
Di saat seperti ini, memang yang paling menyedihkan adalah Jekey, dia tidak memiliki apa-apa lagi selain cinta. Axelo terlalu memberikan buruk padanya. Jika tidak demi Friska, mungkin anak itu sudah kabur meninggalkan markas Axel.
Tatapan mata Friska cukup teduh untuk memberikan penjelasan tentang perasaan yang seharusnya di rasakan oleh Jekey, bukan mengenai benci pada ayah kandung, melainkan rasa lain yang harus diberikan seperti memahami keadaan.
"Sayang, kau tidak boleh seperti itu dengan daddy Axel. Dia sudah banyak masalah, jangan membuatnya semakin pusing. Apalagi daddy Willy dan kakek Vandro sedang dalam perawatan. Kita tidak boleh berpikir buruk tentang siapapun. Okey Je? Kau paham kan?" ucap Friska memberikan semuanya kepada Je, agar tidak terlalu memikirkan sifat jelek Axel. Friska juga tidak memahami dimana pria itu berada sekarang karena sejak mendapatkan tindakan kekerasannya, dia sendiri lebih memilih untuk menjauh dan selalu berpikir positif.
Namun untuk Axel sepertinya tidak demikian. Pria itu masih keras kepala. Terbukti dengan tindakannya yang selalu melawan arus.
Diam-diam pria itu datang ke rumah sakit, lalu menyamar sebagai seorang perawat. Dia ingin mencelakai dua orang itu, Willy dan Vandro tanpa berpikir panjang.
Pada intinya, semua hal yang bisa dilakukan untuk menghancurkan musuh, akan dia lakukan, tapi semuanya tidak mudah sebab anggota geng Vandro pasti memberikan pemantauan, Axel yang tidak bisa mendapatkan keinginannya lalu kabur.
Namun belum ada kapoknya untuk menjadikan semua rencananya nyata.
Di depan gerbang rumah sakit, Axel sedang menunggu Jekey keluar dan akan membawanya pergi.
"Aku sudah menunggu anakku, jika dia tidak mau kembali padaku, setidaknya Je mau aku ajak pergi. Aku sayang padanya. Friska terlalu bodoh untuk menjadi istri kedua dari Willy. Padahal sudah jelas, jika semua ini hanya permainan. Dasar tidak punya akal!"
__ADS_1
Axel membuang puntung rokoknya, rasanya ingin sekali membuat Friska menyadari satu hal dan berada dalam dekapannya lagi.
"Hey, pria bodoh?" teriak pria tua secara tiba-tiba, membuat Axel menoleh.
"Siapa kau beraninya mengatakan itu padaku?" jawab Axel geram.
Dia mendekat kepada orang yang sudah tidak muda itu dan mengajak berkelahi, Axel yang tidak siap, langsung jatuh tersungkur karena tidak mampu mengimbangi pukulan pria tua di depannya.
"Kau boleh juga."
"Cih, dia adalah keluargaku juga. Apa pedulimu?"
"Aku adalah adik dari ayah Riana, meski tidak kandung, tapi kekuatan kami cukup diperhitungkan. Jangan main-main atau kau akan tiada ditanganku."
"Aku tidak takut."
Axel masih merasa sombong meski sudah diberi peringatan.
__ADS_1
Baku hantam kembali terjadi dengan sangat keras, jika tidak segera di selesaikan pasti Axel masih tidak mau mengalah, kini giliran pamannya Riana kembali beraksi.
"Sia*!"
Axel mendapatkan bekas luka di lengannya, terlihat tetesan warna merah itu jatuh ke tanah, semakin mencekam keadaanya.
"Kau sangat jeli, tapi lebih kuat aku daripada kau!"
Axel akan memberikan perlawanan tanpa akhir, sebab pada akhirnya Axel memastikan dirinya akan menjadi pemenang.
"Kau pria yang cukup tangguh, tapi sayangnya, aku yang akan menang."
Satu pukulan berhasil membuat takluk seorang Axel. Pria itu terkapar tak berdaya, lalu paman Riana pergi dari tempat itu dengan mengabaikan Axel agar di temukan oleh orang di sekitar rumah sakit itu.
"Kau akan mendapatkan ganjaranmu karena telah membuat keponakanku menderita," batin pak tua itu dengan senyum lebar penuh kemenangan.
*****
__ADS_1