
Alina pun ke ruang menembak, dan ia mengambil pistol yang diletakkan di atas meja. "Bagus banget nih pistol. Sudah lama juga ternyata aku memakainya. Benar benar hebat. Aku tidak menyangka, karena aku bisa berubah seperti ini. Benar benar hebat." Kembali tersenyum Alina, dan mulai menembak ke target.
Bos Gray pun melihatnya dari belakang, sambil menyender ke dinding. "Akhirnya aku bisa merubahnya menjadi kepribadian yang baik. Aku sudah membayar semua kebaikan nyonya. Tapi ini semua masih belum apa apa. Karena nyonya sudah banyak membantuku dulu. Kini aku yang akan membalaskan kebaikan nya." Ucap batin bos Gray, sambil melipat kedua tangannya.
Keesokan paginya. Dimana Alina baru bangun, dan langsung meregangkan badannya. "Apa aku terlambat." Mengambil ponselnya dan melihat jam.
"Ouh, masih jam 06.00. Lebih baik aku turun deh, mana tahu bos Gray sudah bangun." Mengikat rambutnya, dan langsung turun ke ruang tamu.
Ternyata sudah ada bos Gray yang sedang membaca koran, sambil menghidangkan kopi panas. "Sarapan sudah selesai. Kalau kau lapar, makanlah." Ucap bos Gray yang menyadari ada Alina dibelakangnya.
"Terima kasih banyak bos Gray. Kebetulan aku lapar nih." Tersenyum dan menuju dapur, untuk sarapan.
Di dapur, Alina mengambil sarapan roti dan susu hangat, yang sudah disiapkan oleh bos Gray. Alina pun membawanya menuju ruang tamu. Dan duduk disamping bos Gray, yang sedang membaca koran.
"Bagaimana dengan kegiatan hari ini. Apa yang akan bos lakukan?" tanya Alina, sambil memakan roti selainya.
"Mungkin aku akan melakukan olahraga sebentar. Setelah itu mengurus pekerjaan yang akan kalian lakukan. Karena ini misi yang sedikit mendesak." Jawab bos Gray, sambil membaca koran.
Selesai sarapan. Alina pun bergegas mandi, untuk ke sekolahnya. Dan selesai mandi, lalu mengenakan pakaian sekolah. Alina pun merias dirinya. Setelah itu, Alina kembali menghampiri bos Gray, yang sedang bekerja.
"Halo bos Gray. Apa aku boleh meminjam mobilnya?" tanya Alina sambil tersenyum.
"Kunci motornya ada di garasi belakang rumah. Ambillah yang ingin kau gunakan. Aku tidak mempermasalahkan hal itu." Jawab bos Gray mengizinkannya.
"Terima kasih banyak bos Gray. Aku menyayangimu." Bahagia Alina, dan berjalan menuju garasi belakang rumah.
Sesampainya di garasi belakang rumah bos Gray. Alina pun memencet tombol pembuka pintu, yang ia lihat terletak di sebelah kanannya. Pintu pun terbuka, dan betapa terkejutnya Alina, melihat betapa banyaknya mobil mahal yang berjejeran, dan motor dengan edisi khusus.
"Astaga, apa ini semua kendaraan bos Gray. Gila sih, banyak banget. Mana warnanya bagus semua lagi. Parah sih. Aku jadi bingung mau pilih yang mana." Kebingungan Alina, karena banyak mobil dan motor yang begitu indah dan tentunya mahal.
__ADS_1
Alina pun melihat kunci mobil dan motor yang terletak di atas meja. Sontak Alina menghampirinya, dan mencoba menyalakan kunci mobil tersebut.
"Ini kunci mobil yang mana lagi, dan kunci motor yang mana lagi. Aku bingung jadinya." Mencoba satu persatu, kunci mobil tersebut.
Tiba tiba, saat ia membunyikan kunci mobil yang terakhir. Terdengarlah suara mobil yang begitu indah, dan Alina menghampiri mobil tersebut.
Saat ia menghampirinya. Ia lebih terkejut, karena mobil tersebut benar benar tampan, dengan lampu yang begitu indah, dan menyatu dengan warna mobil yang berwarna biru gelap. Benar benar indah.
