisinya, bos sudah terlalu percaya dengan kita.”
Tron sangat senang dengan perjalanan ini, sudah lama tidak bertemu keluarga Vandro, dia sangat rindu.
"Aku rindu kakek Vandro, rindu kakak Willy, kak Riana. Semua aku rindukan. Kecuali bibi Serly, dia selalu membuatku dalam masalah karena meminta bantuan membuat adonan kue," ucap Tron.
Dia mendapatkan bagian ini, dan selalu seperti ini.
“Astaga Tron? apa yang kau katakan? bukankah membuat kue adalah keahlianmu?” ucap Martin sembari mengambil tas yang ada di bagasi atas pesawat itu.
“Ini,” jawab Tron.
Dia melempar tas itu tepat di wajah Martin.
“Belum juga sampai di rumah keluarga bos, tapi harus mendapatkan semua ini.”
Sang pria merasa kesal.
"Haha, aku adalah orang yang berada dalam lindungan bos Sam. Kau akan mendapatkan masalah nanti."
Kedua orang itu masih saja berdebat, sampai petugas bandara meminta keduanya untuk segera usai dalam melakukan perdebatan tidak penting.
Alhasil keduanya segera keluar dari pesawat dengan rasa malu.
.
.
.
Depan bandara ...
Dua orang itu sangat senang, sebab paman Richi menyambut dengan baik.
"Masuk mobil anak-anak," pinta David.
"Baik paman," jawab keduanya dengan bersamaan.
Mereka bertiga tancap gas menuju markas, karena ada pekerjaan penting mengenai Axel.
Di dalam mobil, ketiga orang itu saling berbincang dengan penuh keakraban.
"Paman, aku memiliki pertanyaan untukmu?" tanya Martin.
"Apa Martin?" jawab David.
"Aku ingin bertemu dengan anak paman."
Martin memang selalu sembarangan.
Dia tidak punya rasa malu seperti orang pada umumnya.
"Haha, aku sudah menduga jika kau bertanya hal yang tidak penting, kau jangan berpikir sejauh itu. Cinta kasihku adalah untuk gadis lain, kan hanya tanya kabar, ingin bertemu."
Martin sangat cangung, Tron segera menyambung perkataan ini.
__ADS_1
"Aku jujur jika suka dengan anak paman, jika paman menginginkan aku menjadi kekasihmu, aku pasti akan bersamamu."
"Heleh kau bicara apa."
David malas membahas anaknya yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Dia berada di dalam situasi yang rindu putrinya juga rindu akan istri tercinta, Angela.
Kedua orang yang sangat ia sayangi, sedang berada di tempat yang sangat jauh.
"Aku mau dengan bibi Angela saja," sahut Martin.
"Heh, cari penyakit saja!" jawab David.
Dia kesal jika pembahasan mengenai Angela, karena pada saat ini, Angela tidak ada bersama mereka.
"Bahas yang lebih dekat saja, Axel sangat senang membuat keributan. Kalian berdua urus dia."
"Baik paman, tapi biarkan kami mampir ke rumah bos Sam."
"Mau apa di sana? membantu Serly membuat kue?"
"Haha selain itu, aku ingin bertemu cucu kakek bos."
"Jekey maksudmu?"
"Nah bener."
David mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah Vandro.
Rumah Vandro ...
"Jekey, bisa menulis nak?" tanya Riana.
Dia sangat sayang dengan anak Willy itu, dia tidak akan membeda-bedakan tentang Jekey.
Semua anak sama, apalagi itu anak Willy.
Suaminya begitu senang karena Riana tidak marah mengenai semua kesalahannya.
Sungguh mulai hati Riana.
.
.
.
Riana mendapatkan kode dari sang suami bahwa dirinya sangat ingin mengobrol. Satria paham dengan kode ini, lalu segera membawa Jekey pergi bersamanya.
Seakan semesta yang selalu berada dalam naungannya, mendukungnya untuk segera melepaskan rindu tak terkira ini.
