
Willy masih menunggu di depan pintu sambil menyenderkan punggungnya di tembok, tangannya yang terbiasa dilipat didada, begitu khas dan macho.
Hingga terdengar jelas suara pintu terbuka dari arah sampingnya, yang berarti pintu kamar mandi.
"Kau sedang apa di situ?" tanya Riana.
Dia berusaha menutupi kesedihannya. Riana tidak mau terlihat sangat rapuh di depan Willy. Di sini ada Friska dan Jekey. Tidak mungkin baginya membuat suasana menjadi tidak kondusif.
"Aku menunggumu, aku kira kau marah," jelas Willy menerka.
Willy memang tidak tahu apa yang membuat sang istri berbeda sikap, setelah melewati malam yang cukup panas, rasanya sikap dan sifat Riana langsung berubah dalam sekejap.
"Tidak, aku tidak marah. Lantas, untuk apa aku marah? sangat aneh jika aku merasa kesal. Aku tidak memiliki hak untuk itu!" ucap seorang istri yang sangat tersakiti dengan sikap suaminya.
Selama ini, Riana tak meminta apapun, tetapi sang suami justru membuat semuanya menjadi tidak baik-baik saja.
Willy justru mengingat wanita lain saat bersamanya.
"Katakan jika kau marah, jangan menyiksaku seperti ini. Aku memang bukan orang yang peka jadi katakanlah sesuatu!" pinta Willy.
Sang suami hanya ingin istrinya bahagia, bukan diam saja seperti ini.
"Kau diamlah Willy, jangan pedulikan aku. Pikirkan saja semua wanitamu itu!" teriak Riana.
Rasanya sudah keluar semua amarah itu.
"Oh, jadi karena itu?" tanya sang suami sekali lagi.
Dia tidak mau disalahkan karena perasaan seorang laki-laki yang kadang tidak sinkron.
"Iya."
Riana ingin pergi dari hadapan Willy, tetapi tangannya langsung ditarik ke pelukannya.
"Ada apa ini?"
"Kau merasa bahwa hidup ini menyedihkan? atau aku yang tidak tahu jika arti kebahagiaan sebenarnya sudah ada di depan mataku?"
"Entahlah, lepaskan aku."
"Tidak."
Baru saja Willy akan mengeksekusi istrinya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Astaga! kenapa di saat seperti ini, ada saja yang menggangguku."
Willy terpaksa beranjak dari posisi ternyamannya kemudian berjalan menuju pintu, di sana dia malas sekali membuka pintu.
Klek!
Pintu telah terbuka, alangkah terkejutnya Willy ketika ada putranya yang meminta Willy untuk menceritakan sebuah dongeng.
"Ayo Daddy!" pinta Jekey manja.
"Turuti saja, kasihan. Kau juga akan pergi setelah ini, kau bisa kan?" ucap Riana.
"Ya."
Willy tidak akan menjawab tidak ketika bicara dihadapan anak tercinta.
"Oke, kau mau baca dongeng apa?"
Willy menatap Jekey dengan tatapan penuh cinta. Dia seperti melihat masa kecilnya di mata Jekey.
"Kakek Alex memintaku untuk memberikan buku dongeng ini kepada Daddy."
Willy langsung berprasangka buruk, sebab selama ini Vandro hanya diam saat ia bersama Riana, sang daddy sedang mengerjainya.
Riana lebih memilih untuk keluar dari kamar itu, karena Riana memahami jika sang anak pasti sangat merindukan kasih sayang daddy tercinta.
Saat Riana keluar dari kamar itu, ia dikejutkan dengan kehadiran Friska.
"Riana, aku ingin bicara denganmu," ucap Friska. Tatapan matanya agak sayu, rasanya begitu lelah.
"Kau kenapa?"
"Aku ingin bicara dengan tuan Vandro dan kau, di ruang tamu."
"Oke, baiklah."
Riana bersama Friska berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Willy.
.
.
.
Ruang tamu ...
Riana mendekati sang daddy.
"Apa daddy ingin bicara denganku?"
"Iya."
"Tentang apa?"
"Friska. Sebelumnya aku sudah berdiskusi dengan Friska, tapi harus mendapatkan persetujuan darimu."
"Apa maksudnya daddy?"
"Friska ingin Willy untuk dua hari ini. Dia sedang sakit, kemungkinan hidup tidak lama lagi."
*****
Riana yang awalnya tersenyum dengan manis, seketika merasa lemas.
Tatapannya sangat tak terarah, Friska mendekat kepada Riana, dan memintanya sekali lagi.
"Ri, hanya kau yang bisa mengatakan ini kepada Willy. Aku tidak bermaksud membuat kalian berdua dalam kondisi sulit, tapi rasanya begitu tidak adil ketika aku mengambil keputusan sendiri."
__ADS_1
Friska cukup tahu diri, dia memohon dengan sangat. Namun, tak ada tanggapan dari Riana.
