Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 44: Tugas Sekolah


__ADS_3

Hah, hilang. Maksudmu kau menculiknya begitu?" tanya bos Gray kembali.


"Benar banget. Aku menyekapnya di gudang terbengkalai yang ada di sekolah. Dan sekarang ayah dan ibunya sedang mencari keberadaan Clara. Hahahah, menyenangkan bukan. Aku jadi kasihan dengannya. Bagaimana menurut bos Gray tentang hal itu." Jawab Alina sekaligus bertanya.


"Untuk apa kasihan dengannya. Dulu dia tidak pernah mengasihanimu. Jadi jangan baik dengan orang yang pernah jahat kepadamu. Ada kalanya kita menjadi baik, dan ada kalanya kita menjadi jahat, demi kebaikan kita sendiri." Jawab bos Gray sambil melipat kedua tangannya.


"Tentu saja. Kalau begitu, aku mau ke rumahku dulu. Untuk membuat hal-hal yang lebih menarik. Kalau begitu, aku mau ganti baju dulu bos." Ujar Alina langsung masuk ke dalam kamar, dan mengenakan pakaian serba hitam.


Selesai mengganti pakaiannya. Alina pun berpamitan kepada bos Gray, dan ia langsung berangkat menuju rumah nya dulu.


Sesampainya di rumah lamanya. Alina pun keluar dari mobil, dan berdiri di depan pintu. Ia pun membunyikan bel rumah.


Pintu pun terbuka. Dan yang membukakannya adalah ibunya sendiri. Sontak Alina dan ibunya saling bertatapan. "Ibu, aku benar-benar merindukan ibu. Kasihan ibu, ibu jadi terlihat lebih kurus. Pasti dia di siksa di sini. Aku akan mengeluarkan ibu dari neraka ini." Ucap batin Alina, sambil mengepalkan kedua tangannya, dan mengerutkan keningnya.


"Nak, kamu temannya Clara kan. Ada apa ke mari?" tanya Ibunya.


"Ouh, ya bi. Saya mau cari Clara. Apa Clara ada di rumah?" jawab Alina sekaligus bertanya.


"Itu siapa bi?" tanya ibu tirinya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Temannya Clara nyonya," jawab ibu Alina.


"Suruh masuk," perintah ibu tiri Alina.


Alina pun di persilahkan untuk masuk. Dan Alina masuk ke dalam rumah, lalu menghampiri ibu tirinya.


"Salam tante. Saya Felisa, teman Clara tante. Kan tante sudah kenal dengan saya kan." Terpaksa tersenyum.


"Ouh, kamu Felisa. Ya, saya tahu. Duduklah nak," jawab ibu tirinya, dan menyuruh Alina duduk.

__ADS_1


Alina pun duduk, dan terus tersenyum kepada ibu tirinya. "Ouh ya tante. Clara nya di mana ya tante?" tanya Alina berpura-pura tidak tahu.


"Kamu tidak tahu ya. Sebenarnya Clara hilang, dia sudah hilang sejak kemarin. Saat pulang sekolah. Sekarang kami sedang mencarinya, dan kami sudah meminta kepada pihak kepolisian, untuk mencari Clara. Kalau kamu menemukan Clara, langsung hubungi tante ya. Tante benar-benar khawatir dengannya." Jawab ibu tirinya sedih, dan menangis.


"Hahahah, aku suka melihat wajahmu yang seperti ini. Rasanya aku ingin semakin membuatmu menderita." Ucap batin Alina menahan tawanya.


"Kasihan banget Clara ya tante. Saya akan membantu mencari Clara tante. Karena saya adalah sahabat dekat Clara. Saya pasti akan membantu Clara tante. Saya janji." Jawab Alina menenangkan ibu tirinya, dan mengelus kedua tangannya.


"Terima kasih banyak. Kalau kamu mau tinggal di sini dulu gapapa kok. Kan kamu mau mencari keberadaan Clara juga. Mana tahu kamu tidak mau ribet, kan bisa tinggal di rumah tante dulu. Kan kamu sahabat dekat Clara, dan Clara banyak cerita tentang kamu nak." Mengelus tangan Alina juga.


"Sama-sama tante. Dan terima kasih karena sudah mau mengizinkan Felisa di rumah ini. Nanti Felisa akan tinggal di rumah ini. Nanti Felisa kabari tante." Kembali tersenyum Alina.


