
Di dalam ruangan itu, sangat terlihat jelas jika orang-orang Willy memang sangat loyalitas dalam memberikan yang terbaik.
Hanya saja ada beberapa orang tidak tahu diri, meski begitu, pada intinya geng Willy akan terus menjadikan para anggota sebagai salah satu anggota keluarga yang harus di sayangi dan dicintai tanpa pamrih.
"Aku merasa sangat baik karena kau, Dama."
Raina sungguh senang, dia tidak akan pernah tahu, bagaimana perasaan sang pengawal jika berada jauh dari Jekey, meski baru beberapa hari saja, namun begitu kehilangan disaat yang sama.
Friska menahan diri untuk tidak menangis karena terharu. Dia berada diantara keluarga yang sangat bahagia menjunjung nilai kebersamaan dan rasa tenggang rasa yang amat luar biasa.
"Nyonya Riana dan nyonya Friska, aku ingin membawa Jekey ke markas, karena keadaan sudah mulai tidak terkendali," jelas Dama langsung ke inti permasalahannya.
Dia tidak tega jika harus membuat Jekey ke Axel, pria itu terlalu menyebalkan lebih dari yang Dama pikirkan.
"Ya, kau bawa saja.Aku senang karena kau pasti akan memberikan perlindungan," jawab Friska menimpali.
Setelah mendapatkan izin dua orang yang sangat disayangi Jekey, sang anak langsung berada dalam gendongan Dama.
Perlahan tapi pasti, dua laki-laki berbeda usia itu keluar dari ruangan kemudian menuju tempat VVIP perawatan Willy serta Vandro.
Jaraknya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan waktu lima menit saja.
Kini keduanya telah berada di depan ruangan yang dimaksud. Lima penjaga sudah standby berada di sana dengan penuh kebahagiaan karena bertemu dengan Dama dan Jekey.
"Wah bos kedua sudah datang. Aku sangat senang. Kau mau menjadi pengganti ayahmu. Ini bukan sembarang kesempatan karena kau mampu melakukannya. Kau harus sadar jika Dama merupakan tangan kanan yang keren," ucap salah satu penjaga kamar dua bos.
"Hahaha, aku ingin masuk ke dalam, apakah kau hanya ingin memujiku saja? rasanya menjadi sangat bodoh karena semua ini. Kau tidak perlu berlebihan dalam menyampaikan pendapatmu tentangku. Izinkan kami masuk dan berpamitan pada bos," pinta Dama dengan perasaan yang sungguh malu.
Dari sekian rasa tidak percaya diri, baru kali ini Dama benar-benar merasa tidak ada apa-apanya tapi diagung-agungkan oleh banyak orang, ini sangat menyesakkan dada.
"Baiklah, masuk ke dalam ruangan. Kami akan berusaha keras untuk menahan pesonamu."
"Haha belum pernah liburan? dasar!'
__ADS_1
"Haha."
Dama malunya tidak ketulungan, perasaannya menjadi tidak baik-baik saja karena harus menjaga dirinya dari sikap sombong. Bukan hanya itu saja, dalam prakteknya, Dama harus berusaha keras agar tetap fleksibel.
Hingga setelah mendapatkan izin, Dama dan Jekey bisa masuk ke dalam ruangan VVIP dengan mudah.
Di sana terlihat jelas Willy sedang berbincang dengan seorang dokter, di sebelahnya juga ada Vandro.
"Daddy!" teriak Jekey sangat senang dengan kondisi ini. Apa yang dia inginkan, menjadi kenyataan karena pada dasarnya, Jekey ingin bertemu Willy. Dia rindu.
"Wah ada tuan muda, apa kabar?" ucap Willy dengan wajah yang masih pucat. Dia tidak diperbolehkan untuk masuk untuk bertemu dengan daddy Willy, sehingga sangat sedih. Sedangkan untuk perasaannya yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, hanya mampu ia tulis di dalam buku diary kecil yang sering ia bawa kemanapun.
