Ayahku CEO Keren

Ayahku CEO Keren
Bab 8 - Kebenaran Jekey!


__ADS_3

Di dalam mobil, Jekey sangat manja dengan Willy. Semuanya begitu mudah bagi Jekey, cinta yang sangat besar, tidak akan menjadi satu dalam kebencian. Jadi, setelah satu kesempatan tidak bisa bertemu, kini saatnya bagi Willy memberikan cinta kasih kepada anak semata wayangnya.


"Jekey, namamu Jekey kan?" tanya Willy.


Sang daddy mencoba dekat dengan putranya.


"Iya daddy, aku namanya Jekey Axelo. Namanya keren kan? aku hanya ingin bersama dengan orang yang selama ini menjadi mommy dan daddyku. Daddy, berikan aku kesempatan untuk bersama dengan mommy. Tolong mommy Friska."


Kata-kata Jekey membuat Willy tidak tega dengan anak kecil itu, perasaannya menjadi sangat rapuh.


Hingga panggilan telepon dari Riana, membuat Willy harus segera menjawabnya.


"Halo sayang, ada apa?" tanya Willy.


"Aku sedang menunggu kabar dari Jekey, apa dia baik?"


Ketika suara Riana terdengar jelas, Jekey sangat antusias.


"Dia mommy baik, aku mau bicara dengan mommy baik," ucap Darion dengan cintanya yang sangat banyak untuk Riana.


"Mommy, ini aku. Jekey, aku ingin terus bersamamu. Kau adalah malaikat mommy."


Suara Jekey dengan serak yang menggema, dia sangat ingin bersama dengan Riana.


"Wah, cintaku. Kenapa kau sangat pintar."


"Iya, aku adalah pria yang akan menjaga mommy Friska dan mommy baik. Mommy, tolong selamatkan mommy Friska, dia dalam masalah."


Jekey tiba-tiba menjadi seperti orang dewasa yang akan menjadi tameng untuk kedua orang tuanya menjaga dan menyayangi tanpa henti.


"Oke, kau pulang dulu bersama dengan Daddy Willy, untuk urusan yang lebih banyak lagi, tidak perlu banyak bicara karena akan ada waktu sendiri untuk menyampaikannya."


Riana sangat senang dengan semua ini.


Perasaannya yang ingin sekali memiliki anak, terbayar dengan lunas.


.


.


.


Sesampainya di rumah Willy ...


Mobil Willy telah terparkir sempurna di depan rumahnya.


Jekey keluar dari mobil dengan suka cita, rasanya seperti mendapatkan kebahagiaan setelah lima tahun dia berada di markas Axel.


Memang dia masih lima tahun.


Hanya saja dia memiliki perasaan yang lebih peka dari sebelumnya.


"Mommy dimana ya?" tanya Jekey.


Manik matanya menatap ke segala arah.


Setelah menemukan wanita yang dicari, dia segera memeluk sosok Riana.


"Mommy!" teriak Jekey.


Jekey tersenyum gembira.


Willy dan Vandro, terlihat bahagia.

__ADS_1


"Kau paham kan tentang kasih sayang seorang ibu dan anak? kau baru saja berada di dalam hal yang tidak bermanfaat. Cinta yang kau berikan merupakan cinta yang semu, tanpa adanya keberanian untuk bertanggung jawab," cetus Vandro.


Sang daddy mulai banyak bicara. Ini membuat semuanya makin menyebalkan.


"Kenapa daddy sangat senang melihatku tersudut?"


Tatapan mata sang putra, begitu lucu.


"Haha, masuk sana ke rumah. Daddy akan memberikan ampunan jika kau bisa merawat anakmu dengan baik. Kau bisa kan?" pinta Vandro.


Sang daddy hanya ingin semuanya menjadi baik, tanpa memberikan efek yang buruk kepada Jekey.


"Ya, aku akan berusaha, kau adalah daddy yang sangat tega dan kejam," jawab Willy dengan dongkol.


Vandro justru sangat senang dengan model Willy ini.


Jika tidak begitu, pasti akan membuat semuanya tidak terkendali.


"Cinta itu hanya ada dua kemungkinan, memiliki atau dimiliki. Kau sudah dimiliki, cobalah untuk memiliki kasih sayang anakmu, Willy," ungkap Vandro.


Dia sangat ingin memberikan cinta yang banyak kepada anaknya, hanya saja Willy akan lebih selektif.


Di ruang tamu ...


Saat Vandro asik berbincang dengan anak dan cucunya.


