
Alina pun menjalankan mobilnya, dan mereka langsung pergi dari restoran tersebut. Di perjalanan, "kita mau ke mana ini Felisa?" tanya Clara, sambil melihat pemandangan malam dari luar jendela mobil.
"Tentu ke tempat yang tenang dan hanya dinikmati oleh beberapa orang saja. Karena, aku ingin membuatmu merasa tenang." Jawab Alina sambil tersenyum tipis.
Sesampainya. Ternyata Alina membawa Clara ke sebuah tepi pantai yang sepi dan sejuk. Mereka berdua langsung turun dari mobil bersamaan, dan duduk di bagasi belakang mobil Alina, karena Alina yang mengajaknya, untuk duduk di belakang bagasi mobil.
Setelah itu, mereka berdua saling memandang bulan yang indah. "Kau tahu Clara. Kalau melihat bulan seperti ini. Aku jadi terbayang ibuku yang sudah tiada." Ucap Alina, sambil tersenyum tipis.
Clara menatapnya dari samping, "kasihan banget ya kamu Felisa. Sabarlah, karena masih ada aku di sini." Menenangkan Alina.
"Bagus sekali aktingmu," ucap batin Alina.
"Kau tahu Clara. Hukuman apa yang cocok, untuk orang yang berani menyiksa seseorang, dan mengurungnya di ruang bawah tanah?" tanya Alina, sambil menatap wajah Clara.
Sontak Clara kaget, dengan ucapan Alina. "Maksudmu apa?" tanya Clara sambil menaikkan alisnya.
"Maksudku. Hukuman apa yang cocok, untuk orang yang menyembunyikan seseorang dan menyiksanya di ruang bawah tanah?" tanya balik Alina.
"Tentu hukuman mati dong. Kalau seperti itu, aku akan langsung membunuhnya saja. Beraninya dia menyiksa orang di bawah tanah. Itu kan suatu tindakan yang tidak baik." Jawab Clara dengan tegas.
"Apa kau pernah melakukan hal itu?" tanya Alina kembali, sambil menaikkan alisnya.
"Apa yang kau maksud sih Felisa. Jangan aneh aneh begitu deh!" tegas Clara.
"Hahahah, maafkan aku. Mungkin ini karena aku merindukan ibuku. Maafkan aku." Meminta maaf, sambil tertawa tipis.
"Tidak apa apa. Dan maafkan aku juga, karena tadi aku tegas kepadamu." Meminta maaf Clara juga kepada Alina.
Alina pun mengambil minuman hangat, yang ada di belakangnya, yang sudah ia buat sebelum menjemput Clara.
Alina pun memasukkan minuman tersebut ke dalam cangkir, dan memasukkan sesuatu, saat Clara sedang fokus menatap langit.
Setelah itu, Alina langsung mengaduk minuman hangat tersebut, dan menyembunyikan sesuatu yang ia masukkan ke dalam kopi hangat untuk Clara.
"Minumlah minuman ini. Biar tidak masuk angin," langsung memberikannya kepada Clara.
"Terima kasih banyak Felisa," mengambilnya, dan langsung meminumnya dengan perlahan lahan.
__ADS_1
Alina pun juga ikut meminum kopi yang tidak ia masukkan apapun. Dan setelah meminumnya, Alina kembali menatap langit malam dengan indah.
"Omong omong, bagaimana keadaan ayahmu dan ibumu?" tanya Alina memulai topik pembicaraan.
"Keadaan ayahku dan ibuku kurang baik. Karena ayahku sering pulang kemalaman. Dan ibuku jadi sering marah-marah kepada ayahku. Aku kadang pusing mendengarnya setiap hari. Aku muak dengan mereka berdua. Kau tahu itu kan." Jawab Clara jadi curhat.
"Sabarlah Clara. Namanya juga orang tua. Mereka mempunyai kepentingan masing-masing. Sama seperti kita ini." Ucap Alina menenangkannya balik, sambil mengelus pundaknya.
Clara kembali menatap wajah Alina, "terima kasih Felisa. Kau memang sahabat yang paling baik bagiku." Ikut tersenyum Clara, sambil meminum kopi kembali.
"Sama sama. Kita ini kan sahabat. Jadi sudah seharusnya aku baik kepadamu Clara." Kembali tersenyum.
Setelah menghabiskan kopi bersama. Dan sudah mengobrol bersama. Mereka berdua langsung pulang.
Alina mengantarkan Clara menuju rumahnya. Dan sesampainya di rumah Clara. Clara pun langsung turun dari mobil, dan berterima kasih banyak, kepada Alina.
Alina tersenyum, dan langsung menjalankan mobilnya, untuk pergi dari tempat tersebut.
Di perjalanan, "saat kau bangun nanti. Kau akan melihat wajahmu yang jelek itu. Dan kau akan berteriak sekencang mungkin. Hahahah, dasar wajah jelek." Ucap Alina tertawa puas, dan menginjak gas dengan kencang.
Saat Clara membuka matanya dengan terbuka. Tiba tiba saja Clara berteriak, "tidak!" teriak Clara dengan kencang, dan membuat ayah dan ibunya datang.
