
Beberapa jam berlalu …
Bell pulang sekolah sudah berbunyi dengan sangat keras. Di sana para murid keluar dari ruang kelas masing-masing sambil bergerombol.
Tidak terkecuali Gerun dan Javon. Dia berada di sekeliling Jekey sambil terus meledek anak laki-laki yang tampan itu.
Jekey lama-lama sebel juga di perlakukan seperti ini.
“Heh? ada apa? kau ribet sekali?“ protes Jekey pada kedua orang temannya yang terkadang sangat tidak masuk akal itu.
Baru juga masuk ke dalam lingkungan sekolah, sudah mendapatkan cobaan yang begitu berat.
“Aku mau pulang ke rumahku, kakakku selalu datang dan membuat rumah berantakan. Dia seorang gadis yang ribet, bagaimana bisa aku bersamanya sepanjang hari?“
Rasa keluh kesah seorang anak kecil, melihat kelakuan kakak yang tidak ia suka, sungguh menggemaskan.
Perbincangan ini bahkan sampai di depan gerbang sekolah.
Elya masih memantau ketiga anak itu dengan seksama.
Hingga sebuah mobil berhenti, Elya melihat ada tantenya datang. Sang anak perempuan berlari menuju mobil tantenya, Elya melewati tiga anak laki-laki yang masih menatap kepergian Elya.
“Dia siapa?“ tanya Jekey penasaran.
__ADS_1
“Tantenya Elya. Kau lupa?“ jawab Gerun.
Dia sedang bercerita banyak hal, tapi Jekey mengabaikannya.
.
.
.
Di dalam mobil Elya …
“El? kau terlihat murung?“ tanya si tante dengan mendalam.
“Ada Jekey.“
“Wah, Jekey yang itu ya?“
Tante Jeni sepertinya mengetahui seperti apa perasaan Elya pada Jekey.
“Haha, apa sih? kata mama, tidak boleh banyak berpikiran buruk. Harus fokus dengan sekolah. Setelah ini aku akan pentas musik. Bermain piano adalah hal yang sangat aku inginkan. Papa menyiapkan segalanya pentas ini.“
Anak kecil sudah berpikiran tentang perasaan orang lain, ini tidak mudah.
__ADS_1
Apalagi mama dan papa Elya telah bercerai dua tahun lalu. Berat sekali beban Elya, hingga dia lebih memilih tinggal bersama tantenya.
Inilah yang membuatnya harus banyak belajar mengenai kehidupan.
Di dalam mobil, Elya merasa sangat kesepian, tapi sang tante yang memahami keadaan keponaannya langsung memeluk tubuh mungil, dia memberikan perasaan hangat kepada Elya.
“Semuanya akan baik-baik saja sayang. Tante tidak akan membuatmu kesepian sayang. Ayah dan ibumu memang berada di dalam permasalahan yang kau tidak memahaminya. Akan tetapi ada aku, kau akan merasakan kebahagiaan seperti lainnya,” celoteh tantenya.
Tante memberikan kehangatannya, sedangkan Elya membalas dengan memeluk erat penuh dengan kebahagiaan. Tetesan air mata begitu luar biasa. Satu persatu butiran air mata menempel di baju tante Jeni.
Tante Jeni semakin memberikan banyak cinta, dia bahkan menjanjikan sang keponakan untuk pergi ke taman hiburan kesukaan Elya.
Siang ini adalah hari dimana merasa sangat senang. Anak sekecil ini, sudah mendapatkan banyak cobaan. Jeni tidak akan membiarkan semua ini berlarut begitu saja.
“Kedua orang tua anak ini harus paham jika perasaan yang menyakitkan adalah orang tua masih hidup, tapi tidak bisa memeluk secara bersamaan. Ego mereka sungguh membuat seorang Elya tersiksa. Awas saja kalau masih menyakiti Elya!“
Jeni adalah satu-satunya orang yang akan membahagiakan dan menyayangi Elya melebihi mama dan papanya Elya.
Elya harus ke taman hiburan, Jeni sangat senang si bocah tidak bersedih terlalu berlarut seperti biasanya.
Mobil mobil Jeni, lalu melaju dengan perlahan meninggalkan sekolah elit penuh dengan orang-orang berduit itu.
*****
__ADS_1