
Di ruangan menembak. Mereka berdua langsung mengambil pistol yang ada di meja, dan mulai menembak. "Kau tahu soal Clara Max?" tanya Alina sambil menembak ke sasaran yang ada di depannya.
"Gak. Memangnya ada apa dengannya. Aku gak tahu soal berita hari ini, karena aku sibuk belajar, karena sebentar lagi ujian kelulusan?" tanya balik Max, sambil menaikkan alisnya.
"Kau tahu soal Clara. Clara kan sudah ditemukan, katanya dia ditemukan di gudang." Jawab Alina sambil menembak.
"Gudang sekolah kah?" tanya Max kembali, sambil menatap wajah Max.
"Benar, dan sekarang dia dirawat di rumah sakit. Katanya sih, ada sedikit luka parah di bagian kakinya, karena digigiti oleh tikus. Tapi, karena penanganan dokter, paling dia akan pulang secepatnya." Jawab Alina dengan jelas.
"Syukurlah. Lagian, itu bukan urusan yang penting juga bagiku sih. Mau dia bagaimana, aku juga tidak peduli. Karena dialah yang membully ku habis-habisan. Jadi, aku doakan saja dia cepat mati deh." Ucap Max tanpa rasa bersalah mengatakannya.
"Hahahah, kau ini Max. Jangan seperti itu, nanti terkena kau baru tahu rasa. Sudahlah, yang penting dia sudah ditemukan, dan gak menyusahkanku lagi." Sahut Alina.
__ADS_1
"Yaudah deh. Oh ya, omong-omong, bagaimana persiapanmu untuk ujian kelulusan. Apa kau sudah siap?" tanya kembali Max.
"Tentu saja aku sudah siap. Aku ini kan pintar, jadi aku gampang menyelesaikan ujian itu. Aku juga sudah belajar tentunya." Jawab Alina sedikit sombong kepada Max.
"Sombongnya modelannya. Hahaha," tertawa Max.
Malam pun tiba. Di mana Alina bersiap-siap untuk pergi ke rumah Clara, yang berarti tempat tinggalnya dulu. "Aku ke rumah Clara deh. Aku ingin melihat kondisi ibu bagaimana. Pasti ibu terkena batin. Kasihan ibu. Aku harus mengeluarkan ibu dari rumah itu bagaimanapun caranya. Aku akan mengeluarkan ibu malam ini juga." Ucap Alina langsung keluar dari rumah, dan masuk ke dalam mobil bos Gray.
Ia bergegas berangkat menuju tempat tinggalnya dulu. Dan sesampainya di rumah tersebut, setelah membutuhkan banyak waktu. Alina pun turun dari mobil tersebut, dan berdiri di depan pintu. Alina langsung membunyikan bel rumah, dan yang membukakan pintu tersebut adalah ibunya sendiri.
"Eh, ada apa ya nak. Bukannya kamu temannya Clara. Clara lagi tidak di sini, dia masih di rumah sakit, dan tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya bibi saja yang ada di sini. Ada apa memangnya nak." Jawab ibunya dengan bahasa tangan.
Alina langsung memeluk ibunya dengan erat, dan meneteskan air matanya. "Eh, ada apa dengan anak ini. Kenapa kamu menangis. Hei?" bingung ibunya, dan langsung melepaskan pelukan tersebut.
__ADS_1
"Ada apa dengan kamu nak. Kenapa langsung memeluk bibi seperti itu?" tanya ibunya kembali, dengan bahasa tangan, karena ibunya masih belum bisa berbicara, karena trauma yang cukup berat.
"Eh, maafkan saya bi. Oh ya bi, apa kenalin sebenarnya saya sahabat dekat Alina. Alina menitipkan sebuah kata yang harus saya sampaikan kepada bibi hari ini juga." Jawab Alina sambil mengusap air matanya.
"Alina, dia sahabat dekat anak saya. Apa yang sebenarnya dikatakan Alina kepada dirinya. Saya benar-benar merindukannya. Setiap malam saya selalu memikirkannya. Apa yang dia katakan kepada kamu. Tolong katakan semuanya kepada saya." Penasaran ibunya sendiri, sambil memberi bahasa tangan penasaran kepada Alina sendiri.
"Kalau begitu, apa saya boleh berbicara di dalam saja. Takutnya ada orang yang mendengarnya." Jawab Alina izin kepada ibunya yang tidak mengenalinya.
Ibunya langsung memberikan isyarat tangan masuk. Dan mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah tersebut, dan duduk di sofa bersama.
"Jadi begini bi. Alina pernah mengatakan kepada saya, kalau saya harus mencari anda, dan membawa pulang ke rumah saya. Semua masalah yang bibi alami selama ini, Alina sudah menceritakannya kepada saya bi. Jadi bibi tidak perlu ragu lagi kepada saya. Bibi pasti belum tahu soal kabar Alina yang menghilang tanpa jejak. Sebenarnya Alina pergi ke luar negeri, dan ia hanya mengatakan hal ini kepada saya."
"Alina menyuruh saya untuk membawa bibi ke rumah saya, karena Alina menceritakan, kalau bibi menderita di sini. Jadi, saya harus membawa bibi ke rumah saya. Mumpung semua orang tidak ada di sini. Itu adalah hal baik bagi bibi. Dengan begitu, saya bisa mengabari Alina soal bibi yang sudah keluar dari neraka ini. Bibi tidak perlu takut, karena saya benar-benar sahabat Alina. Bibi jangan takut ya bi." Jawab Alina dengan jelas, sambil menggenggam kedua tangan ibunya.
__ADS_1
"Tatapan anak ini benar-benar jujur, dan tulus. Ini adalah pesan dari anakku, dan aku harus mengikutinya. Karena anakku mengatakan, kalau ia akan balas dendam demi diriku. Aku harus keluar dari neraka ini." Ucap batin ibunya.