Ayahku CEO Keren

Ayahku CEO Keren
Bab 15 - Penderitaan Friska!


__ADS_3

Satu jam berlalu ...


Willy dan yang lain sudah berada di markas dimana Friska berada.


Cintanya sangat besar terhadap Willy, hanya saja tidak terlalu mudah baginya mengambil semua keuntungan.


Di sudut ruangan, Friska merasa sedih.


Dia teringat akan Jekey.


Cinta yang besar dari seorang Jekey, lebih berarti baginya dari dunia seisinya.


"Cintanya sangat berat, begitu pula rasa sayangnya, sama-sama berat," ucap Willy.


Dia mendekat kepada Friska.


Rasanya tidak menjadi hal yang lebih berguna dari satu kesempatan yang langka ini.


Friska tak menyangka akan ada Willy di hadapannya.


"Jika kau datang hanya ingin memberikan luka, lebih baik pergi saja," jelas Friska.


Ia paham dengan semua yang ada dihadapannya, Willy tidak bisa ia miliki.


"Kau bisa memelukku, tak apa jika kau masih marah padaku," jawab Willy.


Sang pria hanya duduk di samping Friska, dia menatap lurus ke depan.


"Maaf Fris, karena aku, dirimu menjadi banyak masalah," cetus Willy.


Friska mulai melirik, mencoba memberanikan diri untuk mengusap air matanya sendiri.


Hanya saja, rasa sedihnya, terlalu mendominasi. Friska menangis.


Willy langsung merangkul pundak Friska dan membiarkan kepala Friska menempel di bahunya.


"Hiks, aku sedih Willy. Kenapa harus anakku, dia tak salah apapun. Aku memang tak berguna."


Tangisnya terdengar sangat nyata, jiwanya yang rapuh, tak mampu disembunyikan lagi.


"Kau bukan satu-satunya yang bersalah. Aku pun memiliki andil besar dalam deritamu. Maafkan aku."


Willy tak menyangka jika benih yang ada di dalam perut sang wanita, akan menjadikan masalah dikemudian hari.


Kehidupan Jekey dipertaruhkan.


"Will, aku tak menginginkan kau datang padaku, tapi aku hanya ingin kau merawat anakku. Jaga dia, berikan kasih sayang ayah dan ibu untuknya. Kau bisa Willy?" ucap Friska penuh harap.


Willy hanya diam.


Friska mempertegas ucapannya.


"Will, kau paham?"


"Iya, aku paham. Kau tidak perlu membuat hidupmu menjadi banyak pikiran, aku akan menjaga anakmu."


Willy membuat hati seorang ibu sangat bahagia.


Dengan kata lain, Willy setuju mengakui Jekey merupakan anak biologisnya.


"Willy, aku merasa kau sudah banyak berubah. Siapa yang melakukannya? apakah istrimu?" tanya Friska penuh selidik.


"Cih, apa yang kau tahu tentang istriku? sok tahu."


"Yah, kau dulu adalah pria yang tidak tahu aturan."

__ADS_1


"Haha, bukan hanya tak mau aturan. Lebih tepatnya tidak tahu diri."


Friska tertawa, dia merasa damai di samping Willy, tak terasa perasaan ingin memiliki begitu besar, sang wanita langsung mengubah statementnya.


"Kau tidak boleh suka dengannya," batin Friska.


Willy merasa jika Friska sedang melamun, ia segera menepuk pundak sang mantan kekasih.


"Heh? kenapa?"


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Friska melepaskan pelukan Willy.


Dia membiarkan Willy tak menyentuhnya.


"Kau kenapa?"


Willy masih merasa aneh, hanya saja Friska tak mau mengatakan apapun.


Friska lebih memilih untuk diam.


Padahal di dalam hati rasanya sangat sedih dan terluka.


Willy yang ia temui setelah beberapa tahun lalu, kini menjadi pria yang sangat dewasa.


"Tidak, tidak ada."


Friska akan tetap menutupi semuanya, hal yang sudah terjadi, tak sepenuhnya mampu ia kendalikan, jadi sebelum semuanya benar-benar hancur, sang wanita akan menjaga tetap abadi di dalam sanubarinya saja.


Entah sampai kapan, dia tidak tahu.


Pada intinya, cintanya jangan terlihat oleh Wily.


Friska sangat takut, dia berusaha keras tetap tersenyum.


