
Dua jam berlalu, pertumpahan darah yang hanya menyisakan luka di hati dan tubuh tiap manusia.
Willy yang juga terluka, tapi masih bisa membuat panggilan telepon kepada Riana, membuat anak buah Vandro segera menuju markas Axel.
Ketiga orang itu, kini berada di rumah sakit dengan luka yang cukup parah.
Di ruangan yang tidak bisa dimasuki oleh siapapun selain tenaga kesehatan, Riana dan Riana, merasa sedih. Tiga orang yang mereka sayangi, nyatanya masih belum sadar juga.
"Riana, aku tidak akan bersama dengan Willy, aku akan mendampingi Axel. Kau juga harus tahu jika Jekey, adalah benih milik Axel. Maaf atas semua ini, tapi aku yang lebih paham tentang kebohongan ini," jelas Friska sambil meneteskan air matanya karena merasa tidak bisa berbuat apapun selain memendamnya sendirian.
Riana tidak mempercayai apa yang ada di hadapannya, sebuah kenyataan yang mungkin terasa pahit tapi harus diterima dengan baik.
__ADS_1
"Apa? apa maksud sebenarnya kata-katamu itu? aku sama sekali tidak memahami jika kau memiliki sebuah keluhan tentang identitas Jekey. Kau sudah memahami jika aku menerima dirimu sebagai calon istri kedua dari suamiku, jangan terlalu banyak memikirkan orang lain karena kau sendiri juga harus bahagia!" ungkap Riana semakin membuat hati Friska terenyuh dan memeluk Riana.
Di dalam pelukan wanita itu, Riska memberikan sebuah bukti yang valid yaitu identitas serta tes DNA yang akan Ia berikan kepada Willy setelah Axel berhasil dikalahkan.
Friska merasa sangat bodoh karena tidak pernah mengatakan semua ini kepada siapapun, dia juga takut karena bagian dari rencana Axel.
Setelah melihat bukti yang sebenarnya, Riana shock dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Friska berbicara kepada dirinya sendiri yang seakan-akan membawa beban kesalahan yang tidak terkira.
Nyatanya, semua kekecewaan yang dialami oleh Riana, tidak akan dilampiaskan dengan umpatan ataupun perkataan jahat.
__ADS_1
Riana cukup memahami kesulitan dari orang yang pernah bersama dengan suaminya itu.
"Jika aku merasa membenci seseorang pasti aku akan mengatakan tetapi benci yang aku rasakan bukanlah seburuk itu, kau masih memiliki hati karena mau membesarkan anak yang mungkin bagimu sebuah beban. Aku sangat memahami perasaanmu dan merawat serta menjaga anak dengan tekanan yang cukup berat, aku tidak bisa melakukannya, tapi kau mampu berada di titik itu sampai sekarang. Tetaplah, menjadi Friska yang seperti ini! aku adalah Riana dan selalu bersamamu sampai kapanpun untuk menjaga Jekey!" jawab Riana.
Jawaban yang sangat luar biasa, begitu dewasa dan sangat menyentuh membuat hati Friska terluka karena dia rasa menyakiti semua orang terutama Riana.
Dia menangis tanpa henti dipelukan Riana, hingga seorang tenaga kesehatan memberikan informasi jika 3 orang itu akan segera keluar setelah menjalani operasi.
"Kalian anggota keluarga mereka?" tanya seorang dokter yang menangani tiga pasien yang merupakan anggota keluarga dari Riana dan Friska.
"Iya dok, apakah mereka akan segera keluar? apakah mereka akan sembuh dengan cepat?" Riana begitu berharap jika suami dan dua orang lainnya baik-baik saja, namun, dokter tak bisa berkata hal lain, dia hanya bisa memberikan harapan jika semuanya tergantung doa dan kehendak Tuhan.
__ADS_1
*****