
Mendengar percakapan dua orang yang sangat ia sayangi, Jekey lantas menyampaikan pendapatmu yang sangat unik.
"Aku akan memiliki dua orang mommy, dua orang daddy. Akan tetapi, Daddy Axel sangat jahat, beda dengan Daddy Willy."
Jekey hanya mengatakan saja tetapi begitu menyesakkan dada.
Daddy dan mommynya, selalu saja bertengkar dan dia mendengarkannya dengan baik.
Rasanya sangat sedih.
Willy tidak akan membuat situasinya menjadi lebih kacau.
"Ya, kalau kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Nak, berbuatlah yang terbaik untuk mommymu. Mereka sangat sayang kepadamu. Aku akan menuruti apa yang Riana inginkan."
"Hore!"
Jekey sangat bahagia mendapati dirinya akan tinggal bersama daddy kandungnya.
Friska tak enak hati, dia berada diantara dua orang yang saling mencintai.
Namun, mau bagaimana lagi, dia tidak ada tempat untuk berlindung.
"Riana, aku tidak termasuk untuk membuat kerusakan di dalam rumah tanggamu, aku hanya ingin menitip anakku."
Friska menyampaikan di atas secara langsung tanpa perlu memendamnya di dalam hati.
Dia merasa bahwa semua hal yang terjadi kepadanya sebagai satu hukuman karena pernah membuat sebuah rencana untuk Willy, rencana jahat yang akan disesali seumur hidupnya.
Riana, mencoba untuk tegar dan tidak mempermasalahkan apa yang sudah diputuskan oleh suaminya karena sejatinya apa yang dikatakan oleh suami merupakan sebuah keputusan yang tepat.
Riana memeluk tubuh mantan kekasih suaminya dan mengatakan bahwa dirinya ikhlas jika berbagi hati untuk membuat Jekey bahagia.
"Kau tidak perlu melakukan semua ini, aku hanyalah orang yang akan menyusahkan hidupmu," ucap Friska.
Dia menangis, membuat Jekey ikut menangis juga.
Riana mengusap air mata dua orang itu, berusaha keras tetap tegar meskipun rasanya sangat tidak mungkin.
Sudah beberapa tahun lalu, Riana ingin keluarga yang utuh tetapi harus terbagi.
Riana mengharapkan semuanya akan usai dengan segera.
Rasanya tidak seperti biasanya, sangat tidak nyaman, tapi dia berusaha keras untuk menerima kenyataan.
Ini yang terbaik bagi pernikahannya.
Setelah perundingan yang cukup rumit, Willy keluar dari kamar itu karena tidak tega melihat istrinya merasakan semua sakit itu.
Di depan pintu kamar, Vandro datang dan bertanya kepadanya.
__ADS_1
"Kau menangis?"
"Tidak daddy, aku sangat bahagia karena memiliki istri yang baik hati, dia bahkan memintaku untuk menjaga Friska. Padahal, selama ini kami menunggu, bahwa akan ada pertemuan yang luar biasa antara aku dan Riana. Hukuman di penjara menyadarkanku bahwa arti sebuah keluarga adalah segala."
Willy terlihat cukup bersabar dengan semua yang menimpanya, dia tidak merasa bahagia dengan semua cinta yang ada.
Meski sang istri memberikan izin untuknya menyayangi seorang Friska, dia akan tetap setia kepada Riana.
"Riana adalah cintaku, tidak mudah untukku melupakannya."
Daddy tiba-tiba memeluknya dan memberikan nasehat.
"Aku pernah mengalami posisi yang sangat sulit seperti ini, tetapi pada akhirnya aku bersama Serly. Aku tidak perlu membuatmu merasa bahwa hidup ini sangatlah kesulitan. Cinta yang ada, hanyalah sebuah hiasan, tidak ada yang benar-benar bahagia di dunia ini."
Willy menangis dipelukan daddynya.
Rasanya sangat nyaman, dia tidak merasa baik, tapi sangat baik.
Dukungan sang daddy, memberikan semangat baru baginya.
"Saat ini, adalah waktu yang tepat untuk melakukan negosiasi terhadap Axel, dia telah melakukan beberapa hal untuk menghancurkan geng kita."
Vandro tetap pada pendiriannya, siapapun yang membuat keluarganya terpecah belah, harus hancur.