Dia berusaha keras untuk tetap menjadi dirinya sendiri tanpa mengatasnamakan Jekey untuk kepentingan pribadinya.


Saat panggilan telepon dari Riana, membuatnya sadar, Friska bukanlah satu-satunya yang ada di samping Willy.


"Ada apa sayang? Kenapa kau meneleponku?" tanya Willy dengan nada suara sangat lembut.


"Dimana Friska? Aku ingin bicara dengannya," pinta Riana.


"Ada di sampingku, kau ingin bicara?"


Willy sangat senang dengan keadaan ini, dia tidak seperti biasanya.


"Iya."


"Oke."


Willy memberikan ponselnya kepada Friska.


Awalnya Friska ragu, hingga ia mau berbicara dengan Riana.


"Riana, ini aku."


"Friska? Kau baik-baik saja? Kau pasti merasa cemas karena Jekey jauh darimu kan? Aku minta maaf padamu karena membawa anakku padaku, kau kesal?"


"Tidak Riana, aku sangat berterima kasih karena sudah menjadi orang yang mau menjaga putraku. Sejak awal, aku percaya jika kau akan menjadi orang yang selalu berpegang teguh kepada kebaikan. Seharusnya aku lah yang merasa malu sebab Jekey lebih sayang padamu."


"Tidak, aku hanya menjaga Jekey. Satu jam lagi aku akan datang padamu. Aku membawa Jekey bersamaku."


"Oke, maaf Riana, rasanya sangat lelah, aku ingin beristirahat."

__ADS_1


"Baiklah."


Friska menutup panggilan dan memberikan ponsel kepada Willy.


Dia mengatakan ingin tidur, rasanya lelah. Friska meminta Willy untuk keluar dari kamarnya.


Awalnya Willy tidak mau, karena Riana ingin dia menjaga Friska. Namun, Willy hanya bisa menuruti apa yang diinginkan oleh Friska.


"Jaga dirimu baik-baik. Aku akan berjaga di depan pintu kamarmu, jangan merasa sendiri. Aku akan melindungimu dari kejahatan Axel. Pria tidak ada hati seperti dirinya pasti mendapatkan keburukan."


"Sudahlah."


"Kau suka dengannya?"


"Dia adalah suamiku, ya begitulah."


"Haha ... kau pandai berbohong."


"Pergilah."


"Ya ya, baiklah."


Willy terpaksa keluar dari kamar mantan kekasihnya, ini dia lakukan karena atas keinginan Friska.


Friska menahan tangisnya, dia seakan ingin berteriak. Cintanya yang terpendam untuk Willy, mana mungkin bisa terwujud?


Riana terlihat sangat baik.


Bagaimana bisa menjadi pesaing? bahkan Jekey lebih sayang dengan Riana?


Entahlah! semuanya begitu aneh dan tidak baik-baik saja.


.


.


Willy membuka pintu kamar Friska dan menatap ke arah belakang, terlihat jelas sang mantan sedang beristirahat, tanpa tahu kedukaannya.


"Semoga dia bisa beristirahat."


Sang pria, sudah berada di luar ruangan.


Dia di sana untuk sementara waktu, sampai sang istri datang.


Friska yang mengetahui Willy tidak lagi di kamarnya, dia duduk dan menutupi wajahnya.


Kenyataanya, Friska tidak bahagia dengan pernikahannya.


Axel adalah pria pemaksa dan selalu membuatnya dalam masalah.


Lalu, apa yang akan Friska harapkan dari suami seperti Axel?


Ia hanya akan mendapatkan penderitaan.


"Aku tidak bisa berbuat jahat. Semua orang akan mengira jika aku adalah orang yang tidak tahu diri."


Friska masih merenungi nasibnya yang sangat tidak baik-baik saja.


Dia teringat akan beberapa tahun belakangan saat sang anak masih bayi, sungguh luar biasanya seorang Friska karena bisa menjadi ibu tunggal bagi sang anak.


Axel memang menikahinya, tapi tidak serta merta membuatnya bahagia.


Cinta itu seakan telah pergi entah kemana, bersama dengan cinta yang sudah mati.


Suami yang seharusnya menjaganya dan sang putra, justru menjadi orang yang pertama menyakitinya.

__ADS_1


Sungguh malang nasib seorang wanita yang hanya dipermainkan oleh suaminya sendiri.


*****


__ADS_2