
Merekapun langsung berangkat menuju mall. Di perjalanan, "oh ya Felisa. Ada hal yang mau aku tanyakan padamu." Ucap Clara, sambil mengelus kedua tangannya.
"Apa itu?" tanya Alina yang sedang menyetir.
"Bagaimana keadaan Kevin sekarang. Apa dia merindukanku?" tanya Clara malu malu.
"Ouh, Kevin. Dia sangat merindukanmu. Katanya, dia menyesal karena sudah memutuskanmu. Dan dia ingin balikan denganmu." Jawab Alina berbohong.
"Apa benar seperti itu. Aku tidak menyangka, kalau dia masih menyukaiku. Aku kira, karena video itu. Dia akan menjauhiku, ternyata tidak. Aku jadi semakin menyukainya." Ucap Clara, dan pipinya langsung memerah.
"Hahahah, rasakan jebakan itu. Aku akan membuat kalian masuk ke dalam perangkapku." Ucap batin Alina tersenyum tipis.
Sesampai mall. Mereka berdua langsung turun dari mobil, dan masuk ke dalam bersamaan.
Di dalam mall. Betapa bahagianya Clara, karena begitu banyak barang barang, dan pakaian yang begitu cantik, dan tentunya mahal.
"Mari kita membeli pakaian dulu. Mari kita shopping sepuasnya." Ucap Alina, dan mereka langsung masuk ke dalam toko pakaian wanita.
Di dalam toko, "salam nona," menundukkan kepalanya, dan kembali tegap.
"Mau cari pakaian yang seperti apa nona?" tanya salah satu pegawai.
"Saya mau cari pakaian yang cantik, dan cocok untuk style saya ini." Jawab Clara.
"Mari saya tunjukkan nona, pakaian yang cocok untuk anda." Ucap pegawai tersebut.
"Mari Felisa," ajak Clara.
"Kau duluan saja. Aku mau melihat yang lainnya dulu," jawab Alina sambil tersenyum.
Clara pun melambaikan tangannya, dan langsung pergi ke ruang dress, untuk melihat style pakaian, yang cocok untuknya.
Disisi lain. Alina juga melihat pakaian yang cocok untuknya, "mau cari pakaian yang seperti apa nona?" tanya pegawai lainnya kepada Alina.
"Saya mau cari dress yang cocok dengan saya. Adakah yang cocok dengan saya?" jawab Alina sekaligus bertanya.
"Nonanya sangat cantik. Semua pakaian cocok untuk anda nona. Dan kami mempunyai pakaian yang sangat cocok untuk anda, dan kebetulan, dress tersebut, adalah pengeluaran baru, dari toko kami. Mari kami tunjukkan nona." Jawab pegawai tersebut, sambil tersenyum, dan langsung menunjukkan dress yang cocok untuk Alina.
__ADS_1
Alina pun mengikutinya dari belakang, dan pegawai menunjukkan dress yang begitu indah, yang cocok untuknya.
"Silahkan dilihat nona," mempersilahkannya.
Alina pun melihat dress yang begitu cantik, dan harganya juga cantik tentunya. "Wah, warna merah ini begitu indah. Cocok untukku. Dan warna nude ini juga cocok untukku." Tersenyum Alina.
"Kalau begitu, saya mau ambil 5 pakaian ini," perintah Luciana.
"Baik nona. Kalau begitu, anda bisa menunggu di ruang tunggu dulu, selagi saya merapikan dan membungkuskan pakaian anda." Ucap pegawai tersebut, sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah," langsung menuju ruang tunggu, dan duduk di sofa yang ada.
Disisi lain. Clara sedang memilih pakaian yang cocok untuknya. "Ini benar benar cocok untukku. Untung saja aku mempunyai teman seperti Felisa. Dia kaya dan mempunyai banyak harta, yang tidak sebanding denganku. Dia benar benar orang yang kaya." Ucap batin Clara begitu bahagia, dan langsung memilih pakaian yang ada.
Setelah beberapa menit. Clara pun selesai memilih pakaian, dan menghampiri Alina yang sedang menunggu. "Apa kamu sudah memilih pakaianmu juga?" tanya Clara langsung duduk disampingnya.
Sontak Alina langsung menatap wajah Clara, "ouh, sudah kok. Bagaimana denganmu. Apa semuanya sudah siap?" jawab Alina sekaligus bertanya.
