Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 22: Gratis


__ADS_3

Pesanan mereka berdua pun datang, "ini pesanannya kak." Meletakannya diatas meja, dan kembali ke dapur.


Alina pun langsung meminum kopinya, "oh ya, setelah lulus nanti. Kau akan lanjut ke mana?" tanya Alina, kembali melipat kedua tangannya.


"Kebetulan aku akan lanjut ke Universitas East Anglia. Kau di mana." Jawab Kevin sekaligus bertanya.


"Wah, kebetulan aku juga akan masuk di Universitas itu. Katanya di sana bagus banget. Ya walaupun masih banyak bagus. Tapi kalau aku dengar dengar, di sana memiliki banyak wacana dan hal hal lainnya yang menarik deh." Jawab Alina kembali tersenyum.


"Jadi, nanti kita bisa bertemu lagi deh. Jangan jangan ini yang dinamakan jodoh lagi." Ikut tersenyum Kevin.


"Jangan campurkan urusan percintaan dengan pendidikan. Aku tidak suka itu." Dingin Alina, sambil menyantap makanannya.


"Dia tidak bisa diajak bercanda. Lain kali, aku akan serius dengannya." Ucap batin Kevin, ikut memakan makanannya juga.


Akhirnya merekapun selesai makan. Dan Alina memanggil pelayan yang ada. "Mbak," panggilnya.


Pelayan pun datang, "ada yang bisa dibantu kak?" tanya pelayan tersebut.


"Berapa pesanan saya mbak?" tanya balik Alina.


"Totalnya 100 ribu saja kak," jawab pelayan kembali, sambil tersenyum.


"Eh, tidak usah. Biar aku saja yang membayarnya. Hari ini, biar aku yang traktir dirimu." Ucap Kevin, sambil memberikan kartu ATM miliknya, untuk membayar pesanan yang sudah mereka pesan.


"Terima kasih banyak," jawab Alina sedikit tersenyum.


"Baik kak. Kalau begitu, ditunggu sebentar ya kak." Membungkukkan badannya, dan menuju kasir.


Setelah semuanya beres. Mereka berdua keluar dari restoran. "Apa mau ke tempat lain lagi?" tanya Kevin, sambil mengenakan helmnya.


"Tidak perlu. Aku lelah hari ini, dan ingin istirahat." Jawab Alina yang ikut mengenakan helmnya, dan mereka berdua langsung naik ke atas motor, dan berangkat.


Alina kembali merangkul pinggang Kevin, dan mereka meninggalkan restoran tersebut. Di perjalanan. Di perjalanan. "Di mana rumahmu Felisa?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Turunkan saja depan gang itu. Berhenti di situ saja." Jawab Alina sambil menunjuknya.


"Okey," menuju depan gang tersebut.


Sesampainya. Alina langsung turun dari motor Kevin, dan membuka helmnya. "Terima kasih banyak, karena sudah mentraktirku makan, dan sudah mengantarkanku pulang." Mengembalikan helm tersebut, dan tersenyum.


"Sama sama. Kalau begitu, sampai jumpa besok." Mengambil helmnya, dan melambaikan tangannya kepada Alina.


Kevin pun langsung pergi dari gang. Dan Alina menghela nafasnya. "Malas banget berpura pura baik, dan harus terus tersenyum. Memuakkan." Ucap batin Alina, ke sisi jalan.


"Aku berbohong kepadanya. Padahal itu bukan gang jalanku. Mau saja dia kena tipu." Memberhentikan taxi, dan langsung masuk ke dalam.


"Pak, menuju jalan ini ya pak," menunjukkan lokasinya.


"Baik pak," tersenyum sang supir, dan berangkat menuju rumah Alina.


Saat di perjalanan. Tiba tiba saja ponsel Alina berdering, dan ia mengambilnya dari tasnya, lalu melihat, siapa yang menghubunginya.


"Halo juga Felisa. Ehm, kau ada di mana?" tanyanya.


"Ehm, aku lagi di rumah. Ada apa memangnya." Jawab Alina sekaligus bertanya.


"Bukan apa apa sih. Aku ingin mengajakmu bertemu nanti malam di rumahku. Kita kan harus mempelajari drama kita, yang akan ditampilkan beberapa hari lagi. Bagaimana." Jawab Niko dengan nada bahagia.


"Baiklah. Kirimkan alamatmu, dan aku akan ke sana nanti malam." Jawab Alina langsung mematikan ponselnya.