"Parah, ini keren banget. Aku pakai yang ini aja deh. Pasti semua murid akan menatapku. Hahahah." Langsung masuk ke dalam mobil, dan mulai menyalakannya.
Alina pun keluar dari garasi, dengan mobil yang paling keren di dalam garasi bos Gray.
Saat di perjalanan. Semua orang menatap ke arah mobil yang di bawa oleh Alina. "Hahahah, semua menatap ke arah mobilku. Mana ada kalian seperti ini." Tertawa puas, dan dengan elegan mengendarai mobil tersebut.
Alina membuka penutup atas mobil tersebut, dan terbukalah atas mobil tersebut. Semua orang terus menatap ke arah mobil yang di kendarai oleh Alina.
"Siapa itu wanita. Dia begitu cantik dengan mobilnya. Dia pasti orang kaya bukan." Puji semua orang yang ada di pinggir jalan.
Alina pun langsung mengangkatnya, "halo, ada apa?" tanya Alina, sambil menaikkan alisnya.
"Kau dimana Felisa. Apa kau sudah berangkat ke sekolah?" tanya balik Niko.
"Aku sudah di jalan nih. Ada apa memangnya." Jawab Alina sekaligus bertanya.
"Ouh, aku kira kau belum berangkat. Aku ini sedang menunggu di gang rumahmu. Kalau begitu, aku pergi dulu deh." Jawab Niko langsung mematikan ponselnya.
"Kasihan banget sih pria itu. Hahahahh." Mengejek.
Sesampai sekolah. Semua murid yang ada menatap ke arah Alina, dan menatap ke mobil Alina juga. "Gila, itu kan Felisa kan. Banyak sekali mobilnya. Dan itu kan mobil dengan harga yang cukup mahal. Benar benar kaya." Puji murid yang ada di luar sekolah.
__ADS_1
Alina pun langsung keluar dari mobilnya dengan elegan, dan menyandang tasnya. Tiba tiba saja semua pria langsung berlari ke arah Alina, dengan membawa hadiah coklat.
"Felisa, aku menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku." Melamar Alina.
"Felisa aku menyukaimu. Aku duluan yang menyukainya. Dan dialah milikku." Ujar yang lainnya.
Alina mengambil hadiah dari pria yang merupakan hadiah coklat panjang." Terima kasih banyak. Kau jadi repot bawa kayak begini." Berterima kasih Alina, dan langsung masuk ke dalam sekolah.
Saat Alina mau masuk ke dalam. Tiba tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Sontak Alina membalikkan badannya, dan ia adalah Kevin.
"Halo Felisa cantik," sapa Kevin, sambil tersenyum.
Alina sedang mengemil coklat besar dari anak laki laki untuknya, sampai Alina tidak sadar, kalau coklatnya belepotan. "Ehm, ada apa?" tanyanya.
"Hahahah, menggemaskan. Bagaimana sih, lihat bibir kamu ini. Belepotan." Membersihkan bibir Alina yang belepotan, dan merekapun saling bertatapan.
Mereka berdua tidak tahu, kalau ada Niko yang melihat mereka dari kejauhan. "Sial, lagi lagi si Kevin yang berhasil meluluhkan hati Felisa. Aku tidak akan membiarkannya." Kesal Niko, sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Awas lah. Aku bisa sendiri. Habisnya coklat ini benar benar enak." Ucap Alina menbersihkan mulutnya sendiri, dan menjauhkan tangan Kevin.
"Sepertinya kau sangat menyukai coklatnya?" tanya Kevin kepadanya.
"Benar, karena waktu kecil. Ayahku sering memberikan coklat kepadaku. Makanya aku jadi suka dengan coklat." Jawab Alina tersenyum, dan berjalan menuju kelasnya.
Kevin pun mengikutinya dari samping. "Pantas saja, sampai semua mulutmu belepotan. Walaupun belepotan, kau tetap menggemaskan dan cantik." Puji Kevin kepadanya.
"Terima kasih banyak Kevin. Tapi aku tidak ingin dipuji. Aku memang sudah cantik. Bay." Melambaikan tangannya, dan langsung masuk ke dalam kelasnya.
Di luar kelas, "menggemaskan." Ucap Kevin tersenyum, dan langsung masuk ke dalam kelasnya juga.
__ADS_1
Saat Alina masuk ke dalam kelasnya. Tiba tiba saja