Ayahku CEO Keren

Ayahku CEO Keren
Bab 28 (Masa depan Jekey)


__ADS_3

Setelah adanya semua itu, ada saja hal yang bisa disimpulkan. Padahal saat yang sama Dama begitu gugup.


Rapat telah selesai, Dama mencoba untuk meminta izin kepada semua anggota karena dia ingin pergi menjenguk tuan bos.


"Kalian terus berada di sini dengan penjagaan ketat yang sudah aku katakan, karena aku harus membawa tuan Jekey bersama kita."


"Baik, bos Dama."


Dama lalu beranjak dari markas dengan kepercayaan diri yang tinggi, karena selama ini begitu malu jika harus memberikan banyak pendapat.


Dia menuju tempat parkir, lalu memilih salah satu mobil untuk di bawa pergi ke rumah sakit. Setelah mendapatkan mobil itu, dia masuk ke dalamnya lalu on the way.


Sepanjang perjalanan, Dama melakukan panggilan telepon kepada nyonya Silvi.


"Cucuku memaksa untuk pergi ke rumah sakit, lalu dia pergi dengan naik bis. Tolong bawa dia pulang, nak Dama," ucap nyonya Silvi sangat sedih karena merasa tidak bisa menjaga Jekey dengan baik.


"Dia benar-benar kabur? mirip sekali seperti ayahnya dulu," jawab Dama yang sedikit banyak memahami Willy.


Willy memang sangat senang pergi kemanapun, meski seorang anak pertama, rasa tanggung jawabnya sangat kurang, tidak ada yang bisa diharapkan dari orang sepertinya.


"Haha ... memang mereka berdua adalah kembar. Aku tidak pernah menyangka jika Willy memiliki anak yang sangat mirip dengan nya. Satu hal yang harus kau ingat Dama, jaga cucuku. PIhak Axel, suaminya Friska pasti tidak akan membiarkan anak itu tetap bersama kita. Tolong kau kondisikan semuanya agar tidak membuatku cemas berlebihan."


Nyonya Silvi mencoba mengatakan semua ini agar Dama tahu, betapa sulitnya mendapatkan cucu yang sangat menggemaskan seperti Jekey. Dia tidak memperdulikan darimana Jekey lahir. Entah dari rahim Raina atau Friska. Dia sudah sangat bersyukur mendapatkan semua anugerah Tuhan berupa anak kecil bernama Jekey.

__ADS_1


"Baik nyonya, aku akan selalu mendengarkan apa yang kau sampaikan karena cintaku kepada keluarga bos, sangatlah besar. Oh ya, aku hampir sampai nyonya, aku akan menutup panggilan telepon."


"Oke, tidak masalah."


.


.


.


Rumah sakit kota ...


Dama telah memarkirkan mobil di tempat parkir, lalu segera saja ia turun dari mobil, dan berjalan menuju pintu kaca sebagai akses utama untuk menuju ruangan sang bos.


"Kau ada dimana Dama? ibu baru saja menelepon jika kau ada di rumah sakit kota untuk membawa Jekey pulang?"


"Iya, nona. Kau benar. Aku ada di lantai satu, kau ada dimana?"


"Aku berada di lantai dua, langsung saja kemari."


"Baik, aku akan bertanya kepada suster yang ada."


"Siap!"

__ADS_1


Panggilan telepon usai, seorang gadis yang berprofesi sebagai suster, sangat genit dengan Dama.


"Kau sudah ada istri?"


"Belum, tapi aku sudah memiliki anak."


Pengakuan ini, sangat mendebarkan, suster langsung merasa bahwa harus mendapatkan jawaban yang pasti.


"Kau duda?"


"Apakah kau benar-benar duda?"


Sang suster masih saja tidak jelas, Dama malas dan pergi dari sana.


Dama ingin mencari sendiri saja, daripada banyak persoalan di sana.


"Semua suster itu memandangku dengan wajah aneh, padahal aku juga tampan kan? dasar wanita aneh!" batin Dama yang kini sedang naik lift, di dalam lift, juga masih ada saja yang banyak tingkah membuatnya kesal.


Dua karyawan rumah sakit, ingin menggoda Dama.


"Kau tampan, baby!"


*****

__ADS_1


__ADS_2