"Kamu kenapa sayang. Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya ibunya dengan kencang.
Clara langsung menatap ke arah ibu dan ayahnya. Sontak ayah dan ibunya terkejut, karena melihat wajah Clara yang memiliki banyak bintik-bintik merah di wajahnya.
"Astaga, kenapa dengan wajah kamu sayang?" tanya ibunya langsung menghampiri Clara, dan memegang wajah Clara.
"Gak tahu bu. Tiba tiba saja, saat Clara bangun tidur. Tiba tiba wajah Clara seperti ini. Banyak bintiknya. Gimana cara ngilanginnya bu?" tanya Clara sambil menangis.
"Sudahlah sayang. Nanti ayah beliin kamu penyembuh wajah kamu itu. Aman, ayah kan punya banyak uang. Kalau begitu, kamu cepat mandi, dan lakukan aktivitas yang berguna." Jawab ayahnya dengan tegas, dan langsung turun ke bawah kembali.
Disisi lain. Alina pun sudah sampai di sekolah, dan saat turun dari mobil. Tiba tiba saja, sudah ada Niko dan Kevin, yang sudah bertekuk lutut di hadapan Alina, sambil memegang bunga mawar yang berwarna putih dan merah.
"Felisa. Apa kamu mau menjadi pacarku?" tanya Niko dan Kevin bersamaan.
Alina pun menatap wajah Niko dan Kevin. Alina menghela nafas panjang, sambil mengerutkan keningnya. "Apa sih yang kalian lakukan di sini. Berdirilah." Ucap Alina langsung mendirikan Niko dan Kevin.
__ADS_1
Niko dan Kevin langsung berdiri, dan terus tersenyum kepada Alina. "Aku tidak ingin memutuskan, siapa yang akan menjadi pacarku. aku benar benar bingung tahu. Apa yang kalian maksudkan ini." Ucap Alina dengan tegas, dan semua murid banyak yang melihat ke arah Niko, Kevin, dan Alina.
"Jangan sekarang. Nanti malam, datanglah ke restoran yang aku kirim ke pesan kalian. Disitulah aku akan memutuskan, siapa yang akan menjadi pacarku. Bay." Jawab Alina, dan langsung meninggalkan Niko dan Kevin.
Setelah Alina pergi. Niko dan Kevin saling bertatapan kebencian. Sesampainya di kelas, Alina langsung masuk ke dalam kelas, dan melihat gengnya sudah mengumpul di mejanya.
"Halo sayangku Felisa" ucap semua gengnya, langsung memeluk Felisa.
"Halo juga. Lepaskan, kalian memelukku seperti mau membuatku mati saja." Gertak Alina, dan langsung duduk disamping Gista.
"Ada apa denganmu. Kelihatannya tidak baik baik saja?" tanya Gista, sambil menatap wajah Alina.
"Itu, si Niko dan Kevin. Mereka membuatku pusing. Masa tadi, mereka menunggu di depan sekolah, sambil bertekuk lutut, dan membawa bunga mawar banyak. Tiba tiba saja langsung melamarku. Siapa yang gak kesal coba." Jawab Alina dengan jelas.
"Sabarlah Felisa. Namanya kamu juga cantik. Makanya banyak yang suka dengan kamu." Ucap Celine, sambil tertawa tipis.
Jam istirahat pun tiba. Dimana Alina merencanakan sesuatu, untuk gengnya. Gengnya mengajak Alina untuk makan siang bersama, namun Alina memberi jawaban, kalau ia dipanggil oleh kepala sekolah.
Jadinya gengnya pergi duluan, dan hanya ada Alina di dalam kelas. Alina pun mengeluarkan sebuah air bening dan pewarna merah. Alina pun, langsung meletakkan di sebuah baskom, lalu ia letakkan di atas pintu.
"Dengan begini, mereka duluan yang akan masuk. Aku akan menghubungi mereka, untuk datang ke kelas. Dan aku akan membayar anak anak, untuk mengambil video mereka terkena air merah. Lihat saja, kalian akan viral di sosial media." Ucap Alina tersenyum tipis.
Alina pun memanggil anak laki laki yang lewat di depan kelasnya. Dan memberitahukan apa yang harus mereka kerjakan, dan tentunya dengan bayaran yang mahal.
Anak laki laki tersebut menerimanya, dan bersembunyi dibalik dinding lainnya. Seperti yang dikatakan Alina.
Alina pun mengambil ponselnya, dan menghubungi grup gengnya. Dan dengan sigap, gengnya langsung mengangkatnya.
"Halo Felisa. Ada apa?" tanya Celine."
"Kalian bisa ke kelas gak. Katanya pak guru mencari kalian. Pak guru meminta kalian datang sekarang. Cepatlah." Jawab Alina dengan raut wajah menyuruhnya cepat."
"Baiklah. Kami akan langsung ke kelas. Bay," jawab Celine, dan langsung mematikan ponselnya.
Alina pun keluar menuju adek kelas tersebut, dan ikut bersembunyi bersama mereka semua.
Dan saat mereka masuk
__ADS_1