Vandro begitu sibuk dengan ponselnya.


"Kau mau apa lagi?" ucap Vandro.


Dia merasa bahwa si peneror masih kurang puas membuat keluarganya menjadi tidak karuan.


"Aku yang akan membuat kehidupanmu menjadi tidak berguna. Kau tahu kan apa maksudku?"


Kata-kata yang tersirat, sangat menyakitkan.


"Aku tidak paham dan tidak mau memahami."


"Haha ... ku berikan waktu satu minggu untuk kebahagiaan kalian. Akan tetapi, setelah ini, kau akan hancur."


Panggilan telepon dari peneror, membuat orang-orang di dalam rumah kepikiran. Adya yang kebetulan masih ada di sana, mencoba untuk memberikan solusi.


"Biar anakmu yang saja yang membantu. Dia juga mengikuti jejak daddy."


Anak ketiga dari keluarga itu mengatakan hal yang sebenarnya, hanya saja daddy tidak suka membahas anak ketiga.


"Kakakmu sedang ada misi besar, musuhnya bandar judi tingkat internasional. Kau jangan membuatnya semakin banyak pikiran."


Daddy sebenarnya tidak ingin membuka obrolan mengenai permasalahan orang dewasa, tetapi anak ketiga membuka pembicaraan.


Jekey mengatakan bahwa dia sering mendengar anak ketiga Vandro.


"Kakek, Daddy Axel, selalu menyebut nama itu. Kata Daddy, dia adalah target selanjutnya."


"Lalu, apa yang dilakukan olehnya?"


"Aku tidak tahu Kakek, tolong selamatkan mommy."


Vandro bahkan sampai lupa dengan penyelamatan Friska.


Dia segera meminta Willy untuk datang ke markas dan membawa ibu dari anaknya.


Willy, sebenarnya sangat malas tetapi mendapatkan dorongan penuh dari sang istri.

__ADS_1


"Kau harus selamatkan ibu Jekey, kau merupakan ayah terbaik. Berikan kasih sayangmu pada anakmu. Selamatkan Friska."


Rasanya seperti sebuah permintaan yang tidak bisa ditolak.


Vandro dan Willy segera berkoordinasi untuk menyelamatkan Friska.


.


.


.


Markas Axel ...


"Haha, aku sudah mendapatkan semuanya, anak itu sudah aku pasangi alat perekam, aku tahu apa yang akan mereka lakukan."


Axel memang sangat senang mempermainkan semua orang, apalagi musuh bebuyutannya.


Jekey pasti akan bersama dengannya sampai kapanpun, dia adalah pria kejam yang sangat gemar melukai siapapun.


Sang pria, begitu bersemangat untuk membuat air ke wajah Friska.


"Kau ingin tidur saja?" teriak Axel.


"Kau habisi saja aku! tapi jangan anakku."


"Haha, mana bisa aku melakukan hal itu. Kau akan aku habisi juga."


Axel tidak memiliki rasa kemanusiaan, dia akan melakukan hal ini sampai Friska dan anaknya menderita dan memohon kebahagiaan padanya.


Dia bagaikan orang yang tidak tahu aturan, semuanya dilakukan tanpa pikir panjang.


Axel selalu berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan, sampai hidupnya hanya akan mengalami kemunduran.


"Aku sangat memahami apapun yang kau katakan. Aku selalu menyimpulkan jika kau sangat butuh kasih sayang. Bukan hanya balas dendam."


Sang wanita sangat berani, membuat guyuran air semakin banyak.


Wanita itu sangat kedinginan.


"Haha, aku tidak suka kau mengatakan semua itu. Kau hanya orang yang tidak tahu apapun," ungkap Axel.


Perasaannya sangat bahagia, meski cintanya tidak ada yang sempurna.


Dia menikahi Friska hanya untuk kebahagiaan yang tidak pasti.


Friska paham akan semua itu.


Hingga cinta yang dia dapatkan tidak akan menjadi satu kesatuan.


"Friska, kau paham aku seperti apa! jika kau banyak bicara, bukan hanya mulutmu yang tertutup, tapi nyawamu juga akan melayang."


"Aku sudah bilang, aku tidak peduli."


Perdebatan berhenti ketika sang mafia mendapatkan panggilan telepon dari orang yang tidak dikenal.


"Siapa kau?"


"Kau lupa?"


"Apa kau sangat penting? bahkan aku harus mengingatnya?"


*****

__ADS_1


__ADS_2