Sang wanita cukup takut dengan keadaan ini, namun berusaha untuk tetap tenang.
"Ya, aku setuju. Ada satu syarat untukku, berikan hari yang terbaik untuk suamiku karena dia baru saja menikmati kebebasan. Aku harap kau bisa mewujudkannya," pinta Riana dengan segenap hati.
Selama ini Riana tidak pernah memberikan syarat apapun saat seorang meminta bantuan kepadanya, tetapi ini demi kebahagiaan sang suami tercinta.
"Netta, kau sangat baik."
Friska langsung memeluk tubuh Rian dengan erat.
"Terima atas semua kebaikanmu, semuanya sangat menyenangkan bagiku. Aku berharap kau akan mendapatkan kebahagiaan."
"Ya, datanglah pada Willy, waktumu di mulai hari ini."
"Baiklah."
"Aku tidak akan memulai sesuatu, kau coba saja sendiri. Aku hanya mampu membantumu dengan sebisaku. Maaf, jika harus meminta suami sendiri berduaan dengan wanita lain, sangatlah menyakitkan."
Friska sepertinya tidak terlalu yakin, tapi berusaha keras untuk menjadikan semuanya tidak terbuang sia-sia.
"Doakan aku," pinta sang wanita dengan satu tatapan penuh harapan ke arah Riana.
"Ya. Semoga kau berhasil."
Riana lunglai, dia duduk mendekati daddy mertuanya.
"Kau baik nak?" tanya Vandro.
Vandro ragu saat Riana memberikan izin sang wanita untuk mendekat kepada Willy, selama ini dua orang yang sudah terpisah, sangat bahagia ketika Tuhan mempertemukannya kembali.
Bukan menjadi seperti ini, seolah-olah Riana akan segera dimadu saja.
"Ya, baik karena keadaan. Dari semua pertanyaan daddy, ini yang terburuk."
"Kenapa bisa begitu?"
"Saat mommy Serly bersama pria lain, apakah daddy tidak kesal?"
"Tentu saja kesal. Bagaimana sih kau ini?"
"Nah, paling tidak seperti itu rasanya."
Vandro sepertinya memahami apa yang dirasakan oleh Riana.
"Besok, Willy dan aku akan mengepung markas Axel. Kau tetaplah di sini bersama Friska dan Jekey."
"Baik Daddy, aku akan melakukan apapun yang daddy katakan."
"Riana, kau adalah anak yang baik, aku mohon kau tidak melakukan hal yang tidak seharusnya. Friska hanya meminta satu kesempatan. Aku akan menjamin Friska tetap dalam koridornya."
"Baik daddy."
.
.
.
Friska sudah berada di kamar mantan kekasihnya, dia tidak menyadari jika Willy tahu apa yang ada di pikirannya.
"Apa kau merasa nyaman bersamaku?" tanya Friska tiba-tiba.
"Maksudmu bagaimana ya?"
Willy pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi, sehingga mudah baginya untuk bersikap dengan Friska.
Jika dia merasa tahu segalanya, akan sulit.
"Aku sudah ada di sini, kau hanya berbicara dengan anakku saja, apa kau tidak nyaman?"
"Aku mengantuk, besok ada perang dengan suamimu itu, apa kau mau tidur di sini?"
Sang wanita sudah baper dengan perkataan yang disampaikan oleh Willy.
"Kau sudah ada Riana, bagaimana bisa?" jawab Friska yang mengira Willy mengajaknya tidur bersama.
"Haha, kau tidur bersama Jekey, aku akan tidur di sofa. Paham kan?"
"Haha, oh oke."
Friska merasa malu karena sudah berprasangka yang tidak-tidak.
"Kau jadi malu, wajahmu merah."
Willy memang sangat pandai membuat Friska salah tingkah.
..
Semalaman ini, Friska tidak bisa tidur karena hanya menatap Willy yang sedang tidur di atas sofa. Rasanya tidak tahu lagi apa yang ada di dalam otaknya.
Mau berbicara, orangnya sudah tidur, tapi diam saja juga tidak ada gunanya.
"Aku harus apa ya? Tidur sajalah!"
.
.
.
Pagi hari, pukul 03.00 ...
Friska baru saja terpejam, Willy beranjak dari sofa, ia menatap ke arah Friska dan Jekey.
"Kalian berdua adalah tanggung jawabku, aku tidak akan membuat hal buruk kepada kalian. Selama aku masih hidup, segalanya pasti akan baik-baik saja," batin Willy.
Sang pria segera keluar dari kamar itu karena sangat rindu dengan Riana.
Sedangkan di kamar tamu, Riana masih terjaga. Dia tidak bisa tidur sama sekali.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh ayah mertua, memang benar adanya.
Riana berangan-angan hal yang tidak mungkin, meski rasanya sangat sulit untuk di raih, Willy sedang bersama dengan Friska.
"Kenapa aku jadi seperti ini? rasanya sangat tidak mungkin, cinta ini bukanlah hal yang aku inginkan."