Sementara itu Willy meminta sang istri untuk ikut bersamanya naik ke lantai dua.
Riana dan Willy sebenarnya merasakan kerinduan yang mendalam. Meskipun baru beberapa jam saja berada dalam kesalahpahaman, tapi rasanya sudah satu tahun tidak berbincang.
Willy sedari tadi memperhatikan wajah istrinya, dia khawatir dengan keadaan istrinya.
Dia meminta sang istri untuk duduk di balkon, di sana ada tempat duduk yang biasa Willy gunakan untuk menyendiri.
"Sayang!" ucap Willy sembari menarik baju sang istri.
__ADS_1
Rasanya sangat malu, hanya saja dia harus melakukannya, sebab sang istri hanya diam saja.
"Iya sayang, ada apa?" jawab Riana yang terkejut saat bajunya di tarik oleh Willy.
"Kau pasti sedang memikirkan Jekey, aku tahu." Willy seperti pria dewasa yang akan mengerti perasaan istrinya.
Dia sangat berbeda dari Willy sebelumnya. Perasannya dan kata-katanya seperti sebuah doa yang tidak akan bisa di hindari lagi, semoga Tuhan selalu melindunginya.
"Tidak sayang, aku sedang memikirkanmu. Willy sudah selesai berpikir yang tidak-tidak?" tanya Riana mencoba mengalihkan pembicaraan.
Willy tidak begitu saja percaya dengan ucapan yang di sampaikan oleh sang istri.
Dia sangat ingin memberitahukan apa yang ingin ia sampaikan.
"Sayang, selama ini, aku begitu memikirkan hubungan kita. Semuanya sangat berbeda dari sebelumnya, cinta ini sangatlah menyiksaku, aku tidak akan bisa menjadi orang romantis atau sok baik. Aku mengaku banyak dosa."
Willy mengatakan semua hal yang ingin ia katakan, semuanya tanpa terkecuali. Cintanya begitu besar, hingga tiada hal yang akan membuatnya tetap diam.
Pasti dia dan Riana akan segera berbaikan, itu yang ada di dalam pikirannya.
Riana belum menjawab, dia ingin mendengarkan semua perasaan dan perkataan bersalah dari Willy.
Cinta Willy sangatlah besar, tidak ada yang bisa menghalangi semuanya.
"Sayang, aku mohon, jawablah dengan baik. Jangan membuat aku menunggu lagi."
Sang suami sangat senang dengan apa yang seharusnya ia dapatkan.
"Sayang, aku sudah membuatmu menunggu ya? hanya saja aku berharap kau akan tetap baik-baik saja tanpa perlu merasa bersalah."
"Oke. Lalu?"
"Peluk aku."
Sang istri sangat senang dengan semua ini, tidaka ada yang membuatnya ragu lagi.
Keduanya bernostalgia dengan semua hal yang pernah dilalui.
Dalam pelukan hangat yang sangat luar biasa, keduanya merasa senang.
"Cintaku sangat banyak untukmu, jadi jangan pernah melakukan hal seperti dulu," pinta Riana.
"Baik sayang, aku akan memberikan yang terbaik untukmu."
Cinta yang sangat besar antara pasangan suami istri itu, bisa membangkitkan semua hal yang baru.
"Riana, aku berharap kau bisa menjadi ibu bagi anakku, dia anakku juga."
Willy masih waras, jadi tidak akan membuang Jekey.
"Selamatkan Friska, kasihan dia."
Riana lebih paham dengan semua hal yang terjadi,k dia tidak akan berada di dalam keraguan ketika berada dalam keputusan untuk menyatukan cinta Jekey dengnnya.
Hanya saja hal yang lebih penting dari semua itu adalah Friska, ibu dari Jekey.
"Siap, ada adikku, aku akan menjaga anakku dan istriku saja."
"Baik, kau memang bijak, sangat bijak, suamiku tersayang."
*****
__ADS_1