
Sang suami meninggalkannya di taman itu, Riana merasa senang dengan ajakan suaminya, hanya saja masih tidak percaya 100%.
Rasanya seperti mimpi, cinta ini sangatlah tidak mudah ditebak. Kebahagiaan yang terjadi, harus melewati banyak rintangan.
"Huft, Willy serius atau tidak ya? dia sering berbohong dengan semua kata-kata yang diucapkan."
Riana masih tidak percaya, lalu daddy mertua datang.
"Kau sedang memikirkan apa, nak?"
"Daddy?"
"Ya, aku melihatmu terdiam dari tadi."
"Aku sedang memikirkan satu hal, tentang Aarav. Apa dia menjadi orang yang aneh setelah ketahuan berbohong?"
"Memangnya ada apa dengannya?"
"Dia memang aneh sejak dulu, ya begitulah. Suami kadang sulit dimengerti. Benar kata mommy Laras."
Alex menatap tajam ke arah Netta, ia seperti meminta penjelasan kepada menantunya mengenai kata-kata yang telah terucap.
Utamanya adalah tentang Laras, ya ada nama Laras disebut. Ini membuat seorang Alex menjadi tidak karuan.
"Haha ... aku selalu salah tingkah ketika mengingat nama istriku. Apa yang dia katakan?" tanya Alex.
Dia juga ingin mengetahui apa kata sang istri ketika mengobrol dengan Netta.
"Mommy hanya mengatakan jika para suami kadang tidak mengetahui bagaimana cara mencintai dan menyayangi. Mereka akan merasa baik-baik saja ketika istri diam, tetapi sangat tidak senang ketika istri banyak bicara."
"Hahaha ... apa yang dikatakan oleh mommy mertuamu memang sangat benar. Jadi dengarkan saja."
"Baiklah, aku diam agar para wanita memahami."
"Haha ... Daddy kadang sangat aneh, tapi aku senang. Terima kasih daddy, aku merasa jika mencari suami sepertimu sangatlah sulit."
Alex sangat malu mendapatkan pujian ini, dia seperti anak kecil.
Netta teringat akan Aarav yang dulu begitu manis, membuatnya menjadi sedih lagi.
"Kenapa kau harus murung lagi? harusnya kan senang?"
"Iya, aku teringat akan suamiku. Dia sudah berubah, tapi ingin menanam benih."
Sang mertua mendengar apa yang dikatakan oleh anak menantu dan memberikan saran.
"Pakai baju warna merah, dia suka. Soal Friska dan Darion, biarkan aku yang mengurusnya."
Alex memberikan angin segar untuk kedua orang yang akan memulai sesuatu yang baru.
"Hm, aku tidak mengetahui apa yang benar dan salah. Daddy, apa ini benar?" tanya Netta.
Cintanya memang sangat besar, tapi tidak semudah itu. Ini pertama kalinya berada di atas ranjang dengan suaminya sudah pergi meninggalkannya karena harus menjalani hukuman penjara.
"Menurutku sah-sah saja, dia kan suamimu. Kau wajib menuruti apa yang Aarav inginkan, sebelum esok hari yang penuh dengan tantangan."
"Haha, daddy bisa saja."
"Bisa dong. Pergilah, lakukan apa yang ingin kau lakukan, aku berharap kau bisa memberikan yang terbaik untuk suamimu."
"Ya daddy."
Alex mendapatkan panggilan telepon. Dia segera menjawab panggilan itu.
"Bagaimana Richie?"
"Dia ada di luar kota, Axel sedang menuju ke markas kita. Tetaplah bersama anakmu, Lex."
"Siap, aku akan berjaga di sini."
__ADS_1
Perkiraan Alex, benar adanya, Axel akan membuat gebrakan baru. Sang musuh mampu membaca taktiknya.
"Ya, kau jaga anak dan menantumu. Mereka akan memberikan cucu yang banyak nantinya."
"Tutup mulutmu!"
"Haha ... Kau ada lima anak, kenapa mereka tidak boleh memiliki sepuluh anak? He? Dimana kesalahanku? Aku harus berkata apa denganmu? Makan atau minum?"
Richi sangat senang membuat bosnya marah.
"Ya ya ya, terserah apa katamu. Jangan lupa urus Axel, jangan sampai dia menjadi halangan kita."
"Siap!"
Malam hari tiba ...