Disisi lain. Niko bahagia, "yes, akhirnya aku bisa mengajak Felisa. Jadi kita imbang Kevin." Bahagia Niko, sambil memeluk ponselnya.


"Benar benar memuakkan. Mereka pikir, aku akan terhayut didalam rayuan mereka yang memuakkan itu. Benar benar menjijikkan." Membalikkan bola matanya sebentar, dan kembali semula.


Sesampainya. Alina pun langsung turun, dan membayarnya. Setelah itu, Alina masuk ke dalam gang, dan masuk ke dalam rumahnya.


Alina pun berbaring di sofa, sambil menghela nafas panjang. "Lelah banget aku hari ini. Memang sedikit enak sih, karena dibayarin makanan gratis. Ya rasakan mereka sendiri. Aku akan meminta yang lebih banyak dari mereka, dan akan menghabiskan uang mereka semua. Hahahah, kau lihat saja pembalasanku nanti." Tersenyum miring, dan menyalakan televisi.

__ADS_1


Tiba tiba saja muncul berita, "diberitahukan kepada semua orang. Bagi siapa yang menemukan kriminal ini. Tolong hubungi kami secepatnya. Karena baru saja terjadi penculikan wanita, yang telah kami temukan, di sebuah selokan, dan sudah tidak bernyawa."


"Diduga korban memainkannya terlebih dahulu, dan karena korban sedikit melawan. Pelaku kesal, dan langsung menghabisi wanita tersebut. Tidak begitu saja, seluruh tubuh wanita tersebut, dipotong menjadi beberapa bagian. Dan sekarang, kami sedang mencarinya." Ujar sang reporter.


Alina mematikan ponselnya, dan menatap ke atas. "Gila banget tuh pria. Dia kan pria yang akan kami tangkap, dan bunuh. Heheheh, ini menjadi misi yang hebat nih. Jadi gak sabar saya." Kembali tersenyum, dan kembali duduk.


Alina mengambil rokok yang ada di meja, dan mengambil korek juga. Alina pun mematiknya, lalu menghisapnya.


"Rencana apa lagi yang akan aku lakukan. Karena sekarang, aku harus fokus membalaskan dendamku kepada Clara dan keluarganya itu. Dan dengan begitu, aku akan mengeluarkan ibu secepatnya, dan hak rumah itu, menjadi milik ibu seutuhnya." Memikirkan caranya.


Malam pun tiba. Dimana Alina sudah bersiap siap menuju rumah Niko. Setelah bersiap siap. Alina pun keluar dari rumahnya, dan sudah memesan taxi.


Taxi nya pun datang, dan Alina langsung masuk ke dalam, dan ia memberitahukan lokasi rumah Niko.


Sesampainya di rumah Niko. Alina pun langsung turun dari mobil, dan sudah ada Niko yang menunggunya di luar rumah.


"Kau sudah menunggu lama di sini?" tanya Alina menghampirinya, dan berdiri dihadapannya.


"Tidak kok. Hanya barusan saja. Kalau begitu, mari masuk." Jawab Niko terus tersenyum, dan mereka berdua langsung masuk ke dalam.


Saat di dalam rumah. Ternyata di dalam rumah Niko benar benar mewah. "Wah, mewah banget rumah mu." Puji Alina, sambil melihat sekeliling rumah Niko.


"Terima kasih banyak. Ini bukan apa apa kok. Kalau begitu, duduk dulu. Biar aku buatkan minuman dulu." Jawab Niko langsung ke dapur.


Alina pun duduk di sofa, dan kembali melihat sekitarnya. "Bagus juga rumahnya. Sebanding dengan rumah bos Gray. Tapi kayaan bos Gray dong. Hahahah." Tertawa tipis, sambil menyilangkan kakinya.


Niko pun datang, sambil membawa dua jus jeruk." Ini minuman untukmu." Langsung meletakannya di atas meja, dan duduk disamping Alina.


"Omong omong, kenapa rumahmu sangat sepi?" tanya Alina kembali.


"Ayah dan ibuku sedang bulan madu di Spanyol, dan pembantu di rumah kami pulang kampung. Karena ada keluarganya yang sakit. Jadi aku sendirian di sini. Tapi aku bisa menjaga rumah ini dengan baik." Jawab Niko kembali tersenyum, sambil meminum jus jeruk.


"Oh ya

__ADS_1


__ADS_2