Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 36: Tidak Menerima


__ADS_3

"Kenapa kau jadi seperti ini. Bukannya kita sudah deal, akan melakukannya dengan adil. Kenapa malah jadi seperti ini." Tanya Niko dengan emosinya yang tidak beratur.


"Hahahahah, aku tidak pernah bersumpah kan. Jadinya aku bisa mengingkarinya dong. Kenapa sampai semarah ini. Daripada seperti itu. Lebih baik kita tanya langsung kepada Felisa saja. Felisa, siapa yang akan aku jadikan pacar. Katakan, kau akan menerima siapa, yang akan menjadi pasanganmu?" tanya Kevin, langsung menatap wajah Alina, dan begitu juga dengan Niko.


"Astaga, kenapa jadi seperti ini. Aku harus memilih siapa lagi ini. Masa aku harus memilih keduanya. Aku benar benar bingung." Ucap batin Alina yang benar benar kebingungan.


Tiba tiba saja ada yang memanggil Alina, dan ia adalah Max. "Felisa, panggil Max, sambil melambaikan tangannya.


Sontak Alina langsung menatap ke arah Max, "Max."


Max pun menghampiri Alina, "ada apa ini. Dan kenapa dengan wajahmu Kevin?" tanya Max.


"Maaf banget ya. Aku belum bisa menerima kalian berdua. Karena aku lagi tidak ingin berpacaran. Yuk kita pergi Max." Jawab Alina, dan langsung menarik tangan Max, lalu mereka pergi meninggalkan Kevin dan Niko berdua.


"Felisa," Panggil Niko dan Kevin dari kejauhan. Tapi Alina tidak mendengarnya, dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Niko dan Kevin saling bertatapan dengan penuh benci. "Kali ini, aku tidak akan bermain benar denganmu. Lain waktu, aku tidak akan melepaskanmu Kevin." Mengancam Niko, dan langsung pergi dari tempat tersebut.


Disisi lain. Alina langsung menghela nafas panjang, dan Max yang mengendari mobil Alina. "Kenapa bisa terjadi seperti itu. Dua pria populer melamarmu. Sungguh bagus banget, dan kan menerima siapa?" tanya Max sambil tersenyum.


"Sudahlah. Aku malas banget membahas mereka berdua. Mereka tuh seperti lalat tahu, yang menghinggap di semua tempat. Aku tidak suka itu tahu." Jawab Alina sambil melipat kedua tangannya, dan jadi bete.


"Hahahah, maafkan aku Alina. Hanya lucu saja, melihat kalian. Dan banyak murid yang melihat kalian jadinya. Oh ya, kau tidak lihat sosial media sekolah. Kita terkenal tahu." Ucap Max langsung menunjukkannya kepada Alina.


Alina pun mengambil ponsel Max, dan melihatnya. "Astaga, berita ini akhirnya masuk ke sosial media juga." Ucap batin Alina tersenyum tipis.


"Kenapa kau tersenyum begitu. Apa kau senang, karena kita dikira seorang pasangan?" tanya Max sambil menaikkan alisnya.


"Hahahah, tentu saja senang. Karena rencana kita berhasil, untuk membuat sekolah heboh tentang kita. Masih banyak rencana yang belum kita lakukan. Semua akan terkendali olehku. Kau tenang saja." Jawab Alina ikut tersenyum.

__ADS_1


"Terserah mu deh. Yang terpenting semua itu baik baik saja, dan ada hasilnya." Ujar Max ikut tersenyum tipis.


"Kalau dilihat lihat, kita memang sangat cocok, dan seperti seorang pasangan. Hahahha, banyak juga mata mata di sekolah kita ternyata ya." Ucap Max kembali menaikkan alisnya.


"Terserah mereka saja deh. Aku muak dengan perkataan palsu, yang keluar dari mulut jahanam nya itu." Hina Alina kepada orang orang, yang diam diam mengambil foto mereka, dan menyebarkannya ke sosial media sekolah.


Sesampai rumah bos Gray. Alina dan Max langsung turun dari mobil, dan langsung masuk ke dalam ruang tersembunyi bos Gray.


Di dalam. Alina langsung duduk dan tiba tiba saja ada yang memanggilnya, dan ia adalah bos Gray.


