
Willy merasa curiga dengan apa yang disembunyikan oleh Daddy Vandro. Ketika kopi itu begitu enak saat di minum, Vandro hanya mengatakan bahwa kopi itu enak hanya saja tidak harum sama sekali.
"Daddy, apakah kehidupan daddy dulu sangat sulit?" ucap Willy.
Dia masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Vandro di masa lalu.
Vandro tidak akan mengatakan apapun tetapi Willy adalah anak pertama, ini begitu sulit baginya.
"Will, Daddy tidak akan mengatakan apapun kepadamu. Aku tidak sanggup untuk memberitahukan segala peristiwa yang ada di masa lalu, karena pada dasarnya hanya darah dan air matanya akan kau dengarkan."
Vandro sengaja tidak mengatakannya, sebab selama ini apa yang sudah disembunyikan tidak akan pernah dibuka lagi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Aku adalah bagian kalian, sangat mudah bagiku untuk memberikan yang terbaik kepada Daddy sebagai bos yang sebenarnya."
Willy tidak tahu apa yang sedang ia katakan, tetapi rasa penasarannya sungguh menyiksa.
Ia memaksa Vandro untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Sehingga, sang Daddy tidak memiliki kesempatan lain untuk mengabaikan apa yang disampaikan oleh putranya.
"Willy, kita duduk di ruang tamu saja. Cerita ini sangat panjang dan aku akan menyingkatnya."
"Oke."
Willy dan sang Daddy, duduk di ruang tamu.
Di sana ia dan Willy memulai menceritakan perjalanan di masa lalunya.
.
.
.
"Nak, aku bukanlah orang yang baik. Kami merupakan sekelompok orang yang selalu menghabisi banyak orang. Kami tidak pernah merasakan apa yang dinamakan rasa cinta. Aku dan Laras, bertemu di dalam sebuah konflik yang sangat berat sehingga pada akhirnya memang Tuhan menjodohkan kami berdua. Setelah pernikahan juga sama sekali tidak mudah. Semuanya tidak perlu diceritakan dengan detail, aku merasa akan semuanya menjadi rahasia."
Vandro mengatakan itu, tidak kurang dan tidak lebih.
Semuanya memang sangat rumit baginya.
"Daddy, apakah kau percaya padaku?" tanya Willy.
Sang putra menatap wajah Daddy Vandro dengan penuh kedewasaan. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah dewasa dan tidak perlu menyembunyikan apapun darinya.
Mungkin, sejak beberapa tahun lalu, Willy hanyalah seorang bayi mungil yang tidak bisa apapun.
Namun, Willy sudah menjadi pria dewasa dengan istri dan anak, meski anak itu bukan dari Riana, sudah bisa dibilang putra tercinta sudah menjadi ayah serta suami.
"Willy, Daddy sangat senang karena kau banyak melakukan perubahan yang nyata. Aku tidak pernah merasa bahwa kau memiliki satu cinta yang tidak bagus, hanya saja cintamu itu terlalu dibagikan kepada banyak orang sehingga sulit untuk diterjemahkan."
"Haha ... Daddy, aku adalah contoh paling sempurna dari seorang pria. Wajahku sangat tampan, sedangkan tubuhku juga kekar seperti daddy. Semua gadis menempel kepadaku seperti perangko jadi bukan salahku ya?" ujar Willy yang merasa hidupnya begitu beruntung.
__ADS_1
Daddy Vandro tertawa dan mengusap kepala sang anak dengan lembut.
Semakin lama, sifatnya yang begitu menonjol, terlihat jelas dihadapannya.
Hanya saja, Vandro bukan pemain wanita seperti Willy
.
"Daddy, aku sangat menyayangimu."
"Sama aku juga."
Saat dua orang yang sangat gembira dengan perkembangan hubungan diantara ayah dan anak, Riana yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan, mencoba menahan diri untuk berjalan menuju dapur.
Dia memahami, perasaan Willy yang ingin dekat dengan daddy Vandro.
"Aku tidka mau mengganggu daddy dan Willy. Meski aku sangat rindu dengannya," batin Riana?.
Dia sengaja keluar dari kamar karena merasa bosan, Friska dan Jekey sedang tidur. Dia merasa tidak ada yang bisa dikerjakan, lalu ingin membuat minuman.