"Omong-omong tante, apa saya boleh minjam toilet nya sebentar. Saya kebelet buang air kecil tante." Meminta izin.


"Boleh nak. Toiletnya kan sudah tahu. Silahkan," jawab ibu tirinya sambil tersenyum.


Alina hanya beralasan ke toilet, padahal sebenarnya ia masuk ke kamar ibu tirinya.


Di dalam kamar ibu tirinya. Alina mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Alina pun memasukkannya ke lemari pakaian ibu tirinya.


"Dengan begini. Clara akan mengira kalau yang menculiknya adalah ibunya sendiri. Hahahah, ini akan menjadi permainan yang bagus." Tertawa tipis Alina, dan ia langsung keluar dari kamar ibu tirinya dengan hati-hati.


Setelah itu, Alina kembali ke ruang tamu, dan menghampiri ibu tirinya yang sedang meminum teh hangat. "Lega juga akhirnya. Terima kasih banyak ya tante atas toiletnya." Kembali tersenyum Alina, dan duduk di samping ibu tirinya.


"Sama-sama,"


"Oh ya tante. Kalau begitu saya mau pulang dulu ya tante. Saya juga mau mencari Clara juga. Kalau Clara sudah di temukan langsung hubungi Felisa ya tante." Ujar Alina.


"Tentu saja tante akan menghubungi kamu. Kalau begitu, kamu hati-hatilah di jalan." Langsung berdiri, dan melambaikan tangannya kepada Alina.

__ADS_1


Alina pun kembali tersenyum, dan ia langsung keluar dari rumah tersebut. Lalu segera pergi dengan mobilnya.


Di perjalanan, "semua sudah berjalan dengan baik, dan aku tinggal menjalankan misi yang lainnya." Ucap Alina kembali tersenyum.


Malam pun tiba. Di mana Alina sedang mengerjakan tugas sekolahnya, sambil berbaring di atas tempat tidur.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Alina pun mengambil ponselnya yang ada di sampingnya, dan melihat siapa yang menghubunginya. Dan yang menghubunginya adalah Kevin. Alina pun mengangkatnya.


"Halo sayang, ada apa menghubungiku?" tanya Alina kembali memainkan aktingnya.


"Tentunya aku merindukan kamu sayang. Kamu lagi apa?" jawab Kevin sekaligus bertanya.


"Aku lagi mengerjakan tugas sekolah. Kamu gak ada tugas sekolah kah." Jawab Alina sambil tersenyum.


"Aku tidak mempunyai tugas sekolah sayang. Apa kamu mau aku bantu untuk menyelesaikan tugas sekolahnya." Ucap Kevin.


"Tidak perlu sayang. Aku sudah hampir selesai kok sayang." Jawab Alina sambil mengerjakan tugas sekolahnya.


"Omong-omong, apa kamu sudah tahu soal Clara hilang?" tanya Kevin kepada Alina.


"Sudah sayang. Kan beritanya sudah tersebar di mana-mana. Apa kamu mau membantuku untuk mencari Clara. Dia adalah sahabat terbaikku sayang. Boleh?" jawab Alina dan meminta izin kepada Kevin.


"Apa yang gak buat kamu sayangku. Aku akan membantu kamu untuk mencari Clara yang hilang. Kalau begitu, boleh berikan kiss." Jawab Kevin, dan meminta Alina untuk memberikan sebuah kiss.


"Iya sayangku. Umach, tidur yang nyenyak ya, dan jangan begadang. Kalau begitu sampai bertemu besok sayangku. Dah." Memberikan kiss jauh, dan langsung mematikan ponselnya.


Setelah itu. Alina langsung meletakkan ponselnya di samping, dan Alina hampir mual, dengan apa yang ia lakukan barusan. "Apa yang aku lakukan tadi. Benar-benar menjijikkan. Sabarlah Alina, ini hanya sekedar akting saja. Ini semua demi pembalasanmu, agar semua berjalan dengan baik. Aku tidak boleh gegabah, dan jangan sampai ada yang tahu soal identitasku." Ucap Alina.


"Omong-omong, bagaimana dengan Clara sekarang ya. Apa dia kelaparan dan sedang menangis?" bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2