
Di depan pintu kamar Friska ...
Willy masih menunggu di sana, dia merasa bertanggung jawab atas semua hal yang akan terjadi dengan mantan kekasihnya itu. Jika semuanya menjadi baik, pasti dia akan mengikutinya.
Hingga seorang anak buah datang dan mengatakan jika istrinya telah datang.
"Bos, kau akan kedatangan seorang wanita yang sangat cantik. Dia adalah istrimu."
"Benarkah? dia dimana?"
"Ada di depan markas."
"Bersama siapa dia?"
"Bos Alex, Darion."
"Tidak ada orang lain?"
"Ada, tetapi mereka tidak mau masuk ke dalam."
"Bawa mereka kepadaku."
"Baik bos."
Willy merasa senang dengan semua keadaan ini, dia tidak menyangkan akan dengan mudah bertemu mereka.
.
.
.
DI depan markas ...
Sang anak buah langsung pergi menemui Vandro, Jekey dan Riana.
Ia mengajaknya masuk ke dalam markas.
Namun Vandro tidak mau, dia ingin berjaga di luar.
"Kau urus suamimu, aku akan berjaga di sini."
"Baik bos besar."
"Cih, kau baru ingat aku bos besarmu?"
"Hehe ... Maaf tuan Vandro, aku hanya bercanda."
Riana yang sedang menggendong Jekey, merasa terhibur dengan adanya candaan dari seorang daddy mertua yang sangat cemburu pada ayahnya.
Semuanya telah usai, tapi rasa cemburu masih saja membekas di hati.
Kadang Vandro seperti orang asing yang tidak terlihat sifat baiknya, tetapi lebih baik jika semuanya terlihat.
Kini, Riana merasa daddy mertua sangat lucu, seperti yang pernah dikatakan oleh Serly.
"Mommy baik, apakah kakek Jekey orang yang baik? kenapa dia marah-marah?"
Jekey merasa bahwa sosok Vandro sangat berbeda dari padangan sebelumnya.
Riana memberikan pendapatnya dan berusaha membuat Jekey mengerti dengan bahasa yang ia sampaikan.
"Kakek baik, dia adalah kakekmu. Jangan berkata demikian."
__ADS_1
"Daddy Axel mengatakan jika ada orang jahat bernama Vandro Albraham. Daddy lain juga, namanya Willy. Daddy Axel bilang seperti itu."
Jekey sudah di cuci otaknya oleh Axel, membuat Riana tidak sabar bertemu Willy.
"Daddy, aku masuk dulu."
"Ya, masuklah."
Setelah mendapatkan izin dari daddy mertua, kedua orang itu masuk ke dalam markas.
Perlahan tapi pasti, keduanya telah berada di bagian dalam markas, dia ingin bertemu Willy.
"Dimana suamiku?" tanya Riana tidak sabaran.
Dia sangat rindu suaminya.
"Ada di depan kamar nyonya Friska. Ikut aku nyonya."
Riana mengikuti apa yang sudah dikatakan oleh sang anak buah.
Hingga ia mendapati sang suami sedang berdiri di depan sebuah kamar.
"Suamiku?"
Riana sangat antusias mendapati sang suami masih hidup dan baik-baik saja, Jekey tidak kalah senangnya.
Sang putra Willy turun dari gendongan Riana,
Jekey berlari ke arah Willy.
"Daddy! Selamatkan aku dan mommy. Aku tidak mau berpisah dari kalian berdua. Tolong aku!" ucap Jekey yang sangat senang bertemu dengan daddy kandungnya.
"Pasti, aku akan melakukannya. Kalian berdua adalah tanggung jawabku. Tidak perlu merasa menjadi beban bagiku," jawab Willy.
Dia mengendong sang putra, rasanya sangat bahagia mendapati putra tercinta ada di dekapannya.
"Riana, kau dalam keadaan baik?" tanya Willy yang terus menatap sang istri.
"Kalau daddy tahu, mommy baik sangat kehilangan daddy. Mommy baik menangis tiada henti."
Kata-kata Jekey membuat Riana malu, dia yang merasa aneh, tapi Jekey justru mengatakan hal ini kepada Willy.
Riana berharap setelah ini akan mendapatkan kebahagiaan, karena Jekey dan Willy sudah bersama.
