Ayahku CEO Keren

Ayahku CEO Keren
Bab 6 - Egoisme semata!


__ADS_3

Kamar Friska, rumah Axel ...


Sang wanita terlihat menangis di pojokan, dia meratapi nasibnya yang sangat malang.


Axel tidak merasa iba sama sekali.


Dia lebih senang melihat Friska tersiksa.


"Kau sudah bangun?" tanya Axel.


Dia sudah berada di sana beberapa menit yang lalu.


"Aku, tidak butuh perhatianmu!" teriak Friska merasa kesal.


Sang wanita sangat ingin mengamuk, tetapi dia tak bisa melakukan apapun.


"Kau akan tetap bahagia dengan perhatianku, jangan pernah melawanku, okay?"


Si pria sama sekali tidak suka dengan kebaikan Axel, meski akan diberikan cinta dan kasih, sebab Axel telah memiliki sifat buruk selama beberapa tahun.


"Aarav memperlakukan ku dengan sangat baik. Kau adalah pria yang tidak masuk akal! pergi dari sini dan berikan anakku!"


Sang wanita masih tidak mau mengalahkan ada yang merasa bahwa kehidupannya sudah bebas tetapi terkekang kembali karena egoisme Axel.


Axel ingin sekali membalas dendam dan melibatkan dua orang itu, Friska tidak mau lagi bekerja sama tetapi terus dipaksa hingga menjadi seperti ini.


"Kau ingin menjadi pahlawan atau memanggang semua kata-kataku?"


Axel sangat kesal dengan apapun yang dilakukan oleh wanita yang sangat ia cintai itu tetapi justru tidak pernah berterima kasih kepadanya.


Dia bahkan menyiram air es seluruh tubuh sang wanita.


Kamar itu menjadi terasa lebih dingin karena AC dan air es.


Hingga langkahn kaki mungil Darion, membuat keduanya menoleh.


"Daddy, kenapa mommyku sakit lagi?"


Jekey tidak tahu apapun dan harus mengalami semua kejadian ini.


"Nak, mommy tidak apa-apa. Kau tidurlah di dalam kamarmu."


Sang mommy terus melindungi anaknya dan itu sangat menyebalkan.


Darion ketakutan karena mommynya dalam masalah besar, dia hanya anak kecil dan tidak bisa melakukan apapun.


Axel meminta anak buahnya untuk membawa Darion pergi, ini bukan tontonan anak kecil.


Keduanya saling bertatapan, Axel dan Friska tak sedikitpun berkedip.


"Kenapa kau melakukan hal buruk kepada anakku!"

__ADS_1


"Dia anak kita!"


"Bukan, dia anaknya Willy."


Friska terus membuat sang suami marah, hingga Friska harus mendapatkan imbalannya.


Dia pingsan, Axel harus segera mempercepat rencana memancin Vandro datang padanya.


.


.


.


Axel keluar dari kamar Friska, dia meminta para anakku untuk berkumpul dan berdiskusi mengenai bagaimana cara untuk membiarkan Alex berada di kawasannya dan tidak membahayakan semua orang.


Axel berdiskusi di ruangan khusus.


"Kau bisa membawanya kemari?" tanya sang bos.


"Bisa, aku akan menggunakan anak itu untuk memancingnya kemari!" jawab anak buah.


Sang bos sangat mengagumi ide cemerlang dari anak buahnya dan langsung memberikan perintahnya.


Dia meminta anak buah itu untuk segera membawa Jekey keluar lalu meminta Vandro datang ke taman hiburan, sebab selama ini mereka sudah meneror terus mafia itu dengan begitu terencana.


"Siapkan semuanya, aku tidak mau banyak halangan yang akan terjadi!"


Axel sangat berharap kepada semua anak buahnya dan tidak ada keteledoran meskipun Vandro adalah orang yang tidak mudah dikalahkan.


Sang anak buah, segera bergegas masuk ke dalam kamar Jekey, mereka berdua membawa anak itu dengan berhati-hati karena tidak ingin mendapatkan penolakan dan terjadi kemarahan yang tidak diinginkan.


Axel, terlihat sangat bahagia dan akan mendapatkan kemenangan yang tidak terhingga setelah sang mafia legendaris bisa terpancing masuk ke dalam markas.


