
"Jadi kau tidak mau datang?" tanya Niko dengan nada kecewa.
"Maaf banget Niko. Lain waktu saja bay," langsung mematikan ponselnya.
Disisi lain, "kenapa Felisa selalu menjauh dariku. Apa dia jijik melihatku. Aku tidak akan membiarkannya. Aku harus mendapatkan Felisa. Bagaimana pun rintangannya." Ucap Niko mengepalkan kedua tangannya.
Kembali ke Alina. Alina pun langsung masuk ke dalam ruang menembak kembali, dan merapikan pistol kembali. Max menatap wajah Alina. "Ada apa denganmu?" tanya Mac sambil menembak.
"Ini, tadi Niko menghubungiku. Dia mengajakku jalan jalan." Jawab Alina.
"Terus. Kau menerimanya?" tanya Max kembali.
"Ogah gila gue. Malas sih menerima ajakan pria seperti itu. Jijik," jijik Alina, sambil memiringkan bibirnya.
"Hahahah. Jangan seperti itu. Hati hati, nanti cinta." Tertawa Max, dan selesai menembak, lalu meletakkan pistolnya di dekat Alina.
Alina pun mengambil pistol bekas Max, dan langsung menembak ke arah sasaran yang ada di depannya. "Jangan sampai deh seperti itu. Aku hanya ingin balas dendam saja. Kan kita sama. Sama sama ingin balas dendam. Maka sebab itu, jangan memikirkan cinta. Karena cinta tidak penting." Jawab Alina dengan raut wajah datar, dan terus menembak ke depan.
"Kau benar benar wanita yang hebat. Hanya ada beberapa wanita yang seperti dirimu di dunia ini." Ucap Max yang kagum dengan Alina, dan ikut membersihkan pistol yang belum dibersihkan.
"Bagaimana dengan Clara. Kapan dia akan sekolah kembali?" tanya Max kembali.
"Paling dia akan sekolah beberapa hari lagi. Kenapa memangnya. Apa karena kau merindukannya. Hahahah." Jawab Alina sambil tertawa tipis kembali.
"Najis gila gue. Jijik gue dengan cewek pick me seperti dia." Ucap Max yang juga jijik.
"Hahaha, kita senasib nih jadinya. Sama sama jijik. Hahaha." Kembali tertawa Alina.
Malam pun tiba. Dimana Alina sudah bersiap siap untuk makan malam dengan Clara. Alina pun menuju lokasi yang sudah diatur oleh Clara.
Sesampainya di restoran. Alina langsung turun dari mobilnya, dan melihat Clara yang sudah menunggu di luar. Clara yang melihatnya Alina pun, langsung melambaikan tangannya, dengan raut wajah bahagia.
__ADS_1
Alina menghampiri Alina, dan duduk dihadapannya. "Maaf membuatmu menunggu lama." Ucap Alina sambil tersenyum, dan meletakkan tasnya di sampingnya.
"Tidak apa apa. Aku juga baru sampai kok," sahut Clara ikut tersenyum juga.
"Omong omong. Bagaimana dengan pentas seninya. Aku lihat dari sosial media sekolah. Pentas seni kalian sangat sukses dan hebat. Kalian seperti pasangan tahu." Puji Clara.
"Pasangan siapa. Maksudmu, aku dan Niko gitu?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
Clara menganggukkan kepalanya, "hahahah. Itu kan hanya bagian dari drama saja. Mana mungkin terlihat seperti pasangan. Kami hanya menjalankan akting dengan baik. Agar pentas seninya sukses." Jawab Alina.
"Oooo. Dan ada satu yang mau aku tanyakan padamu Felisa." Ucap Clara yang langsung ingat.
Pelayan pun datang. Clara dan Alina langsung memesan makanan dan minuman bersamaan. Setelah itu, pelayan pun kembali ke dapur.
"Hal apa yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Alina sedikit penasaran.
"Apa kau berpacaran dengan Max. Si pria culun dulu. Aku dengar rumor, kalau kalian berpacaran?" tanya balik Clara, sambil menaikkan alisnya.