Untuk apa ada dia, Riana terlalu berpikiran sempit.
Padahal selama ini, dia selalu menjadi orang yang tidak pernah mengeluh, ini yang pertama bagi Riana.
Riana berusaha keras tidak memperlihatkan rasa kecewanya. Jika terlihat pun pasti akan mengatakan sesuatu yang berbeda, ia ingin menyembunyikan dari suaminya.
"Kau marah padaku? kenapa tiba-tiba menangis dan sekarang diam saja? aku meminta maaf padamu karena semuanya begitu menyesakkan dada. Cinta yang selama ini kau berikan padaku, sudah lebih dari cukup. Kau akan tetap menjadi istriku."
Willy memperlihatkan kedudukan Riana di dalam hatinya, tidak ada lagi kekhawatiran, itulah yang coba di sampaikan oleh Willy agar istrinya tidak terlalu cemas tentang posisinya.
"Tidak, dimana Friska? bolehkah aku menemuinya?" pinta Riana.
"Oke, dia ada di dalam."
Jekey sangat antusias ketika daddy Willy membuka pintu kamar Friska.
Klek!
Pintu telah terbuka, kini terlihat jelas keberadaan Friska yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.
__ADS_1
"Dia tidur, haruskah aku membangunkannya?" cetus Willy.
"Tidak, aku ingin duduk di sampingnya."
Riana menempatkan diri di samping Friska, ia duduk di sisi ranjang.
Jekey, meminta turun dari gendongan dan langsung naik ke atas ranjang.
Seketika mengejutkan Friska. Wanita itu membuka mata karena merasa ada yang membuatnya bangun.
"Mommy!" teriak Jekey.
"Jekey?" jawab Friska.
Keduanya saling memeluk erat, rasanya tidak ada gunanya melakukan semua ini, meskipun Riana ada di sana, tidak akan mungkin mengizinkannya tinggal bersama Jekey.
"Kau bernama Riana itu kan?" ucap Friska.
Ia merasa familiar dengan wajah Riana, sebab teringat akan pertemuan di mall itu.
"Iya, ada apa ya? aku sayang padamu dan anakmu, kita akan bersama dalam satu atap."
Perkataan Riana sungguh membuat Willy terkejut.
"Riana? apa yang kau katakan?" batin Willy.
Willy ingin semuanya baik-baik saja tetapi tidak seperti ini caranya.
Riana dan Friska, tidak akan bisa hidup bersama.
"Riana? kau mengatakan hal yang sebenarnya? apakah aku boleh hidup bersama kalian?" ungkap Friska mencoba untuk meminta kepastian.
Sepertinya dia tidak merasa jika Riana benar-benar serius mengatakannya.
"Ya, aku serius mengatakannya, kau boleh bersama kami. Semua hal yang ada di dalam kehidupan ini, tidaklah abadi, kau hanya orang yang berada di dalam masalah. Bukan beban bagiku dan juga Willy."
Riana berusaha keras untuk menerima semua ini, cinta yang begitu besar untuk Willy, tidak serta merta membuat keadaan kembali seperti semula.
Kenyataanya Willy telah berbuat hal yang tidak baik, lalu membuat seorang Friska dalam masalah.
Jekey bukti nyata bahwa kehidupan Willy, tidak seperti dulu lagi.
Ia telah menjadi seorang ayah untuk Jekey.
Willy memberikan kode agar istrinya diam, tapi Riana masih ingin menyampaikan beberapa hal.
"Kau akan mendapatkan hakmu menjadi istri Willy!"
Deg!
Riana begitu berani, Willy merasa jantungnya berhenti berdetak.
Bagaimana bisa Riana menyampaikan hal seperti ini?
"Riana, aku tidak bisa menerima semua perkataanmu."
"Kenapa tidak? kau harus bertanggung jawab."
"Ya, aku akan bertanggung jawab, tetapi menikahi istri orang lain, apakah baik?"
"Dia adalah ibu dari anakmu, perlakuan Friska dengan baik."
Riana hanya berpesan itu saja.
__ADS_1
Riana harus memutuskan, bagaimana dia membuat semuanya menjadi baik-baik saja disaat gempuran Axel yang akan menjadikan banyak masalah.
****