
Pesanan merekapun datang, dan langsung meletakannya di atas meja. "Ini pesanan kakaknya." Langsung tersenyum.
"Terima kasih banyak," ucap Clara dan Alina bersamaan.
"Sama sama kak. Saya permisi," kembali menundukkan kepalanya, dan kembali ke dapur.
"Ouh ya Clara. Ada hal yang mau aku tanyakan padamu." Ucap Alina, sambil meminum jusnya.
"Apa itu?" tanya Clara, sambil menaikkan alisnya.
"Jadi begini. Aku mau bertanya soal Alina yang gendut itu. Katanya beredar, kalau kalian pernah membully nya. Apa itu benar?" tanya balik Alina, sambil melipat kedua tangannya.
"Kau tahu dari mana soal itu. Jadi begini, kami memang sering membully ya. Tapi, yang pertama membully nya adalah aku, Agnes, dan Celine. Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku sangat membencinya, karena aku tidak suka, kalau masih banyak orang yang mendekatinya."
"Maka dari itu, aku membuatnya di fitnah, dan dia jadi dibenci satu kelas deh. Dari situ dia tidak pernah kelihatan lagi deh. Aku bahagia, karena dia tidak ada lagi di dunia ini. Aku benar benar bahagia, dan dengan begitu. Tidak akan ada yang tahu, kalau aku yang memfitnahnya." Jawab Clara dengan detail, dan ia tidak tahu, kalau Alina sudah merekam perkataan yang dikatakan oleh Clara.
"Maafkan aku ya Felisa. karena aku mengatakan seperti itu. Aku memang jahat, dan kaulah sahabat yang mau berteman denganku. Heheheh." Tertawa tipis Clara.
"Tidak apa apa. Aku juga dulu hampir mirip sepertimu. Tapi, aku tidak memfitnahnya. Tapi langsung aku bunuh dia. Habisnya, dia selalu menghalangi jalanku. Maka dari itu, aku bunuh aja dia langsung." Ucap Alina ikut tertawa tipis.
Sontak Clara terbeku, dan badannya sedikit gemetaran. Alina menatap wajah Clara kembali. "Hahahah, maaf maaf. Hanya bercanda saja. Tidak perlu dibawa serius. Kau ini, hahahah." Tertawa Alina.
Clara pun menghela nafas panjang, "astaga Felisa. Aku kira beneran. Hampir saja ketakutan aku." Ucap Clara langsung meminum jus miliknya.
Merekapun langsung melanjutkan makanan dan minuman mereka masing masing. Dan setelah makan dan minum. Alina langsung membayar pesanan mereka berdua.
Setelah membayarnya. Mereka berdua keluar dari mall, dan masuk ke dalam mobil, sambil membawa tas belanjaan mereka masing masing.
__ADS_1
Di perjalanan, "huh, ini adalah hari yang menyenangkan. Karena aku ditraktir oleh sahabatku yang paling baik sedunia. Terima kasih banyak Felisa." Bahagia Clara, kembali menghela nafas panjang.
"Sama sama. Kita ini kan sudah sahabat. Jadi wajar kalau aku mentraktirmu." Kembali tersenyum Alina, sambil menyetir mobilnya.
Sesampai di rumah Clara. Clara pun langsung turun dari mobil Alina, dengan belanjaannya. "Dah Felisa. Hati hatilah." Melambaikan tangannya dengan bahagia.
Alina pun mengklakson, dan langsung pergi. Di perjalanan, Alina menghela nafas panjang. "Astaga, malas banget aku harus terus tersenyum kepada orang yang sangat aku benci. Astaga." Kembali menghela nafasnya, dan mengepalkan tangan kanannya.
"Clara benar benar sudah masuk ke dalam jebakanku. Setelah itu, dia akan lebih gampang, untuk aku gunakan, dan permainkan. Karena yang ia percayai, hanyalah aku seorang. Dan aku akan membalas kebaikanmu itu, dengan kejahatan, yang kau lakukan kepadaku. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia Clara." Mengerutkan keningnya.
