Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 54: Buah dan Kue


__ADS_3

Alina berdiri di hadapan pintu gudang tersebut, sambil melipat kedua tangannya. "Nikmatilah tidurmu bersama tikus-tikus lucu sayang." Tersenyum miring, dan bergegas pergi dari tempat tersebut.


Keesokan paginya. Di mana Alina sudah bangun, dan hendak bersiap-siap ke sekolah. Namun, tiba-tiba saja ponselnya terus berbunyi.


"Siapa sih pagi-pagi sudah menggangguku." Langsung mengambil ponselnya, dan yang menghubunginya adalah Kevin.


"Astaga, dia selalu saja menggangguku," mengerutkan keningnya, dan mengangkat telepon tersebut.


"Halo sayang, ada apa menghubungiku sepagi ini?" tanya Alina memainkan akting kembali.


"Halo juga sayang. Apa kamu sudah sampai di sekolah?" tanya balik Kevin.


"Belum, aku masih di rumah. Ada apa memangnya?" jawab Alina sekaligus bertanya.


"Begini, kami sudah menemukan Clara sayang. Ia sudah dilarikan ke rumah sakit. Katanya Clara di sekap di gudang sekolah, dengan begitu banyak tikus yang ada di dalamnya. Kasihan banget tahu dia, mana badannya penuh dengan gigitan tikus. Bagaimana menurut kamu sayang." Jawab Kevin dengan jelas, dan merasa kasihan kepada Clara.


"Hah, Clara sudah di temukan. Siapa yang menemukannya?" tanya Alina sampai melotot.


"Katanya sih pak satpam. Ada barang yang ketinggalan di ruangan guru, dan tidak sengaja lewat gudang. Tiba-tiba saja pak satpam melihat ada suara tikus yang begitu berisik dan ada barang berjatuhan. Jadinya pak satpam mencoba mengeceknya, walaupun pintu itu dikunci pertamanya. Pak satpam bisa juga membukanya, dengan kunci cadangan. Begitulah di temukannya Clara sayang." Jawabnya dengan detail.


"Kasihan banget dia sayang. Kalau begitu, nanti kita jenguk dia ya sayang. Kasihan gak ada teman yang peduli dengannya. Kamu mau menemaniku kan." Ucap Alina sambil duduk, dan menyilangkan kakinya dengan anggun.

__ADS_1


"Boleh sayang. Nanti kita bertemu sepulang sekolah, dan kita membeli makanan untuk Clara. Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah nanti sayang. Love you." Jawab Kevin langsung mematikan telepon tersebut.


"Love you kampret di kau. Jijik gila saya." Jijik Alina, dan hampir muntah dengan aktingnya yang sok manja dan lembut.


"Ini yang aku tunggu. Clara sudah ditemukan, dan semua tipu daya yang aku buat ke keluarganya sudah berjalan dengan baik. Sebentar lagi permainan yang lebih hebat akan dimulai sayang. Kalian tinggal duduk manis saja, dan reporter akan datang ke rumah kalian dengan sendirinya." Ucap Alina tersenyum miring, sambil mengayunkan kakinya.


Sesampainya di sekolah. Alina langsung turun dari mobil, dan bergegas menuju kelasnya. Sesampainya di kelas, Alina pun masuk ke dalam kelas tersebut, dan di dalam sudah ada gengnya yang duduk dikursinya.


"Halo gays," sapa Alina tersenyum, dan langsung duduk disamping Celine.


"Eh Felisa. Kau tahu cerita soal Clara belum?" tanya Celine dengan nada pelan.


"Tahu, katanya Clara sudah di temukan di gudang kan. Dan kakinya dipenuhi dengan luka gigitan tikus kan." Jawab Alina sambil menaikkan alisnya, dan meletakkan tasnya di kursinya.


"Kevin yang memberitahuku tadi," jawab Alina sambil tersenyum.


"Ehm, pantas saja. Pacarnya nih yang ngasih tahu. Hahahah." Tertawa tipis Agnes dan yang lainnya.


"Jadi, apa kita menjenguk si Clara itu ke rumah sakit?" tanya Celine sambil menyilangkan kakinya.


"Tentu saja. Karena dia juga teman kita, jadi kita harus menjenguknya. Walaupun dia ada salah sama kita, tapi kita harus tetap peduli dengannya. Kasihan dia tahu, ini demi aku gays. Kalian mau kan." Jawab Alina sambil memohon kepada gengnya.

__ADS_1


"Ya deh, ini demi kau. Kalau gak ada kau, mungkin kami tidak akan peduli dengannya." Jawab Gista sambil tersenyum tipis.


"Terima kasih banyak gays. Oh ya, aku jadi penasaran siapa yang menculik Clara ya. Kasihan banget dia, sampai kakinya dipenuhi dengan luka gigitan tikus yang kelaparan." Ujar Alina memulai aktingnya.


"Tau tuh. Sudahlah, jangan pentingkan dia. Dia kan sudah dirawat di rumah sakit. Jadi dia sudah baik-baik saja. Mending kita pikirin diri kita sendiri, bagaimana." Ucap Celine tanpa ekspresi, dan tidak senang kalau terus membahas Clara di depan wajahnya.


"Baiklah Celine. Kau juga jangan marah. Aku tidak akan membahasnya lagi." Jawab Alina menenangkannya.


Sore pun tiba. Di mana gengnya sudah berkumpul di gerbang sekolah, bersama Kevin, dan juga dirinya. "Okey gays, karena semuanya sudah mengumpul di sini. Mending kita langsung ke sana. Kalau kalian mau duluan, duluan aja. Soalnya aku dan Kevin mau beli makanan yang mau di bawa ke rumah sakit. Kan gak mungkin kita gak bawa apa-apa ke sana kan." Ucap Alina dengan ekspresi bahagia.


"Kami ikut kau aja deh Felisa. Malas kalau kami duluan yang sampai ke sana. Nanti kami akan membeli makanan untuknya juga. Walaupun terpaksa, tapi ini demi mu juga. Yakan gays." Jawab Celine sambil menaikkan alisnya.


"Benar itu. Yaudahlah, langsung gas aja sekarang." Jawab Agnes dan Gista, dan mereka semua langsung masuk ke dalam mobilnya masing-masing, begitu juga dengan Kevin dan Alina.


Alina memimpin barisan paling depan, dan yang lainnya mengikutinya dari belakang. Di perjalanan, di dalam mobil Alina. "Kasihan banget ya Clara. Hahahah, aku jadi tidak sabar untuk melihat lukanya itu. Itu masih awalan, belum yang lainnya. Kau akan merasakan yang lebih sakit, dari yang kau rasakan awal ini. Lihat saja nanti kau Clara. Kau akan habis ditanganku sendiri." Ucap batin Alina sambil tersenyum tipis.


Setelah beberapa jam. Akhirnya mereka semua sudah sampai di rumah sakit. Mereka cukup lama datang, karena Alina singgah ke toko kue dan buah-buahan.


"Sini, berikan kepadaku kue itu. Kamu pasti lelah membawanya. Biar aku aja yang bawa ya sayang." Ujar Kevin, dan Alina langsung memberikannya kepada Kevin.


"Terima kasih banyak sayang. Kalau begitu, mari kita langsung cari ruangannya gays." Ucap Alina dan mereka semua langsung mengikuti Alina dari belakang, layaknya bodyguard.

__ADS_1


Sampailah mereka di ruang istirahat Clara, setelah bertanya kepada suster yang ada. Saat mereka masuk ke dalam


__ADS_2