Semua orang sedang berada di depan televisi, markas itu sangat cocok untuk kebersamaan keluarga mafia.
Darion duduk dipangkuan Alex, sedangkan Friska ada dekat Netta.
Dia terlihat sangat gelisah sambil menatap Aarav.
Tatapan Friska yang seolah mengharapkan perhatian Aarav, membuat Netta iseng memanggil suaminya.
"Rav?" panggil Netta.
"Ya sayang, ada apa?" jawab Aarav.
Pandangan mata Aarav tertuju kepada Netta, tapi Friska merasa sang mantan kekasih menatapnya.
Dia mungkin tidak secara langsung mengatakan bahwa cintanya sangat besar untuk Aarav.
Namun, Netta memahami apa yang ada di hadapannya.
"Tidak ada suamiku, aku merasa lelah, aku ingin beristirahat."
Netta beranjak dari tempat duduknya lalu segera menuju kamar tamu.
"Rav, ada yang ingin aku katakan padamu. Ini sangatlah penting."
"Besok saja ya? Tidak ada kan?"
Aarav sebenarnya tidak enak hati karena harus membuat Friska murung. Alex yang paham akan situasi ini, lalu meminta Friska untuk duduk disampingnya.
"Kau duduk bersamaku. Ada hal yang ingin aku sampaikan juga."
"Baik tuan Alex."
Mau tidak mau, Friska harus mengikuti apa yang dikatakan oleh Alex. Bagaimanapun juga, Alex adalah orang yang sangat disayangi Aarav.
Aarav langsung pergi dari sana, dia sangat senang karena sang daddy paham tentang keinginannya.
.
.
.
Kamar tamu ...
Tok ... tok ... Tok ...
Sang suami mengetuk pintu dan langsung mendapatan sambutan yang luar biasa.
Pintu terbuka. Ada seorang bidadari turun dari langit.
"Kau?"
"Iya, katanya mau ingin ini?"
__ADS_1
Tampilan sang istri beda dari yang lain, sangat cantik dengan lekuk tubuh begitu indah.
"Tentu saja."
Sang suami masuk ke dalam rumah dan menutup rapat kamar tamu.
.
.
.
Satu jam kemudian ...
Di atas ranjang yang sangat luas, Netta merasa malu dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Heh? Kenapa kau menutupi wajahmu dengan selimut?"
"Kau membuatku merasa malu."
"Kenapa? Ada apa?"
Netta masuk ke dalam selimut, lalu disusul oleh suaminya.
"Kau bersembunyi?"
"Hehe."
Netta memeluk Aarav, dia sangat bahagia karena mendapatkan kasih sayang seutuhnya dari seorang suami yang selama ini tidak pernah ada untuknya.
Keadaan sulit, membuat semuanya selalu berada dalam masalah.
"Aku harap kita akan mendapatkan anak setelah ini," kata Netta dengan polosnya.
"Mana ada satu kali main, sudah ada janin? minim 10x."
"Apa?"
"Heh? apa kau merasa hidup ini sangatlah mudah bagimu? Darion ada setelah 20x permainan dengan Friska. Entahlah, aku melakukannya dengan jumlah itu atau lebih."
Kata-kata yang diucapkan oleh Aarav, membuat Netta merasa sangat terluka.
Kembali lagi dengan masa lalu yang tidak bisa terelakkan. Orang ini memang sangat susah untuk mengendalikan kata-kata dan emosinya.
Netta memilih diam, perlahan ia beranjak dari ranjang sambil memungut bajunya yang berserakan dilantai.
"Kau mau kemana sayang?" tanya Aarav.
Netta yang berdiri membelakanginya, terlihat sangat sedih, sampai meneteskan airmatanya.
"Aku mau mandi," jawab Netta dengan mengusap airmatanya.
Dia pergi begitu saja.
Aarav tidak memahami apa yang dipikirkan oleh Netta, dia hanya menjawab pertanyaan dari sang istri. Ya, begitu saja.
Kenapa sang istri menjadi marah? Aneh sekali.
Dua puluh menit kemudian, dia berpikir, sebab sang istri tak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Netta? Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik."
"Sudah mandinya?"
"Belum, sebentar lagi."
"Oke. Aku akan menunggumu."
__ADS_1
Sang suami memang tidak peka, perkataanya sungguh menyakitkan hati sang istri, namun Aarav mana tahu mengenai hal itu?
*****