Saat rasanya begitu putus asa, Riana mendapatkan fakta bahwa sang suami ada di belakang tubuhnya.
Sentuhan di pinggang membuatnya terkejut bukan kepalang.
"Woy, siapa itu?"
Riana menyelamatkan diri, lalu sesosok pria yang sangat ia rindukan, terlihat muncul dari balik selimut.
"Ini aku, Willy."
Riana sangat senang dengan semua ini, dia tidak pernah merasa jika orang seperti Willy bisa romantis.
"Tadi daddy memintamu bersama dengan Friska, kau kenapa kemari?"
"Aku tidak tahu akan semua perintah itu, yang aku tahu adalah kau sangat senang dengan kehadiranku."
"Haha, begitu kah? pede sekali."
"Aku memang harus pede ketika berbicara dengan bunga mawar merah."
"Siapa mawar merah?"
"Tentu saja kau."
Riana menatap sang suami dengan pandangan yang sangat manis. Rasanya ingin sekali memeluk Willy. Namun nyatanya dia terikat akan perintah daddy mertua.
"Kau harus kembali pada Friska."
"Okelah."
"Kau sangat mudah menuruti apa yang aku katakan, kenapa begitu?"
"Karena aku sangat mencintaimu. Kau pahamkan dengan semua cintaku?"
Willy sedang menabur semua cinta, semua hal yang akan membuat segalanya tidak pernah terjadi.
Dua puluh menit berlalu, Riana ingin suaminya segera pergi.
Sang suami memahami jika dia terusir.
"Ya, aku akan pergi."
Willy memilih keluar dari kamar Riana dan tidak tidur lagi bersama Vandro di ruang tamu.
"Kenapa kau datang kemari? bukannya Friska ada di kamarmu?" ucap Vandro merasa bahwa dirinya sangat tidak tahu apa-apa.
"Halah, daddy tahu segalanya tentang aku dan Friska, bahkan Riana mengungkapkannya kepadaku."
Willy sedang membuat daddynya mengakui bahwa apa yang disampaikan Riana bukan dari hatinya, melainkan benar-benar perintah sang daddy.
"Iya, dia melakukannya atas perintahku, hari ini kita akan berperang. Jangan libatkan urusan pribadi, oke?"
"Ya, aku paham, jadi apa yang seharusnya aku lakukan?"
"Kau harus menjadi orang baik."
"Baik dalam hal apa? aku sudah melakukannya."
Willy mendapatkan kesempatan emas untuk mengutarakan keinginannya.
"Daddy, aku ingin memiliki anak."
Anak nomor pertama ini, memang sangat senang membuat daddynya bahagia, selain menggemaskan dan kadang garang.
Vandro masih teringat dengan pada zaman dahulu, mengenai satu peristiwa tidak pernah terlupakan.
Willy di masa kecil sangat pendiam, dia selalu mengatur banyak orang, tetapi tidak untuk daddy. Willy sangat takut dengan daddynya.
Hingga satu hal membuat Willy menangis.
Waktu itu adalah ketika mainan Willy jatuh ke got.
"Kau teringat akan satu hal? Tentang got dan mainan?"
"Haha, aku merasakan semua itu. Aku ingat akan hal itu, daddy membuatku malu saja."
"Loh, kenapa seperti itu? Wwkwk ... kau sangat manis waktu itu."
Percakapan sepanjang dua jam sebelum benar-benar menuju peperangan, sangat berarti bagi Willy dan Vandro.
Selama ini keduanya tidak terpisahkan, tetapi karena Riana, Willy justru berada di dalam satu dunia yang tidak terduga.
Putra sang pebisnis masuk ke dalam penjara dengan waktu yang cukup lama.
Kini saatnya keduanya berperang.
Pukul 08.00 ...
Vandro dan sang putra pergi dari markas itu tanpa memberitahukan kepada siapapun, sebab kepergiaannya sangat rahasia. Meski semua orang sudah paham, rasanya tidak mungkin jika membangunkan dua orang wanita dan satu anak laki-laki yang sedang tidur nyenyak.
Daddy masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan, sedangkan Willy naik motor.
Keduanya berbeda kendaran, karena ada rencana yang akan mereka lakukan selama berada di markas Axel.
"Kau siap anakku?"
"Siap daddy!"
Sang pria yang begitu berpengalaman dalam melakukan banyak peperangan, tidak pernah merasa cemas atau gundah. Dia akan tetap dalam satu semangat penuh kekuatan. Cinta Serly, akan membawanya menuju kebahagiaan yang sesungguhnya bersama lima anak dan cucu-cucunya kelak.
Perjalanan menuju markas, cukup jauh, sehingga keduanya harus berhati-hati.
Salah sedikit saja, semuanya akan hilang.
"Aku akan menunjukkan kepada daddy, jika aku pantas menjadi anaknya," batin Willy dengan rasa bangga.
__ADS_1
*****