"Aku tahu dari akun sekolah juga. Dan difoto tersebut menunjukkan, bahwa kalian sedang berpelukan hangat. Jadi banyak yang mengira, kalau kalian pacaran. Itu tidak benar kan." Jawab Clara dengan jelas.
"Itu tidak benar. Itu hanya sekedar pelukan sebagai teman saja. Yang mengambil foto itu kurang hajar. Perlu dikasih pelajaran memang tuh orang." Berakting kesal.
"Untunglah kalau itu hanya palsu. Mana mungkin Felisa mau berpacaran dengan pria yang dulunya culun. Benar bukan." Tertawa tipis, dan kembali menaikkan alisnya.
"Kau tahu itu. Mana level aku menyukai orang yang dulunya rendah begitu. Tidak level bagiku." Jawab Alina yang ikut tertawa tipis juga.
Pesanan mereka berdua pun datang, "ini pesanan anda kak." Langsung meletakannya di atas meja.
"Terima kasih," ucap Alina dan Clara bersamaan.
"Sama sama kak. Kalau begitu, saya permisi," kembali menundukkan kepalanya, dan langsung menuju dapur kembali.
__ADS_1
Alina dan Clara langsung memakan makanan mereka masing masing. "Ouh ya Clara. Berarti dua hari lagi kau sudah ke sekolah kan. Kan sudah habis masa DO nya?" tanya Alina, sambil mengunyah makanannya.
"Ya. Dua hari lagi aku akan sekolah, karena aku juga sudah merindukan sekolah." Jawab Clara kembali tersenyum, dan melahap kembali makanannya.
"Saat kau sekolah nanti. Kau akan melihat kejutan yang membuatmu kaget. Aku akan menunggu raut wajah kaget dan kebencianmu itu. Hahaha." Ucap batin Alina tersenyum miring, dan kembali memakan makanannya.
"Dan sebentar lagi, aku akan mengusir kalian dari rumahku. Dan kalian akan menjadi gelandangan, ataupun tidur di penjara. Karena ada hal yang mau aku lakukan untuk dirimu dan keluargamu licikmu itu." Ucap batin Alina kembali, sudah menyusun banyak rencana, untuk balas dendamnya.
Selesai makan malam bersama. Alina pun memanggil pelayan, untuk membayar semua makanan dan minuman yang ia makan, bersama Clara.
"Mbak, berapa semua ini?" tanya Alina, sambil mengeluarkan kartu black card.
Pelayan pun menghitung pesanan mereka berdua, "total semuanya, 500 ribu kak." Jawab pelayan tersebut.
Alina pun memberikannya black card, dan setelah pembayaran selesai. Pelayan langsung mengembalikan kartu Alina.
Alina dan Clara menuju mobil Alina bersama. "Kau tadi pergi di antar supir kah?" tanya Alina, sambil melipat kedua tangannya, dan menyender ke pintu mobilnya.
"Iya. Kenapa memangnya?" jawab Clara sekaligus bertanya.
"Mari pulang bersama. Aku lagi ingin bersamamu. Aku merindukanmu." Jawab Alina sambil tersenyum.
Clara yang terharu dengan ucapan Alina, langsung memeluk Alina dengan erat. "Terima kasih banyak Felisa. Karena kau mau menjadi sahabat yang baik bagiku. Aku benar benar bersyukur, karena mempunyai sahabat sebaik dirimu ini." Menangis Clara, dan Alina menepuk nepuk pundak Clara.
"Dia benar benar sudah masuk ke dalam jebakanku. Habislah kau Clara. Dengan begini, aku akan semakin mudah, untuk mempermainkanmu." Ucap Alina yang tersenyum miring kembali.
Alina pun melepaskan pelukan tersebut, dan mengusap air mata Clara. "Jangan menangis. Atau cantikmu akan pudar. Kalau begitu, mari kita cari angin. Mari naik." Ucap Alina dengan lembut, dan mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil bersamaan.
Alina pun menjalankan mobilnya, dan mereka langsung pergi dari restoran tersebut. Di perjalanan, "kita mau ke mana ini Felisa?" tanya Clara, sambil melihat pemandangan malam dari luar jendela mobil.
"Tentu ke tempat yang tenang dan hanya dinikmati oleh beberapa orang saja. Karena,
__ADS_1