
Friska meminta Riana untuk tetap bahagia bersama dengan Willy. Terkadang setiap manusia memang harus mendapatkan kesempatan kedua.
"Kau dan Willy adalah pasangan yang sangat istimewa. Kau juga pendamping penyabar. Jangan berharap apapun lagi karena orang sepertinya butuh dukungan orang sepertimu."
Friska mencoba untuk tetap memberikan dukungan sepenuhnya kepada Riana. Wanita cantik dengan kekuatan tangguh luar biasa.
Tanpa semua orang tahu, dia akan terus memberikan yang terbaik. Friska sangat memahami hati tulus Riana.
"Kau terlalu berlebihan. Aku tidak sempurna seperti itu. Pada dasarnya, aku hanya seorang wanita biasa. Jika tanpa dukungan darimu mana bisa aku hidup dengan ketenangan selama Willy memberikan luka? aku juga manusia yang bisa merasakan luka. Aku bisa seperti itu."
Riana sangat jujur saat berada disamping Friska. Dia begitu menyenangkan untuk dijadikan saudara.
"Friska, aku sangat sayang kepadamu. Kau tidak ada duanya di dunia ini. Kau adik sekaligus kakakku. Terima kasih dengan pengorbananmu. Kau rela menyerahkan Jekey kepada kami dan memilih hidup barumu. Aku sangat terharu Friska," jelas Riana dengan memeluk tubuh Friska.
Sentuhannya sangat lembut. Bahkan tidak berasa seperti sebuah sebuah sentuhan dari manusia. Friska begitu beruntung bertemu dengan Riana yang sangat manis.
"Kau ini kenapa? sungguh tidak bisa dipercaya. Kau adalah orang pertama degan sentuhan selembut ini. Bahkan Dama saja tidak bisa melakukannya."
"Dih, mana ada Friska? kau terlalu mengada-ada."
"Tidak ada yang palsu. Aku mengatakan hal yang sebenarnya."
"Okelah, aku percaya."
Kedua orang itu mengambil keputusan untuk menjadikan momen terbaik ini, permulaan dari kehidupan yang lebih sempurna di kemudian hari.
__ADS_1
.
.
.
Ruang tamu ...
Setelah pembicaraan yang sangat damai, pada akhirnya dua orang itu masuk ke dalam ruang tamu. Di sana hanya ada Willy. Jekey merasa sangat mengantuk. Lalu ingin tidur sendiri.
"Kau belum tidur?" tanya Riana.
Dia merasa sangat cemas kepada suaminya yang terlihat lelah.
"Belum karena lelah menunggumu sayang," jawab Willy sangat senang menggoda istrinya. Di dalam hal ini, Friska langsung kabur.
"Aku mau ke kamar, rasanya sangat mengantuk. Aku akan menemani Jekey."
Willy tidak membiarkan Riana berada di dalam kesepian. Lalu memintanya untuk duduk bersamanya.
"Kau harus tidur, Willy."
"Tidak, aku ingin kita bicara sebentar."
"Kau ingin apa?"
__ADS_1
"Bicara kan, katanya kau ingin bersamaku selamanya."
"Iya, aku meras kau sangat kelelahan jadi segera tidur saja. Mari kita belajar untuk menahan hati untuk tidak menyedihkan."
"Heh? Maksudnya apa?"
"Haha ... aku ingin merasakan itu, tapi kau sedang hamil."
"Haha ya aku memang senang kau begitu menyedihkan."
"Ya, nanti kita akan menjadikan hubungan baik-baik saja daripada banyak informasi dari luar membuat kita makin tidak bisa menyatu."
"Iya, akhir-akhir ini, aku teringat gadis itu."
Riana duduk disamping suaminya, dia merasa sangat peka.
"Aku tidak suka dengan gadis itu. Dia terlalu banyak gaya. Aku tidak suka."
Willy memeluk tubuh istrinya dengan sangat sadar. Dia tidak akan membicarakan gadis itu. Pada intinya adalah hidup paling bahagia karena kebersamaan dengan Riana.
"Kalau tidak banyak gaya, harusnya kau suka kan?"
"Heh, mana ada? kau yang sangat aku sayangi. Aku sangat serius. Oke?"
Pasangan ini, masih saja saling bercanda gurau, tetapi karena satu hal yang ada di pikiran, membuat Riana harus waspada.
__ADS_1
*****