Vandro meminta sang putra untuk membiarkan anak dan istrinya berada di tempat itu.
Axel adalah orang yang tidak mudah dikalahkan.
Selama ini, seorang Axel hanya akan mengambil keuntungan dari kekacauan ini.
Sikap licik dan suka kabur dari permasalahan, merupakan satu hal yang tidak bisa lepas dari Axel.
"Kau tetap di sini, biarkan aku yang mengurus orang itu."
"Baik daddy, tapi setidaknya berikan aku kesempatan ikut mengepung Axel. Aku juga kesal saat dia membuat Friska merasa tersiksa," pinta Willy.
Tatapan matanya menunjukkan kecemasan yang berlebihan. Sejak kecil, Willy memang paling memahami setiap keadaan yang ada di dalam keluarganya, tetapi ia tumbuh sebagai pria yang salah jalan karena terlalu dimanja oleh Serly.
Apalagi pekerjaan Vandro yang terlihat mengurus restoran seperti orang biasa, bukan sebagai bos lagi.
"Ya, aku akan mencoba memberikanmu kesempatan," jawab Vandro.
"Terima kasih daddy. Kau adalah yang terbaik. Kapan kita akan menghancurkannya?" Willy sepertinya sudah gemas dengan sosok Axel, ingin rasanya menyelesaikan urusan segera mungkin dengan orang itu. Meski tidak mudah, dia mencoba melakukannya.
Semenjak di kantor polisi, Willy berteman dengan orang dari kalangan apa saja, kadang dia juga berkelahi dengan mereka.
Pengalaman yang cukup banyak dengan berdiskusi bersama mereka, akan menjadi bekal terbaik untuknya.
"Besok, aku akan mengajarimu taktik penyerangan. Harusnya ini tugas dari Sam, tapi kau adalah kakaknya, harusnya kau juga memahaminya. Bukan soal wanita saja yang kau pahami."
__ADS_1
Sang daddy memang senang meledek anaknya, demi kebaikan sang putra, dia rela memberikan segalanya.
"Baik, daddy akan tetapi di sini, atau pulang ke rumah?"
"Aku akan tetap di sini, menunggu hari besok, aku juga belum tahu dimana Axel berada. Sedari tadi David menghubungiku. Aku belum bisa menjawab panggilannya karena malas."
"Daddy memang sudah tua, tetapi sangat luar biasa dalam membuat sebuah keputusan."
Willy merasa bangga saat menjadi putra dari Vandro.
Seorang pria yang sangat terkenal. Di dalam hatinya sama sekali tidak akan berhenti.
"Iya, seperti ini juga karena kakekmu. Hm, seandainya kakakku masih hidup. Dia pasti sangat senang ketika mengetahui keponakannya sudah beranjak dewasa. Apalagi kakek, dia pasti akan sangat senang ketika melihatmu yang begitu lucu tiba-tiba sangat bandel."
Vandro memeluk sekali lagi tubuh anaknya, sejak keduanya bertengkar karena kelakuan Willy yang diluar batas, membuat sang Daddy malas untuk membuat satu hubungan yang dekat dengan anaknya itu.
"Hehe, aku tidak nakal. Hanya bandel sedikit."
"Hm, terserah kau saja."
"Aku ingin minum kopi dengan daddy."
"Oke, ayo."
Kedua orang yang merupakan ayah dan anak, bersiap untuk menuju dapur dan membuat kopi.
.
.
.
Di dapur ...
Vandro menyiapkan dua cangkir sedangkan anaknya membawa kopi dan gula.
Daddy Vandro memberikan contoh cara membuat kopi yang sangat enak, seperti dirinya dulu ketika masih muda.
"Kau harus mengatur kopi ini dengan penuh cinta karena istriku yang mengatakannya."
"Cih, katanya Daddy waktu muda?! bukannya waktu muda belum punya istri?"
"Haha ... kisah cinta kami sangatlah rumit, daddy menikah dengan mommy mu juga dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, kami selalu terlibat banyak masalah karena pamanmu."
"Oh, jadi paman juga ingin menjadi suami mommy?"
Pertanyaan yang semakin mendalam, Vandro segera menghentikan perkataannya karena akan menimbulkan beberapa spekulasi.
*****
__ADS_1