Eh ternyata ada dua orang itu sedang berbincang.
Riana memilih untuk menyingkir, dia berjalan ke arah belakang rumah. Di sana Riana menemukan pemandangan indah.
Banyak jenis bunga, sebuah rasa cinta yang sangat indah, serta semua kebahagiaan di dadanya.
Riana duduk diantara bunga dan kupu-kupu, bayangannya berlari jauh ke ujung mimpinya, sebuah mimpi tentang seorang bayi untuk Willy.
"Kalau saja aku bisa mengandung anak Willy."
Keinginan memiliki benih cinta dari seorang suami, sangat besar di dadanya.
Namun, rasanya sesak ketika tahu kenyataan yang sebenarnya.
Cinta ini sangat sulit untuk bersama, hingga suara sang suami menggema di telinganya.
Sang suami datang dari arah belakang, dengan menutup mata Riana menggunakan kedua tangannya.
"Riana, kau tahu aku siapa?"
"Tentu saja tahu, kau adalah suamiku."
Willy merasa gagal karena sang istri tahu jika sang suami memang sangat genit.
Lalu begitu pandai menutupi segala permasalahan, sebuah kejutan yang ada, coba Riana tafsirkan sebagai penghiburan semata.
Berbeda dengan seorang Willy yang simple dan berpikir praktis.
"Yah, kau tahu saja jika ini adalah aku. Hm, selama ini aku belajar untuk membuatmu terkejut."
"Kau sangat mengejutkanku dengan hubungan diluar nikah antara kau bersama Friska. Sungguh, aku terluka, tetapi tidak akan membuat semuanya menjadi lebih sulit. Nikahi saja dia, kita masih bersama."
__ADS_1
Riana tetap akan seperti ini sampai kapanpun, perasaan cintanya sudah terlalu besar, penantian Riana juga tidak terkendali. Rasanya sangat berbeda dari sebelumnya, perasaan ini begitu luar biasa.
Dalam pandangan Riana, seorang Willy benar-benar sudah kapok.
Akan tetapi semuanya hanya harapan semu.
"Maafkan aku."
Willy bersimpuh di hadapan sang istri.
"Maafkan aku sayang. Selama ini, aku tidak pernah berbuat baik kepadamu. Maaf," ujar Willy.
Sang suami meminta ampun kepada istrinya dengan sepenuh hati, terlihat jelas rasa bersalah dari balik wajah Willy.
"Kau bangkitlah, jaga Friska dan anakmu."
Riana akan beranjak dari tempat duduknya, lalu segera di tahan oleh suaminya.
"Kau duduk dulu, selesaikan urusan kita sayang."
"Urusan apa lagi? Rasanya kita tidak punya urusan lagi."
"Kau masih mencintaiku?"
Riana merasa sesak, dia sudah mencoba ikhlas. Akan tetapi entah mengapa semuanya sungguh sulit baginya.
Willy memeluk tubuh Riana dari belakang, Riana tetap akan pergi.
"Kau tidak perlu merasa sendirian, aku selalu ada untukmu."
"Jaga Friska dan Jekey, mereka berdua membutuhkanmu."
"Aku mau menjaga mereka bersama denganmu. Kau pahamkan tentang semua hal yang tidak bisa kita raih. Sudah lebih dari dua tahun kita bersama, berikan aku waktu untuk menanam bibit di rahimmu."
Willy memang sudah nekat, dia sangat jelas mengatakannya.
"Apa kau tidak waras?"
"Memang aku tidak waras. Malam ini, aku tunggu di kamar tamu."
Willy melepaskan pelukan itu, untuk pertama kalinya sang suami mengajak Riana melakukan hubungan cinta yang selama ini dinantikan.
Malam yang indah untuk menambah keturunan.
Riana merasa malu, sebab disaat genting ini, masih saja berpikiran untuk melakukannya.
Willy lebih pandai dari sebelumnya, sang suami hanya banyak bicara.
Sang suami pergi dari sana dengan senyum manisnya.
Riana malah deg-degan. Rasanya seperti terbang ke atas awan, Riana sudah mendapatkan penghiburan untuk semua cintanya.
__ADS_1
Seorang suami yang mencoba menjadi lebih baik, dia akan memberikan kesempatan kepada Willy
*****