Sontak Alina sedikit kaget, dan langsung menatap wajah bos Gray. "Bos Gray, aku kira siapa. Hampir saja jantungku mau copot." Kaget Alina.


"Hahahah, makanya jangan melamun saja. Bagaimana dengan pentas seninya. Apa semua berjalan dengan baik?" tanya bos Gray langsung duduk disamping Max.


"Semuanya aman bos. Malah ada kejadian yang mengejutkan." Jawab Max sambil tersenyum miring.


"Kejadian apa itu?" tanya bos Gray yang penasaran.


"Hah, dilamar. Jadi, apa kau menerimanya Alina?" tanya bos Gray kepada Alina.


"Tentu aku tidak menerimanya. Aku bingung milih yang mana. Aku tidak tahu akan terjadi hal seperti ini. Aku belum menyusun rencana soal itu. Jadi aku langsung kabur saja bersama Max." Jawab Alina langsung meminum air putih dingin.


"Hahahah. Apa kau tidak menyukai salah satu pria tersebut?" tanya kembali bos Gray, sambil menaikkan alisnya.


"Tidak ada yang aku sukai. Sudahlah, jangan membahas mereka lagi. Aku mau memanah dulu." Ujar Alina langsung ke belakang rumah, untuk memanah menggunakan kuda.


"Aku juga ingin berlatih memanah dulu. Aku duluan juga bos Gray," ujar Max, dan mengikuti Alina dari belakang juga.


Sesampainya di ruang memanah. Alina langsung naik ke atas kuda, dan mulai memanah. Max melipat kedua tangannya, dan melihat Alina yang sedang memanah dengan lincah dan hebat.

__ADS_1


"Dia begitu hebat memanah. Rambutnya berkibasan. Dia cantik juga kalau dilihat lihat." Ucap Max kembali tersenyum.


Alina pun berhenti tepat dihadapan Max. Alina tersenyum kepada Max, dan langsung turun dari kudanya.


"Bagaimana. Apa keren?" tanya Luciana, sambil menaikkan alisnya.


"Sangat keren. Kalau begitu, gantian dong. Kau kan sudah, kalau begitu aku yang akan menaiki kuda ini." Jawab Max, dan langsung bergantian menaiki kuda.


Alina pun duduk di kursi yang ada, dan menatap Max yang mulai memanah, dan berkuda dengan lincah juga. Alina yang melihatnya, langsung bertepuk tangan, dan tersenyum.


"Wow, kau hebat banget Max. Mantap," teriak Alina, sambil bertepuk tangan.


"Hahahah, aku kan memang keren," berbangga Max, sambil fokus memanah kembali.


Setelah beberapa menit. Alina dan Max langsung beristirahat, dan lanjut ke menembak. "Kau duluan saja. Aku akan merapikan pistol ini dulu." Ucap Alina kepada Max.


"Yaudah. Aku akan duluan menembak," jawab Max, dan mulai menembak ke sasaran yang ada di depannya.


Sedangkan Alina merapikan pistol yang sedikit berdebu. "Kalau aku menembak Clara dengan pistol ini bagaimana ya. Pasti dia akan mati." Ucap batin Alina tertawa tipis.


Tiba tiba saja ponsel Alina berdering. Alina langsung melihatnya, dan itu adalah panggilan dari Niko.


Alina pun langsung keluar dari ruang menembak, dan mengangkat teleponnya. "Halo Niko. Ada apa?" tanya Alina, sambil menyender di dinding.


"Kamu ada di mana. Aku sedang menunggu di gang rumah kamu ini. Aku ingin mengajakmu pergi jalan jalan." Jawab Niko dengan nada bahagia.


"Maaf banget Niko. Aku lagi pergi bersama ayahku. Ada urusan yang harus kami selesaikan. Kamu tahu kan, kalau ayahku orang yang kaya, dan sibuk. Makanya ayahku mengajakku bersama." Jawab Alina berbohong kepadanya.


"Jadi kau tidak mau datang?" tanya Niko dengan nada kecewa.

__ADS_1


"Maaf banget Niko. Lain waktu saja bay," langsung mematikan ponselnya.


Disisi lain, "kenapa


__ADS_2