"Sudah kok," jawab Clara terus tersenyum kepadanya.
"Ini," membayarnya lewat kartu ATM.
"Baik nona. Mohon ditunggu sebentar," ucap pegawai tersebut, dan Alina langsung mengetik nomor rekening tersebut dan nomor pin, yang sudah diberitahukan oleh bos Gray.
Selesai membayar. Clara dan Alina langsung membawa tas belanjaan mereka, dan keluar dari toko pakaian.
Selesai membeli dress. Mereka langsung masuk ke toko alat make up. Dan di dalam, mereka berdua langsung memilih alat make up yang cocok untuk mereka berdua.
"Pilihlah alat make up yang kau butuhkan Clara. Soal biaya tenang saja. Kan ada aku." Tersenyum Alina.
"Terima kasih banyak Felisa. Kamu memang sahabat yang paling baik." Bahagia Clara, sambil memeluk Alina.
Alina tersenyum miring, "dia sudah masuk ke dalam perangkapku. Berhasil." Ucap batin Alina.
"Sudahlah. Kita ini kan sahabat. Kalau begitu, mari kita pilih alat make up yang cocok untuk kita." Ujar Alina kembali tersenyum, dan mereka langsung memilih alat make up yang mereka inginkan.
"Lipstik ini cocok gak denganku?" tanya Clara, sambil mencoba lipstik tersebut dibibirnya.
__ADS_1
"Cocok. Tapi lebih cocok, kalau kau mengenakannya sedikit merah. Karena itu cocok dengan karakteristik mu sayang." Jawab Alina kembali tersenyum, dan ia juga mencoba lipstik yang cocok untuknya.
"Oke deh. Aku akan mengikuti pilihanmu saja. Karena pilihan sahabatku tidak pernah salah." Kembali bahagia Clara, dah memilih warna lipstik yang sedikit merah. Sesuai yang dikatakan Alina.
Setelah memilih alat make up. Alina pun langsung membayarnya, dan mereka langsung keluar dari toko make up.
"Semuanya sudah beres. Bagaimana kalau kita makan dulu. Dari tadi kita sibuk memilih pakaian dan alat make up. Sampai aku lapar, yuk." Ajak Alina.
"Yaudah, gas kan," jawab Clara yang ikut saja, dan mereka menuju restoran yang ada di dalam mall.
Merekapun menemukan restoran. Dan mereka berdua langsung duduk.
Pelayan pun datang, "mau pesan apa kak?" tanya pelayan tersebut.
Alina dan Clara langsung memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. "Baik kak, ditunggu pesanannya." Menundukkan kepalanya, dan menuju dapur.
"Omong omong, aku dengar dengar. Katanya Max berubah menjadi tampan ya?" tanya Clara, sambil menyilangkan kakinya.
"Kau tahu dari mana?" tanya balik Alina, sambil menaikkan alisnya, sambil melipat kedua tangannya.
"Tahu dari sosial media sekolah. Max benar benar tampan ya." Jawab Clara sambil tersenyum.
"Ck, dasar bodoh. Kau juga yang pernah membully Max. Sampai dia hampir trauma. Aku tidak akan bisa diam, dan kau seenaknya mengatakan hal seperti itu. Seperti tidak bersalah saja. Hewan kotor." Ucap batin Alina menahan emosinya.
"Ehm, memang begitu. Bahkan banyak wanita yang mengejarnya. Setiap orang bisa berubah. Karena tidak selamanya dia seperti itu." Jawab Alina sambil tersenyum palsu.
"Ouh, baguslah. Habisnya aku kaget melihatnya. Dulu kan dia cupu, dan gak tahunya, dia sudah menjadi murid yang paling tampan. Benar benar mengagetkan." Ujar Clara ikut tersenyum, sambil mengayunkan kakinya.
"Hahahah. Tidak perlu kaget, sudah seperti kejutan saja," tertawa tipis Alina, sambil menaikkan alisnya sebelah.
Pesanan merekapun datang, dan langsung meletakannya di atas meja. "Ini pesanan kakaknya." Langsung tersenyum.
"Terima kasih banyak," ucap Clara dan Alina bersamaan.
"Sama sama kak. Saya permisi," kembali menundukkan kepalanya, dan kembali ke dapur.
"Ouh ya Clara
__ADS_1