Sungguh anak ini tidak mirip sama sekali dengan Axel, dia mungkin benih Axel tapi sang ibu, Friska, lebih menonjol ketika berpikir mengenai WIlly. Alhasil anaknya seperti Willy.
"Daddy, aku tidak bisa pergi dari sisi daddy, tapi rasanya sangat sesak melihat kau sakit. Cepat sembuh ya?'
Perkataan Jekey sangat menyedihkan bagi seorang Willy, dia tidak habis pikir dengan anak yang ia anggap buangan itu. Meski belum mengetahui Jekey anak Axel, ikatan keduanya terlalu kuat. Dokter juga memberikan support agar hubungan anak dan ayah bisa terus terjalin apapun yang terjadi.
"Wah, aku senang melihat Jekey sudah tumbuh besar. Baru kemarin ibumu mengatakan kau hanya anak kecil, tapi sekarang kau begitu pandai mengungkapkan perasaanmu. Selalu sehat ya nak?" sahut dokter Ami yang menanggani pengobatan ayah dan anak itu.
"Iya dok. Aku merasa sedih, terima kasih atas doanya. Aku pergi dulu."
Jekey hanya bersalaman dengan Willy, sang kakek belum mampu menggerakkan tangannya dan hanya bisa berkedip. Ini sangat cukup bagi Jekey agar tetap mencintainya sebagai cucu.
"Oke. Semangat anak daddy. Dokter akan berusaha keras menyembuhkan daddy Willy."
"Kau berjanji?"
"Tentu saja. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus berusaha dengan keras, dokter juga akan seperti itu. Pulanglah sayang."
"Oke, bye semua."
Dama hanya bisa diam karena bukan waktu yang tepat terlalu banyak bicara di dalam ruangan.
__ADS_1
Keduanya keluar dengan Jekey yang tiba-tiba diam, dia bahkan tidak menangis tapi tetap tidak bersuara.
Setelah keluar dari ruangan dan bertemu dua paman, rasanya masih sama saja. Jekey tidak mau menegur para paman.
"Kau kenapa sayang?" tanya salah satu penjaga.
"Dia sedang ngambek, paman penjaga," jawab Dama singkat.
"Oh, oke,"
Penjaga lebih memahami, lalu segera saja keduanya pergi dari ruangan VVIP.
.
.
.
Tempat parkir rumah sakit ...
Kini keduanya telah berada di luar rumah sakit, tepatnya di area parkir. Jekey masih diam dan dia mengatakan hal yang sangat aneh.
"Paman, aku ingin bertemu dengan daddy Axel, dia sangat sedih saat aku meninggalkannya," pinta Jekey.
Anak berusia lima tahun ini selalu saja meresahkan orang-orang yang ada di sampingnya, bagaimana tidak? permintaannya selalu absurd dan menyebalkan tanpa ada hal pasti untuk memberikan jawaban, rasanya sangat aneh.
"Kau bisa pergi kemanapun yang kau inginkan tuan muda, tapi jangan kesana, sungguh. Aku tidak bermaksud melarang tuan bertemu dengan Axel, dia juga ayahmu. Namun, tunggu daddy Willy sembuh dulu ya?"
Ucapan seorang paman bisa saja tidak mempan, tapi si bocah masih mau mengangguk dan memberikan banyak argumen lain, hanya saja terlalu bersifat bocah.
Dama berusaha keras agar tidak mendapatkan komplain dari keluarga sang bos. HIngga dia berpikir untuk diam saja dan mengendarai mobil menuju markas.
"Apakah aku harus kabur juga? Aku adalah anak daddy Axel juga, bukannya orang jahat harus mendapatkan pengampunan seperti pada umumnya? aku memang bocah, tapi otakku sangat encer, jangan salah ya paman," batin Jekey berpikir bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan sang daddy.
__ADS_1
Sampai ada ide yang sangat luar biasa, dia akan melakukannya.
*****