
Dama mencoba untuk tetap biasa saja, tetapi pada akhirnya, akan mendapatkan banyak hal, yaitu sentuhan dari gadis yang sangat pandai mengambil kesempatan.
Sang gadis merangkul Dama tanpa rasa malu.
"Kau baik-baik saja?" ucap Dama dengan sikap tenangnya. Dia masih saja merasa baik-baik saja, sebab sejak dua menit yang lalu, sang gadis hanya menyentuh dada Dama.
Namun, untuk menit selanjutnya, terasa sangat tidak baik-baik saja, sungguh berani gadis yang ada di sampingnya.
"Lepaskan, atau aku akan melakukan hal yang tidak pernah kau duga."
"Wah, aku sangat suka dengan ancaman, bisalah kau ancam aku dengan kasar, aku suka baby."
Dasar gadis itu memang tidak tahu malu, apalagi dalam hal ini, lift sudah terbuka pintunya, dengan rapi, Dama menarik kerah baju sang gadis dan menghempaskannya di depan pintu lift.
Namun, Dama hanya menggoda saja, sebab masih menahan berat tubuh gadis yang sangat berani itu.
"Kau tidak pernah mengetahui seberapa kuatnya aku membuat dirimu tetap berlaku berani padaku, tolong berpikir sebelum bertindak, karena aku sangat menghormati seorang wanita dengan baik. Kau adalah yang terbaik dengan wajah begitu cantik.Kau berterima kasih kepada ibumu yang menurunkan kecantikan padamu, tolong renungkan perkataanku."
"Cih, tahu apa kau soal ibuku? hidupku? jika tidak memahami apapun, tolong diam. Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Tolong jangan banyak bicara!"
Gadis itu sepertinya masih saja berusaha hingga Dama memberikan keinginannya.
Dama meladeni sang gadis sampai tidak berkutik.
__ADS_1
"Kau ingin melakukannya di sini? yang akan rugi adalah dirimu sendiri!"
"Tidak, aku melakukan semua ini demi ibuku, dia sakit."
"Kau butuh uang?"
"Aku tidak mengatakan uang tapi seorang berada di tempat ini dan selalu mengawasiku, jika tidak mendapatkan pria untuk aku kuras hartanya, ibu dan aku akan di penjara."
Sang gadis mengatakannya dengan sangat pelan, raut wajahnya tak lagi menyebalkan, dari sorot matanya begitu sedih dan banyak beban.
Dama yang sebenarnya tidak mengenal gadis itu, karena hanya sekedar bertemu di dalam lift, mencoba untuk berbicara dari hati kehati.
"Aku sedang ada urusan, kau bawa kartu namaku, aku pasti akan memberikan bantuan padamu."
"Apa maumu?"
"Uang."
"Kan, aku sudah mengatakannya jika kau sangat membutuhkan uang, bawa kartu ini, kau bisa mengambil uang sesukamu. Nanti kita kan bertemu, tolong percaya."
Sang gadis tidak pernah menyangka ada pria sebaik Dama, namun tujuannya hanya untuk menguras dompet orang kaya. Dama korban pertama. Dalam hal ini, Dama hanya mampu melakukan ini.
Sang gadis tanpa basa-basi langsung pergi dengan uang Dama.
__ADS_1
Dama masa bodoh, sebab ia telah memberikannya. Mau berapapun uangnya, dia bahkan tidak bisa menghitung. Uang Willy terlalu banyak dengan bisnis yang melimpah.
"Bodoh," ucap Dama sambil berjalan santai menuju ruangan tempat Jekey berada.
.
.
.
Ruangan tunggu VVIP ...
Dama mendapati seorang suster dan langsung di persilakan masuk ke dalam ruang tunggu.
Saat membuka pintu, dia melihat Friska, Riana dan Jekey sedang menunggu kedatangannya.
"Paman Dama? kapan kau datang?" tanya Jekey dengan perasaan yang sangat luar biasa senang. Dama adalah salah satu paman idamannya, selain Willy, Dama juga sangat menyayangi dan memanjakan anak itu.
"Iya sayang, paman sangat merindukanmu."
Keduanya saling berpelukan, dua wanita lain merasa sangat senang karena selain dengan mereka, masih ada yang bisa di berikan tanggung jawab menjaga Jekey.
*****
__ADS_1