
Di rumah Jekey ...
Rania mendapatkan telepon dari Willy setelah dua puluh menit sampai di sekolah sang anak, lalu segera meminta suaminya pulang ke rumah. Rasanya sangat tidak enak. Tubuhnya bereaksi terlalu berlebihan.
Panggilan telepon sudah selesai, dia duduk dengan tidak tenang di teras. Di sana juga ada sang ibu mertua.
"Jangan merasa sedih atau cemas. Kau tahu kan kalau Willy pasti pulang membawa Jekey?" ucap sang mertua dengan dinginnya.
Dia baru saja bertengkar dengan Vandro masalah hak asuh Jekey yang kembali dipertanyakan. Padahal semuanya sudah benar, kini ada saja perkaranya.
"Iya ibu. Aku tahu, jangan marah," pinta Rania menahan rasa sakit di perutnya. Dia tidak akan mengatakan apapun kepada sang mertua. Rasanya sudah sangat banyak beban dari sang mertua. Bukan hanya urusan Vandro, Jekey dan Friska sama saja.
Nyonya Vandro berada di dalam situasi yang sangat tidak menentu. Sungguh rasanya menyebalkan.
Dia tidak tahu cara bersikap yang benar, setidaknya dengan sang menantu. Padahal di dalam kandungan Rania ada anak Willy.
"Maaf."
Nyonya Vandro melengos.
Dia beranjak dari teras. Lalu masuk ke dalam mobil. Beberapa menit kemudian, mobil Willy datang. Si ibu tidak mau menemui anaknya, bahkan cucunya. Alasannya agar tidak terlihat seperti orang bodoh karena marah-marah sendiri.
Willy turun dari mobil, dia bersama Jekey tentunya. Perasaan Willy tidak enak karena melihat wajah sang istri sangat pucat dan tidak ada semangat sama sekali. Dia benar-benar berada di dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Hingga Willy meminta sang istri untuk jujur.
"Kau sakit?" tanya Willy dengan segenap perasaan cemasnya. Perasaan seorang suami yang cemas tahu sendirilah, pasti selalu berada dalam kegalauan yang tidak berujung.
Di dalam hati yang sangat gundah ini, Willy langsung meminta Riana masuk ke dalam mobil. Jekey ingin ikut, tapi Willy mengatakan anak kecil di rumah saja. Sang mommy akan periksa ke dokter kandungan.
Jekey masih tidak mau mendengarkan sang daddy, dia meminta sang daddy untuk memberikan izin kepadanya. Willy masih keukeuh dengan keputusannya. Alhasil, untuk Jekey harus mengalah.
Sang mommy dan daddy Willy pergi, tiba-tiba saja neneknya datang dan memeluk Jekey.
"Kau adalah cucuku, Axel tidak boleh membawamu pergi. Dia adalah orang yang sangat aneh. Setelah pergi terlalu lama, kenapa ingin membawamu pergi."
Sang nenek, tiba-tiba saja menangis tersedu-sedu. Ini membuat Jekey merasa heran.
__ADS_1
"Ada apa nek?" tanya Jekey penuh dengan perasaan tidak terduga akibat dari tinkah sang nenek.
"Axel ingin mengambil hak asuh akan dirimu. Friska berada di dalam ancamannya. Dia sedang ada di rumah Axel."
"Kok bisa nek? bukannya tadi mommy ada di sini bersama kita? aku tidak percaya ini semua," jelas Jekey.
Dia langsung masuk ke dalam rumah dan kepada mommy Friska. Nyatanya sang mommy tidak ada di sana. Jekey merasa sangat sakit karena ditinggalkan oleh mommy tercinta yang sangat ia sayangi.
Jekey mencoba untuk bertanya kepada kakeknya yang sudah duduk di ruang tamu sambil merasakan frustasi.
"Kakek? di mana mommy berada?" tanya Jekey tidak mampu berkata apapun karena Vandro tak menjawab sedikitpun pertanyaannya.
Jekey merasa terluka dengan semua ini. Cinta untuk sang mommy, tidak akan pernah pudar meskipun selalu saja ada yang mencoba memisahkan dia dan sang mommy.
“Mommy Friska ada di tempat yang jauh Jekey, maafkan aku karena tidak bisa membuatnya merasa baik-baik saja. Sungguh, dia sedang ada di depan rumah lalu sebuah mobil membawanya pergi. Dia adalah Axel, daddymu.“
“Kenapa kalian membiarkan mommy berada dalam bahaya? lalu aku apa peranku bagi kalian? aku sangat bangga kepada kalian berdua. Namun kali ini aku sangat membencinya.“
Jekey marah, dia ingin pergi mencari sang mommy, tapi langsung dihentikan dengan segera karena sebagai orang yang bertanggung jawab akan hal hak asuh, tidak perlu untuk membuat sang cucu merasa sangat terbebani.
Perasaan Jekey sangatlah tidak bisa dibendung lagi karena merasa kecewa. Jekey saat ingin samamu berada dalam kehidupan yang layak, tapi apa yang terjadi?