Anak buah mencoba membujuk Jekey agar mau pergi bersama mereka, tapi tidak semudah itu karena anak kecil seperti Jekey, memiliki ingatan dan daya tangkap yang lebih kuat daripada mereka berdua.


Anak buah telah berada di depan sang bos kecil, dia meminta berbicara sebentar dan tidak mendapatkan respon yang bagus.


Anak buah itu berjongkok, dia mengulurkan tangannya kepada Jekey.


"Kau baik-baik saja tuan kecil?" tanya sang anak buah .


"Aku baik-baik saja, tidak perlu terlalu baik padaku. Kau harusnya hajar aku saja seperti yang daddy lakukan kepada mommy," pinta Jekey.


Dia menolak uluran tangan sang anak buah, dia percaya diri sekali meskipun masih anak kecil.


"Cih! aku tidak baik, aku hanya ingin membantumu berdiri. Jika kau mati di sini saja aku tidak perduli sama sekali."


Sang anak buah, menarik uluran tangannya, dia melipatkan kedua tangannya di dada.


Anak buah itu, melihat seberapa sombong Jekey, anak kecil yang sok kuat.

__ADS_1


"Nak, paman tidak akan menyakitimu selagi kau mengikuti apa yang paman inginkan."


Anggota Axel itu, tidak kehilangan akal karena dia akan memberikan banyak mainan tetapi sama sekali ditolak mentah-mentah.


"Kau adalah orang jahat dan mommy selalu mendapatkan hal yang buruk! aku tidak suka dengan kalian semua yang jahat kepadaku dan mommy."


Tanpa pikir panjang, sang anak buah memberikan ancaman yang cukup menyedihkan.


"Kau akan memberikan tangis yang dalam kepada mommy, kau masih anak kecil tetapi pemikiranmu sungguh dewasa. Kau akan bertemu dengan kakekmu, dia akan menyelamatkanmu. Kau tidak perlu di sini lagi bersama mommy."


Sang anak buah, sedang memberikan dokter yang cukup mengena di dalam hati.


Jekey hanya ingin mamanya saja.


"Ya, aku tidak tahu dengan keinginanmu, tetapi marilah bekerja sama dengan paman! ibumu aku baik-baik saja dan kau pasti selamat!"


Jekey terlihat berpikir keras dan dia mencoba untuk menerima saran dari taman yang sangat jahat itu.


Sang bocah, mau mengikuti apapun yang dikatakan oleh anak buah daddy Axel, tetapi harus bisa menyelamatkan mommynya.


Keduanya berjanji hal yang sama dan begitu mudahnya mendapatkan kepercayaan.


.


.


.


Di dalam mobil ...


Jekey mendapatkan banyak mainan dan diperlukan seperti anak raja, tetapi dia sama sekali belum menginginkan semua ini kecuali ada mommy tercinta.


"Paman, apakah aku akan segera berpisah dengan mommy?" tanya Jekey dengan suara kecil yang sangat manis.


Tatapan matanya begitu polos jangan suci sehingga tak mampu membohongi semua orang.


"Iya, kau tenang saja, tidak perlu memikirkan hal yang terlalu buruk, cinta mommy Friska akan tetap untukmu, selalu seperti itu dan berada dalam genggamanmu. Kau tenang saja."


"Oke. Baiklah."


Sang pria, mencoba untuk memberikan sugesti yang cukup masuk akal karena anak kecil ini begitu cerdas.


Sepanjang perjalanan menuju taman hiburan, sang anak buah sudah berhasil Vandro datang kepada mereka di taman hiburan.


"Kita sudah melakukannya," ucap anak buah 1.


Dia yang menyetir dan mengendalikan semua pesan yang masuk kepada mereka.


Ponsel menjadi satu-satunya alat komunikasi antara dirinya, tuan Axel dan menjebak Vandro.


Banyak hal yang terjadi, semua dendam ini karena sebuah salah paham yang seharusnya tidak terjadi.

__ADS_1


Axel, terlalu mementingkan egoisme sendiri dan tidak melihat bagaimana dia juga begitu kejam di masa itu.


*****


__ADS_2