
"Aku tahu dari Niko. Aku hanya bertanya saja. Omong-omong, apa kau di rumah, atau ada di rumah bos Gray." Jawabnya.
"Aku lagi ada di rumah, karena aku habis pulang dari mencari wanita gila itu. Sebenarnya aku malas banget mencarinya. Tapi ini demi balas dendamku. Jadi aku rela melakukannya." Jawab Alina sambil memiringkan bibirnya.
"Baiklah. Oh ya, apa besok kalian akan mencari Clara lagi?" tanya Max kembali.
"Mungkin saja seperti itu. Ada apa memangnya Max?" jawab Alina sekaligus bertanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mau ikut saja, biar kalian cepat menemukannya." Jawab Max sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Wah, bagus banget itu. Kalau begitu, sampai jumpa besok di taman belakang sekolah selepas pulang. Dah." Ucap Alina langsung mematikan telepon tersebut.
"Lebih baik aku tidur. Aku benar-benar mengantuk sekarang." Langsung masuk ke dalam kamarnya, dan tidur di atas tempat tidur empuknya.
Keesokan paginya. Di mana Alina bangun terlambat, karena ia lelah. "Astaga, mati aku. Ini sudah jam 07.30. Aku sudah terlambat." Ujar Alina langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan mandi cepat-cepat.
Selesai mandi. Ia langsung mengenakan pakaian sekolahnya. Setelah itu, Alina bergegas merias dirinya, dan merapikan rambutnya. Lalu Alina langsung keluar dari rumahnya, dan berangkat dengan mobil.
Sesampainya di sekolah. Alina pun turun dari mobil, dan gerbang sekolah sudah di tutup.
"Sial. Pak, apa saya tidak bisa masuk," tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
"Maaf. Ini sudah aturan dari sekolah, dan kamu harus berbaris di sana. Semua anak-anak terlambat ada di sana. Pergilah." Jawab pak satpam, dan menunjukkannya.
"Baiklah pak," menghela nafas panjang, dan berjalan menuju jalan yang di tunjukkan oleh pak satpam.
Namun, di tengah jalan. Ia melihat ada sebuah tembok pendek, dan Alina berdiri di hadapan tembok tersebut. "Wah, aku bisa naik dari sini. Mending aku naik dari sini aja deh, soalnya aku malas kalau di hukum. Aku ini kan ratu sekolah. Mana mungkin aku berbaris di antara orang yang terlambat. Mending aku lewat dari sini aja deh." Ujar Alina langsung naik ke atas tembok.
"Untung saja bos Gray sudah mengajariku soal begini. Jadinya aku gampang melakukannya." Tersenyum Alina, dan memanjat tembok tersebut dengan lincah.
__ADS_1
Dan sampailah Alina di atas tembok. Alina pun berdiri di atas tembok tersebut, dan tiba-tiba saja Alina tergelincir. "Argh," teriak Alina jatuh, dan tiba-tiba saja ada yang menolongnya. Ia adalah Niko.
Sontak Alina menatap wajah Niko, dan Niko juga menatap wajahnya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Niko langsung menurunkan Alina dengan hati-hati.
"Eh, aku baik-baik saja kok. Terima kasih banyak Niko. Omong-omong, kenapa kau ada di sini." Jawab Alina sekaligus bertanya.
"Aku terlambat, dan aku kabur dari hukuman. Dan tidak sengaja aku melihatmu berdiri di atas tembok dan hendak terjatuh. Jadinya aku langsung membantumu." Jawab Niko sambil menaruh tangannya di kantung celananya masing-masing.
"Ouh, kebetulan banget. Kalau begitu, mari kita masuk ke kelas bareng. Biar gak ketahuan guru juga. Yuk." Ajak Alina langsung menggandeng tangan Niko, dan mereka menuju kelas bersama.
"Rasanya hangat banget kalau di gandeng sama Felisa. Tangannya benar-benar lembut." Ucap batin Niko tersenyum tipis.
Sesampainya di kelas. Niko langsung mengetuk pintu, dan mereka berdua masuk ke dalam kelas bersama.
