
Sesampainya di sekolah …
Pada akhirnya drama menangis di dalam mobil telah usai. Kini Jekey harus keluar dari mobil karena harus bertemu dengan teman-teman.
“Mommy, Daddy, Jekey turun sendiri saja ya?“ pinta sang anak sulung.
Dia ingin menunjukkan kepada kedua orangtuanya jika Jekey sudah besar dan tidak membutuhkan bantuan dari mommy, daddy
untuk sekedar turun dari mobil.
“Je, Kau adalah anakku yang sangat pandai dan pengertian. Jangan pernah mengatakan bahwa kau menjadi tanggungan kami. Namun, kau adalah pelengkap hidup kami. Terima kasih sayang.“
Sang mommy mengusap kening Jekey lembut, lalu sang Daddy memberikan lambaian tangannya. Jekey mendekat ke arah kursi kemudi dan mengecup kening Willy.
“Jekey sangat menyayangi kalian berdua juga mommy Friska.“
Jekey malu, dia turun dari mobil setelah memberikan salam perpisahan kepada daddy dan mommy.
Kini Jekey telah turun, perlahan tapi pasti, langkah mungilnya berjalan menuju gerbang sekolah dan mendapati teman-teman sudah menghampirinya. Jekey menoleh dan meminta daddy Willy untuk segera pergi dari sekolahannya.
.
.
.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu …
Jekey dirangkul oleh teman lainnya yang sangat mengagumi sosok tampan dan cerdas itu.
“Wah si tampan sudah kembali.“
“Bukan hanya tampan, tapi dia juga sangat pandai.“
Kedua temannya sangat senang meledek Jekey, hanya saja itu hanya bercanda. Dua teman karib, tidak serius dengan perkataannya. Jekey juga paham akan hal itu.
“Hadeh, aku sudah lama tidak sekolah di sini, masih saja diejek.“
Sang anak menjadi teringat akan lima tahun lalu, dia pernah ada di tempat ini, temannya masih sama. Namun, karena Jekey memilih bersama mommy Friska, dia sekolah di tempat lain. Kali ini Jekey kembali dan mendapati dua orang sohib yang sebelumnya sudah request satu kelas dengan Jekey, menyambut dengan riang gembira.
Sungguh pemandangan indah di pagi hari.
Elya adalah anak cantik yang diam-diam suka dengan Jekey karena kebaikannya. Keduanya masih bocil, jadi tidak bisa mengekspresikan rasa cinta itu seperti apa.
Alhasil hanya sebagai teman akrab saja seperti dua lainnya, Javon dan Gerun.
Javon meminta Elya untuk menunggu Jekey di kelas. Anak perempuan itu sangat senang saat tahu Jekey ada di sekolah yang sama lagi dengannya.
“Kau harus tahu jika teman perempuanmu sudah besar, dia tidak cengeng lagi.“
“Memangnya siapa?“
__ADS_1
“Elya dong. Gimana sih? kau lupa ya?“
“Haha. Oh dia? syukurlah. Aku masih anak kecil, belum paham hal seperti itu.“
“Memangnya apa yang ada di dalam otakmu teman? aku juga masih 10 tahun. Daddy akan memarahiku jika banyak berkata tidak sesuai usia.“
Langkah ke tiga orang telah sampai di depan pintu kelas yang ditempati Jekey. Dia melihat anak perempuan dengan pita merah di kuncir kudanya. Dia berjalan mendekati Jekey.
Kini keduanya benar-benar saling bertatapan. Jekey tersenyum.
“Hay Elza, apa kabar?“
Jekey salah sebut nama, namun Elya tidak marah. Setiap orang bisa saja lupa. Itu yang ada di dalam pikirannya.
“Aku Elya, salam kenal kembali.“
Jekey jadi salting, dia yang salah. Akan tetapi Elya yang membuatnya tidak bisa berdiri lama-lama di pintu.
Dia meminta dua temannya untuk masuk dan mempersiapkan jam pelajaran pertama.
Elya hanya diam dia tidak merasa diabaikan karena Jekey memang cuek orangnya.
Gerun yang usil langsung memberikan kode pada Jekey.
“Dia ada di sana, ajak lah masuk.“
__ADS_1
*****