Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 25: Rindu


__ADS_3

Kevin pun mengikutinya dari samping. "Pantas saja, sampai semua mulutmu belepotan. Walaupun belepotan, kau tetap menggemaskan dan cantik." Puji Kevin kepadanya.


"Terima kasih banyak Kevin. Tapi aku tidak ingin dipuji. Aku memang sudah cantik. Bay." Melambaikan tangannya, dan langsung masuk ke dalam kelasnya.


Di luar kelas, "menggemaskan." Ucap Kevin tersenyum, dan langsung masuk ke dalam kelasnya juga.


Saat Alina masuk ke dalam kelasnya. Tiba tiba saja gengnya langsung memeluk Alina.


"Aduh, sakit tahu," ujar Alina langsung melepaskan pelukan tersebut.


"Kami merindukanmu Felisa," jawab Agnes.


"Iya nih, kami merindukanmu. Jarang jarang kita bertemu lagi nih," ucap Gista, sambil tersenyum.


"Memang kalian merindukanku sih. Tapi kalian mau membunuhku juga dengan pelukan kalian ini." Ucap Alina.


"Yaudah deh, yuk duduk dulu. Ada yang mau kami katakan kepadamu." Ujar Celine, dan mereka langsung duduk berkumpul.


Alina pun melipat kedua tangannya, dan menyilangkan kakinya. "Apa yang ingin kalian katakan?" tanya Alina.


"Kau sudah tahu berita sekolah belum?" tanya balik Gista kepadanya.


"Berita sekolah yang mana. Aku belum ada melihat sosial media hari ini." Jawab Alina sekaligus bertanya.


"Katanya si Clara di DO dari sekolah, gara gara video dan foto yang viral itu. Dan dia tidak bisa melihat pentas seni yang akan di selenggarakan oleh pihak sekolah tahu." Jawab Agnes dengan jelas.


"Apa, di DO. Kasihan banget dia." Kembali memainkan aktingnya.


"Ngapain kau kasihan kepadanya. Dia kan wanita yang murahan dan tidak tahu diri. Dia harus merasakan ******** yang sudah dia perbuat." Marah Gista kepada Felisa.


"Baiklah, baiklah. Omong omong, dimana Niko?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.


"Cieeee," mengejek Felisa, sambil senyum senyum kepadanya.


"Ngapain cari Niko terus. Sudah pasti kalian sedang berpacaran kan. Jawab jujur deh, kami tidak akan memberitahukannya kepada siapapun." Ucap Celine sambil menaikkan alisnya juga.

__ADS_1


"Apaan sih. Aku hanya bertanya saja, kalian malah berpikir yang lain. Hadeh, sudahlah." Menghela nafas panjang.


"Hahahah, habisnya akhir akhir ini kau jadi sering mencari Niko. Jadi kami kira kalian punya hubungan. Kan mana tahu." Ujar Celine kembali.


"Biasalah. Mau bahas soal pentas seni itu, kan kami pemeran utama. Jadinya harus fokus bersama gitu. Bukan karena cinta ya." Jawab Alina.


"Felisa," panggil yang tidak lain lagi ialah Niko.


Sontak mereka langsung membalikkan wajahnya, dan melihat Niko. Niko pun menghampiri Felisa. "Cieeee," ujar gengnya.


"Ada apa Niko?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.


"Apa nanti sore kau punya waktu. Ada yang mau aku katakan padamu?" tanya Niko.


"Bagaimana ya Niko," ujar Alina.


"Sudahlah, terima saja. Iya Niko, dia mau Niko. Sore dia punya banyak waktu tentunya." Ujar Gista.


"Benar itu. Felisa selalu banyak waktu untukmu. Jadi kau tenang saja." Ujar Agnes juga.


"Baiklah, terima kasih banyak" tersenyum tipis Niko, dan duduk dibangkunya.


Sore pun tiba. Dimana Alina baru datang ke restoran seperti biasanya mereka bertemu. Alina pun langsung masuk ke dalam restoran, dan melihat Niko yang sudah duduk di belakang.


Alina pun menghampiri Niko, "maaf membuatmu menunggu. Tadi ada urusan sebentar di sekolah." Ujar Alina langsung duduk dihadapannya.


"Tidak apa apa. Aku juga baru sampai kok. Pesanlah minuman dan makanan dulu." Ucap Niko kepadanya.


