
"Aneh. Kenapa mereka bisa sakit perut, padahal kan yang lainnya tidak sakit perut. Menganehkan." Sedikit curiga Niko dengan Alina.
"Hm, mungkin saja ada kesalahan, atau ada makanan yang salah mereka makan. Kenapa kau malah menatapku. Apa kau menuduhku?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
"Eh, mana mungkin kau melakukan hal itu. Kau kan wanita. Wanita tidak bisa melakukan hal seperti itu, karena mereka hanya fokus dengan pelajaran dan hal-hal wanita." Jawab Niko ikut tersenyum.
"Iya deh, si paling. Kalau begitu, kau pulang duluan saja. Sana." Usir Alina, dan Niko langsung pergi meninggalkan Alina, dengan melambaikan tangannya.
"Kau tidak tahu Niko. Justru wanita bisa melakukan segala hal. Bahkan wanita tidak membutuhkan pria, karena dia bisa melakukan semuanya dengan tangannya sendiri, dan logikanya. Pria hanyalah sampah yang menumpuk dipikiran wanita, dan hanya bisa merusak wanita. Jangan mencoba untuk menghina wanita. Karena kalau wanita sudah memakai logikanya. Ia tidak akan membutuhkan pria, dan bisa melakukan semuanya, dengan logikanya sendiri." Ucap batin Alina tersenyum miring, dan duduk kembali, untuk menunggu temannya yang sedang di toilet.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit. Datanglah gengnya, sambil memegang perutnya masing-masing. Alina yang melihatnya langsung berdiri, dan menghampiri mereka. "Apa kalian masih merasa sakit?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
"Masih sedikit. Kenapa tiba-tiba perutku sakit ya. Padahal aku tidak makan apa-apa deh." Jawab Celine, sambil mengerutkan keningnya.
"Benar itu Celine. Perutku sakit banget, rasanya mau meledak nih perut. Omong-omong, kita kan hanya makan sekali di kantin. Itu saja, dan kenapa kita bisa sakit perut. Apa ada racun di dalam makanan yang kita makan." Bertanya-tanya Agnes.
"Oh ya Felisa. Kenapa kamu tidak merasakan sakit perut. Padahal kamu kan makan bersama kita juga?" tanya Gista kepadanya.
"Terima kasih banyak Felisa. Kau memang sahabat kami yang paling terbaik. Kalau begitu, mari kita langsung masuk ke dalam mobil Alina." Ujar Celine keluar dari kelas dan bergegas turun tangga.
__ADS_1
Merekapun langsung naik ke dalam mobil Alina, dan Alina mulai menyalakan mobil tersebut. Mobil pun berangkat.
Di perjalanan, "ouh ya Felisa. Kami penasaran dengan rumahmu. Di mana sih sebenarnya rumahmu. Kenapa kau terus menutupinya dari kami. Apa yang kau sembunyikan dari kami Felisa?" tanya yang tidak lain lagi Celine.
"Bukan begitu teman-teman. Aku hanya ingin privasi dulu. Karena ayahku tidak memperbolehkan untuk siapapun tahu di mana di rumah kami. Kan kalian tahu, kalau banyak pembunuhan di kota ini. Maka sebab itu, kami hanya privasi saja." Jawab Alina sambil tersenyum tipis.
"Benar juga sih. Yaudah deh, lain kali ajak kami ke rumah mu ya sayang." Ujar Agnes ikut tersenyum dengan yang lainnya.
"Iya deh. Kalau begitu, kita beli obat dulu deh, untuk kalian." Ucap Alina langsung menggas mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Sesampainya di apotik. Mereka bertiga langsung turun dari apotik, dan saat hendak mendekat ke apotik tersebut. Tiba-tiba saja