Ayahku CEO Keren

Ayahku CEO Keren
Bab 46


__ADS_3

Di dalam prakteknya memang Josh lebih unggul dalam memberikan cinta kepada gadis bernama Ralia itu.


Ralia yang semakin licik ketika bertemu dengan Josh, akan terus memanfaatkan apa yang ada dihadapannya.


Josh menjadi pusat perhatiannya untuk beberapa waktu ke depan karena hanya dia yang bisa membuat hidup seorang Ralia berubah.


.


.


.


Satu jam berlalu ...


Panggilan telepon usai, Ralia menutup rapat telinganya dengan membiarkan dirinya merasa senang. Sudah sekian lama tidak ada hal penting yang ia rasakan.


Kini pertemuan dengan Willy, akan merubah hidupnya.


Di dalam rumahnya, Ralia hanya tinggal sendirian. Dia tidak memiliki teman selain Romi dan sang istri.


Hingga pada akhirnya, Ralia memilih untuk mandiri yang menandakan jika dia sudah dewasa.


"Aku akan menghubungi paman Willy, dia pasti belum tidur. Biasanya dia selalu begadang. Apalagi istrinya sedang hamil, aku yakin jika dia akan memberikan yang terbaik untuk anaknya itu."


Ralia dengan jiwa tidak tahu malunya, terus melakukan hal yang akan menjadikan harga dirinya hancur.


Namun, dia masa bodoh.


Ralia melakukan panggilan telepon terhadap Willy, lalu yang menjawab adalah istrinya.


Ralia dengan percaya diri mencari sosok Willy, tapi tidak diberikan izin oleh Rania.


"Maaf nona, sebenarnya waktu yang tepat untuk menelpon adalah sampai jam 08.00 malam. Kini waktu sudah pukul 00.00, tolong kau biasakan untuk bersikap sopan."


"Ya, aku juga sudah sopan. Jangan lupa katakan kepada suamimu untuk meneleponku besok pagi. Katakan aku adalah koleganya."


"Ya."


Ralia sangat dongkol, seharusnya ia bisa mendapatkan pembicaraan yang lebih berkualitas. Namun, kenyataannya tidak demikian.


Sang gadis tidak beruntung kali ini.

__ADS_1


Namun, dia akan terus berusaha dengan keras. Bukan berarti dia tak akan bisa memberikan semua cintanya, tapi harus ada trik sebelum cinta itu terlihat jelas.


.


.


.


Pagi harinya ...


Di meja makan, sangat sibuk sebab ayah dan ibu ada di rumah. Sedangkan Jekey akan masuk sekolah untuk pertama kalinya. Dia baru pindah dan memutuskan untuk menetap di rumah kakeknya bersama Willy dan Rania.


"Mommy! aku ingin sarapan. Lama sekali kau biarkan aku nasi goreng!" teriak Jekey yang kini sedang memeluk tubuh Rania.


Sedangkan mommy satunya sedang sibuk memasak.


"Kau ini tidak tahu terima kasih! mana bisa seperti ini? kau akan memberikan cinta pada mommy Rania, sedangkan aku? hiks jahat sekali. Kau bisa lihat dia seperti apa ibu?" ucap Friska merasa diabaikan karena selama ini tidak mendapatkan kasih sayang yang diberikan oleh Jekey kepada Rania.


Sungguh perasaannya sangat sakit.


Nyonya Vandro, meminta Friska untuk duduk, karena dia tahu Friska merasa sedih akibat cinta Jekey yang terbagi.


"Ini adalah masakan nenek, bukan makanan mommy."


Tatapan mata nyonya Vandro langsung memicing ke arah si bocah tukang protes, Jekey.


"Iya, aku paham."


Jawaban Jekey membuat orang-orang disana merasa lucu dan gemoy.


Meski ingin marah, nyatanya Jekey selalu membuat kehidupan keluarga itu bahagia.


Di waktu yang sangat bagus ini, Riana melihat suaminya belum juga keluar dari kamar.


"Dimana Daddy?"


"Ada di kamar, dia sedang ada urusan katanya."


"Oh oke, aku berharap Daddy bisa ikut makan dengan kita."


Riana hanya terdiam, sambil terus tersenyum palsu.

__ADS_1


.


.


.


Riana sama sekali tidak ingin memikirkan hal yang buruk mengenai suaminya, sebab seorang Willy tidak akan membuat hal buruk terjadi kembali.


Namun, suara gadis yang tadi malam melakukan panggilan telepon, sungguh menganggu kehidupannya.


"Mommy? Kau melamun?" ucap Jekey merasa ada yang aneh dengan mommy. Mata indah mommy keduanya, sangat tidak baik-baik saja. Perasaan ini seperti kesedihan yang tidak berujung.


"Aku? Aku kenapa? tidak ada yang salah denganku, nak."


Riana mencoba dengan keras untuk tetap menjadi diri sendiri karena pada dasarnya, sang putra akan lebih memahami apa deritanya.


Riana mengembangkan senyumnya. Rasanya tidak ingin terus menerus membuat hidupnya selalu baik-baik saja, tetapi sulit.


"Mommy seperti ingin menangis," ujar sang putra dengan kecurigaan penuh rasa cemas.


Dia merasa sang mommy harus kuat dalam menghadapi persoalan apapun mengenai hidup. Jika masih lemah, bagaimana bisa bertahan untuk adik bayi nanti?


Apa yang ada dipikiran seorang Jekey memang sudah benar adanya. Semuanya harus benar-benar murni, bukan hal yang tidak ada resikonya.


Menjadi seorang ibu juga resiko yang sangat besar sebab segala sesuatunya harus di pertanggungjawabkan.


Saat hatinya begitu gundah, rasanya ingin membantu untuk menyembuhkan.


Hingga pada akhirnya, pria yang selalu menjadi andalan untuk di salahkan, hadir dengan wajah yang sesuai dengan perkiraan.


Dalam arti bahwa dia tidak bisa memberikan sepenuhnya rasa cinta kepada Riana.


"Sayang? kau sedang sibuk dengan ponselmu? tolong letakkan dulu gadget milikmu. Kita makan dengan tenang tanpa ponsel. Setuju semua?"


Orang disana bengong karena tidak mengetahui arah pembicaraan dari seorang Riana.


Jekey langsung membuat alasan jika apa yang disampaikan mommy Riana adalah satu hal yang benar.


"Mommy mengatakan hal yang sebenarnya. Jika tidak menggunakan ponsel selama beberapa jam saja kita pasti tidak mati. Benerkan? tolong deh semuanya pasti paham," pinta Jekey yang sebenarnya tidak muluk-muluk.


*****

__ADS_1


__ADS_2