"Tidak perlu deh. Kita langsung ke inti saja. Apa yang ingin kau katakan kepadaku?" tanya Alina sambil menyilangkan kakinya.


"Apa aku harus mengungkapkan perasaanku kepada Felisa sekarang. Tapi aku takut dia tidak akan menerimanya." Ucap batin Niko, sambil mengelus kedua tangannya.


"Hei Niko. Kenapa kau melamun. Apa yang mau kau katakan kepadaku?" tanya Alina kepadanya.


"Eh, jadi begini Felisa. Ehm, ehm. Sebentar lagi kan hari natal. Bisakah kau menemaniku untuk membeli barang barang. Barang barang itu akan aku berikan kepada anak yatim piatu. Apa kau mau menemaniku?" tanya Niko.

__ADS_1


"Eh, bukannya hari natal masih lama ya. Kenapa sebentar lagi. Apa benar memang sebentar lagi?" tanya balik Alina.


"Benar. Kau lihat saja nanti. Itu saja sih yang mau katakan, dan ada satu lagi yang mau aku katakan kepadamu. Sebenarnya." Jawab Niko.


Tiba tiba saja ponsel Alina berdering, dan ia langsung mengambilnya dan melihatnya. "Tunggu ya, ada yang menghubungiku." Ujar Alina kepada Niko, dan langsung mengangkat teleponnya.


"Halo, ada apa?" tanya Alina, dan yang menghubunginya adalah bos Gray.


"Kau dimana?" tanya balik bos Gray.


"Aku lagi ada di restoran. Ada apa memangnya?" jawabnya sekaligus bertanya.


"Ouh, baiklah. Jangan lupa untuk nanti malam, dan datanglah sekarang. Ini hal mendesak. Ada yang mau aku tanyakan kepadamu." Jawab bos Gray.


"Oke deh. Ini aku langsung berangkat ke sana." Ujar Alina langsung mematikan ponselnya.


Alina pun kembali meletakkan ponselnya di tasnya, dan langsung berdiri. "Maaf banget ya Niko. Tiba tiba saja ada hal penting yang harus aku urus. Maaf banget ya, aku harus pergi sekarang." Ujar Alina tersenyum dan langsung keluar dari restoran.


"Tung. Lagi lagi aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku ini kepada Felisa. Sial." Kesal sendiri, sambil mengepalkan kedua tangannya.


Disisi lain. Alina langsung pergi menuju rumah bos Gray. Setelah beberapa menit. Ia pun sampai di rumah gedung bos Gray.


Alina pun memasukkan mobilnya di garasi mobil, dan turun dari mobil. Alina pun langsung masuk ke dalam rumah bos Gray.


"Annyeong bos Gray. Apa yang mau bos tanyakan kepadaku?" tanya Alina langsung duduk di sofa, sambil menyilangkan kakinya.


"Bagaimana dengan urusanmu tadi. Apa semua sudah selesai?" tanya balik bos Gray yang sedang membersihkan pistol.


"Itu tidak penting. Hanya bertemu dengan pria yang menghinaku dulu. Aku juga muak dengannya. Hanya menjalankan aktingku saja bos." Jawab Alina sambil memiringkan bibirnya.


"Baguslah. Aku kira tadi penting. Jadi begini, hal mau aku tanyakan kepadamu adalah. Apa kau sudah mengurus semua pembalasanmu kepada keluarga tirimu itu. Aku lihat kau tidak ada perkembangan. Bagaimana?" tanya bos Gray menghampirinya, sambil melipat kedua tangannya.


"Bos Gray tidak tahu apa yang aku rencanakan untuk mereka. Sudah banyak aku rencanakan untuk membalas mereka semua. Hanya saja waktunya belum tepat untuk balas dendam. Karena aku belum mau, kalau identitasku ketahuan. Aku ingin menikmati masa masa nama baruku ini lho bos Gray." Jawab Alina dengan detail.


"Tapi kau harus berpikir. Jangan sampai karena lama kau mengerjakan balas dendam ini. Kau jadi gagal untuk membalas dendammu. Jangan sampai kau membuat nyawa ibumu hilang, karena perlakuan dari keluarga tirimu itu. Bisa saja sekarang

__ADS_1


__ADS_2