Saat di dalam kelas. Semua murid menatap ke arah Niko dan Alina, termasuk guru yang sedang mengajar mereka.
"Maafkan saya pak. Kemarin saya ada urusan keluarga pak. Jadinya terlambat, karena saya pulang kemalaman." Jawab Alina, sambil memasang ekspresi sedih.
"Sudahlah. Kalau begitu, kalian duduk, dan buka buku kalian." Ucap pak guru langsung menyuruh Alina dan Niko duduk.
"Terima kasih banyak pak," sahut bersamaan Niko dan Alina, lalu mereka duduk di bangku mereka masing-masing.
"Hei Felisa," panggil Celine yang ada di sampingnya.
"Hm, ada apa?" tanya Alina langsung menatap wajah Celine.
"Ini, ada coklat dari pacarmu itu. Dia tadi menitipkannya kepada kami. Nih, ambil." Jawab Celine langsung memberikan coklat dari Kevin kepada Alina.
"Terima kasih banyak," langsung mengambil coklat tersebut, dan memasukannya ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Ouh, ya nanti kita ke kantin bareng ya. Ada hal yang mau aku katakan." Bisik Alina kepada gengnya, dan gengnya langsung menganggukkan kepalanya.
"Andai aku yang menjadi pacar Felisa. Mungkin saja kami akan terus bersama, dan aku terus memanggilnya dengan sebutan sayang. Tapi dia malah memilih pria gila itu. Aku akan memisahkan mereka berdua." Ucap batin Niko, sambil mengepalkan kedua tangannya.
Jam makan siang pun tiba. Di mana Alina dan gengnya sudah ada di kantin, dan mereka sedang mengambil makan siang bersama. Dan setelah itu, mereka duduk di tempat mereka biasa. "Banyak banget makananmu Felisa. Apa kau kelaparan Agnes?" tanya Celine sambil tertawa tipis.
"Hahahah, iya dong. Kalau soal makan harus banyak, karena untuk menambah nutrisi." Jawab Agnes tanpa malu, dan mulai duduk di samping Gista.
"Ouh ya Felisa. Kenapa makanmu sedikit banget. Apa kau mau diet?" tanya Gista sambil menaikkan alisnya, dan mulai memakan makanannya.
"Gapapa. Lagi pengen makan sedikit saja, karena aku kekenyangan. Tadi pagi aku makan banyak, jadinya begini deh." Jawab Felisa sambil tersenyum tipis.
"Ouh ya Celine. Bolehkah kamu mengambilkan kopi cappucino, tadi aku sudah aku pesan soalnya. Boleh ya." Ujar Alina.
"Baik sayangku. Bentar ya, kalian tunggu di sini." Jawab Celine langsung menerimanya, dan mengambilkan minuman pesanan Alina.
"Dengan begini akan mudah untuk melabui mereka." Ucap batin Alina tersenyum miring.
Alina mengambil ponselnya, dan mengirim pesan kepada Max. Setelah mengirim pesan kepada Max. Tiba-tiba saja ada pesan masuk dari ponsel Agnes, dan Gista. Merekapun melihat pesan tersebut.
"Eh, katanya aku di panggil ke perpustakaan oleh pak guru IPS. Aku duluan ya gays, sepertinya ada hal penting. Kalian tunggu sebentar di sini ya." Ucap Agnes langsung meninggalkan mereka, dan bergegas ke perpustakaan.
"Iya nih, aku juga Felisa. Maaf ya, ada yang orang mengajakku bertemu di belakang sekolah. Aku duluan ya, nanti aku balik lagi." Ucap Gista juga, dan langsung meninggalkan Alina.
"Okey, kalian hati-hati sayang," melambaikan tangannya, dan kembali tersenyum misterius.
Alina melihat sekitarnya, dan Alina mengeluarkan sesuatu dari kantung pakaiannya. "Dengan begini, mereka akan merasakan sakit perut yang hebat. Hahahah, rasakan." Langsung menuangkan bubuk sakit perut, ke dalam sup ayam gengnya.
Setelah itu, ada yang datang, saat Alina sudah selesai memasukkan bubuk tersebut. Ia adalah
__ADS_1