Sesampai di rumah bos Gray. Alina pun langsung turun dari mobil, dan mengambil belanjaannya, yang ada di bagasi belakang.
Setelah itu, Alina masuk ke dalam rumah bos Gray. "Halo bos Gray," sapa Alina, dan melihat bos Gray yang sedang santai menonton televisi.
Sontak bos Gray langsung menatap wajah Alina, "habis dari mana?" tanya bos Gray.
"Tidak apa apa. Uangku milikmu juga Alina. Pakai saja. Masih banyak kartu yang saya punya." Jawab bos Gray, sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih banyak bos Gray. Bos Gray yang terbaik." Bahagia Alina.
"Omong omong, kenapa berbelanja dengan Clara. Apa rencana yang kau buat lagi?" tanya bos Gray, sambil menaikkan alisnya.
"Aku mau membuat Clara benar benar masuk ke dalam jebakanku. Dan aku mau membuat Clara, benar benar hanya mempercayaiku." Jawab Alina, sambil tersenyum miring.
"Kau benar benar hebat dan pintar. Tidak sia sia aku melatihmu. Dan bagaimana dengan pentas seninya. Kapan di selenggarakan?" tanya bos Gray kembali.
"Pentas seninya akan di laksanakan dua hari lagi. Bos Gray nanti akan lihat sendiri di sosial media sekolah kami. Pasti akan terpampang wajahku. Kan aku yang terkenal di sekolah sekarang." Jawab Alina kembali tersenyum.
__ADS_1
"Okelah. Jadi mau tidur di sini lagi, atau mau kembali ke rumah?" tanya bos Gray kembali, sambil menonton televisi.
"Mau pulang aja deh bos. Pinjam mobilnya ya," jawab Alina sambil tersenyum kembali.
"Pakai saja. Mobil yang ada di garasi, itu semua khusus untukmu. Pakai saja, dan jangan katakan pinjam seperti itu. Pulanglah cepat." Jawab bos Gray langsung merokok.
"Okey deh bos Gray. Kalau begitu, aku pergi dulu." Melambaikan tangannya, dan keluar dari rumah bos Gray. Sambil membawa belanjaannya, dan pergi dari rumah bos Gray, dengan mobil bos Gray.
Sesampai di rumah Alina. Alina pun langsung turun dari mobil, dan masuk ke dalam rumahnya.
Alina pun langsung duduk di sofa, dan meletakkan belanjaannya di atas meja. Tiba tiba saja ponsel Alina berdering.
Alina pun mengambilnya dari tas, dan melihatnya. "Niko, ada apa dia menghubungiku." Langsung mengangkatnya.
"Halo Niko. Ada apa?" tanya Alina, sambil meluruskan kakinya di atas meja.
"Apa kamu ada di rumah. Aku sedang di dekat gang rumahmu. Aku mau mengajakmu jalan jalan bersama." Jawab Niko dengan nada bahagia.
"What, dia datang ke gang itu. Kan rumahku tidak di situ. Bagaimana ini, jangan sampai dia tahu, kalau di dalam gang itu, tidak ada rumahku." Ucap batin Alina.
"Halo Felisa. Kenapa diam?" tanya Niko kembali.
"Eh, kebetulan aku lagi tidak di rumah. Aku sedang jalan jalan dengan ayahku. Karena kebetulan ayahku lagi ada waktu untukku. Maafkan aku ya Niko. Lain waktu aja, bay." Jawab Alina langsung mematikan ponselnya.
Disisi lain. Niko sedikit kecewa kepada Alina, "kenapa dia langsung mematikan teleponnya. Apa dia tidak senang, kalau aku menghubunginya." Ucap Niko, kembali kesal, dan mengepalkan kedua tangannya, karena kesal.
Kembali ke Alina, "hahahah, maaf banget ya Niko. Aku tidak mau menerima keromantisanmu itu. Aku tahu, kalau kau ingin berduaan denganku. Tapi aku tidak ingin bersamamu. Karena aku
__ADS_1