Dia harus melihat seorang Friska kembali pada daddy Axel yang sangat tidak tahu diri.
Sungguh menjadi orang yang baik, memang tidak semudah itu, setidaknya dia pernah mencoba.
Kakek memeluk Jekey dia meminta cucunya tetap bersamanya.
Tuan Vandro berjanji akan menyelamatkan sang mommy, lalu membawanya pulang ke rumah.
"Aku ingin bertemu dengan mommy Friska, jangan mengangguku! aku akan pergi sendiri."
Jekey terlihat tidak tega dengan semua orang karena terlalu memikirkan sang mommy yang pergi entah kemana. Daddy Axel juga mencoba untuk membuat masalah semakin tidak ada jalan keluar.
Padahal beberapa tahun lalu, dia sudah bersama dengan keluarga Vandro. Kini tidak semudah itu untuk Axel masuk kembali ke hati Jekey yang sudah tidak ada rasa sayang sedikitpun untuknya.
Sungguh Axel telah membongkar rasa sakit yang telah tertutup. Jekey sebenarnya tidak mau terlalu membuat hubungan rumit, tetapi sang daddy sendiri yang membuat masalah.
__ADS_1
Bukan salah Jekey jika dia menjadi sangat benci kepada daddy kandungnya.
Kakek Vandro mencoba untuk menenangkan Jekey yang terlalu emosional dengan keadaan mendadak sendu ini.
"Cucuku, kau adalah salah satu hal yang mampu membuat kami bahagia, jadilah seperti ini. Jangan pernah menangis," ucap sang kakek sambil terus memegang tubuh sang cucu yang tentunya tidak mudah dihentikan. Dia juga bagian dari semua permasalahan. Jekey tidak mau terus menerus menjadi beban.
Jekey sudah menyadari jika sebagai anak berusia 10 tahun, harusnya dia berbakti kepada mommy Friska, bukan membiarkan sang mommy berada di dalam bahagia terus menerus. Ini sangat menyebalkan dan mengenaskan.
Kini saatnya dia berbakti agar hidupnya semakin berharga, tidak melulu diam seperti waktu Jekey kecil dulu.
"Aku sudah besar, kakek. Aku adalah masalah yang sebenarnya. Tolong kalian jangan merasa bersalah hanya karena aku. Aku bukan orang yang pantas untuk dikasihani saat ini. Kakek lepaskan aku!" teriak Jekey yang kini bisa lepas dari pantauan sang kakek dengan mudah, baginya adalah hal yang sangat menyenangkan bisa mengelabui kakek.
Namun perhitungannya terlalu sederhana, seorang Jekey hanya anak kecil. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih dan menata hidup setelah mendengar kehancuran ini.
"Iya, aku juga tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, tapi cobalah untuk memahami jika di dalam hidup, tidak semua bisa menjadi milikmu. Terutama takdirmu sendiri. Kau paham sayang?"
Nenek Jekey yang sedari awal tidak terlalu tertarik membahas semua ini, keluar dari kamarnya. Dia tidak ingin kehilangan sang cucu yang selama ini sudah bersamanya dalam waktu lama.
Perlahan tapi pasti, sang nenek berlari ke arah teras. Dia juga meminta sang cucu untuk tetap bersama kedua orang tuanya, meski tidak kandung, Willy dan Riana sangat mencintai Jekey sampai tidak ada yang bisa menggantikan peran sang mommy di hatinya sampai kapanpun.
Sungguh perasaan ini adalah yang pertama dan selamanya. Untuk Je sendiri, dia sangat dekat dengan sang mommy, Je akan berpikir ulang untuk melakukan satu hal yang menyakiti hati sang mommy. Dia akan terus berusaha keras menjaga adik dan mommynya dengan baik,
"Kakek, nenek, maafkan aku karena terlalu egois, seharusnya aku tidak berbuat demikian kepada kalian berdua," ujar Jekey yang kini masuk ke dalam rumah bersama kedua orang tercinta.
Di dalam rumah ...
Jekey bersama dengan sang nenek duduk di dalam sebuah tempat yang biasa mereka gunakan untuk bermain, di sana memang sudah dipersiapkan untuk membuat banyak kebahagiaan, tidak terkecuali hari ini.
"Sayang, kau tidak perlu merasa sendiri. Nenek bersamamu," ujar sang nenek yang kini ada di samping Jekey, dia dan sang cucu sedang bermain memasukkan bola basket ke ring.
Ruangan itu memang seperti sebuah taman bermain.Namun dalam bentuk yang mini.
"Ya nek, terima kasih atas semua yang telah nenek berikan kepadaku, karena selama ini, aku tidak pernah merasa lebih baik sebelum menjadi bagian dari keluarga kakek dan nenek."
Sang cucu merasa sangat beruntung karena berada di dalam lingkungan yang sangat kondusif. Ini adalah hal paling menyenangkan.
*****
__ADS_1